Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Langkah Nayla terasa lebih berat dari biasanya saat ia menuruni angkutan umum yang membawanya ke kompleks perumahan mewah milik Endra. Udara siang itu cukup terik, membuat peluh tipis muncul di pelipisnya, namun gadis itu tak terlalu memedulikannya. Pikirannya dipenuhi oleh satu hal yaitu Endra.
Sudah dua hari laki-laki itu tidak muncul di sekolah. Bukan hanya absen tanpa kabar, tetapi juga menghilang dari segala bentuk komunikasi. Pesan-pesan Nayla tak dibalas. Panggilan teleponnya tak pernah diangkat. Bahkan nomor Endra kini seperti tak aktif. Hal itu membuat dada Nayla dipenuhi rasa cemas yang perlahan berubah menjadi kegelisahan yang mengganggu.
Ia bukan tipe orang yang mudah panik, tetapi untuk Endra, semuanya berbeda.
Endra bukan hanya sekadar pacar. Ia adalah tempat Nayla untuk bersandar, satu-satunya orang yang benar-benar membuatnya merasa dimengerti. Setidaknya, itu yang selama ini Nayla yakini.
Maka ketika kabar tentang ketidakhadiran Endra terus berlanjut hingga hari kedua, Nayla tak bisa lagi diam. Ia harus memastikan keadaan laki-laki itu dengan matanya sendiri.
“Kalau dia sakit, gue harus tahu,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Nayla melangkah memasuki kompleks tersebut. Rumah-rumah besar berjajar rapi dengan taman yang terawat. Ia sudah pernah ke sini sekali diantar Endra waktu itu dan meski hanya sekali, Nayla mengingat jalan menuju rumah itu dengan cukup jelas.
Langkahnya mantap, meski hatinya mulai dipenuhi firasat yang entah kenapa terasa tidak nyaman.
Ia sampai di depan rumah berpagar hitam tinggi. Rumah itu besar, megah, dan terasa dingin. Berbeda dengan bayangan hangat yang selama ini ia miliki tentang tempat tinggal Endra.
Nayla berhenti sejenak.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat. Tangannya meraih tas, memastikan kantung plastik putih yang tadi ia beli dari supermarket masih ada di dalamnya.
“Cuma mau lihat dia baik-baik aja atau nggak,” bisiknya lagi.
Nayla berjalan mendekat dan memanggil satpam yang berjaga. Setelah percakapan singkat, pagar pun dibukakan. Satpam itu mengatakan bahwa Aiden memang ada di rumah.
Mendengar itu, Nayla sedikit lega.
Berarti Aiden tidak kenapa-kenapa. atau setidaknya, tidak dalam kondisi yang benar-benar buruk.
Nayla melangkah masuk. Setiap langkahnya membawa harapan kecilbahwa ia akan melihat Endra, mungkin dalam kondisi sakit, mungkin pucat, tetapi tetap Endra yang sama.
Sesampainya di teras, ia mendengar suara ramai dari dalam rumah.
Nayla mengernyit.
“Ada tamu?” pikirnya.
Namun ia mengangkat bahu, mencoba tidak terlalu memikirkan. Yang penting adalah bertemu Endra.
Pintu utama rumah itu terbuka sedikit. Tanpa curiga, Nayla mendekat, berniat masuk.
Namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.
Suara seseorang terdengar jelas dari dalam.
“Jadi bulan depan Endra dan Tamara akan resmi bertunangan.”
Kalimat itu seperti petir yang menyambar tanpa peringatan.
Tubuh Nayla membeku.
Tangannya yang memegang kantung plastik langsung melemas. Jatuh begitu saja ke lantai, mengeluarkan suara lirih yang hampir tak terdengar.
Namun suara di dalam kepalanya jauh lebih bising.
Bertunangan?
Endra.dan Tamara?
Nayla merasa dunia di sekelilingnya runtuh dalam hitungan detik.
Dadanya sesak. Napasnya tercekat. Matanya terasa panas, tetapi air mata belum juga jatuh seolah masih tertahan oleh rasa tidak percaya.
Ia berdiri di sana, diam, tak mampu bergerak.
Kemudian pandangannya perlahan menangkap sosok yang selama ini ia rindukan.
Endra.
