NovelToon NovelToon
In Between

In Between

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Office Romance / Tamat
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: PrettyDucki

Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.

Namun hidup punya selera humor yang aneh.

​Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.

Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Mobil berhenti di depan pagar besi berkarat di pinggiran Jakarta Timur. Area itu tersembunyi, dengan jalan yang hanya cukup untuk satu mobil dan dikepung rimbunnya pohon pisang.

Mila menatap nanar ke arah rumah tua di hadapannya. Halaman luas itu tertutup tanah merah yang becek, menyisakan kubangan air pekat sisa hujan semalam.

Tempat ini adalah rekomendasi Mbok Darmi, tukang cuci di rumah Mamanya, yang membisikkan nama "Mak Urut" dengan nada rahasia saat Mila bertanya dengan wajah pucat seminggu lalu.

​"Turun di sini?" tanya Arya pelan. Suaranya serak, matanya merah karena kurang tidur.

​Mila hanya mengangguk kaku. Saat ia membuka pintu mobil dan melihat tanah merah yang lembap di bawahnya, ia ragu. Sepatu kerja mahal yang ia beli dari hasil menabung tiga bulan gaji itu terasa terlalu berharga untuk dikotori.

Namun, sebelum ia sempat bergerak, Arya sudah turun lebih dulu. Pria itu membuka bagasi, mengambil sepasang sandal jepit karet, lalu meletakkannya tepat di depan kaki Mila.

​"Pakai ini." ujar Arya singkat.

​Mila menukar alas kakinya. Saat berjalan menuju teras rumah remang itu, jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan.

Keraguan yang ia pupuk sejak semalam kini memuncak. Saat jaraknya dengan "solusi instan" itu hanya tinggal sejengkal, kakinya justru terasa terpaku ke tanah yang basah.

Indonesia tidak punya legalitas untuk prosedur aborsi. Pilihannya terbatas pada tempat-tempat gelap seperti ini.

Semalam, ia sempat membuka ponselnya, mengetikkan pertanyaan pada chatbot tentang risiko aborsi di dukun beranak. Namun ​jawaban yang muncul di layar membuatnya menggigil ketakutan.

💡​ [...risiko perdarahan hebat, infeksi rahim, komplikasi organ dalam, hingga kematian akibat prosedur yang tidak steril.]

​Mila menatap pintu kayu di depannya yang mulai lapuk. Keraguannya semakin menjadi.

Ia sudah berdosa karena berzina, lalu sekarang mau menambah dosa dengan menggugurkan? Dan jika semua risiko itu terjadi, apakah ia akan langsung meninggal? Tidak. Ia belum siap mati sekarang dan masuk neraka.

​"Arya..." bisik Mila, suaranya bergetar hebat. "Aku takut."

​Arya yang berdiri di belakangnya langsung menyentuh punggung Mila. "Kamu nggak harus ngelakuin ini, Mila. Kita bisa pergi sekarang juga."

Mila berbalik, menatap mata Arya yang tampak penuh harap mendengar keraguan itu. Mila mendesah pelan. Ia tidak bisa. Ketakutannya pada kematian rupanya jauh lebih besar daripada ketakutannya menanggung malu.

"Ayo pergi. Aku nggak bisa."

​Mila berbalik arah, berjalan cepat menuju mobil dengan sandal jepit Arya yang kebesaran dan terseret-seret. Di belakangnya, Arya mengikuti tanpa kata, seolah napasnya baru saja kembali setelah tertahan lama.

.

.

Lima belas menit kemudian, mereka berakhir di sebuah warung bakso pinggir jalan. Aroma kaldu yang gurih biasanya membangkitkan selera, tapi kali ini Mila hanya mengunyah tanpa minat.

​Matanya kosong menatap aspal jalanan yang mulai mengering. Di kepalanya, skenario buruk terus berputar.

Bagaimana jika orang-orang di kantor tau? Bagaimana jika Mama pingsan saat mendengar putrinya hamil tanpa suami?

​​"Mila, dengerin aku." Arya meletakkan sendoknya, mencondongkan tubuh di atas meja kayu yang sedikit berminyak. "Menikah adalah solusi paling logis yang kita punya sekarang."

