Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Cinta Dan Benci Yang Menyatu
Waktu terasa melompat begitu cepat, seolah baru kemarin sepatu baru Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang dan Naga Bayu Arka Denta Sikumbang menginjak aspal halaman Universitas Indonesia, membawa cemas dan harapan yang sama besarnya. Namun musim telah berganti tiga kali, ribuan jam kuliah berlalu, dan kini mereka telah tegak di ambang tahun ketiga perkuliahan—nama mereka kini bukan sekadar daftar absen, melainkan dua bayang yang paling banyak dibicarakan di lorong-lorong kampus.
Bhumi, di Fakultas Hukum, dikenal bukan hanya karena ketegasannya menegakkan logika, melainkan karena kedewasaannya yang membuat orang segan sekaligus tenang saat mendengar pandangannya. Sementara Bayu—adiknya yang menekuni Fakultas Kedokteran—adalah paradoks yang memikat: otaknya tajam menganalisis anatomi tubuh, namun jiwanya bergemuruh lewat dentuman drum dan petikan gitar distorsi. Ia vokalis band metal kebanggaan kampus, asisten dosen yang disegani, dan sosok yang seolah memancarkan cahaya sendiri ke mana pun ia melangkah.
Namun cahaya itu ternyata menyilaukan mata orang lain, bukan menghangatkan hati yang berjalan di sampingnya.
Sore itu langit di atas taman kota terlihat berat, mendung kelabu menumpuk tanpa suara, menurunkan suhu udara hingga terasa dingin menusuk tulang. Di bawah naungan pohon beringin tua yang akar gantungnya menjuntai seperti ribuan benang kenangan, duduklah Larasati, Widya, dan Rania Iswandari. Tiga wanita yang wajahnya kerap menatap lurus ke kamera dengan percaya diri penuh, namun sore itu Rania tampak seperti lukisan yang warnanya perlahan luntur. Kulitnya yang biasanya cerah bercahaya kini pucat seperti kertas yang terlalu lama tersimpan di tempat lembap. Matanya yang biasa tajam dan memikat kini sayu, tak berani menatap jauh ke depan, seolah setiap sudut pandang hanya menampakkan cermin luka yang tak sanggup ia tatap. Ia menekuk lutut rapat ke dada, kedua tangannya meremas ujung rok kain bermotif halus begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih, kuku menekan dalam tanpa rasa sakit—seolah rasa sakit fisik hanyalah hal kecil dibandingkan apa yang menggerogoti dadanya.
Ia diam cukup lama, mendengarkan gemerisik daun yang seolah berbisik halus, sebelum bibirnya bergetar pelan terbuka. Suaranya bukan sekadar lirih, melainkan terdengar seperti suara yang terperangkap di dalam gua yang dalam, harus berjuang naik melewati beban di kerongkongan.
“Kalian… kalian pasti sudah tahu, bukan? Bahwa selama dua tahun ini, aku tidak sekadar ‘ada’ di sisinya,” ucapnya pelan, setetes air mata bening jatuh memantul di punggung tangannya. “Aku membangun duniaku sedemikian rupa agar masih ada ruang untuknya—bahkan saat ruang untuk diriku sendiri perlahan menyempit dan hilang. Bayu itu… dia seperti badai yang indah. Saat dia berdiri di panggung, gitar menderu dan suaranya meledak membelah udara, ribuan orang berteriak namanya seolah dia adalah dewa yang mereka sembah. Di ruang kuliah, dia menjawab pertanyaan dosen dengan tenang, cerdas, sopan—membuat siapa pun percaya bahwa masa depannya takkan pernah kelabu. Dulu aku merasa… aku merasa beruntung sekali bisa berdiri di tempat yang paling dekat dengan badai itu. Aku bangga. Sangat bangga… sampai aku lupa bahwa orang yang berdiri terlalu dekat badai pada akhirnya pasti akan diterbangkan atau dihancurkan.”
