"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Rahasia Sektor Nol
Satu minggu telah berlalu sejak malam berdarah di Distrik Utara dan pembersihan massal di Pelabuhan Barat. Di bawah kepemimpinan bersama Xavier dan Aletta, klan Vassiliev kini berdiri di puncak rantai makanan dunia bawah tanah tanpa ada satu pun yang berani menentang.
Siang itu, Aletta berada di ruang kerja barunya di lantai tiga mansion. Ruangan itu dulunya adalah perpustakaan arsip yang kini dirombak menjadi kantor pribadinya sebagai pemilik sah Artech Design dan pengendali Pelabuhan Barat. Meja kayu mahoni besar di tengah ruangan itu dipenuhi oleh gulungan cetak biru, dokumen finansial, dan buku catatan tua bersampul kulit milik mendiang ayahnya.
Xavier duduk bersandar santai di sofa kulit di sudut ruangan. Pria itu tengah menyesap kopi hitamnya, mata kelabunya tak sedetik pun lepas memperhatikan istrinya. Melihat Aletta yang begitu fokus, dengan kening sedikit berkerut dan kacamata baca berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, memunculkan desiran hangat sekaligus gairah posesif di dada sang Raja Mafia.
"Jika kau terus mengerutkan keningmu seperti itu pada kertas-kertas mati tersebut, aku bersumpah akan membakar semuanya, Aletta," goda Xavier dengan suara baritonnya yang serak.
Aletta mendongak, menatap suaminya dengan senyum tipis. Ia melepaskan kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya.
"Aku sedang mencoba memahami pola kerja ayahku, Xavier," keluh Aletta pelan, menepuk setumpuk dokumen di hadapannya. "Kau menyerahkan seluruh aset Artech Design kepadaku, tapi semakin aku menggali arsip-arsip lama ini, semakin aku merasa ada sesuatu yang janggal."
Xavier meletakkan cangkir kopinya ke meja kaca, lalu bangkit berdiri. Ia melangkah menghampiri meja kerja Aletta, berdiri di belakang kursi istrinya, dan melingkarkan lengannya dari belakang, mencium puncak kepala Aletta dengan sayang.
"Apa yang mengganggu pikiran Ratuku?" bisik Xavier.
Aletta membentangkan sebuah cetak biru besar Pelabuhan Barat yang sudah mulai menguning di bagian tepinya. Jari lentiknya menelusuri garis-garis pondasi pelabuhan tersebut.
"Lihat ini," tunjuk Aletta. "Ini adalah denah konstruksi Sektor Tujuh, tempat gudang utama yang kita datangi minggu lalu. Di atas kertas legal dan manifes publik, kedalaman pondasi beton pelabuhan ini hanya lima belas meter di bawah permukaan laut. Sesuai standar."
Aletta kemudian membuka buku catatan tua bersampul kulit milik ayahnya, membuka halaman terakhir yang dipenuhi coretan angka dan rumus konstruksi rumit.
"Tapi di dalam jurnal pribadi ayahku, ia mencatat pemesanan material baja tungsten dan beton kedap air dengan volume tiga kali lipat lebih besar dari yang dilaporkan," lanjut Aletta, nada suaranya berubah tegang. Jari Aletta mengetuk sebuah titik di bawah gambar Sektor Tujuh. "Ayahku tidak hanya membangun pelabuhan, Xavier. Dia membangun sebuah fasilitas bawah tanah rahasia tepat di bawah Sektor Tujuh. Ruangan ini tidak tercatat di dinas tata kota maupun di dokumenmu."
Mata Xavier menyipit tajam. Insting mafianya langsung bekerja.
"Sebuah bungker tersembunyi yang bahkan tidak diketahui oleh klan Vassiliev?" desis Xavier. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengamati angka-angka di jurnal ayah Aletta. "Baja tungsten digunakan untuk menahan ledakan nuklir kelas menengah dan brankas bank sentral. Jika ayahmu membangun itu... apa yang sebenarnya ia sembunyikan?"
"Di jurnal ini, ayahku menyebutnya sebagai... Sektor Nol," bisik Aletta. "Dan yang paling membuatku merinding adalah tanggal pembangunannya. Ini dibangun tepat lima bulan sebelum kapal ibumu diledakkan oleh Volkov."
Keheningan yang pekat dan mematikan tiba-tiba menyelimuti ruangan kerja itu. Suhu udara seolah turun belasan derajat.
Xavier berdiri tegak, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Selama ini, ia mengira Ivan Volkov menghancurkan keluarganya murni karena perebutan wilayah kekuasaan. Namun, jika ayah Aletta membangun sebuah brankas raksasa bernilai triliunan di bawah pelabuhan sebelum insiden itu terjadi...
