Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Tempat Teraman
Mobil Elaine telah memasuki kawasan penthouse Killian. Ia memastikan dari kaca spion itu tidak ada mengejarnya. Setelah apa yang terjadi, semua bagai mimpi untuknya. Ia hanya menatap kesunyian malam. Menembus tiap hamparan cahaya lampu jalan kembali pulang menuju penthouse. Ia percaya pada Lian, hanya itu tempat teraman untuknya.
Didalam basement mobil. Ia terdiam. Masih mencerna dengan apa yang terjadi. Tangannya gemetar hebat saat menyaksikan kaca mobilnya terdapat bekas lontaran anak peluru. Beruntung Glenn telah memodifikasi mobil itu menjadi anti peluru.
Ia tak berani turun dari mobil itu meski Lian sudah mengatakan bahwa penthouse itu adalah tempat teraman untuknya. Namun kali ini Elaine butuh waktu untuk menata hati dan pikirannya. Kakinya bahkan tidak kuat untuk ia gerakkan. Perlahan ia memejamkan mata dan mengatur setiap helaan nafasnya, menyandarkan kepalanya pada stir mobil itu.
Ia merasa mobilnya hanya tempat teraman saat itu. Glenn memodifikasi mobilnya dengan baik, terlebih Elaine mampu mengendarai mobilnya dengan lincah. Jika ia didalam penthouse dan beberapa pria itu menerobos masuk, ia tak yakin dapat lincah untuk kabur.
Perjalanan Killian normalnya memakan waktu 3,5 jam untuk sampai di penthouse. Saat itu 2 jam waktu tercepat dilakukan Killian untuk menemui kekasihnya. Sebuah helikopter mendarat di atas helipad penthousenya.
“LAINE…” Lian masuk kedalam penthousenya bersama Hansen, namun wanita itu tidak ada disana. Ia berlari menuju basement. Mobil hitam milik Elaine terparkir tepat di sebelah mobil sport Killian. Mobil itu masih menyala. Elaine masih didalamnya. Menunggu pria itu datang untuknya.
Elaine membuka matanya perlahan, tubuhnya seakan sudah dalam mode siaga jika ternyata orang-orang tadi akan membunuhnya. Tapi terlihat sosok cemas menghampirinya dengan berlari.
Killian. Pria itu kembali.
Elaine membuka pintu mobil itu, dengan sisa tenaga yang ada ia berlari memeluk Lian. Tidak ada suara yang terlontar dari Elaine. Tubuhnya bergetar ketakutan.
“Aku disini sekarang. Kau aman.”
Dekapan hangat pria itu seakan menguatkan sendi-sendi tubuhnya yang lemas ketakutan. Jika bukan karena trauma masa kecilnya, tak mungkin Elaine akan setakut ini. Ingatan saat ayah dan kakeknya di bunuh sangat membekas untuknya. Menjadi trauma terbesar untuknya. Ramainya orang yang menggeledah rumah mereka, suara senjata. Ia tak mampu menghilangkan trauma itu meski Damian, kakaknya sudah mencoba mengobatinya.
“Minumlah.” Lian memberikan segelas teh hangat pada Elaine yang meringkuk di sudut sofa besar, “Apa ada yang sakit?” Tanya Lian dengan menyentuh kening wanita itu yang telah ia perban.
Elaine hanya menggeleng cepat. Dirinya masih belum ingin bicara. Sebenarnya banyak yang ingin ucapkan. Pikirannya lebih ramai daripada kenyataannya. Namun ia masih sangat shock dan otaknya seakan memerintah dirinya untuk berdiam diri.
“Aku akan buatkan makanan sebentar…”
Belum sempat Lian menyelesaikan perkataannya. Tangan dingin itu menarik lengan kemejanya. Wajah polos itu masih tersirat ketakutan.
“Tetap disini. Temani aku.” Elaine menarik lengan Lian membuat pria itu kembali duduk.
Wanita itu tidak lapar meski saat ke minimarket dia dengan semangat belanja makan malam, rasa laparnya sudah sirna. Ia hanya kelelahan. Menjatuhkan kepalanya di pangkuan pria itu.
Tak ada suara. Hanya terdengar suara air dari aquascape di dalam ruangan besar itu. Hanya terucap kalimat, “Tidurlah Laine, aku ada disini. Jangan cemas. Aku akan menjagamu.” Mampu meruntuhkan mode siaga tubuh Elaine.
Lian tak pula bertanya kejadian itu. Tidak ada yang perlu dibahas atas kejadian itu. Ia memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikannya.
Kini belaian halus Lian pada rambut Elaine membuat dirinya tertidur. Lian telah memasukkan obat penenang untuk wanita itu. Ia tahu rasa cemas dan takut yang ada hanya akan menjadi alarm siaga untuk tubuh Elaine tetap terbangun meski wanita itu lelah.
