NovelToon NovelToon
Transmigrasi Figuran

Transmigrasi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Ana

Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.

Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.

Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 Figuran Tunangan Antagonis

Hujan di luar masih turun rintik‑rintik, menyisakan bau tanah basah yang khas. Di ruang arsip bawah tanah rumah Vareza, udara terasa makin tenang—hanya ada suara napas mereka dan bunyi halus kertas saat dibalik. Elena masih menatap nama Laras Vareza yang tertulis rapi di daftar lama. Di novel asli sama sekali tak ada bagian ini. Seolah dunia baru saja membuka lembaran rahasia yang tak tertulis naskah.

“Jadi… Bibi Laras itu benar‑benar hilang begitu saja, tanpa jejak?” tanya Elena pelan, jari‑nya masih menyentuh kertas agak lapuk itu.

Ayah Vareza mengangguk pelan, pandangannya menerawang jauh. “Waktu itu situasi kacau. Pertarungan wilayah Utara, kabar berdatangan campur aduk. Hari itu dia pergi membawa pesan rahasia, tak pernah kembali. Kami sempat berharap, lama‑kelamaan… ya, terpaksa menganggapnya gugur.”

Damian berdiri agak menjauh, bersandar di rak besi, matanya tak lepas dari catatan di tangan Elena. “Ibuku pernah bilang, Laras satu‑satunya orang yang bisa membuat ayahku marah tapi tak berani memarahinya. Mereka teman akrab sejak kecil.”

Elena menoleh, agak terkejut. “Kau kenal dia?”

“Sedikit, waktu masih kecil sekali,” jawab Damian santai, seolah kenangan itu baru muncul lagi. “Dia pernah memberiku permen rasa jeruk dan bilang, ‘Jangan terlalu dingin nanti hatimu beku.’ Lucu juga, sekarang malah aku yang dijuluki Malaikat Maut.”

Ada senyum tipis—sangat tipis—di sudut bibirnya. Elena menatapnya diam‑diam. Jarang sekali melihat Damian bicara santai begini. Biasanya nadanya kaku, penuh wibawa, kadang bikin orang takut. Ternyata di balik itu ada potongan kenangan masa kecil yang biasa saja, sama seperti orang lain.

“Kalau dia masih hidup… mungkin dia yang menyisakan tanda bulan sabit‑pedang itu,” gumam Elena kembali pada isi arsip. “Dan mungkin dia juga yang tahu kenapa Clarissa dibawa ke arah hutan lindung.”

“Bisa jadi,” sahut Ayah Vareza. “Tapi masuk hutan malam begini berisiko tinggi. Tanpa peta lengkap dan tim khusus, kita mudah terjebak.”

“Besok pagi saja kita bergerak,” potong Damian. “Malam ini aku minta timku pasang pengawasan ketat di semua jalan keluar masuk kawasan itu. Tidak ada yang masuk atau keluar tanpa kami tahu.”

 

Mereka naik ke lantai satu. Elena berniat pulang ke kamarnya, tapi Damian mengikuti sampai teras depan. Hujan makin deras, angin bikin payung kecil Elena tak cukup kuat.

“Mau ke mana?” tanya Damian, melihat Elena berniat lari ke arah mobilnya.

“Kamar… di sayap kiri, tidak jauh kok,” jawab Elena sambil merapikan rambut basah sedikit.

Damian mengulurkan payung besar hitam yang dibawa pengawalnya. “Pakai ini. Jangan sampai sakit, nanti susah bergerak besok.”

“Kau sendiri?”

“Ada cadangan,” jawabnya singkat, lalu memberi isyarat pada pengawal agar tetap mengawasi lingkungan luar.

Elena menerima payung itu. Gagangnya terasa dingin tapi kokoh. Saat berjalan pergi, ia sempat menoleh sebentar—Damian masih berdiri di teras, diterangi lampu kuning redup. Sesuatu di sikapnya malam ini terasa beda. Bukan lagi sekadar mantan tunangan atau kepala klan nomor satu, tapi seseorang yang… perhatian dengan caranya sendiri yang kaku.

Ah, jangan berkhayal, Elena mengingatkan diri sendiri. Dia cuma menjaga mitra bisnis, bukan lebih.

Tapi detak jantungnya agak kencang saat menutup pintu kamarnya. Hal kecil begini ternyata cukup bikin bingung.

