NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Pagi yang Berbeda

Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai vila.

Badai salju yang semalam mengamuk kini telah mereda.

Suasana di luar tampak tenang. Hamparan salju putih menutupi seluruh pegunungan, menciptakan pemandangan yang begitu indah.

Di dalam kamar, Luna perlahan membuka matanya.

Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.

Lalu ia menyadari sesuatu.

Ada lengan yang melingkar di pinggangnya.

Tubuhnya langsung menegang.

Perlahan ia menoleh.

Alex masih tertidur di sampingnya.

Wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Tidak ada ekspresi dingin.

Tidak ada tatapan tajam.

Hanya Alex yang sedang tertidur pulas.

Luna merasakan jantungnya mulai berdebar.

Malam tadi terasa seperti mimpi.

Percakapan panjang mereka.

Pengakuan perasaan yang selama ini disimpan.

Dan bagaimana akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti menjaga jarak satu sama lain.

Pipi Luna langsung memanas.

Ia buru-buru memalingkan wajah.

Namun pelukan Alex justru semakin erat.

Membuat Luna tidak bisa bergerak.

"Alex..."

gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Pria itu masih tertidur.

Luna memperhatikan wajahnya diam-diam.

Ternyata Alex cukup tampan saat tidur.

Tidak terlihat menyeramkan.

Tidak terlihat seperti direktur perusahaan yang selalu membuat bawahannya gugup.

Bahkan terlihat sedikit lebih muda.

Tanpa sadar Luna tersenyum.

---

Beberapa menit kemudian Alex mulai bergerak.

Kelopak matanya terbuka perlahan.

Dan hal pertama yang dilihatnya adalah Luna yang sedang menatapnya.

Mereka sama-sama terdiam.

Cukup lama.

Sampai akhirnya Alex berkata,

"Selamat pagi."

Suara seraknya membuat wajah Luna semakin merah.

"P-pagi."

Alex terlihat menyadari posisi mereka saat ini.

Namun berbeda dengan Luna yang gugup, pria itu justru terlihat santai.

"Sekarang aku ngerti kenapa kamu selalu bangun lebih pagi."

Luna mengernyit.

"Maksudnya?"

"Kamu terlalu banyak mikir."

Luna langsung memukul lengannya pelan.

Alex tertawa kecil.

Suara yang semakin sering terdengar beberapa minggu terakhir.

Dan yang diam-diam menjadi suara favorit Luna.

---

Setelah bersiap-siap, mereka turun ke ruang makan vila.

Pemilik vila yang sudah tua itu menyambut mereka dengan ramah.

"Syukurlah badai sudah berhenti."

kata pria itu.

Luna tersenyum.

"Kalau tidak, mungkin kami harus tinggal seminggu lagi."

Pria tua itu tertawa.

"Saya rasa ada yang tidak keberatan."

Alex yang sedang minum kopi hampir tersedak.

Sedangkan Luna langsung salah tingkah.

---

Perjalanan kembali ke hotel berlangsung jauh lebih tenang.

Namun suasananya terasa berbeda.

Dulu mereka sering kehabisan topik.

Sekarang justru sebaliknya.

Mereka membicarakan banyak hal.

Tentang tempat yang ingin dikunjungi.

Tentang makanan yang ingin dicoba.

Bahkan tentang rencana setelah kembali ke Jakarta.

"Kamu mau lanjut kerja setelah lulus?"

tanya Alex.

Luna mengangguk.

"Tentu."

"Ada perusahaan yang kamu incar?"

Luna berpikir sejenak.

"Belum."

Alex melirik sekilas.

"Kalau begitu masuk ke perusahaanku saja."

Luna langsung menoleh.

"Hah?"

"Aku serius."

Luna tertawa.

"Nanti orang-orang bilang aku pakai jalur orang dalam."

"Kamu memang orang dalam."

jawab Alex santai.

Membuat Luna langsung kehilangan kata-kata.

---

Saat sore menjelang, mereka kembali tiba di hotel.

Malam itu adalah malam terakhir mereka di Swiss sebelum kembali ke Indonesia.

Luna berdiri di balkon sambil memandangi pegunungan.

Perasaan sedih mulai muncul.

"Aku nggak mau pulang."

katanya.

Alex berdiri di sampingnya.

"Kamu bilang itu setiap hari."

"Karena memang benar."

Alex tersenyum.

Lalu menatap langit yang mulai berubah jingga.

"Aku juga."

Luna menoleh.

"Kamu?"

Alex mengangguk pelan.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Lalu pria itu melanjutkan.

"Dulu aku datang ke Swiss cuma untuk kerja."

"Terus?"

"Ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati tempat ini."

Jantung Luna kembali berdebar.

Karena ia tahu.

Alex tidak sedang membicarakan Swiss.

Pria itu sedang membicarakan seseorang yang menemaninya selama perjalanan ini.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, Luna merasa yakin.

Hubungan mereka bukan lagi tentang perjodohan.

Bukan lagi tentang menggantikan Liana.

Melainkan tentang dua orang yang tanpa sengaja menemukan cinta di tempat yang tidak pernah mereka duga.

Dan mungkin, saat mereka kembali ke Jakarta nanti, kisah mereka yang sebenarnya baru akan dimulai.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!