Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERDUA
🌻🌻🌻
Suara mobil akhirnya berhenti di halaman rumah. Dari balik jendela lantai dua, Raisa yang masih berdiri di kamar Naira melirik keluar sebentar.
Arga pulang.
Tatapannya berubah cepat. Dingin yang tadi menusuk perlahan menghilang, diganti ekspresi tenang seperti biasa. Raisa merapikan ujung blouse-nya, lalu menoleh ke arah Naira.
"Istirahat ya." suaranya lembut sekali sekarang.
"Jangan terlalu dipikirkan, kasihan bayi aku dan Arga." Ucapnya sebelum benar-benar keluar kamar meninggalkan Naira. Kalimat itu kembali menusuk tanpa perlu membentak.
Lalu Raisa keluar begitu saja.
Klik.
Pintu tertutup. Sedangkan Naira hanya diam menunduk di atas kasur dengan mata yang masih panas.
🌻🌻🌻
Di bawah. Pintu utama terbuka, Arga masuk sambil menghela napas panjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Meski tidak memakai setelan formal kantor, wajahnya tetap terlihat penat. Kaos hitam polos dipadukan celana pendek santai dan jam tangan yang masih melingkar di pergelangan tangannya.
Seharian ini ia banyak sekali mengurus hal yang tidak terduga. Dan sejak siang, pikirannya tidak tenang setelah mendapat laporan kalau Naira menerima pesan dari nomor asing.
Ia bahkan sempat beberapa kali ingin menelepon Naira, tapi urung.
Baru beberapa langkah masuk, Raisa sudah menunggu sambil menyilangkan tangannya di depan dada. ia berjalan pelan ke arah Arga yang terlihat sangat berantakan. Raisa pelan menggenggam lengan Arga dan menarik nya lembut menuju ruang tengah.
Tenang.
Hanya ada suara pendingin ruangan dan langkah kaki mereka yang terdengar samar. Arga melepaskan jam tangannya lalu melemparkannya pelan ke meja kecil dekat sofa. Badannya ia sandarkan ke sofa dan Jemarinya memijat pangkal hidung nya.
Pusing. Kepalanya terlalu penuh, dan tentang Nomer yang tidak dikenal masuk ke ponsel Naira tadi. Ia masih tidak tenang.
Tatapannya beberapa kali melirik ke arah lantai atas. Membuat Raisa menangkap semuanya. Dan itu cukup membuat sesuatu di dalam dirinya terasa tidak nyaman.
Raisa duduk di samping Arga. Jarak mereka dekat seperti biasa. Jemarinya pelan merapikan rambut depan Arga yang sedikit berantakan.
"Capek banget?" tanyanya lembut. Arga mengangguk pelan Sambil memejamkan matanya. Raisa pelan menarik kepala Arga agar bersandar di pundaknya. Arga tidak menolak.
"How's your day?" Tanya Raisa
"Pusing, Masalah pak Hendra semakin bercabang kemana-mana" Jelas Arga.
"Ayahnya aja problematik, apalagi... anaknya" Gumam Raisa. Mendengar itu Arga langsung menegakkan kepala nya dengan kening yang berkerut.
"Maksudnya?"
"Nope, Mau makan di luar?" Tanya Raisa mengalihkan perhatian. Arga menghembuskan nafasnya lelah dan menggeleng.
"Why? Udah lama kita nggak keluar berdua." Arga langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa lagi.
"Besok aja, Babe" Nada suaranya rendah. Lelah.
"Hari ini aku Capek banget"
Dan jujur Pikirannya sedang terlalu penuh untuk sekadar duduk santai dan makan. Ia bahkan ingin naik ke atas sebentar. sekedar untuk Memastikan keadaan Naira.
Tapi...
Raisa terdiam. Senyumnya perlahan menghilang. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Arga.
"Dulu kamu sesibuk apapun tetap nyempetin waktu buat aku." Ucap Raisa
"Dulu juga pulang kerja kamu nyari aku dulu." lanjutnya.
"Dulu bahkan makan malam sederhana aja kamu nggak lupa ngajak aku"
Pelan, Tidak meninggi. Tapi justru itu yang terasa menekan.
Sekarang? Raisa menoleh ke arah Arga.
"Kamu pulang badan kamu ada di rumah, bahkan ada di samping aku Ga..." suaranya mengecil.
"Tapi pikiran kamu entah kemana."
Arga langsung menghela napas panjang.
"Raisa, aku cuma lagi banyak masalah, Aku capek, badan aku juga capek"
"Aku tahu." Potong Raisa cepat. Tatapannya melembut sedikit.
"Makanya aku nggak pernah protes waktu kamu sibuk urus semuanya."