 

Keesokan paginya langit cerah, udara segar sisa hujan semalam. Elena turun dari mobil, baru mau melangkah masuk gerbang, ada yang memanggil dari belakang.

“Elena!”

Itu Luna, berlari kecil menghampiri sambil membawa dua bungkus roti. “Ini buatmu. Tadi lewat toko roti langganan, ingat kau suka yang isi keju.”

“Wah, makasih ya, Luna. Kamu baik banget,” ucap Elena sambil menerima dengan senyum lebar.

Mereka berjalan berdua masuk koridor. Berita hilangnya Clarissa makin menyebar, tapi tak ada yang berani bicara keras‑keras—takut salah sangka. Beberapa teman sekelas melirik, bisik‑bisik pelan.

“Kamu tidak apa‑apa kan, Elena? Katanya ada kejadian di gudang tua kemarin,” tanya Luna pelan, khawatir.

“Cuma cek tempat, aman kok. Hati‑hati saja kalau pulang sekolah lewat jalan sepi ya,” jawab Elena menenangkan.

Tiba‑tiba suasana koridor agak hening. Damian datang lagi ke sekolah—bukan hal biasa. Dia berjalan lurus ke arah mereka, rambutnya sedikit berantakan kena angin pagi, seragamnya rapi tapi tidak kaku seperti acara resmi.

“Sudah siap rute besok pagi?” tanya Damian langsung ke Elena, seolah tak peduli pandangan orang lain.

“Sudah dicatat poin‑poin pentingnya,” jawab Elena tenang. “Tapi aku masih penasaran—kenapa kamu repot‑repot ikut turun tangan begini? Bisa suruh orang lain kan?”

Damian diam sebentar, lalu menjawab dengan nada agak santai, sedikit menunduk agar hanya Elena dengar. “Karena… aku tidak suka permainan yang aturannya disembunyikan. Dan—” dia melirik sekilas ke arah Luna yang pura‑pura melihat papan pengumuman “—lebih enak kalau ada teman diskusi yang tidak cuma menurut saja.”

Elena tersipu sedikit, buru‑buru mengalihkan pandangan. Luna di sampingnya menahan senyum geli, seolah tahu sesuatu.

“Oke, jam 7 pagi bertemu di titik kumpul tim pengawas,” ucap Damian sebelum berbalik pergi, tapi sempat menoleh lagi. “Dan Elena… pakai sepatu yang nyaman. Jalan di hutan tidak rata.”

“Iya, siap Kapten,” jawab Elena spontan, sedikit bercanda.

Damian tertawa kecil—sangat jarang orang melihatnya tertawa. Itu suara rendah, hangat, bikin Elena makin salah tingkah.

Jam istirahat Elena habiskan di perpustakaan, mencari buku sejarah lama tentang kawasan hutan lindung. Di rak pojok belakang, ia menemukan buku bersampul kulit cokelat yang sudah tua. Saat membuka halaman tengah, ada selembar kertas surat yang terjepit, terlipat rapi.

Tulisan tangan miring, agak berirama:

“Di tempat air berputar tiga kali,

Batu berwajah menjaga rahasia.

Bukan musuh yang kau cari,

Tapi saudara yang menanti bicara.”

Di bawahnya ada tanda kecil—bulan sabit bertemu pedang terbalik. Itu tanda yang sama persis dengan catatan Bibi Laras!

“Ketemu sesuatu?”

Elena hampir menjatuhkan buku itu. Damian berdiri di samping rak, tangannya memegang satu buku peta wilayah lama.

“Kamu suka muncul diam‑diam ya?” keluh Elena sambil mengelus dada. “Lihat ini, kertas terselip di buku sejarah.”

Damian membaca perlahan, alisnya sedikit terangkat. “Air berputar tiga kali… Itu nama aliran sungai kecil di dalam hutan, orang lokal menyebutnya Tiga Putaran. Batu berwajah ada di dekat sana—batu besar ukiran zaman dulu.”

“Jadi benar Bibi Laras yang tulis ini?”

“Kemungkinan besar,” Damian menatap Elena lekat‑lekat. “Dia selalu suka menyisipkan teka‑teki, tidak pernah langsung kasih jawaban.”