"Volkov tidak menginginkan pelabuhannya," geram Xavier pelan, suaranya terdengar seperti auman predator yang bersiap menerkam. "Mereka menginginkan apa pun yang ada di dalam Sektor Nol."
Sebelum Aletta bisa menyatukan lebih banyak petunjuk, suara ketukan tergesa-gesa terdengar dari pintu ganda ruang kerja tersebut. Diego masuk tanpa menunggu persetujuan, wajahnya pucat pasi, menegang diwarnai kepanikan yang jarang sekali terjadi.
"Bos. Nyonya," Diego menunduk hormat, namun napasnya memburu. Di tangannya yang bersarung tangan hitam, ia membawa sebuah kotak kayu beludru kecil berwarna hitam pekat.
Xavier melangkah maju, memposisikan dirinya menutupi Aletta sebagai tameng refleks. "Ada apa, Diego? Kau tahu aturannya untuk tidak mengganggu saat aku sedang bersama istriku."
"S-saya tahu, Bos. Tapi ini... paket ini..." Diego menelan ludah dengan susah payah. "Paket ini ditemukan tergeletak tepat di atas meja makan utama lima menit yang lalu. Tidak ada alarm yang berbunyi. Tidak ada kamera CCTV yang menangkap siapa pun yang masuk. Seseorang berhasil menembus pertahanan Cincin Dalam kita tanpa terlihat."
Darah Aletta berdesir dingin. Mansion Vassiliev memiliki pertahanan berlapis dengan sensor gerak inframerah, anjing penjaga, dan ratusan penembak jitu. Bagaimana mungkin seseorang bisa masuk hingga ke ruang makan dan meletakkan sebuah kotak?
Tanpa ragu, Xavier merampas kotak kayu itu dari tangan Diego. Pria itu membukanya dengan kasar.
Di dalam kotak berlapis beludru merah tua itu, tergeletak sebuah jam saku emas antik yang sudah penyok dan separuh hangus terbakar.
Melihat benda itu, Xavier seakan disambar petir. Tubuh kokohnya mendadak kaku. Matanya yang selalu memancarkan dominasi absolut, kini melebar memancarkan syok yang luar biasa. Pria itu menyentuh jam saku tersebut dengan jari yang sedikit bergetar.
"Xavier?" panggil Aletta cemas, melangkah mendekati suaminya. "Benda apa itu?"
"Ini... ini milik ibuku," bisik Xavier parau. "Jam saku ini dipakai ibuku di hari kapalnya diledakkan. Benda ini seharusnya tenggelam di dasar laut bersama jasadnya."
Aletta menahan napasnya. Seseorang telah menyelam, atau mengambil benda ini sebelum ledakan terjadi, dan menyimpannya selama lima tahun hanya untuk dikirimkan hari ini.
Di bawah jam saku tersebut, terdapat selembar perkamen tua beraroma pinus. Aletta mengambil perkamen itu dan membaca pesan yang tertulis dengan tinta merah kental—yang sangat jelas terlihat seperti darah segar.
Ivan Volkov hanyalah anjing pelacak kami yang gagal. Mahkota yang kau kenakan hari ini hanyalah ilusi, Anak Kecil.
Buka Sektor Nol, atau kami yang akan membukanya dengan darah istri barumu.
— Il Morte (Sang Kematian)
Kertas di tangan Aletta bergetar. Ancaman ini jauh lebih gelap dan jauh lebih besar dari sindikat mana pun yang pernah mereka hadapi. Ada kekuatan tak terlihat yang selama ini mengendalikan Volkov dari balik layar, dan kini mereka menargetkan Aletta.
Xavier menutup kotak kayu itu dengan suara yang keras, menghancurkan engselnya. Syok di mata pria itu telah menguap tanpa sisa, digantikan oleh murka murni yang siap membumihanguskan seluruh Eropa.
"Diego," panggil Xavier pelan, namun suaranya membawa janji sebuah pembantaian besar-besaran.
"Ya, Bos!"
"Kumpulkan seluruh Kapten, persenjatai seluruh pasukan elit dengan amunisi penembus baja, dan aktifkan Protokol Merah." Xavier berbalik menatap Aletta, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan besarnya yang memanas. "Kita akan membongkar pelabuhan itu malam ini. Kita akan melihat monster apa yang disembunyikan ayahmu di dalam Sektor Nol."
Dunia bawah tanah baru saja tenang, namun bayangan gelap dari masa lalu telah datang untuk menagih hutang darah mereka.