Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Monster Kecil Valdarez
Suasana rumah persembunyian tidak pernah kembali sama setelah malam penembakan itu.
Bagi sebagian orang, itu hanyalah serangan lain di tengah perang yang sedang berlangsung.
Namun bagi Kael, Ravian, Darius, dan Elena...
Mereka memahami arti sebenarnya.
Musuh telah mengubah target.
Mereka tidak lagi hanya menyerang aset Valdarez.
Tidak lagi hanya membakar gudang.
Tidak lagi hanya membunuh anggota lapangan.
Sekarang mereka mengincar darah Valdarez itu sendiri.
Dan nama pertama dalam daftar mereka adalah Arda.
Pagi berikutnya.
Rumah persembunyian dijaga dua kali lebih ketat.
Penjaga ditempatkan di setiap titik masuk.
Sistem keamanan diperbarui.
Jalur evakuasi diperiksa ulang.
Tidak ada yang mengambil risiko.
Karena satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Arda berdiri di depan jendela kamarnya.
Tatapannya mengarah ke halaman.
Beberapa anggota patroli terlihat bergerak mondar-mandir.
Biasanya pemandangan itu membuatnya merasa aman.
Namun sekarang justru sebaliknya.
Karena semakin banyak penjagaan yang diperlukan...
Semakin jelas bahwa ancaman semakin dekat.
Ia masih mengingat suara peluru yang menghancurkan jendela malam itu.
Masih mengingat bagaimana Kael menariknya ke lantai.
Masih mengingat kenyataan bahwa jika posisi tubuhnya bergeser beberapa sentimeter saja...
Ia mungkin sudah mati.
Anehnya...
Pikiran itu tidak membuatnya takut seperti sebelumnya.
Malah sebaliknya.
Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Sesuatu yang bahkan tidak ia sadari.
Ketika seseorang hidup terlalu lama di tengah bahaya...
Ketakutan perlahan berubah bentuk.
Dan perubahan itu mulai terjadi pada Arda.
Di ruang makan.
Elena memperhatikannya dari kejauhan.
"Kau melihatnya juga?"
tanya Elena pelan.
Kael yang sedang membaca laporan mengangkat kepala.
"Melihat apa?"
"Arda."
Kael menoleh ke arah jendela.
Arda masih berdiri di sana.
Diam.
Tatapannya jauh lebih dingin dibanding beberapa minggu lalu.
Kael tidak langsung menjawab.
Karena ia juga menyadarinya.
Anak laki-laki yang dulu masih terlihat seperti remaja biasa...
Perlahan menghilang.
Dan dunia sedang menggantikannya dengan seseorang yang berbeda.
Seseorang yang lebih keras.
Lebih berbahaya.
"Masa kecilnya berakhir terlalu cepat."
gumam Elena.
Kael menatap meja beberapa saat.
Lalu berkata pelan.
"Aku tahu."
Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Karena perang tidak pernah menunggu seseorang siap.
Siang hari.
Darius membawa Arda ke area latihan lagi.
Namun kali ini suasananya berbeda.
Tidak ada instruksi panjang.
Tidak ada penjelasan.
Hanya pertarungan.
"Serang."
ucap Darius.
Arda langsung bergerak.
Cepat.
Lebih cepat dari biasanya.
Darius menghindar.
Namun matanya sedikit menyipit.
Karena ada sesuatu yang berbeda.
Gerakan Arda lebih tajam.
Lebih agresif.
Lebih berani mengambil risiko.
BRAK!
Tinju Arda menghantam lengan Darius.
Tidak cukup kuat untuk melukai.
Tetapi cukup untuk mengejutkan.
Biasanya Arda akan ragu.
Biasanya ia akan berpikir terlalu lama.
Namun hari ini tidak.
Ia menyerang tanpa ragu.
Tanpa takut.
Tanpa menahan diri.
Darius mundur satu langkah.
Kemudian tersenyum tipis.
Senyum yang jarang terlihat.
"Bagus."
ucapnya.
Namun Arda tidak menjawab.
Ia kembali menyerang.
Lebih cepat.
Lebih keras.
Dan untuk pertama kalinya...
Darius benar-benar harus serius.
Latihan berlangsung hampir dua jam.
Ketika akhirnya selesai, napas Arda memburu.
Tubuhnya penuh memar.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Ia tidak jatuh sebanyak biasanya.
Tidak kalah seburuk biasanya.
Dan itu bukan karena Darius sedang bermurah hati.
Arda memang berkembang.
Sangat cepat.
Mungkin terlalu cepat.
Ketika mereka berjalan kembali ke rumah, Darius akhirnya membuka suara.
"Kau marah."
ucapnya.
Arda diam.
Namun Darius tahu jawabannya.
"Kepada siapa?"
lanjut pria itu.
Arda menatap jalan di depan.
Untuk beberapa saat ia tidak menjawab.
Lalu akhirnya berkata pelan.
"Kepada semuanya."
Darius mengangguk.
Ia bisa memahami perasaan itu.
Karena ia pernah merasakannya.
Bertahun-tahun lalu.
Saat kehilangan keluarganya sendiri.
