NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Latihan Fisik yang Menyiksa

'Ki... Ki Saron! Lo udah bangun belum, sih? Ini kenapa dada gue sakit lagi? Kan semalem gue udah makan buah Malaka Hitam dan sempet mendingan. Lo tahu enggak ini dada gue kenapa sebenarnya?!'

Hening. Satu detik, dua detik, hingga semenit berlalu, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam dadanya. Ki Saron benar-benar melakukan aksi mogok bicara alias sedang hibernasi tidur panjang demi memulihkan energi gaibnya yang terkuras habis.

"Sialan lo, Ki! Gue malah dikacangin. Ck! Mana dada sakit banget lagi," gerutu Kiano frustrasi.

Sembari menahan denyut nyeri yang menyiksa, pandangan mata Kiano langsung melirik ke arah sofa panjang di balik lemari besar, tempat Kalasugih tidur semalam. "Dia udah bangun belum, ya?"

Kiano pun perlahan turun dari atas ranjang sutranya. Ia berjalan dengan sangat hati-hati dan pelan, karena dadanya terasa sangat sensitif—tersenggol sedikit saja rasanya seperti dihantam godam.

Namun, begitu Kiano melongok ke balik lemari besar, keningnya langsung mengernyit. "Lho, kok enggak ada? Kemana tuh Mas-Mas berkumis?!"

Sofa panjang di hadapannya itu sudah kosong melompong dan rapi, tidak menyisakan tanda-tanda keberadaan si pemuda jelata kelana.

"Apa yang sedang kau cari?" Sebuah suara ketus dan dingin tiba-tiba menginterupsi dari arah belakang.

Kiano sontak berbalik. Di ambang pintu penghubung balkon, berdirilah Kalasugih yang penampilannya sudah terlihat sangat rapi, segar, dan bersih, seolah-olah dia tidak habis melewati malam yang mengerikan di hutan angker.

"Eh, lo udah bangun, ya?" tanya Kiano dengan sisa rasa kagetnya.

Kalasugih tidak langsung menjawab. Ia hanya diam berdiri sembari mengamati gerak-gerik Kiano yang tampak aneh. Sebagai putri mahkota Kerajaan Bunian yang sejak kecil dididik ketat dengan tata krama istana, ia merasa cara berdiri Kiano sangat tidak elok dipandang.

"Mengapa kau terus memegangi dadamu seperti itu?" tanya Kalasugih, menatap Kiano penuh selidik. "Jangan bilang kau ikut-ikutan bisulan juga."

"Sembarangan lo, Mas! Gue bukan bisulan, tapi dada gue beneran sakit banget, anjir!" gerutu Kiano sambil meringis, meremas bagian dadanya yang terasa berdenyut nyeri. "Padahal semalem gue udah makan buah Malaka Hitam dan sempet mendingan. Kenapa sekarang malah kumat lagi, ya? Lo tahu sesuatu enggak, Mas? Masalahnya, gue udah nyoba nanya Ki Saron lewat batin, tapi jin itu malah molor, kagak nyaut-nyaut."

Kalasugih manggut-manggut paham. "Oh, begitu rupanya. Sepertinya buah itu saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka dalammu sepenuhnya."

"Lah, terus gue harus ngapain lagi? Jangan bilang gue harus nurutin ucapan Ki Saron semalem," ucap Kiano frustrasi. Ia mengacak rambutnya jengkel. "Itu jin kemarin sempet ngomong, katanya gue baru bisa sembuh total kalau udah makan buah Malaka Hitam ditambah berendam di bawah air terjun yang ada di Negeri Bunian Gunung Kidul. Kalau jalurnya mesti ke sana sih, ogah amat gue!"

Deg!

Jantung Kalasugih rasanya seperti melompat keluar dari rongga dada. Sepasang manik mata hijaunya melebar sempurna, menatap Kiano dengan tatapan tidak percaya yang berusaha keras ia sembunyikan.

Bisa gawat kalau manusia bodoh ini sampai nekat pergi ke kerajaan ayahku! batin Kalasugih, panik setengah mati.

Jika Kiano benar-benar nekat pergi ke Gunung Kidul untuk berendam, peluang rahasia identitas aslinya terbongkar pasti akan meningkat drastis.

