"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadilan Agung Para Singa
Suara erangan Frans Raven yang memegangi pergelangan tangannya yang bersimbah darah menggema di sekeliling aula utama kastil. Di atas lantai dingin, Robert Crimson Raven terus menangis histeris dengan tubuh meringkuk, jiwanya telah hancur total setelah menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar tameng hidup bagi ayah yang selama ini dipujanya.
Reymond Oliver Smith melangkah mendekat, sepatu bot militernya menginjak lantai dengan ritme yang lambat namun menekan, menciptakan atmosfer kematian yang mencekam. Ia menatap Robert sekilas dengan pandangan penuh penghinaan.
"Bawa pemuda penakut ini pergi," perintah Reymond dingin kepada pasukan khusus Smith.
"Kurung dia di sel isolasi markas pusat. Biarkan dia membusuk bersama bayang-bayang ketakutannya sendiri."
"Baik, Tuan!" Dua prajurit Smith langsung menyeret Robert keluar dari aula. Pemuda itu sama sekali tidak memberontak, langkahnya lunglai seolah seluruh dunianya telah runtuh dalam waktu satu malam.
Kini, perhatian seluruh ruangan sepenuhnya tertuju pada Frans Raven. Pria tua itu tersungkur di kaki takhtanya yang megah, menatap ujung sepatu Reymond dengan mata yang membelalak penuh ketakutan.
Air muka angkuh yang biasa ia tunjukkan sebagai patriark Crimson Raven kini telah menguap, menyisakan sosok pengecut yang sedang mengemis nyawa.
"Reymond... kuingatkan kau... membunuhku hanya akan merusak stabilitas faksi..." Frans terbata-bata, mencoba memikirkan taktik politik terakhirnya.
"Claudia... dia putriku, kau tidak bisa—"
Brak!
Reymond menghantamkan laras pistolnya ke rahang Frans hingga pria tua itu terjerembap ke lantai batu dengan mulut berdarah.
"Jangan pernah berani menyebut nama istriku dengan mulut kotormu itu, Frans," desis Reymond, suaranya terdengar sangat rendah namun mengandung getaran amarah yang sanggup membekukan darah.
"Kau bukan ayahnya. Kau hanyalah penculik, pembunuh, dan penyiksa yang bersembunyi di balik jubah bangsawan."
Ethan Taylor melangkah mendekat, berdiri di samping Reymond sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apakah kau akan mengeksekusinya di sini, Rey?" tanya Ethan dengan nada tenang namun tegas.
Reymond menarik napas dalam-dalam, menatap Frans yang gemetar di bawah kakinya. Mengakhiri nyawa bajingan ini dengan sebutir peluru di dalam kastilnya sendiri terasa terlalu mudah.
Kematian instan bukanlah penebusan yang setimpal untuk dua puluh satu tahun penderitaan Claudia, dan juga pembunuhan berencana terhadap Baron William Montgomery.
"Tidak," jawab Reymond, matanya berkilat kejam.
"Mati di sini terlalu mewah untuknya. Ikat dia. Bawa dia kembali ke mansion terpencil dalam kondisi terbelenggu. Aku ingin dia berlutut dan menerima pengadilan langsung dari wanita yang selama ini ia siksa dan ia buang."
Malam itu juga, kastil utama Crimson Raven resmi dikosongkan dan seluruh aset faksi disita oleh aliansi. Di bawah pengawalan ketat divisi tempur Smith, sebuah kendaraan rutan khusus bergerak membelah kegelapan malam, membawa Frans Raven menuju tempat di mana keadilan sejati telah menunggunya.
...***...
Ruang Sidang Agung Aliansi dipenuhi oleh atmosfer yang teramat berat dan menegangkan. Di dalam jeruji besi terdakwa, duduk Frans Crimson Raven, Robert, serta Bellatric yang sempat mencoba melarikan diri ke perbatasan namun berhasil diringkus oleh pasukan intelijen Smith.
