NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33• Fitnah Yang Menguntungkan

Tiga minggu setelah pertemuan di kafe, Jeslyn duduk di ruang kerja ayahnya. Di depannya ada map cokelat berisi hasil penelusuran.

“Ketemu,” kata Pak Wibowo, asisten ayah Jeslyn. Ayahnya adalah mantan pejabat daerah yang masih punya banyak orang di dalam sistem. “Namanya Thanaya Radiva. Kerja di PT Logistar, bagian gudang.”

Jeslyn melihat layar komputer. Ada foto KTP Naya, alamat kontrakan, dan slip gaji bulan pertama. Tangannya sedikit gemetar waktu melihat foto itu.

“Kirim ke Dewi,” katanya pelan.

Dewi tidak butuh waktu lama. Dua hari kemudian, gosip mulai beredar di gudang.

Siang itu gudang panas. Kipas angin berderit, keringat menetes di leher Naya waktu ia menghitung stok kardus.

“Nay, kamu dipanggil Pak Anton ke kantor,” ujar Rina.

Naya mengangguk. Ia melepas sarung tangan, mencuci tangan di wastafel, lalu berjalan ke ruangan kecil di pojok gudang.

Di dalam sudah ada Pak Anton, kepala gudang, dan Sari, staff bagian administrasi. Wajah Sari cemberut.

“Duduk,” kata Pak Anton.

Naya duduk. Jantungnya mulai tidak karuan.

Sari meletakkan kertas di meja. “Ini laporan stok bulan ini. Ada minus 12 dus barang elektronik. Kamu yang pegang bagian itu kan, Nay?”

“Iya, Pak. Tapi saya cek semua sesuai—”

“Terus ada yang ngomong,” Sari memotong. Suaranya sengaja dikeraskan. “Katanya kamu dulu pernah masuk penjara. Makanya kamu butuh kerjaan banget sampai lembur tiap hari.”

Darah Naya surut ke kaki. “Siapa yang bilang begitu?”

“Entahlah,” sahut Sari. “Tapi kalau benar, kamu harusnya jujur waktu melamar.”

Naya menatap Pak Anton. Matanya mulai panas. “Pak, saya nggak pernah curi. Saya cek barang satu-satu. Kalau minus, mungkin pas bongkar muat ada yang jatuh atau salah catat.”

“Minus 12 dus itu nilainya belasan juta, Nay,” kata Pak Anton. Suaranya lelah. “Kamu tahu sendiri peraturannya.”

Air mata Naya jatuh. Ia tidak berusaha menahan. “Pak, tolong. Jangan pecat saya. Saya butuh kerjaan ini. Saya nggak curi. Saya nggak pernah masuk penjara. Saya nggak punya siapa-siapa lagi.”

Suaranya pecah di akhir kalimat. Ia menunduk, bahunya bergetar.

Pak Anton menghela napas. “Kamu skorsing seminggu. Sambil kami selidiki lagi. Kalau terbukti kamu bersih, kamu balik kerja. Kalau tidak…”

Ia tidak melanjutkan.

Naya keluar dari ruangan itu dengan kaki lemas. Di luar, beberapa karyawan menatapnya. Ada yang berbisik, ada yang pura-pura sibuk.

Ia masuk ke toilet, mengunci pintu, lalu menangis sejadi-jadinya. Pelan, agar tidak ada yang dengar.

Di tempat lain, Jeslyn menerima pesan dari Dewi. “Umpan sudah dilempar.”

Seminggu skorsing terasa seperti setahun. Naya menghabiskan waktu di kontrakan kecilnya, menatap tembok dan memutar ulang kejadian di gudang.

Hari keempat, ia datang diam-diam ke kantor. Bukan buat masuk kerja, tapi buat minta izin lihat rekaman CCTV dan data bongkar muat.

“Pak, saya boleh lihat rekaman tanggal 12?” pintanya ke Pak Anton. Matanya masih sembab, tapi suaranya tegas. “Kalau saya yang curi, pasti kelihatan saya bawa keluar dus itu.”

Pak Anton ragu. Tapi melihat wajah Naya, ia akhirnya mengangguk.

Seharian Naya duduk di depan layar komputer, memundurkan dan memajukan rekaman. Rina menemaninya, bawain kopi dan gorengan.

Jam lima sore, Naya menemukan. Di rekaman jam 14.23, Sari terlihat memindahkan satu palet barang ke lorong belakang tanpa mencatat di sistem. Jam 14.40, ada truk tanpa logo perusahaan masuk lewat pintu samping. Dua orang menurunkan dus, memasukkan ke dalam truk.

“Bukan saya, Pak,” kata Naya, nunjuk layar dengan tangan gemetar. “Ini Sari. Dan itu bukan truk kita.”

Pak Anton terdiam lama. Wajahnya mengeras.

Besoknya, Sari dipanggil. Diinterogasi. Awalnya ngeles, tapi setelah lihat rekaman, ia mengaku. Katanya dia dibayar orang luar buat ngurangin stok dan nyalahin Naya. Namanya nggak disebut, tapi semua orang di gudang tahu siapa yang punya cukup uang buat main kotor begitu.

Naya masuk kerja lagi hari Senin. Tanpa permintaan maaf resmi, tapi dengan tatapan hormat dari anak-anak gudang yang sebelumnya berbisik di belakangnya.

Sebulan setelah kejadian itu, waktu Pak Anton butuh orang buat gantiin ketua regu yang resign, nama pertama yang dia tulis di kertas: Thanaya Radiva.

“Kenapa dia?” tanya HRD.

“Karena dia berani,” jawab Pak Anton. “Dan karena dia nggak lari waktu difitnah, lalu kinerjanya juga sangat bagus.”

Malam waktu Naya terima surat promosi, ia duduk di lantai rumahnya yang masih kosong. Surat itu ia baca tiga kali. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kali sejak lama, ia merasa menang.

......................

Di ujung kota, Jeslyn meremas ponselnya waktu dengar kabar itu. “Dia malah naik jabatan?” desisnya ke Dewi.

“Tenang,” jawab Dewi. “Ini baru ronde pertama.”

"Aku gak bisa tenang Mbak, pokoknya dia harus hancur, kalau perlu pergi yang jauh biar Bara gak bisa nemuin dia" ujar Jeslyn sambil menyilangkan tangannya.

Dewi meminum teh yang sedari tadi ia abaikan. Lalu menaruhnya cangkir itu dengan pelan, nyaris tanpa suara. "Apa Bara akan melirikmu kalau dia gagal nemuin Naya?"

"Mbak, kok kamu ngomong gitu sih. Bara harus suka sama aku gimanapun caranya" suara Jeslyn meninggi, bahkan beberapa mata melihat dengan penasaran kearah mereka.

Dewi tertawa pelan, lalu mengalihkan pandangannya. "Lebih baik kamu perbaiki sikapmu supaya Bara lebih memilihmu daripada Naya"

"Memangnya Mas Arkan udah ngasih kepastian sama kamu, belum kan" Balas Jeslyn.

Dewi langsung menatap tajam lawan bicaranya, mereka saling meremehkan satu sama lain. "Dikit lagi, Mas Arkan bakalan mau nikahin aku, liat aja" ujar Dewi sambil bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan Jeslyn sendirian di kafe itu.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!