Ia menelan ludah dengan susah payah, menahan isak tangis yang mulai mendesak keluar. “Dia pandai sekali… sangat pandai merangkai kata-kata yang tepat di saat aku merasa ragu. Dia bisa membuatku merasa bahwa aku adalah satu-satunya hal yang lembut di tengah kerasnya dunianya. Bahwa aku berbeda dari siapa pun. Namun janji itu hanya hidup sesaat—lalu lenyap tanpa jejak. Sudah tiga kali. Tiga kali aku menemukan jejak kehadiran wanita lain di hidupnya, tiga kali dia memohon maaf dengan mata yang terlihat sungguh-sungguh, tiga kali aku memilih percaya dan memaafkan karena aku tak tega kehilangan dia… dan tiga kali pula aku dikhianati dengan cara yang sama menyakitkannya, seolah dia tak pernah belajar sedikit pun dari air mataku. Yang paling menyakitkan bukan saja dia berbuat demikian—tapi dunia di sekitarku yang kemudian menatapku miring. Mereka membisikkan bahwa aku yang terlalu menuntut, aku yang posesif, aku yang tak mengerti kesibukan dan popularitasnya. Padahal aku… aku hanya wanita yang terlalu mencintai, dan tak tahu cara berhenti meski hatiku sudah remuk.”
Tangisnya mulai pecah halus, bahunya terguncang tertahan. “Sampai sekarang… aku masih sayang. Jujur saja, aku benci mengakuinya, tapi rasa itu belum pergi. Setiap kali teringat tawanya, setiap kali melihat pesan lama yang belum kuhapus, dadaku terasa sesak—bukan lagi bahagia, melainkan rasa sakit yang berdenyut pelan namun tak berhenti. Dia tak pernah kasar secara fisik, tak pernah menghina penampilanku, tak pernah mempermalukanku di depan umum. Dia justru sangat hati-hati menjaga citra dirinya dan citraku di mata orang lain. Tapi dia tak pernah belajar menjaga perasaanku. Dia bisa memelukku hangat lima menit, lalu sepuluh menit kemudian aku melihatnya menempelkan bibirnya pada wanita lain di sudut ruangan gelap acara kampus. Saat itu aku tak bisa bergerak. Kakiku terasa berat tertanam di lantai, napasku hilang, pandanganku kabur seolah aku terjatuh ke dasar sumur yang gelap. Aku melihatnya tersenyum pada orang lain—senyum yang dulu dia bilang khusus milikku. Duniaku runtuh perlahan, bukan dalam satu ledakan, melainkan remuk keping demi keping yang tak bisa lagi kususun utuh.”
Rania menyeka air matanya dengan kasar hingga pipinya memerah, namun air mata itu terus mengalir tanpa henti. “Minggu lalu aku melihatnya berjalan beriringan di pusat perbelanjaan, menggandeng tangan wanita lain begitu santai, seolah tak ada janji yang dilanggar. Amarah meluap begitu hebat hingga aku tak sanggup menahannya lagi. Keesokan harinya saat dia datang ke teras rumahku seolah tak terjadi apa-apa, aku melampiaskan semuanya—aku menampar pipinya berkali-kali sekuat tenaga, meluapkan segala frustasi, kecewa, dan rasa dipermainkan yang kurasakan. Tapi dia diam. Dia hanya menunduk, membiarkan tanganku memukul, tak menangkis, tak membalas, tak berkata sepatah kata pun. Saat itu aku berhenti, dan justru hatiku hancur lebih parah dari sebelumnya. Aku bertanya dalam hati: kenapa dia diam? Apakah karena dia tahu betapa salahnya dia dan tak punya alasan lagi? Atau… apakah karena aku begitu tidak berarti baginya, sehingga kemarahanku pun tak cukup penting untuk ia tanggapi sekadar penjelasan?”
Ia menunduk makin dalam, suara bergetar nyaris tak terdengar. “Kalian tahu betapa beratnya berjuang di dunia pemodelan. Di saat aku harus berjalan di atas panggung di hadapan ratusan kamera, mengenakan busana rancangan maestro yang membutuhkan keberanian penuh—di momen di mana aku paling butuh merasa didukung, di hari aku ditunjuk sebagai wajah kampanye produk terbesar yang akan mengangkat namaku, atau saat aku menerima penghargaan yang kucita-citakan sejak SMA… tak ada satu pun pesan darinya. Tak ada ucapan ‘semangat’, tak ada janji ‘aku menunggumu di sini’, tak ada bayangannya di balik tirai panggung. Dia seolah tak peduli apakah aku jatuh atau terbang tinggi. Keberhasilanku bukan miliknya, kegagalanku pun bukan urusannya.”
