Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 21
Felix tersentak, menatap datar Ataraz yang menyeringai di sebelahnya. Sore di Odelions yang mendekati musim gugur adalah posisi yang menyenangkan, hangat yang di campur gugusan angin kecil.
Tiga hari kejadian malam bulan moster, Eva masih belum sadarkan diri karena demam. Velysa sering bolak-balik untuk mengecek apa Eva terbangun, dan pelayan itu selalu melapor rutin ke Felix hingga dia tau kabar terbarunya.
Ataraz melirik sahabat nya yang terlihat termenung, jujur jika pemikiran Felix punya ide tiran lainnya mungkin bisa di maklumi. Tapi kalau opsi lainnya yang berlainan dengan Felix, jujur dia masih akan sangat syok berat.
"eva belum sadar ya?", Felix melirik tajam Ataraz.
"kau santai sekali memanggilnya seperti itu", Ataraz ingin tertawa mendengar nada datar Felix.
"kau tau kan kita sudah berteman", Felix mendengus melihat wajah Ataraz yang baginya sangat menyebalkan.
Felix menatap istana putri mahkota dalam diam, wajahnya diam tapi tatapan menerawang jauh sekali, Ataraz menatap dengan seksama sekaligus mengamati.
Ataraz menatap capung yang berterbangan di sekeliling nya. Dia tiba-tiba teringat satu perkataan dari Felix ketika mereka masih di akademi militer.
Flashback...
Lorong yang legang terasa hangat seperti biasanya, Ataraz melirik Felix yang sibuk membaca tanpa peduli tatapan para gadis-gadis bangsawan yang melihat mereka.
Sejak awal masuk akademi, Felix sudah sangat terkenal di kalangan guru dan para gadis. Selain menjadi putra mahkota, dia tentu di kenal dengan ketampanan dan kejeniusan nya.
Seperti dalam sejarah, Felix menurunkan bakar alami memakai pedang dan otak cerdas dari kaisar. Bahkan ciri fisik Felix yang sangat mirip dengan kaisar, membuat nya semakin di kenal.
"hey Felix, kau tidak ingin menyapa mereka kawan. Aku kasihan melihat mereka jauh-jauh dari kelas apa ke kelas militer", Ataraz melirik para gadis tidak tega.
"terlalu buang-buang waktu", Felix membalik lembar bukunya. Nada yang cuek dan datar khas Felix.
Ataraz melirik taman yang sekarang Musin semi, bunga bermekaran indah banyaknya kupu-kupu yang seperti menari di atas para bunga, sangat indah sekali.
"menurutmu wanita itu penting tidak?", Ataraz menopang dagunya.
"kau sakit ya", Ataraz tertawa mendengar perkataan Felix.
Memang pertanyaan Ataraz terkesan ambigu. Terlebih mereka adalah putra mahkota di kerajaan mereka, tentu wanita penting untuk mendapatkan keturunan.
Felix kembali membaca bukunya, dia sepertinya kesal mendengar ocehan Ataraz, walau bagi Ataraz akan sangat membosankan kalau tidak mengoceh sekali saja.
"yah maksudnya wanita yang kita cinta itu penting gak, kalau seandainya dia tidak ada nilai untuk membantu kita naik tahta. Seperti contoh dia gadis miskin dari desa kumuh gitu". Ataraz menatap Felix.
"secara hukum istana, jika dia bisa memberikan keturunan dia aman. Hanya sering di rundung mungkin ada", Felix tetap melihat buku tanpa memandang Ataraz saat menjawabnya.
"tidak hanya sering, mungkin setiap hari", kekeh Ataraz.
Felix diam tidak merespon.
Ataraz bersandar di tembok dekatnya, menatap Felix yang masih sibuk dengan bukunya.
"kalau menurut mu bagaimana Felix?, jika kau jatuh hati dengan sosok wanita yang tidak ingin denganmu bagaimana?", Felix diam sejenak. Gerakan tangannya yang hendak membalik halaman. Buku terhenti sejenak.
Felix menatap Ataraz, dari tatapan itu Ataraz merasa ada hal gila yang benar-benar gila yang ingin dia katakan.