​Mila mendongak, tatapannya masih sarat akan keraguan.

​"Aku udah pikirin semuanya," lanjut Arya tenang. "Kita menikah secara privat di Jakarta. Setelah itu, aku bisa kembali ke Singapura atau cari kerja di mana aja. Aku belum tanda tangan kontrak permanen dengan Mandhala, jadi kamu bisa lanjutin karier kamu di sana kalau mau, atau berhenti tanpa harus takut kehilangan masa depan. Aku akan pastikan kamu punya akses untuk studi atau bisnis apa pun nanti."

​Mila terdiam. Entah bagaimana tawaran Arya terdengar seperti payung penyelamat di tengah hujan.

​​"Aku yang akan bicara sama Mama kamu nanti. Kamu nggak akan sendirian. Aku pastikan anak ini lahir dengan fasilitas yang baik, dan aku jamin... nggak akan ada yang berani anggap kamu rendah selama kamu ada di sampingku."

​Mila menelan baksonya dengan susah payah. Rencana Arya terdengar begitu sempurna, hingga ia nyaris menyerahkan seluruh hidupnya yang berantakan ke tangan pria itu. Tapi egonya masih meronta.

​"Kita bahkan nggak punya hubungan yang jelas, Arya. Kita punya masa lalu yang berantakan dan terikat cuma karena satu malam yang seharusnya nggak pernah terjadi. Aku bahkan masih benci kamu. Kamu nggak masalah kita nikah dalam keadaan begini?"

Arya mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh jemari Mila yang dingin dan gemetar.

​"Nggak masalah," jawab Arya yakin. "Anggap aja ini penebusan dosaku karena sudah merusak hidup kamu."

Arya menjeda, tatapannya melembut namun dalam. "Dan kalau nanti, setelah anak ini lahir, kamu merasa nggak sanggup hidup sama aku dan mau pergi... aku nggak akan menahan kamu. Aku akan support kalian dari jauh. Anak itu tetap tanggung jawabku sepenuhnya. Kamu nggak perlu khawatir soal apa pun."

Mila menunduk, menatap tautan tangan mereka di atas meja warung bakso sederhana itu. Di tengah deru mesin kendaraan yang lewat, ia merasa dunianya yang runtuh perlahan-lahan dipunguti dan disusun kembali.

Dan akhirnya ia memilih percaya.

.

.

Mila menjatuhkan diri ke ranjang tanpa melepas sepatu. Aroma parfum Arya yang menyerupai campuran kayu gaharu dan citrus, masih tertinggal samar di blazer hitamnya.

Menikah. Kata itu masih terasa asing di kepala Mila.

Ia mencoba menyusun gambaran. KUA yang sepi, atau akad sederhana di ruang tamu Mama? Daftar tamu undangan, atau cukup keluarga inti? Baju apa yang pantas dipakai pengantin yang perutnya sudah berisi tanda kehamilan?

Tidak bisa. Otaknya menolak membentuk gambaran yang utuh.

Lalu, sebuah pertanyaan teknis muncul menyentak pikirannya.

Siapa yang akan jadi wali nikah?

Bimo? Adik laki-lakinya itu memang pilihan paling logis secara administratif. Tapi Bimo masih terlalu muda, masih terlalu polos untuk menanggung beban rahasia kakaknya yang sebesar ini.

​Atau... Papa?

Nama itu muncul tanpa diundang. Mila tertawa getir, suara parau yang tertahan di kerongkongannya.

Papa sudah hilang entah ke mana sejak 2015. Tidak ada kabar, tidak ada alamat. Mungkin sudah menikah lagi dengan wanita lain. Mungkin sudah punya anak baru yang lebih muda dari Bimo. Atau mungkin sudah mati. Mila tidak tahu mana dari tiga kemungkinan itu yang paling ia harap jadi kenyataan.

Digerakkan oleh dorongan impulsif yang pahit, jarinya membuka aplikasi Facebook. Jenis sosial media yang mungkin akan digunakan oleh orang-orang berusia lanjut.

​Ia mengetikkan nama itu di kolom pencarian.

Todi Wiranata.

