Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30 Kasihan Padamu
Kania menatap sang atasan dengan tatapan nanar, mencoba mencari kebohongan atau niat terselubung dari raut wajah pria itu. Namun, yang ia temukan hanyalah rahang tegas dan sorot mata yang sungguh-sungguh.
Kania meremas tas kecil di pangkuannya. "Kenapa Bapak mau bantu saya? Kita bahkan belum lama bertemu, Pak. Saya cuma karyawan baru di perusahaan Bapak," tanyanya dengan suara serak.
Abimanyu membuang napas kasar. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit kemudi, lalu menoleh menatap Kania.
"Ya mau bagaimana lagi? Aku kasihan padamu," jawab Abimanyu jujur, terlalu blak-blakan hingga membuat Kania sedikit tersentil.
"Kamu dicampakkan begitu saja oleh laki-laki tak tahu diuntung itu. Dan yang lebih membuatku muak saat Mawar datang ke rumah membawa Firman dan meminta izin pada Papa untuk menikah, aku langsung menyuruh asistenku menyelidiki latar belakang pria itu. Tahu apa yang kutemukan?"
Kania menggeleng pelan, matanya masih basah.
"Aku menemukan fakta bahwa calon suami adikku adalah pria berengsek yang baru saja membuang istrinya, yang tak lain adalah karyawan baru di divisiku sendiri!" Abimanyu memijat pangkal hidungnya dengan raut wajah kesal. "Memalukan sekali! Adikku sendiri memungut sampah yang tak punya harga diri. Dan keluargaku malah mendukungnya karena buta oleh kata-kata manis Firman."
Mendengar penuturan itu, Kania kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa minder dan rendah diri yang selama ini Firman tanamkan di kepalanya kembali muncul ke permukaan. Hatinya mencelos.
"Wajar kalau mas Firman membuang saya, Pak," cicit Kania pelan, tangannya tanpa sadar meraba lutut kirinya. "Karena saya cacat. Kaki kiri saya sedikit pincang sejak kecelakaan itu. Saya tidak bisa memakai sepatu hak tinggi berlama-lama, jalannya pun tidak bisa seanggun wanita lain. Mas Firman mungkin malu punya istri seperti saya setiap kali harus membawa saya ke acara relasi bisnisnya. Saya ini beban buatnya."
Keheningan kembali menyelimuti mobil itu. Kania bersiap mendengar kalimat belas kasihan atau mungkin persetujuan dari bosnya. Namun, reaksi Abimanyu sungguh di luar dugaannya.
"Omong kosong," desis Abimanyu tajam.
Kania mendongak kaget.
"Dengar ya, Kania," ucap Abimanyu sambil menatap tepat di manik mata wanita itu. "Cacat fisik bukan berarti kamu pantas dicampakkan layaknya barang rongsokan. Kalau Firman lebih memilih perempuan seperti Mawar hanya karena kakinya normal, berarti laki-laki itu yang cacat. Cacat otaknya, cacat hatinya."
Mata Kania kembali berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun, tak pernah ada satu orang pun, bahkan Firman, yang membelanya seperti ini. Hatinya yang dingin perlahan terasa menghangat.
Satu tetes air mata kembali meluncur di pipi Kania, merusak lapisan bedak mahalnya. Melihat itu, mata Abimanyu seketika melotot panik, namun ia berusaha menutupinya dengan raut wajah galak.
"Astaga! Sudahlah, berhenti menangis. Nanti riasanmu luntur, Kania! Mahal-mahal aku membayar tukang rias ibu kota, antrenya saja susah, malah dihapus pakai air mata murahanmu itu!" ketus Abimanyu sambil panik menarik selembar tisu dari kotak di atas dasbor.
Kania tersentak kaget. Bukannya mengelap wajahnya sendiri, Abimanyu justru mencondongkan tubuhnya, lalu dengan gerakan kaku dan sedikit canggung, pria itu menepuk-nepuk pelan ujung tisu ke bawah mata Kania.
"Pak, saya bisa sen—"
"Diam," sela Abimanyu galak. "Jangan bergerak. Kalau maskaramu luntur ke pipi, kamu nanti mirip panda kurang tidur. Malu-maluin aku saja kalau jalan berdampingan nanti."
Kania terdiam kaku. Wajah atasannya itu begitu dekat. Ia bisa mencium aroma mint dan maskulin dari parfum Abimanyu. Meski mulut pria itu terus mengomel dan terdengar sangat ketus, sentuhan tangannya saat membersihkan sisa air mata Kania terasa begitu lembut dan berhati-hati.
"Nah, sudah," Abimanyu menjauhkan tubuhnya, membuang tisu itu ke tempat sampah kecil di mobil. Ia berdeham salah tingkah, lalu membuang muka ke arah jendela. Telinga pria itu tampak sedikit memerah. "Lain kali, kalau mau menangis, tunggu sampai acara selesai dan riasanmu sudah dihapus. Mengerti?"
Kania berkedip beberapa kali, memproses kejadian barusan. Rasa sedihnya mendadak menguap, digantikan oleh sebuah senyum kecil yang tak bisa ia tahan. Ia menutupi mulutnya, menahan tawa yang hendak meledak.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tegur Abimanyu curiga, menyipitkan matanya.
"Bapak ini ternyata di luar kantor cerewet sekali, ya? Kayak ibu-ibu sedang mengomeli anaknya," kekeh Kania geli.
"Aku tidak cerewet!" bantah Abimanyu cepat, rahangnya mengetat karena gengsi. "Aku ini sedang melindungi aset! Penampilanmu ini adalah investasiku untuk mempermalukan Firman. Jadi wajar kalau aku menjaganya!"
"Iya, Pak, iya. Terima kasih sudah menyelamatkan maskara saya," balas Kania, nada suaranya kini terdengar lebih ceria.
Kania menatap sosok pria di sebelahnya dengan pandangan berbeda. Di balik setelan jas mahalnya yang kaku, wajahnya yang selalu ditekuk, dan kata-katanya yang sedingin es batu, Kania tahu betul ada kehangatan yang tulus di sana. Abimanyu mungkin terlihat galak dan ketus, tapi Kania menyadari satu hal, pria ini sangat baik.
Abimanyu kembali menyalakan mesin mobil dengan wajah yang masih ditekuk menahan malu.
"Pasang sabuk pengamanmu. Kita berangkat sekarang. Dan ingat, Kania..."
"Ya, Pak?"
"Di dalam gedung nanti, jangan panggil bapak. Angkat dagumu, gandeng tanganku dan panggil aku mas. Kita tunjukkan pada suamimu apa arti penyesalan."
Kania mengangguk mantap. Senyum percaya dirinya akhirnya mengembang sempurna.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...