Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di sana, Krystal sedang duduk dengan santai di tepi jendela yang tinggi, membelakangi langit malam Alexandrite yang dipenuhi bias cahaya menara. Angin malam menerbangkan helai rambutnya yang panjang, namun matanya yang telah kembali menatap Eros dengan pandangan yang teramat kosong. Tidak ada kehangatan, tidak ada binar manja yang biasa ia tunjukkan. Hanya ada dinding es yang tebal.
Krystal adalah sosok yang rapuh terhadap bentakan dan tindakan kasar. Masa kecilnya yang dipenuhi pengabaian membuatnya trauma pada penolakan fisik. Dorongan kasar Eros di kamar menara, ditambah bentakannya di depan pintu, telah memicu mekanisme pertahanan di dalam dirinya. Malam ini, di puncak menara ini, Krystal telah menanamkan satu tekad bulat di dalam kepalanya: ia tidak akan lagi bergantung pada Eros, apa pun yang terjadi.
"Rys...! Apa yang kau lakukan?!" Eros berseru. Kemarahannya mendadak runtuh, bercampur aduk dengan rasa sedih yang sangat dalam sekaligus penyesalan yang menghujam dadanya. Ia teringat bagaimana ia mendorong tubuh mungil itu dengan cukup kasar beberapa jam yang lalu.
"Di mana Hyal? Apa kau baik-baik saja?" Eros melangkah maju setapak, suaranya kini bergetar dipenuhi kecemasan.
"Hyal? Dia sedang pergi," jawab Krystal acuh tak acuh, matanya bahkan tidak berkedip menatap Eros.
"Lalu... darah siapa itu, Rys?!" tanya Eros lagi, matanya melirik ngeri pada noda merah di lantai.
Sebagai jawaban, Krystal perlahan mengangkat tangan kanannya. Di balik lengan gaunnya, sebilah pisau kecil yang biasa ia sembunyikan di pinggang kini telah berada di genggamannya. Tanpa memutuskan kontak mata dengan Eros, Krystal menggoreskan mata pisau itu tepat di atas telapak tangannya sendiri.
Sret!
Darah segar kembali merembes keluar. Krystal bahkan sengaja menekan pisau itu lebih dalam, memperdalam lukanya tepat di hadapan Eros tanpa mengekspresikan rasa sakit sedikit pun di wajahnya.
"RYS! HENTIKAN!"
Melihat kegilaan itu, Eros bergerak secepat kilat. Dengan satu sentakan tangan, ia melempar pisau kecil itu hingga terlepas dari genggaman Krystal dan menancap di dinding, sementara sebelah tangannya yang lain langsung meraih dan mencengkeram pergelangan tangan Krystal yang terluka dengan panik.
"Kau gila?! Apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri?!" napas Eros memburu, matanya membelalak ngeri melihat darah Krystal mengalir di sela-sela jarinya.
Krystal tidak memberontak. Ia membiarkan tangannya dicengkeram, namun ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Eros dengan senyuman sinis yang menyakitkan.
"Kenapa kau peduli?" bisik Krystal, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. "Bukankah kau memang tidak menginginkanku, Eros?"
"Apa yang kau katakan?!" bentak Eros frustrasi, rasa bersalah dan kepanikan membuat logikanya tumpul. "Apa kau sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapanku di kamar tadi?! Aku melakukannya demi menjagamu, Rys! Demi kesucianmu sebelum pernikahan kita!"
Namun, penjelasan itu sudah terlambat. Bagi Krystal yang sedang dikuasai oleh ego yang terluka, kata-kata Eros terdengar seperti alasan dan penolakan yang dibungkus moralitas palsu. Bentakan Eros yang kembali menggema di ruangan itu justru membuat keadaan semakin memburuk.
Krystal menarik tangannya dengan sentakan kasar dari genggaman Eros. Mata birunya menyala penuh murka.
"Menjagaku?!" Krystal tertawa sumbang, sebuah tawa yang sarat akan rasa sakit. "Kau mendorongku, kau membentakku, dan sekarang kau datang ke sini untuk mengatur hidupku lagi?! Jangan pernah berlagak seolah kau memilikiku, Eros! Jika kau tidak bisa menerimaku sepenuhnya, maka menjauhlah dariku!"
Puncak menara sihir itu seketika hening, hanya menyisakan deru angin malam yang menyusup di antara puing-puing pintu yang hancur.
Melihat dinding es yang dibangun Krystal begitu kokoh, pertahanan Eros runtuh sepenuhnya. Untuk pertama kalinya sepanjang keabadiannya sebagai entitas agung yang disembah dan ditakuti, setetes air mata mengalir melewati pipinya dalam wujud manusianya. Dada yang terasa sangat sesak, dihantam oleh rasa takut kehilangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kumohon, Rys. Jangan seperti ini," bisik Eros, suaranya parau dan bergetar hebat.
Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, ia melangkah maju dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat di atas bahu Krystal. Bahu mungil yang biasanya bersandar hangat padanya, kini terasa sekaku dan sedingin patung marmer. Eros memejamkan mata, membiarkan air matanya membasahi kain jubah Krystal.
Namun, Krystal hanya diam seribu bahasa. Sebelah tangannya yang masih meneteskan darah dibiarkan menggantung lemas, sementara sepasang matanya menatap kosong ke arah kegelapan malam di luar jendela. Sentuhan Eros yang biasanya mendebarkan, kini tak lagi mampu menggetarkan hatinya yang terlanjur mati rasa karena luka ego.
"Rys, mintalah apa pun. Selain permintaan itu... Aku akan memberikan apa pun untukmu," ratap Eros, jemarinya meremas jubah Krystal dengan putus asa. "Jika kau ingin kekaisaran Aethermoor ini hancur, aku akan menghancurkannya untukmu sekarang juga. Aku akan meratakannya jika itu bisa membuatmu tersenyum lagi. Katakan saja, Rys..."
Mendengar janji yang mampu mengguncang dunia itu, Krystal tidak tergiur sedikit pun. Ia perlahan mengumpulkan sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya yang masih memulihkan diri, lalu dengan sentakan pelan namun tegas, ia mendorong tubuh Eros menjauh darinya.
Jarak kembali terbentang di antara mereka. Krystal menatap Eros, memandangi wajah tampan yang kini basah oleh air mata itu dengan tatapan yang teramat asing.
"Aku tidak menginginkan apa pun lagi darimu, Eros," ucap Krystal, suaranya mengalun pelan namun membawa aura yang mematikan. "Pergilah."
Eros terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
"Aku membutuhkan waktu untuk menata pikiranku," lanjut Krystal datar, membalikkan tubuhnya memunggungi jendela. "Proyek LadyBug akan ditunda, kalian bisa memperpanjang sewa menara hingga aku kembali."
Krystal mulai melangkah pergi melewati pecahan kaca dan marmer yang membeku.
"Rys, tunggu! Kau tidak bisa—" Eros belum menyelesaikan ucapannya.
"Jangan ikuti aku," potong Krystal tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya terdengar mantap saat ia berjalan keluar dari ruangan hancur tersebut, meninggalkan Eros yang berdiri mematung di tengah ruangan.