NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Waktu berlalu dengan cepat. Kini, aku sudah duduk manis kembali di dalam kabin mobil mewah bersama Jalal dan Jayan. Sembari memangku Jayan yang mulai kembali aktif, aku menoleh ke arah suamiku.

​"Pak, nanti kita singgah sebentar di Indomaret Lapuko, ya," pintaku yang langsung diangguki pelan oleh Jalal.

​Baru saja mobil melaju beberapa kilometer, tiba-tiba ponsel di genggamanku berdering nyaring. Layar menampilkan panggilan telepon masuk dari Andri, salah satu adik kembarku.

​"Halo!" ucapku menyapa begitu menggeser tombol hijau.

​"Halo, Kak! Di mana mi posisi sekarang? Saya sudah menunggu ini di Tugu Pudaria... Banyak temanku yang ikut, ada sekitar lima orang," sahut Andri heboh di seberang sana.

​"Andri bilang apa, Sayang?" tanya suamiku pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan aspal.

​Aku menurunkan ponsel sejenak lalu melihat ke arah Jalal. "Pak, si kembar ternyata mengajak teman-temannya. Ada sekitar lima orang yang ikut, tidak apa-apa kah?" tanyaku memastikan, khawatir suamiku merasa risi dengan keramaian.

​Jalal justru tersenyum lebar lalu menjawab santai, "Tidak apa-apa, biarkan saja biar tambah ramai. Sekalian mereka bisa jadi tukang angkut barang-barang kita nanti di tempat wisata," jawab Jalal diiringi kekehan kecil yang sarat akan maksud terselubung.

​Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat isi kepala suamiku. Aku kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Andri, tidak apa-apa, ajak saja mereka. Kakak sebentar lagi sampai, ini mau singgah di Indomaret dulu... Ada yang mau dititip tidak?" tanyaku menawarkan. Namun, pria muda itu menolak halus.

​Sambungan telepon pun terputus, bersamaan dengan laju mobil Sequoia putih kami yang mulai melambat karena telah sampai di area parkir Indomaret Lapuko. Aku segera keluar dari mobil, membiarkan Jayan dan Jalal tetap menunggu di dalam dengan AC yang menyala.

​Lagi-lagi, tatapan orang-orang di sekitar area parkir menatapku dengan pandangan bertanya-tanya dan kagum saat melihat mobil SUV mewah berukuran raksasa itu mandek di sana. Aku memilih acuh dan langsung melangkah masuk ke dalam toko waralaba tersebut. Dengan cepat kuambil beberapa bungkus roti, camilan snack, minuman dingin, dan beberapa mi cup untuk persediaan berkemah nanti.

​Selesai membayar di kasir, aku keluar menjinjing kantong plastik lalu menuju mobil suamiku yang masih setia menunggu.

​Brak! Bunyi pintu mobil kututup rapat begitu aku kembali menduduki kursi depan.

​"Sudah, Sayang?" tanya Jalal lembut. Aku mengangguk, lalu mobil kembali melaju membelah jalanan.

​"Jujur, saya sebenarnya belum pernah berkendara ke area sini, Yas..." ucap Jalal rendah, sedikit ragu melihat jalur di depannya.

​"Terus lurus saja, Sayang! Nanti setelah melewati tanjakan ada jalan bercabang, kamu ambil jalur yang sebelah kiri," ucapku refleks tanpa sadar memanggilnya dengan sebutan "Sayang", sebab fokus dan tanganku sedang cekatan merobek bungkus snack pesanan Jayan.

​Jalal sempat melirikku dengan binar mata yang mendadak cerah karena panggilan spontanku itu. Namun, momen manis itu mendadak dikejutkan dengan suara klakson nyaring dari mobil SUV hitam yang melaju mendahului kami di depan, seolah memberikan isyarat agar Jalal mengikuti jalurnya. Itu mobil yang dibawa oleh Rudi.

​"Sialan... Si Rudi ternyata sudah hafal jalannya," maki Jalal rendah sembari terkekeh masygul karena merasa keduluan oleh asistennya.

​Mobil kembali melaju membelah jalanan pedesaan. Sesaat kemudian, kami mulai melewati jalur tanjakan yang cukup berkelok-kelok hingga akhirnya sampailah kami di area puncak. Tepat di dekat tugu atas, mataku menangkap keberadaan beberapa anak muda dengan kisaran umur 19 sampai 20 tahun—seumuran dengan si kembar—yang tampak sedang berkerumun menunggu.

​"Pak, itu Andra, Andri, dan teman-temannya," ucapku menunjuk ke arah pinggir jalan pada Jalal.

​Jalal mengangguk paham. Dia menekan klakson pendek, lalu membuka lebar kaca jendela mobilnya di sisi pengemudi. "Ayo, jalan!" seru Jalal memberi komando pada mereka.

​Rombongan anak muda itu serempak menyalakan mesin sepeda motor masing-masing, lalu dengan patuh melaju beriringan di belakang mobil mewah kami. Jalur aspal yang kami lalui setelah ini mulai bervariasi; kadang bagus mulus, namun sesekali jelek dan berlubang, membuatku duduk agak kurang nyaman karena guncangannya.

​"Memang suasananya masih terasa desa banget ya di daerah sini," komentar Jalal sembari fokus mengendalikan setir, dan aku hanya mengangguk membenarkan ucapannya.

​Cukup lama kami berkendara, hingga akhirnya mobil kami melewati sebuah area pura tempat peribadatan umat Hindu asal Bali. Di halaman luar pura tersebut, berdiri kokoh sebuah pohon beringin yang ukurannya teramat besar. Putra kecilku yang melihatnya dari balik kaca mobil langsung berseru penasaran.

​"Ih, Mama! Pohonnya besar sekali...! Itu pohon apa?" tanyanya dengan mata berbinar takjub.

​"Itu namanya pohon beringin, Nak," jawabku lembut sembari mengelus pipinya.

​Tak lama kemudian, mobil kembali melaju membelah tikungan tajam, melewati tanjakan, lalu turunan yang cukup curam. Saat hendak melewati sebuah toko kelontong di tepi jalan, aku melihat mobil SUV hitam yang dibawa Rudi mendadak menepi dan berhenti di depan toko tersebut.

​"Sepertinya Rudi singgah sebentar untuk membeli saus dan kecap... Dia lupa membelinya tadi di pasar barangkali," kata Jalal menduga sembari ikut memelankan laju mobil Sequoia putih kami untuk menunggu di depan.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!