Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Sisa Deru di Lantai Lima Puluh
Hening yang ditinggalkan oleh derap langkah kaki Kakek Albert dan jajaran direksi terasa begitu tebal, menyisakan kekosongan yang ganjil di dalam ruangan oval itu. Hanya ada desis pendingin udara yang berembus statis, menyapu permukaan marmer hitam yang kini bersih dari lembaran berkas. Cahaya sore Pekanbaru yang menembus dinding kaca mulai memudar, mengganti pendar jingga terang dengan bayang-bayang keunguan yang panjang dan dingin di atas karpet wol kelabu.
Olin melepaskan cengkeramannya pada tas satin di pangkuannya. Bahunya yang sejak tadi tegap perlahan mengendur, membiarkan helaan napas panjang lolos dari bibirnya yang mulai terasa kering. Dia menatap kursi kosong di ujung meja, tempat pria tua yang baru saja mengutuk keberadaan putranya duduk beberapa menit lalu. Rasa muak yang familier kembali merayap di ulu hatinya, mengingatkannya pada alasan mengapa dia memilih bersembunyi di balik bau cat minyak dan kanvas selama tujuh tahun ini.
"Kau membiarkannya menggunakan nama El-Ghazali di depan mereka, Zayyan," Olin memecah kesunyian, suaranya rendah namun memiliki getaran tajam yang langsung memotong keheningan ruangan. Dia berbalik, menghadap pria tegap yang kini masih berdiri mematung di dekat barisan kursi eksekutif. "Itu tidak ada di dalam draf yang dibuat Xavi semalam. Kesepakatan kita hanya perlindungan hukum sipil, bukan deklarasi ahli waris di depan dewan komisaris."
Zayyan tidak segera menyahut. Jemari tangannya yang besar bergerak lambat, merapikan letak kancing manset platinanya yang sedikit miring akibat ketegangan tadi. Dia memutar tubuhnya, membiarkan sepasang mata elangnya mengunci pandangan Olin dengan kedataran yang absolut.
"Tanpa nama itu melekat di belakang namanya, deklarasi pertahanan siber yang dia tunjukkan tadi hanya akan dianggap sebagai gertakan anak kecil, Olin," sahut Zayyan, suaranya bariton berat, bergema tanpa riak emosi di dalam ruang kedap tersebut. Pria itu melangkah mendekati meja kerja, mengambil gawai hitamnya yang tergeletak pasrah. "Kakekku tidak akan mundur hanya karena ancaman rilis data ke bursa efek. Dia mundur karena dia tahu, jika dia menyentuh Xavi, dia sedang berhadapan dengan hukum waris mutlak yang dilindungi oleh struktur tertinggi El-Ghazali Corp."
Olin menggertakkan rahangnya, melangkah satu tapak lebih dekat hingga ujung gaun satin hijau zamrudnya berdesir halus menyentuh lantai kayu. "Kau memanfaatkannya untuk mengamankan kursimu. Jangan berlagak seolah ini semua demi keselamatannya."
Zayyan menghentikan gerakannya. Dia menegakkan punggung, menatap Olin dari ketinggian posturnya yang intimidatif. Jarak mereka yang terpangkas membuat Olin bisa merasakan kembali hawa dominasi yang pekat, sejenis kehangatan yang asing namun berbahaya. "Aku mengamankan apa yang menjadi milikku, Aureline. Termasuk anak yang kau sembunyikan selama tujuh tahun ini di galeri tua itu."
Xavi, yang sejak tadi duduk tenang di atas kursi kulit raksasa, menghela napas pendek. Dia melompat turun dari kursi dengan bunyi debum halus saat sepatu pantofelnya menyentuh lantai. Bocah itu mengibas-ngibaskan bagian depan jas abu-abu arangnya yang sedikit berdebu karena posisi duduknya yang terlalu merosot tadi.
"Enkripsi peladen luar sudah kuputus sepenuhnya, Mommy," cicit Xavi, menyela adu pandang yang kian memanas di antara kedua orang tuanya. Dia menyelipkan gawai kunonya ke dalam saku jas kecilnya, lalu menatap Zayyan dengan mata bulatnya yang jernih di balik lensa kacamata. "Jalur komunikasi faksi Kakek Albert dengan vendor Eropa Timur itu juga sudah kutandai dengan pelacak pasif. Begitu mereka mencoba melakukan transfer data rahasia lagi malam ini, gawaimu akan menerima notifikasi merah, Tuan CEO."
Zayyan menurunkan pandangannya pada sosok mungil itu. Tarikan garis kaku di wajah tegas sang CEO perlahan melunak, menyisakan kilat kepuasan yang dingin namun murni. "Kerja bagus, Arsitek. Malikh sudah menunggu di basemen bawah dengan menu makan malam yang kau minta."
Xavi berjalan mendekati Olin, menyelipkan tangan mungilnya yang hangat ke dalam jemari ibunya yang masih terasa sedingin es. "Ayo, Mommy. Ruangan ini baunya terlalu banyak kertas tua. Aku tidak suka."
Olin membalas remasan tangan putranya, merasakan kehangatan kecil itu kembali mengalirkan ketenangan ke dalam dadanya. Dia menatap Zayyan satu kali lagi—sebuah tatapan penuh batas yang menegaskan bahwa dia tidak akan pernah luntur oleh pesona korporasi yang pria itu tawarkan—sebelum akhirnya berbalik menuntun Xavi menuju pintu titanium lift yang telah terbuka lambat.