Hasilnya bermunculan dalam barisan profil yang asing. Pria-pria paruh baya dengan latar belakang foto kantor, sawah, atau masjid. Mila mengulir layar ponselnya perlahan, mencari sisa-sisa kemiripan pada garis rahang atau sorot mata orang-orang di sana.

​Nihil. Tentu saja tidak ada.

Papa bukan tipe orang yang akan membagikan hidupnya di media sosial. Kalaupun pria itu punya akun, mungkin sudah berdebu sejak bertahun-tahun lalu. Atau barangkali namanya sudah diganti. Atau mungkin ia memang tidak mau ditemukan.

Mila menutup aplikasi, lalu melempar ponsel ke sisi ranjang yang kosong. Ia menatap langit-langit kamarnya yang terang.

Perlahan, telapak tangannya mendarat di atas perutnya yang masih rata. Di dalam sana, ada sesuatu yang belum sanggup ia beri nama.

Bukan "bayi", kata itu terlalu solid dan nyata. Bukan pula "masalah", itu terlalu kejam meski itulah yang ia rasakan selama dua minggu terakhir.

​Hanya "sesuatu".

Sesuatu yang tumbuh tanpa izin di rahimnya. Yang mengubah semua rencana masa depannya tanpa bertanya. Yang kini menjadi alasan tunggal mengapa ia harus mengikat hidup dengan laki-laki yang paling ingin ia hindari, namun tidak pernah bisa ia benci sepenuhnya.

Aneh sekali hidup ini.Ternyata, yang paling ahli menghancurkan rencana manusia bukan hanya nasib, tapi juga keputusan-keputusan konyol di satu malam yang salah.

...***...

Kalian tim mana nih netijen, "lanjut nikah" atau "cari jalan lain" ?

Jangan lupa like & komen ya guys, support kalian adalah bahan bakar untuk hamba 🙇‍♀️

*Vote juga karena ini hari senin 😁**❤️*

1
Rain Aricia
Entahlah, aku pun jadi pusing sama kehidupan kalian☺️
Ga tau mau belain Mila atau Arya. Kalian berdua tuh ya sama2 punya masa lalu yg kelam. Dah cocok kalian jadi pasutri, persis lah jodoh itu cerminan diri
Rain Aricia
Kau pun juga salah, dah tau istri hamil malah cari gara2.
Rain Aricia
Halahh kalian berdua ini. Ga ekspek aku klo sampe kek begini. Masa lalu kalian ga ada yg beres dah perasaan😭😭
Rain Aricia
Mana ada, emang kalau dia nikah sama mu dia bakalan bahagia? Gak Tyas, malahan dijulitun emakmu dia habis2an. Setidaknya dia ngakui kesalahannya klo dia hamidun
Rain Aricia
Ga tau apa2 malah ngata2in seenaknya.
Rain Aricia
Jadi maksudmu apa?🙄
🌺⃟ SasMaya
keren loh bro Arya ini ... gentle man
🌺⃟ SasMaya
Duarrr... ini mamak-mamak kaya kena petir di siang bolong
🌺⃟ SasMaya
kata mamak Mila: "Oohh... pantas saja Mila putus dengan Tyas." 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
syok lah pasti ... 😆
🌺⃟ SasMaya
klise sekali kalau di dunia nyata .... kelahiran prematur, tapi bobot bayi normal
🌺⃟ SasMaya
wkwkwkwk 🤣🤣🤣
🌺⃟ SasMaya
aku dukung kamu Mila..
Rain Aricia
Jadi badmood lagi ini Mil?
Rain Aricia
Benar Mil, langsung aja ulti
Rain Aricia
Tyas, kau kan dokter yahhh. Kau kan dh punya ilmu banyak. Masa dokter kek kau mau dibodoh2in sama orang kek Jimmy? Aneh kali
Rain Aricia
Mil kamu jujur? Ntar kalau Tyas bocorin ke emaknua gmna? Hancur deh rencana kalian ngeles kalau si anak lahir prematur
Rain Aricia
Lah, kok ga sehat sih Mil? Bukannya harusnya tambah oke ya?🤣
Rain Aricia
Mana ada nyamuk, ga asa suara nyit nyitnya
Rain Aricia
Hihiii pasti Mila kepengen lagi ga sih ini🤣
Habis berantem malah makin nagih ya mil?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!