Ada jeda hening sebentar. Jarak mereka cukup dekat, cukup untuk Elena mencium aroma sabun jeruk samar—sama seperti cerita masa kecilnya soal permen jeruk itu. Elena buru‑buru menunduk membenahi buku, jari‑nya agak kaku.

“Elena,” panggil Damian pelan.

“Iya?”

“Kau… tidak merasa aneh bertindak begini? Dulu kau lebih suka diam, ikut saja alur orang lain.”

Elena mengangkat wajah, berani menatap matanya. “Dulu aku pikir hidup cuma ikut aturan yang sudah ada. Sekarang aku sadar… kalau diam saja, aku tidak bisa melindungi orang yang aku pedulikan. Termasuk keluarga, Luna, dan… teman diskusi yang tidak suka kebohongan.”

Damian diam sejenak, sudut bibirnya terangkat lagi—senyum yang lebih terbuka dari sebelumnya. “Kalau begitu, bagus. Aku lebih suka Elena yang sekarang.”

Jantung Elena berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Rasanya hangat menyebar di pipi, tapi ia berusaha tetap tenang. “Jangan terlalu memuji, nanti aku jadi sombong.”

“Tidak apa‑apa,” jawab Damian santai. “Sedikit percaya diri lebih baik daripada terlalu ragu.”

 

Sore: Pesan Rahasia & Rencana Besok

Saat pulang sekolah, ponsel Elena bergetar—pesan singkat dari nomor tak dikenal:

“Ingat permainan masa kecil? Hutan bukan tempat bermain. Hati‑hati batu yang bicara.”

Elena mengernyit. Permainan masa kecil? Dia tidak ingat pernah main di hutan sama orang asing. Lalu ia teringat—Damian pernah cerita sedikit soal masa kecilnya dengan Bibi Laras.

Ia mengirim pesan singkat ke Damian: Ada pesan aneh masuk. Sebut “permainan masa kecil”.

Tak lama Damian balas: Aku juga baru dapat pesan sama. Ada yang tahu sejarah lama kita. Besok kita bergerak lebih hati‑hati.

Di rumah, Ayah Vareza sudah menyiapkan perlengkapan ringan: sepatu gunung, jaket anti‑air, kompas, dan peta tambahan. Di meja ruang tengah ada Arga yang baru datang, wajahnya masih terlihat gelisah soal Clarissa.

“Kalian benar mau masuk hutan besok pagi?” tanya Arga. “Aku ikut juga.”

“Berisiko tinggi, Arga,” ucap Ayah Vareza.

“Clarissa tunanganku, walau dia salah langkah, aku tetap harus tahu kebenarannya,” jawab Arga tegas. “Lagipula aku hafal jalur tepi hutan dari kecil.”

Damian mengangguk setuju. “Boleh. Tapi ikuti instruksi tim. Jangan bergerak sendiri.”

Malam itu, sebelum tidur, Elena melihat jam tangan pelacak yang diberikan Damian. Di bawah lampu kamar, kilau peraknya terlihat tenang. Ia teringat kejadian di perpustakaan—senyum Damian, nada bicaranya yang berubah, dan perasaan hangat yang tak biasa itu.

Apakah ini… mulai jatuh hati? Elena menggeleng pelan. Belum tentu. Mungkin cuma terbiasa sama satu orang.

Tapi hatinya tidak bisa bohong: sejak ia membatalkan pertunangan, dunia di sekitarnya berubah—dan Damian bukan lagi sosok menakutkan yang akan membunuhnya di akhir cerita.

Di sisi lain kota, di tempat gelap tanpa jendela, Clarissa duduk di kursi kayu, tangannya terikat longgar. Di depannya berdiri sosok berkerudung, suara lembut namun penuh tekanan terdengar: “Mereka akan datang mencari jejak Tiga Putaran. Biarkan saja. Semakin dalam masuk, semakin cepat mereka terjebak dalam permainan yang sesungguhnya.”

Di sudut ruangan, ada foto lama bingkai kayu—gambar dua anak kecil, satu laki‑laki memegang pedang mainan, satu perempuan memegang bunga jeruk. Di belakangnya tertulis nama: Damian & Elena – Usia 5 Tahun.

Fakta yang tak satu pun dari mereka ingat… tapi tersimpan rapat di tangan seseorang yang mengatur ulang waktu.

 

(Bersambung )

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!