Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Musuh dari Masa Lalu
Malam setelah percobaan penculikan Elena.
Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa tidur.
Para penjaga diperbanyak.
Jadwal patroli diubah.
Sistem keamanan diperketat.
Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai...
Rumah persembunyian Valdarez terasa seperti benteng yang sedang menunggu pengepungan.
Namun Kael tahu.
Tembok tidak selalu mampu menghentikan musuh.
Terutama musuh yang datang dari masa lalu.
Pukul dua dini hari.
Kael masih berada di ruang kerjanya.
Lampu meja menjadi satu-satunya sumber cahaya.
Di depannya terdapat foto lama yang sudah mulai kusam.
Foto yang sama.
Leon.
Marcus.
Isabella.
Dirinya.
Dan satu orang yang wajahnya selama ini sengaja disembunyikan dari Arda.
Kael menatap foto itu lama.
Sangat lama.
Lalu menghela napas pelan.
"Aku tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi."
gumamnya.
Ketukan terdengar dari pintu.
Darius masuk.
Pria itu langsung memahami suasana ruangan.
Karena ia melihat foto yang sama.
"Sudah waktunya?"
tanya Darius.
Kael tersenyum pahit.
"Kurasa iya."
Darius terdiam.
Tatapannya ikut jatuh pada foto lama itu.
Foto yang menjadi awal dari begitu banyak tragedi.
"Kalau Arda tahu..."
"Aku tahu."
potong Kael.
"Dan itulah yang paling kutakutkan."
Keesokan paginya.
Arda terbangun lebih awal.
Namun bukan karena kebiasaan.
Melainkan karena mimpi.
Mimpi yang sama.
Mimpi yang terus muncul selama beberapa minggu terakhir.
Lorong gelap.
Suara tembakan.
Darah.
Dan seorang pria yang berdiri membelakanginya.
Pria yang tidak pernah bisa ia lihat wajahnya.
Namun setiap kali mimpi itu berakhir...
Arda selalu terbangun dengan perasaan yang sama.
Perasaan kehilangan.
Perasaan marah.
Dan perasaan bahwa seseorang sedang memanggilnya dari masa lalu.
Siang harinya.
Kael mengumpulkan anggota inti.
Arda.
Ravian.
Darius.
Elena.
Dan beberapa orang kepercayaan lainnya.
Suasana ruangan terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih serius.
Karena tidak ada dokumen di meja.
Tidak ada laporan.
Tidak ada peta.
Hanya sebuah foto.
Foto lama.
Arda langsung mengenalinya.
Foto yang selama ini ia cari jawabannya.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Ada sesuatu yang harus kalian ketahui."
ucap Kael.
Tidak ada yang menyela.
Karena nada suaranya sudah cukup menjelaskan bahwa ini bukan percakapan biasa.
"Semua yang terjadi sekarang."
lanjut Kael.
"Victor."
"Marcus."
"Kematian Leon."
"Semuanya berasal dari satu peristiwa."
Ruangan menjadi sunyi.
Kael mengambil foto tersebut.
Kemudian menunjuk orang kelima.
Orang yang selama ini wajahnya tidak pernah dijelaskan.
"Namanya Adrian Voss."
ucap Kael.
Arda langsung menegang.
Karena nama itu asing.
Namun entah kenapa terasa penting.
Sangat penting.
"Dulu."
lanjut Kael.
"Dia adalah sahabat Leon."
Keheningan berubah menjadi keterkejutan.
Sahabat.
Bukan musuh.
Bukan pengkhianat.
Melainkan sahabat.
"Itu tidak mungkin."
gumam Arda.
Kael tersenyum pahit.
"Aku juga berharap begitu."
Darius memejamkan mata.
Seolah kenangan lama kembali menghantamnya.
"Leon mempercayainya."
ucap Darius.
"Lebih dari siapa pun."
Arda membeku.
Karena semakin banyak yang ia dengar...
Semakin buruk semuanya terdengar.
"Lalu apa yang terjadi?"
tanyanya.
