dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Rumah
Langit sore sudah mulai berubah warna menjadi jingga, ketika Arsen mengehentikan mobilnya di depan sebuah kawasan perumahan yang masih cukup sepi.
" Mas... Kita mau kemana?" Nayla menoleh keluar jendela.
" Turun dulu yuk, Sayang" Arsen mematikan mesin mobil, lalu memperlihatkan senyuman yang sulit diartikan.
" Bukannya tadi Mas bilang mau ngajak aku ngopi, kok kesini?" Nayla mengernyit bingung.
" Nanti pulangnya, sekarang ikut Mas dulu biar tau jawabannya" Arsen terkekeh pelan.
Dengan penuh rasa penasaran, Nayla mengikuti langkah Arsen memasuki sebuah rumah dengan gaya minimalis dua lantai yang masih tampak baru. Halamannya belum ditanami banyak bunga, bahkan beberapa pot tanaman masih tersusun rapi diteras depan.
Pintu kayu terbuka perlahan, begitu keduanya mulai masuk kedalam. Nayla sempat tertegun, rumah itu masih kosong belum ada sofa, meja makan, televisi semua masih kosong. Hanya dinding berwarna putih dengan jendela ukuran besar, cahaya matahari sore yang masuk dengan hangat.
" Mas, ini rumah siapa?" tanya Nayla.
" Rumah kita..." Arsen menatap sekelilingnya seolah tengah memeriksa apakah ada kekurangan.
" Rumah kita?" Nayla menoleh cepat.
" Iya, Sayang. Rumah kita yang hampir selesai" Arsen mengangguk dengan senyuman tipisnya.
Nayla memandang setiap sudut ruangan dengan kagum, rumah itu tidak terlihat mewah namun terasa nyaman. Dan entah mengapa perasaan Nayla justru terasa tenang.
" Mau lihat ruangan lain?" tanya Arsen.
" Mauuu..." Nayla terlihat antusias meskipun kepalanya terlihat banyak pertanyaan.
Nayla dan Arsen terlihat mulai berkeliling.
" Nanti kalau ada pekerjaan Mas yang harus dibawa pulang, Mas mau ngerjainnya di sini" Arsen menunjukkan ruangan kecil didekat ruang tamu.
" Bagus dan nyaman ya..." Nayla tersenyum.
" Biar enggak ganggu yang lain, Sayang" Arsen tertawa.
Kini keduanya berjalan menuju dapur yang cukup luas, jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
" Dapurnya besar ya, Mas" Nayla mengamati daerah sekitarnya.
" Iya, sengaja biar nanti kamu masaknya nyaman " Arsen mengangguk.
" Mas... siapa yang bilang aku bisa masak?" Nayla tertawa.
" Oh enggak bisa ya? Baiklah sepertinya kita harus belajar bersama-sama " Arsen ikut tertawa.
Nayla menatap Arsen beberapa detik, jawaban itu terdengar sederhana namun begitu menenangkan. Tidak ada tuntutan, tidak ada harapan yang memberatkan, hanya ajakan untuk belajar bersama.
Mereka kembali melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, disana terdapat taman kecil yang belum selesai di tata. Beberapa pohon mangga dan jambu sudah mulai tumbuh, angin sore berhembus dengan pelan mengantarkan kesejukan.
" Hmmm... Seger yaa" Nayla memejamkan matanya sejenak.
" Iyaa, cantik" Arsen berdiri disamping Nayla dengan tatapan yang terkunci pada wajah cantik kekasihnya.
Beberapa saat mereka menikmati keheningan.
" Sayang... Aku selalu punya satu mimpi" Arsen membuka suaranya membuat Nayla membuka kedua bola matanya.
" Mimpi apa?" Nayla menoleh.
" Pulang... Bukan pulang ke bangunan, tapi pulang ke seseorang" Arsen menatap taman kecil dihadapan mereka.
" Maksud, Mas bagaimana?" tanya Nayla.
" Rumah bukan tempat yang paling besar, bukan juga tempat yang paling mahal..." Arsen menjeda kalimatnya.
" Rumah adalah tempat dimana kita diterima apa adanya" lanjut Arsen.
Nata Nayla mulai berkaca-kaca, ia tidak tahu kenapa setiap kata yang di ucapkan Arsen terasa begitu dekat dengan hatinya.
" Mas, kalau suatu hari nanti kita berselisih paham bagaimana?" tanya Nayla.
" Kalau kita marahan ya harus baikan, kalau kita berselisih paham ya di jelaskan sampai selesai, kalau kecewa ya dibicarakan...." jawab Arsen tenang.
" Kalau capek?" Nayla kembali bertanya.
" Rumah bukan tempat yang tidak pernah ada pertengkaran, rumah adalah tempat dimana dua orang tetap memilih tinggal apapun kondisinya" jawab Arsen.
Nayla tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan seseorang yang mengubah cara pandangnya tentang rumah, karena selama ini ia mengira rumah hancur karena pertengkaran. Padahal ... Rumah hancur ketika orang-orang didalamnya berhenti memilih satu sama lain.