Felix tersenyum miring, "jika itu aku, aku akan membuat dia tidak bisa menjauh dariku. akan ku buat dia ada dalam sarang ku apapun caranya, entah dengan ketakutan atau keputus asaan".
Ataraz melirik Felix, entah perkataan waktu itu apa sungguhan atau hanya cara Felix membuat nya terdiam, tapi dia merasakan tatapan Felix ke Eva sedikit mengingatkan dia pada perkataan Felix waktu itu.
Setelah berbicara, walau hanya sebentar Ataraz tau Eva pribadi yang baik dan lembut. Dia tumbuh di lingkungan Ilos yang sangat baik, hingga dia sangat berbeda dengan bangsawan manapun. dan Eva memiliki keberanian dan kecerdasan yang cukup mengimbangi Felix.
Jika kalimat itu benar-benar di lakukan Felix, Ataraz entah kenapa merasa kasihan pada Eva. Tiba-tiba Felix bangkit dari duduk, membuat Ataraz kaget.
Mata merah Felix menatap gelap, Ataraz mengikuti arah pandangan Felix. Disana ada Flery yang mengendap-endap masuk ke istana putri mahkota.
ataraz menatap heran, sejak dia hadir. Dia merasa jarang melihat sosok adik Felix, dia ingat hubungan kakak beradik yang buruk ini sangat baik, dan ada urusan apa Flery pergi ke istana putri mahkota dengan mengendap-endap.
"Tidak akan ku biarkan hama satupun mendekat padanya", Ataraz sedikit merinding dengan nada Felix yang datar dan dingin.
"kau sungguh menikahi nya karena Ilos kan?", Ataraz menatap punggung Felix yang hendak pergi
langkah Felix berhenti sejenak, dia menoleh dan tersenyum miring. Membuat Ataraz bungkam dan tidak berkutik, Felix kembali melangkah menyusul Flery tebaknya.
Ataraz menatap istana putri mahkota, mengusap wajahnya yang kusut bukan main. Dia paham arti senyuman Felix.
"dia memang gila". Ataraz bangkit dan kembali menuju paviliunnya.
Felix sendiri melangkah cepat menuju istana putri mahkota, auranya sangat gelap karena dia menahan seluruh emosinya selama tiga hari.
Langkahnya berhenti di depan kamar Eva, tanpa pikir panjang Felix masuk ke kamar Eva. Udara khas Ilos menyapa kulitnya, bau bunga dan aroma terapi yang menenangkan seketika menahan emosinya agar tidak meledak.
Felix melangkah ke arah jendela dan membukanya, dia sengaja agar Flery tau dia ada di dalam. Sekaligus ingin menekan status di antara dia dan Eva.
Felix duduk di kursi yang biasa duduki tiap kali mengunjungi Eva, gadis itu masih terlelap suhunya sudah tidak tinggi sejak tadi pagi, hanya menunggu dia sadar.
Felix memegang tangan Eva erat, dia kesal karena Eva terluka. Dia kesal karena harus menjadi orang pertama yang melihat luka Eva, dan dia kesal karena_
"yang mulia pangeran mahkota maaf, saya kira kamar tidak ada yang jaga", seorang pelayan masuk tiba-tiba.
Felix menatap sekilas, dan memberi isyarat agar pelayan itu pergi. Felix kembali menatap wajah Eva, entah kenapa Eva yang terlelap jauh lebih berbeda dengan dia yang masih sadar. Rambutnya yang hitam ke merahan dan_
Felix bangun dari posisinya, menatap tajam sosok Eva yang masih terbaring di ranjang sejenak, lalu menatap sekeliling kamar. Mata merah nya menangkap sesuatu, tangannya segera meraih sebuah aroma terapi dan membakarnya dengan kemampuan nya.
Seketika sosok yang terbaring itu hilang,di gantikan oleh boneka kayu yang terbaring disana.
Felix tertawa pelan, mengusap wajahnya dan menatap jendela kamar yang selalu tertutup. Pantas jendelanya selalu tertutup tiap kali dia berkunjung, dia menatap aroma terapi yang sudah menjadi abu di bawah kakinya.
"kau berpikir kabur sekarang nona", Felix tersenyum miring.
...****************...