"Kemarahan bisa membuatmu kuat."
ucap Darius.
"Tapi juga bisa menghancurkanmu."
Arda tidak menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ia mulai menyadari sesuatu.
Ia memang marah.
Sangat marah.
Kepada orang yang membunuh Leon.
Kepada orang yang menyembunyikan kebenaran tentang Isabella.
Kepada orang yang mengirim penembak untuk membunuhnya.
Dan terutama...
Kepada siapa pun yang mencoba menghancurkan keluarganya.
Malam hari.
Sebuah rapat darurat kembali diadakan.
Laporan baru datang dari berbagai wilayah.
Dan tidak satu pun berisi kabar baik.
Beberapa kelompok kriminal mulai berpindah pihak.
Beberapa sekutu lama menghilang.
Beberapa informan ditemukan tewas.
Dan situasi kota semakin memburuk.
Ravian menutup map laporan dengan kesal.
"Ini bukan perang biasa."
ucapnya.
"Tentu bukan."
jawab Kael.
Karena mereka semua tahu.
Seseorang sedang merancang semua ini.
Dengan sangat hati-hati.
Dengan sangat sabar.
Dan setiap langkah yang mereka ambil seolah sudah diprediksi sebelumnya.
"Orang kelima."
gumam Arda.
Ruangan langsung hening.
Semua mata tertuju kepadanya.
"Kalau semua ini berhubungan dengan masa lalu..."
lanjut Arda.
"...maka jawabannya mungkin ada pada orang kelima itu."
Kael perlahan mengangguk.
Masalahnya...
Mereka tidak tahu harus mencari ke mana.
Rapat berakhir menjelang tengah malam.
Sebagian besar orang kembali ke kamar masing-masing.
Namun Arda tidak bisa tidur.
Ia berjalan keluar rumah.
Menuju halaman belakang.
Tempat yang sering ia datangi ketika pikirannya terlalu penuh.
Angin malam berembus pelan.
Langit gelap.
Hampir tidak ada suara.
Dan untuk beberapa saat...
Ia menikmati ketenangan itu.
Sampai sebuah suara terdengar dari belakang.
"Perkembanganmu lebih cepat dari perkiraanku."
Arda langsung berbalik.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Karena ia mengenali suara tersebut.
Lelaki bertopeng hitam.
Lagi.
Pria itu berdiri beberapa meter darinya.
Tidak bergerak.
Tidak mengancam.
Hanya mengawasi.
"Kau."
ucap Arda.
Pria itu tidak menjawab.
Tatapannya tetap tertuju pada Arda.
"Siapa kau sebenarnya?"
tanya Arda.
Tidak ada jawaban.
Seperti biasa.
Namun kali ini pria itu tidak langsung pergi.
Ia justru berkata pelan.
"Mereka mulai takut padamu."
Arda mengernyit.
"Siapa?"
"Musuhmu."
Keheningan kembali muncul.
Arda tidak mengerti.
"Aku bukan siapa-siapa."
Untuk pertama kalinya...
Pria bertopeng itu tertawa kecil.
Tawa yang terdengar aneh.
Seolah ia baru saja mendengar sesuatu yang lucu.
"Bukan."
ucapnya.
"Kau hanya belum menyadarinya."
Arda tetap diam.
Sementara pria itu melanjutkan.
"Di kota ini..."
"...nama Valdarez pernah menjadi mimpi buruk."
Angin malam berembus.
"Kemudian Leon mati."
"Orang-orang mulai berani."
"Mereka mulai berpikir monster itu sudah pergi."
Tatapan pria bertopeng itu berubah.
Menjadi lebih tajam.
Lebih serius.
Dan entah kenapa membuat bulu kuduk Arda berdiri.
"Tapi sekarang..."
ucapnya.
"...mereka mulai melihat sesuatu."
Arda tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Tidak mengatakan apa pun.
Karena instingnya mengatakan kalimat berikutnya akan penting.
Sangat penting.
"Mereka mulai melihat monster baru."
Keheningan menyelimuti halaman.
Arda merasakan jantungnya berdetak lebih keras.
Pria bertopeng itu mengangkat tangan.
Lalu menunjuk tepat ke arahnya.
"Kau."
Arda membeku.
Pria itu menatapnya beberapa detik.
Kemudian mengucapkan satu kalimat terakhir.
Kalimat yang terus terngiang di kepala Arda bahkan setelah pria itu menghilang ke dalam kegelapan.
"Dan itulah alasan mereka mencoba membunuhmu."
Malam kembali sunyi.
Namun Arda tetap berdiri di tempatnya.
Diam.
Memikirkan semua yang baru saja ia dengar.
Sementara jauh di suatu tempat...
Seseorang sedang memandang foto dirinya.
Dan di bawah foto itu tertulis sebuah nama.
Arda Valdarez.
Lalu sebuah catatan kecil ditambahkan.
"Prioritas utama."
Karena perang sudah memasuki tahap baru.
Dan kini seluruh kota mulai mengenal julukan yang perlahan lahir dari bayang-bayang.
Julukan yang akan mengikuti Arda selama bertahun-tahun.
Monster Kecil Valdarez.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