"Sebenarnya... kau bisa memakai cara lain selain cara ekstrem itu," ucap Kalasugih, berusaha memutar otak dengan memasang wajah misterius. "Cara ini jauh lebih aman, walau harus dilakukan rutin dan cukup menguras tenaga."

Kiano menatapnya antusias. "Gimana caranya? Kasih tahu dong, Mas!"

"Kau harus berlatih bela diri dan olah sihir sepertiku. Aku yang akan mengajarimu," tawar Kalasugih.

"Oke, kita latihan. Tapi nanti, ya, kalau gue udah mandi sama sarapan," ucap Kiano santai. "Lo juga sarapan aja duluan sana. Si Dharma juga kayaknya udah setia nungguin di balik pintu dari tadi."

Tanpa menunggu jawaban, Kiano langsung melengos pergi ke arah kolam pemandian air hangat yang terletak di sudut kamar luas itu.

****

Satu jam kemudian...

"Fokuskan dirimu, Kiano! Jangan banyak protes, apalagi mengeluh!" seru Kalasugih tegas. Ia berdiri bersedekap di samping Dharma di sebuah lapangan rumput yang luas, agak jauh dari area istana.

Di depan mereka, Kiano tengah berjuang mati-matian di atas sebuah balok kayu tinggi. Sambil mengangkat satu kaki dengan gaya bangau, kedua tangannya terentang kaku menenteng dua ember kayu penuh berisi air.

"Duh, Mas... berat nih! Gue kagak kuat lagi!" keluh Kiano. Air di dalam ember itu bergoyang-goyang hebat, ikut beriak seiring dengan tubuh Kiano yang mulai gemetaran.

"Baru saja aku memperingatkanmu untuk tidak protes," ketus Kalasugih, melipat tangan di dada sembari menatapnya dingin. "Belum ada sepuluh menit berlatih, kau sudah mengeluh seperti itu. Kau ini mau sembuh atau tidak? Jika tidak, aku tidak mau repot-repot membuang waktu di sini."

"Tega bener sih lo, Mas! Gue kan emang kagak biasa ngangkat-ngangkat ember begini," sahut Kiano tak mau kalah, wajahnya sudah memerah menahan beban. "Biasanya juga gue angkat beban pakai barbel, atau olahraga di ruangan gym pribadi di rumah Jakarta. Itu aja kagak se-menyiksa ini, anjir!"

Kalasugih mendengus jengkel mendengarkan istilah-istilah asing dari mulut Kiano. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi saja. Dharma, kau saja yang mengajari manusia manja ini."

Begitu melihat Kalasugih berbalik dan hendak melangkah pergi, Kiano langsung panik. Keseimbangannya hampir goyah. "Ehh, Mas! Mas Kalasugih! Jangan pundung gitu dong, Mas! Elah, gue cuma bercanda tadi. Ini gue masih kuat, kok! Serius!"

Kiano mengerahkan seluruh sisa tenaganya, mengatupkan rahang rapat-rapat demi menahan beratnya ember kayu yang rasanya hampir menyaingi beratnya beban hidup.

Kalasugih menghentikan langkah, diam-diam menyembunyikan senyum penuh kemenangan. Ia berbalik lagi menatap murid dadakannya. "Bagus. Harusnya begitu dari tadi. Lanjutkan sampai kau bisa menyeimbangkan tubuhmu tanpa goyah sedikit pun. Jika fisikmu sudah kuat menerima latihan ini, berarti kau sudah siap naik ke tahap selanjutnya: mempelajari ilmu sihir."

Tiga puluh menit berlalu begitu cepat. Namun bagi Kiano, waktu setengah jam itu seolah berjalan lambat macam keong yang sedang memanggul karung beras.

Kedua tangannya sudah kebas bukan main, ditambah encok yang mulai menyerang di sana-sini. Ingin rasanya ia melempar dan menumpahkan air di ember itu tepat ke wajah Dharma dan Kalasugih.

Pasalnya, dua orang itu malah asyik duduk bersantai sambil memakan camilan di bawah pohon rindang. Kiano juga sudah beberapa kali mencoba menghubungi Ki Saron lewat batin, namun nihil. Jin itu sepertinya masih betah berhibernasi.

Sialan. Gue udah kagak sanggup!

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!