Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16: ekspansi skala nasional
Hujan badai di luar Rumah Utama keluarga Wijaya perlahan mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari atap seng dan bau anyir darah yang pekat di dalam ruang tamu. Pemimpin tim Black Cobra masih bersujud di lantai semen yang basah, tubuh kekarnya gemetar seperti daun yang tertiup angin kencang. Di sekelilingnya, empat anak buahnya terbujur kaku tanpa nyawa.
"A-Adrian... Tuan Adrian..." suara sang pemimpin bergetar hebat, nyalinya sebagai pembunuh bayaran internasional telah tercabik-cabik oleh kecepatan monster di depannya. "Teguh Baskoro... dia memesan kami lewat jaringan gelap di ibu kota. Perintahnya adalah menghabisi Anda dan mengambil kembali flashdisk dokumen korupsi tol Sumatera itu. Dia tidak memberi tahu kami kalau... kalau Anda adalah seorang master bela diri tingkat tinggi! Tolong... ampuni nyawa saya, Tuan!"
Aku menatap pria yang bersujud di bawah kakiku dengan pandangan dingin. "Jika aku membiarkanmu hidup, apa jaminan bahwa kamu tidak akan berbalik menggigitku di kemudian hari?"
"Saya bersumpah! Atas nama organisasi Black Cobra, kami akan memutus semua kontrak dengan keluarga Baskoro! Bahkan... jika Anda memerintahkannya, saya bisa mengirimkan sisa tim kami di Jakarta untuk memboikot dan mengawasi sisa-sisa pengikut Teguh Baskoro yang masih mencoba melawan!" seru sang pemimpin dengan nada panik, berusaha menjual seluruh kesetiaannya demi sepeser belas kasihan.
Aku terdiam sejenak, menatapnya dengan 'Mata Penilai Dewa' untuk memastikan ketulusan dari ketakutannya. Panel sistem di atas kepalanya menunjukkan tingkat kepatuhan mental yang berada di angka sembilan puluh delapan persen—dia benar-benar sudah terlalu trauma untuk berkhianat.
"Baik," ujarku datar, suaranya sarat akan penekanan dari Retorika Hipnotis Dewa. "Bersihkan semua sampah-sampah ini dari rumah keluargaku dalam waktu tiga puluh menit. Setelah itu, kembali ke Jakarta dan jadilah mataku di ibu kota. Jika ada satu saja pergerakan dari faksi Baskoro yang luput dari laporanku... kamu tahu ke mana aku akan datang untuk menjemput nyawamu."
"Baik, Tuan! Terima kasih atas kemurahan hati Anda!" pria itu langsung berdiri dengan terburu-buru, lalu dengan cekatan mulai memapah jasad rekan-rekannya keluar menuju mobil SUV hitam mereka.
Setelah ruang tamu kembali sepi dari orang luar, Kakek Bramasta, Erika, dan Kevin perlahan-lahan keluar dari syok mereka. Erika yang tadinya lemas di sudut ruangan, mendadak merangkak mendekatiku dengan wajah yang dipenuhi rasa takut dan rasa hormat yang mendalam. Dia tidak pernah membayangkan bahwa menantu yang selama dua tahun ini dia suruh menyapu dan mencuci pakaian kotor, ternyata memiliki kekuatan setara dewa perang yang bisa membunuh orang hanya dengan tangan kosong.
"Adrian... anakku... maafkan Ibu..." ratap Erika dengan suara bergetar, mencoba menyentuh ujung jubah hitamku yang basah. "Ibu benar-benar buta selama ini... Ibu tidak tahu kalau kamu begitu hebat..."
Aku melangkah mundur satu tapak, menghindari sentuhannya yang memuakkan. "Nyonya Erika, aku datang ke sini malam ini bukan untuk menyelamatkan Anda atau Kevin. Aku datang hanya karena Kirana mencemaskan keselamatan kalian. Jangan pernah berpikir bahwa karena kejadian malam ini, aku akan melupakan setiap cambukan kata-kata dan penghinaan yang Anda berikan pada ibuku."
Ucapanku membuat Erika langsung membeku di tempat, wajahnya kembali pucat pasi.