Napanya terasa berat, seolah membawa batu karang di dadanya. “Namun lihatlah kenyataan pahitnya: setiap kali band-nya tampil, entah itu di panggung kecil kampus atau festival musik besar yang dihadiri ribuan orang, akulah yang datang paling awal, rela berdesak-desakan, kepanasan, kelelahan berdiri berjam-jam, bahkan terjepit di antara kerumunan—hanya supaya dia melihatku di barisan depan dan tahu bahwa aku ada di sana untuknya. Aku menghafal jadwal latihannya, aku mengingat hari-hari ujian kerasnya, aku menyiapkan makanan saat dia lembur di laboratorium… tapi dia tak pernah sekalipun bertanya: ‘Rania, kamu sudah makan? Kamu lelah hari ini? Aku bangga padamu.’ Tak pernah. Sekali pun tidak.”
Keheningan menyelimuti sejenak, hanya terdengar isak tangisnya yang pelan. Larasati dan Widya diam menahan haru, mata mereka berkaca-kaca melihat sahabat yang selama ini tampak kuat kini runtuh tak berdaya.
“Mungkin… mungkin itulah kenapa aku begitu kagum pada Bhumi,” lanjut Rania perlahan, nada suaranya berubah lembut namun penuh kerinduan yang pilu. “Aku sering melihat mereka—Bhumi dan Anindya. Bhumi tidak berteriak memamerkan cintanya, tidak membuat keributan agar dilihat orang. Tapi matanya selalu mencari Anindya dulu sebelum hal lain. Dia mengingat hal-hal kecil yang Anindya sebut sekilas. Dia menunggu di luar ruangan saat Anindya ujian, dia memegang tasnya saat Anindya lelah, dia tersenyum bangga saat Anindya berprestasi seolah pencapaian itu juga miliknya. Dia paham: mencintai bukan sekadar merasa bangga memiliki seseorang yang hebat, melainkan hadir dan menjaga hati orang itu agar tetap utuh meski sedang berjuang keras. Itulah yang tak pernah kuterima dari Bayu. Aku bukan sekadar piala untuk dipajang saat menguntungkan, lalu ditinggalkan di sudut gelap saat dia sibuk mengejar dunianya sendiri.”
Tak sanggup lagi menahan beban itu sendirian, Larasati dan Widya segera merangkulnya erat—menggenggam punggungnya, memeluk bahunya yang dingin, membiarkan Rania menyandarkan kepalanya di bahu Widya dan menangis sepuasnya. Tidak ada yang menyela, tidak ada yang berusaha memperbaiki keadaan dengan kata-kata manis yang kosong. Kehadiran mereka saja sudah cukup menjadi bukti bahwa Rania tidak berjalan sendirian.
“Sudah, sayang… sudah cukup kau menangis untuk seseorang yang tak pernah berhenti menatap matamu,” bisik Larasati lembut sambil mengusap rambut Rania pelan. “Kau berhak dicintai dengan cara yang sama persis seperti caramu mencintai: dengan hadir, dengan setia, dengan menjaga hatimu seharta dunia. Kau berhak memiliki seseorang yang tak akan membiarkanmu bersinar sendirian di tengah keramaian—karena dia ingin menjadi alasan kenapa kau berani tampil secerah itu.”
Di bawah pohon beringin yang rindang itu, di tengah angin dingin yang mulai membawa rintik hujan halus, ketiga sahabat itu saling berpelukan erat. Rania menyadari perlahan: ia telah terlalu lama berjalan menuju cahaya yang tak ditujukan padanya. Dan kini, meski hatinya masih perih dan penuh kenangan yang menyakitkan, ia mulai melihat celah cahaya lain—cahaya yang tak menyilaukan, melainkan hangat, dan menunggu di arah yang selama ini ia lupa untuk menoleh.