Laki-laki itu duduk di ruang tamu, berdampingan dengan seorang gadis yang tidak pernah Nayla lihat sebelumnya. Cantik. Elegan. Dan tampak sangat cocok berada di sana.
Berbeda dengan dirinya.
Nayla menelan ludah.
Rasanya seperti ada sesuatu yang meremas jantungnya dengan kasar.
Bibirnya bergetar, tetapi tak ada kata yang mampu keluar.
Ia ingin berteriak. Ingin bertanya. Ingin memastikan semua ini hanya kesalahpahaman.
Namun tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan itu.
“Nayla?”
Suara itu memanggilnya.
Endra.
Nayla menatapnya. Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Tatapan mereka bertemu, namun yang Nayla temukan di sana bukan rasa rindu.
Bukan kehangatan.
Melainkan keterkejutan. dan sesuatu yang tak bisa ia artikan. Dengan sisa tenaga yang ada, Nayla memaksakan senyum.
Senyum yang terasa begitu menyakitkan.
Tanpa berkata apa pun, ia berbalik.
Lalu berlari.
“Naylaaa!!”
Suara Endra terdengar dari belakang, memanggilnya.
Namun Nayla tak peduli.
Ia terus berlari, menembus halaman rumah, melewati gerbang, bahkan tak memedulikan satpam yang memandang heran.
Air matanya akhirnya jatuh.
Deras.
“Lo jahat, Endra… benar-benar jahat...” lirih Nayla, napasnya tersengal seolah setiap kata menguras seluruh tenaganya. Langkahnya berat, kaki terasa beku oleh perih yang menjalar di hati. Tapi dia tidak mau berhenti, harus terus menjauh, sejauh mungkin dari Endra, dari segala luka yang baru saja dia terima, dari kenyataan yang mengoyak jiwa.
Dari belakang, Endra berlari mengejarnya dengan mata penuh penyesalan, tapi suara tajam itu memecah keheningan malam, “Kejar perempuan itu kalau kamu sudah tidak peduli sama mama kamu, Endra!” Kalimat itu seperti cambuk menghantam dada, membekukan langkahnya. Endra terhenti, tubuhnya lunglai dalam bisu dan rasa bersalah. Sementara Nayla, tanpa menoleh, terus berlari ke kegelapan, meninggalkan patah hati dan bayang-bayang pria yang pernah dia cintai.
---
Hari-hari setelah kejadian itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap langkah Nayla. Dia mengurung diri dalam sunyinya, menutup rapat pintu hati dari dunia luar yang terasa begitu kejam. Bertemu siapa pun? Menjelaskan apa pun? Semua itu terasa sia-sia, bagai berteriak di tengah badai tanpa jawaban.
Apa yang harus dia jelaskan? Bahwa selama ini dirinya hanyalah tokoh bayangan dalam cerita yang bahkan bukan miliknya? Bahwa cinta yang dia curahkan hanyalah fatamorgana, karena pria yang dicintainya sudah terpaut pada jalan hidup yang telah tertulis tanpa ruang baginya?
Malam demi malam, tatapan Endra terus menghantui pikirannya tatapan yang dulu mengisi hatinya dengan harapan, kini berubah jadi racun yang menusuk nyeri di dada. Namun yang paling menyiksa, adalah kenyataan pahit itu: Endra tidak pernah berusaha mengejarnya.
Atau mungkin dia memang tak mampu.
Dan di antara dua pilihan itu, Nayla terperangkap dalam jurang penderitaan yang lebih dalam dari sekadar luka biasa. Mana yang lebih menyakitkan? Merana karena ditinggalkan, atau menyesal karena tak pernah diperjuangkan? Tuhan, biarkan aku tahu jawabannya… sebelum aku hancur berkeping-keping.
---
Sementara itu, di sisi lain kota, Endra berdiri di balkon kamarnya.
Tatapannya kosong.
Pikirannya penuh.
Nayla.
Nama itu terus berputar di kepalanya.
Ia mengepalkan tangan.
Ingin berlari.
Ingin menjelaskan.
Namun ia terjebak.
Dalam situasi yang bahkan ia sendiri tak bisa kendalikan.
Pertunangan itu bukan keinginannya.
Namun juga bukan sesuatu yang bisa ia tolak begitu saja.
Keluarga.
Tanggung jawab.
Dan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Aiden menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang berarti.
Nayla.
Dan kali ini… mungkin untuk selamanya.