Aku memalingkan wajahku ke arah Kakek Bramasta yang berdiri bersandar pada pilar rumah. "Kakek Bramasta, urus kekacauan di rumah ini. Besok pagi, pengumuman resmi peluncuran Asura Digital Bank akan dirilis secara nasional. Pastikan Wijaya Group sudah siap memindahkan seluruh likuiditasnya ke dalam sistem kita."
"B-baik, Adrian... segala perintahmu akan dilaksanakan secepatnya," jawab Kakek Bramasta sambil membungkuk hormat sembilan puluh derajat, sepenuhnya tunduk pada kekuasaan mutlakku.
Aku berbalik dan melangkah keluar menembus sisa-sisa rintik hujan malam, meninggalkan Rumah Utama keluarga Wijaya untuk kembali ke sisi Kirana di Wijaya Tower.
Keesokan paginya, tepat jam sembilan, sebuah bom informasi kembali diledakkan ke seluruh penjuru negeri. Melalui konferensi pers langsung yang disiarkan oleh puluhan stasiun televisi dan portal berita nasional di bawah kendali modal dana Sistem milikku, Asura Digital Bank resmi diluncurkan ke publik.
Aplikasi perbankan digital berbasis kecerdasan buatan itu menawarkan efisiensi tanpa batas: transfer instan tanpa biaya administrasi ke seluruh dunia, pinjaman modal korporasi dengan bunga terendah di Asia, serta sistem keamanan enkripsi kuantum yang tidak bisa ditembus oleh peretas mana pun.
Efeknya langsung terasa seperti tsunami finansial. Hanya dalam waktu enam jam sejak peluncuran resmi, jumlah pengguna aktif Asura Digital Bank meroket tajam, menembus angka yang luar biasa.
[Ding! Misi Pengambilalihan Pasar Finansial Sedang Berjalan...]
[Jumlah Pengguna Aktif Pertama: 1.200.000 Pengguna! (Target 1 Juta Berhasil Dilampaui dalam waktu kurang dari 12 jam)]
[Monopoli Aliran Dana Korporasi di Lima Kota Besar: Berhasil Mencapai 45% dan Terus Meningkat!]
[Hadiah Utama Diaktifkan: Cetak Biru Teknologi 'Energi Terbarukan Tingkat Dewa' telah berhasil diunduh ke dalam database pribadi Tuan Rumah!]
[Saldo Tambahan Rp 100 Miliar telah ditransfer secara penuh ke rekening utama Anda!]
Di dalam ruang kerja Direktur Utama Wijaya Tower, Kirana menatap layar tabletnya dengan tangan yang gemetar karena luapan rasa tidak percaya yang teramat sangat. Grafik pendaftaran pengguna bank digital kita naik membentuk garis vertikal yang hampir sempurna.
"Adrian... ini benar-benar mukjizat," bisik Kirana, matanya berbinar terang menatapku yang sedang berdiri di dekat jendela besar, memandang hamparan pemandangan kota dari lantai tiga puluh. "Seluruh pengusaha besar dari Surabaya, Medan, Makassar, bahkan dari ibu kota Jakarta hari ini berbondong-bondong menutup rekening lama mereka di bank konvensional dan memindahkan seluruh aset perusahaan mereka ke Asura Digital Bank..Kita baru saja memegang kendali atas urat nadi keuangan negara ini!"
Aku berjalan mendekatinya, lalu merangkul pundaknya dengan lembut, membawa tubuhnya ke dalam pelukanku yang hangat. "Ini barulah fondasi awal dari imperium kita, Kirana. Dengan cetak biru teknologi energi terbarukan yang baru saja kudapatkan, kita tidak hanya akan menguasai uang mereka... kita juga akan menguasai pasokan daya energi seluruh negeri ini."
Aku menyunggingkan senyum dingin menatap langit lurus di luar jendela. Faksi-faksi besar di ibu kota yang dulunya menganggap daerah ini sebagai tempat terpencil, sebentar lagi harus berlutut memohon likuiditas dana dan pasokan energi dari tangan sepasang suami istri bernama Adrian dan Kirana Wijaya.