Bukankah saat ditelepon tadi, Elaine mengatakan bahwa dirinya kelelahan karena banyaknya pasien. Terlebih wanita itu menolak untuk makan.
...****************...
“Mereka masih bungkam tidak ingin menyebutkan siapa dalang dibalik ini semua.” Sahut Lucas pada Killian saat pria itu menghubunginya.
Lian menatap Elaine yang tengah tertidur pulas diranjang kamar mereka.
“Mereka melukai wanita ku.” Lian mengusap lembut kening Elaine yang luka akibat benturan setir saat mobilnya dihantam kencang dari belakang.
“Dengan orang sebanyak itu mereka menakuti satu wanita yang kucintai.” Lanjut Lian lagi, “Lakukan apa yang perlu kau lakukan Lucas, wanita ku tidak ingin aku melukai orang lain saat ini.”
Teringat perkataan Elaine atas pertengkaran terakhir mereka
“Selama itu bukan selingkuh dan menyakiti orang lain. Aku akan bersama mu.”
Lian jelas akan mematuhi keinginan wanita nya.
Namun tiga orang itu. Lucas, Kaelen dan Killian. Mengganggu mereka sama saja mencari mati.
Killian tidak akan pernah terjun langsung mengotori tangannya untuk membunuh orang, selama ini pekerjaan itu akan dilakukan oleh Lucas atau Kaelen. Terakhir yang diingat oleh Lucas, Killian pernah membunuh dengan cara keji. Menggorok leher lawannya dengan menatap tajam kedua bola musuhnya hingga tewas menyakitkan.
“Baiklah.” Lucas kini beranjak berdiri, mengambil tongkat bisbol yang tergeletak di atas meja, “Aku sudah lama tidak latihan. Kita lihat sejauh mana dari kalian tetap bungkam.”
Lucas merenggangkan otot leher dan lengannya yang terlihat kaku. Kini berdiri di mulai dari sudut pintu.
BAAAAAAGGHH
Satu kepala pecah. Membuat lainnya tersentak. Mereka yang melihat tak percaya jika keluarga Vane dapat melebihi para mafia sadisnya. Tapi ini bukan hanya soal keluarga Vane saja.
“Baiklah. Kau selanjutnya.” Lucas mengetuk ujung tongkat bisbol itu ke lantai tepat dihadapan korban selanjutnya.
“TU-TUAN… SAYA MOHON AMPUN. AMPUN TUAN.”
BAAAAAAAGGHHH
Dan lagi satu kepala hancur.
“Bukan itu yang ingin ku dengar.” Tawa Lucas terdengar puas akan permainannya.
“KA-KAMI TIDAK TAHU SIAPA YANG MEMERINTAH TUAN. SUNGGUH. KAMI HANYA DIHUBUNGI DENGAN NOMOR ACAK BERKALI-KALI. NOMOR ITU LANGSUNG MEMBAYAR KAMI SECARA TUNAI. KAU BISA MEMERIKSA BAGASI MOBIL KAMI TUAN.”
Lucas mendorong kepala yang mengatakan hal tersebut. “Periksa mobil itu.” Ucap Lucas pada bawahannya.
“TUAN… KAMI SUNGGUH TIDAK TAHU SIAPA YANG MEMERINTAHKAN. JIKA KAU MAU, GUNAKAN KAMI SEBAGAI UMPAN KEMBALI. MUNGKIN MEREKA AKAN MENGHUBUNGI KAMI LAGI.” Ujar Lainnya.
Lucas kini beranjak duduk dibangkunya lagi.
“Aku tidak ada waktu untuk itu. Aku banyak pekerjaan yang menggunung menantiku.” Bingung Lucas mengetuk tongkat itu ke lantai.
Lucas sama seperti Killian. Ia merupakan CEO untuk berbagai jenis kerajaan bisnisnya. Hanya saja ia juga bergabung dalam keluarga mafia.
“Ka-kami dapat menyelesaikannya tuan. Kami akan mencari tahu siapa yang memerintah kami.”
“Oh ya? Bagaimana caranya? Sedangkan mereka saja tidak ingin diketahui keberadaanya.”
“Kami akan melacak keberadaan nomor itu.”
“Baik.” Lucas berdiri dan melempar tongkat bisbol itu, “Kuberi waktu 24 jam. Jika tidak ada kabar, kita akan bermain babi dan serigala lagi.” Tawa Lucas, “Aku paling suka bermain petak umpet. Jadi jangan berani kabur.”
“Lepaskan satu orang itu.” Perintah Lucas, “Jika dalam waktu 24 jam tidak ada kabar, bakar mereka semua.”
smangaaat kk author..novel mu alur ny menegangkan...akuu sukaaa🥰