"Aku diem waktu kamu sering pulang malam, Aku diem waktu perhatian kamu mulai kebagi, Aku diem kalau sekarang kamu udah jarang... tidur dikamar kita, Aku nggak pernah protes apapun itu"
Kalimat terakhir diucapkan pelan. Tapi cukup membuat Arga menegang sedikit, Raisa menatapnya beberapa detik.
"Tapi kayaknya diem nya aku, kamu salah artikan"
"Please Sa... Aku lagi capek... "
"I know..." suaranya mengecil. Perlahan Raisa berdiri dari duduknya.
"Selamat beristirahat" Ucap Raisa pelan sebelum akhirnya kakinya ia langkahkan ke luar rumah.
Arga menghembuskan nafasnya pelan.Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Karena Ia sadar. Akhir-akhir ini memang terlalu fokus pada keadaan Naira.
Kehamilan, Kondisinya, Masalah Pak Hendra. Bahkan tanpa sadar beberapa kali ia meninggalkan Raisa lebih dulu.
Padahal, Raisa selalu ada sejak awal. Menemaninya dari nol. Saat bisnisnya hampir jatuh. Saat semua orang pergi. Yang bertahan cuma Raisa.
Dan sekarang... Apa iya ia mulai mengabaikannya?
Arga mengusap wajah kasar. Sebelum Pintu rumah belum benar-benar tertutup, Arga mendadak berdiri dari sofa.
"Shit..." gumamnya pelan sambil mengusap wajah kasar. Dadanya terasa sesak dengan rasa bersalah yang aneh.
Ia tahu, Raisa tidak pernah banyak menuntut, Tidak pernah berteriak dan Tidak pernah memaksa. Tapi justru karena itu... saat Raisa bicara seperti tadi, rasanya jauh lebih menusuk.
Arga langsung meraih kunci mobil di meja. Langkahnya cepat menuju pintu. Di luar, Raisa ternyata belum jauh. Perempuan itu sedang berdiri dekat pagar rumah, memeluk tubuhnya sendiri sambil menatap jalanan depan rumah yang mulai gelap menunggu sang sopir mengeluarkan mobilnya.
"Biar saya saja" Ucap Arga pada Sopir tersebut. Raisa menoleh pelan. Tatapannya tenang. Terlalu tenang.
"Ngga usah, aku sama pak wawan aja, kamu niat istirahat di rumah" Tolak Raisa pelan.
Arga menghembuskan napas panjang lalu mengacak rambutnya frustrasi.
"Sorry Babe... Please masuk" Ucap Arga sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Raisa langsung menatapnya. Jarang sekali Arga meminta maaf duluan.
"Lagi banyak banget di kepala aku," lanjut Arga pelan. "Tapi itu bukan alasan buat bikin kamu ngerasa sendiri."
Raisa tidak langsung menjawab. Hanya menatap wajah Arga beberapa detik.
Lingkar samar di bawah matanya bahkan terlihat jelas. Dan entah kenapa, rasa kesalnya sedikit runtuh.
"Kamu capek, Ga," ucap Raisa pelan.
"Makanya tadi aku bilang nggak usah dipaksa." Lanjut Raisa.
Arga menggeleng kecil.
"Nggak." Tangannya pelan menggenggam jemari Raisa.
"Ayo makan."
Raisa mengernyit kecil.
"Kamu tadi nolak."
"Iya."
"Lah terus?"
Arga menghembuskan napas pendek sambil menatap Raisa lekat.
"Karena aku sadar akhir-akhir ini emang terlalu sering ninggalin kamu." Kalimat itu membuat Raisa sedikit diam.
"Apa yang kamu katakan tadi emang semuanya... bener." lanjut Arga pelan.
"Gimana pun capeknya aku... kamu tetep orang pertama yang selalu ada."
Tatapan Raisa perlahan berubah. Tidak lagi setajam tadi. Arga mengusap lembut punggung tangan Raisa.
"Temenin aku makan ya?" Ucap Arga. Raisa menahan senyum kecil yang nyaris lolos.
"Kok jadi aku yang nemenin kamu?" Ucap Raisa sambil menahan senyumnya.
"Biar aku nggak makin dimarahin."
Raisa mendengkus pelan.
"Aku nggak marah." Bela Raisa.
"Lebih serem malah kalau kamu nggak marah."
Itu berhasil membuat Raisa terkekeh kecil.
Akhirnya suasana Sedikit mencair.
"Oke," ucap Raisa akhirnya.
"Tapi aku mau makan yang enak." Lanjut Raisa
"Whatever you want." Jawab Arga.
Raisa akhirnya masuk ke mobil. Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, Arga benar-benar memilih duduk di samping Raisa tanpa pikirannya terbagi—atau setidaknya mencoba.
Meski Di sudut pikirannya, bayangan Naira yang sendirian di kamar masih sesekali muncul.
Dan itu membuat Arga tanpa sadar beberapa kali melirik layar ponselnya yang tetap sunyi.
🌻🌻🌻