Ruangan kembali hening.
Beberapa detik.
Yang terasa sangat panjang.
Kemudian Kael menjawab.
"Dendam."
Satu kata.
Namun cukup untuk mengubah suasana.
"Dulu."
lanjut Kael.
"Kami semua membangun Valdarez bersama."
"Leon."
"Marcus."
"Adrian."
"Aku."
"Kami seperti saudara."
Tatapan Kael berubah.
Menjadi lebih jauh.
Lebih gelap.
"Sampai suatu malam."
"Malam yang menghancurkan semuanya."
Dua puluh tahun lalu.
Sebuah gudang terbakar.
Puluhan orang mati.
Dan salah satu korban adalah adik perempuan Adrian.
Seorang gadis yang tidak terlibat apa pun.
Tidak bersalah.
Tidak mengetahui dunia bawah.
Ia hanya berada di tempat yang salah.
Pada waktu yang salah.
"Adrian menyalahkan Leon."
ucap Kael.
"Mengapa?"
tanya Elena pelan.
"Karena keputusan Leon yang menyebabkan operasi malam itu terjadi."
Ruangan kembali sunyi.
Karena semua memahami sesuatu.
Kadang-kadang tragedi tidak membutuhkan niat jahat.
Cukup satu keputusan.
Satu kesalahan.
Dan hidup seseorang hancur selamanya.
"Sejak saat itu."
lanjut Kael.
"Adrian berubah."
"Dia mulai membenci Leon."
"Mulai membenci Valdarez."
"Mulai membenci semua yang pernah kami bangun."
Arda mengepalkan tangan.
Karena untuk pertama kalinya...
Ia mulai melihat gambaran yang lebih besar.
Ini bukan perang soal wilayah.
Bukan perang soal uang.
Bukan perang soal kekuasaan.
Ini perang yang lahir dari luka lama.
Luka yang tidak pernah sembuh.
"Lalu Adrian menjadi Victor?"
tanya Ravian.
Kael menggeleng.
"Belum."
Semua menatapnya.
Karena jawaban itu justru menimbulkan pertanyaan baru.
"Victor bukan Adrian."
ucap Kael perlahan.
Dan seluruh ruangan membeku.
Apa?
Arda bahkan merasa salah mendengar.
"Kalau begitu siapa Victor?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Beberapa detik.
Yang terasa seperti selamanya.
Kemudian Kael berkata pelan.
Sangat pelan.
Seolah setiap kata memiliki berat yang luar biasa.
"Victor adalah putra Adrian."
SUNYI.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Tidak ada napas.
Karena seluruh ruangan baru saja menerima kebenaran yang mengubah segalanya.
Victor bukan bagian dari generasi Leon.
Victor adalah generasi berikutnya.
Anak dari seseorang yang telah memelihara dendam selama puluhan tahun.
Dan tiba-tiba semuanya masuk akal.
Kebencian.
Obsesi.
Kesabaran.
Rencana yang berlangsung bertahun-tahun.
Victor tumbuh bersama cerita itu.
Tumbuh bersama kemarahan itu.
Tumbuh bersama kebencian yang diwariskan.
Elena perlahan menutup mulutnya.
Ravian menatap meja.
Darius memejamkan mata.
Sementara Arda hanya bisa diam.
Karena untuk pertama kalinya...
Ia menyadari betapa dalam akar perang ini.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi.
Pintu ruang rapat terbuka.
BRAK!
Seorang penjaga masuk.
Napasnya memburu.
Wajahnya pucat.
"Tuan Kael!"
Semua langsung berdiri.
"Ada apa?"
Penjaga itu menelan ludah.
Kemudian mengucapkan kalimat yang membuat seluruh darah di tubuh Arda terasa membeku.
"Kami menemukan lokasi Adrian Voss."
Ruangan langsung sunyi.
Karena jika Adrian benar-benar ditemukan...
Maka untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
Masa lalu dan masa kini akan bertemu secara langsung.
Dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