Ketiganya kini tampak hancur, tidak ada lagi jubah kemewahan yang mereka banggakan. Menyadari bahwa mereka tidak akan bisa lolos dari cengkeraman aliansi Taylor, Smith, Johnson, dan Beatrice, Frans dengan sisa-sisa kelicikannya justru menuntut adanya Persidangan Agung resmi—berharap hukum formal bisa menunda eksekusi mati mereka.
Namun, Frans tidak pernah menyangka bahwa persidangan ini tidak hanya akan dihadiri oleh para penguasa lokal.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan palu hakim agung memecah keheningan, disusul oleh terbukanya pintu besar ruang sidang. Detik berikutnya, seluruh ruangan seketika senyap sebelum kemudian gempar oleh kehadiran iring-iringan pengawal berlogo mahkota emas dan singa perak.
Fraksi Montgomery dari Inggris telah tiba. Kehadiran mereka yang mendadak melintasi samudra seketika membalikkan dominasi ruang sidang.
Melangkah di baris paling depan dengan tongkat kebesaran perak adalah Baron Edward Henry Montgomery, ayah kandung dari mendiang William Montgomery, sekaligus kakek kandung Claudia. Di sampingnya, berjalan dengan anggun namun memancarkan duka yang mendalam, Lady Victoria Eleanor Montgomery, ibu kandung William. Tatapan mata sepasang tetua Inggris itu begitu tajam, mengunci mati sosok Frans Raven dengan kemurkaan yang tak terhingga.
Di belakang mereka, tiga saudara kandung mendiang William melangkah dengan aura aristokrat yang sangat pekat dan berbahaya
Lord Damien Alexander Montgomery, sang putra kedua sekaligus tangan kanan faksi. Lord Raphael Dominic Montgomery, jenderal taktis militer Inggris. Lady Lilith Evangeline Montgomery, sang adik perempuan yang menatap Bellatric dengan pandangan seasing es kutub.
Frans Raven seketika lemas di kursinya, wajahnya memucat bagai mayat melihat seluruh keluarga Montgomery turun tangan langsung ke wilayah aliansi. Skenario pembelaan yang sudah ia susun di kepalanya mendadak menguap tanpa sisa.
Baron Edward Henry Montgomery tidak duduk di kursi penonton. Pria sepuh yang sangat dihormati di daratan Inggris itu melangkah mantap menuju podium saksi agung, berhadapan langsung dengan majelis hakim.
"Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai perwakilan bangsawan Inggris," suara Baron Edward menggelegar, bergema dengan aksen kaku yang penuh wibawa di setiap sudut ruangan.
"Saya berdiri di sini sebagai seorang ayah yang putranya—William Montgomery—telah diculik, dirampas hak nikahnya, diasingkan, dan diracun secara perlahan oleh bajingan di dalam jeruji itu!"
Lady Victoria Eleanor Montgomery menggenggam saputangan rendanya erat-erat, matanya merah menahan air mata kemurkaan.
"Dua puluh satu tahun kami mengira ia hidup bahagia! Dan selama dua puluh satu tahun itu pula, kalian menyembunyikannya, membunuhnya, dan memperlakukan cucu perempuan saya, tak lebih dari seorang budak!"
Lord Damien Montgomery maju satu langkah, menatap tajam ke arah Frans, Bellatric, dan Robert bergantian.
"Tuduhan kami mutlak: Pemalsuan identitas keturunan bangsawan, penculikan tingkat tinggi, dan pembunuhan berencana terhadap pewaris Montgomery. Kalian meminta persidangan untuk menentukan eksekusi? Maka hari ini, di bawah hukum Aliansi dan Kerajaan Inggris, kami sendiri yang akan memastikan vonis mati kalian dijatuhkan tanpa ada ruang untuk pengampunan!"
Di baris kursi kehormatan keluarga Smith, Reymond duduk mendampingi Claudia. Cla menggenggam erat tangan suaminya, air matanya menetes pelan melihat bagaimana keluarga kandung dari mendiang ayahnya berdiri membela kehormatannya yang telah lama diinjak-injak. Reymond membalas genggaman itu dengan kokoh, memberikan perlindungan mutlak bagi istrinya yang kini tidak lagi sendiri di dunia ini.
...----------------...