Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24 — Kota Sungai Hijau
Ada pula rumah makan yang berjajar di sepanjang jalan utama kota, masing-masing mengeluarkan aroma daging panggang, sup hangat, dan berbagai hidangan yang begitu menggoda hingga memenuhi udara di sekitarnya. Bagi para penduduk Kota Sungai Hijau, aroma itu mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi Xiao Yun, yang selama beberapa hari terakhir hanya mengandalkan hasil buruan sederhana dan bekal seadanya selama perjalanan, harum makanan tersebut terasa jauh lebih menggugah daripada apa pun yang pernah diciumnya. Perutnya segera bereaksi, mengeluarkan suara pelan yang cukup jelas terdengar di tengah keramaian.
Gruukk...
Xiao Yun mengusap bagian belakang kepalanya sambil tersenyum canggung. Ia berusaha berpura-pura tidak terjadi apa-apa, tetapi Luo Hai yang melayang di sampingnya hanya melirik sekilas sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Kau lapar?"
Xiao Yun mengangguk kecil tanpa berusaha menyangkal.
"Sedikit."
Luo Hai terkekeh pelan, lalu berkata dengan nada tenang, "Keinginan mengisi perut memang wajar setelah perjalanan panjang."
"Akan tetapi, seorang kultivator harus mampu menentukan prioritas."
"Selesaikan urusanmu terlebih dahulu, baru setelah itu kau bisa menikmati hasil jerih payah mu."
Xiao Yun memahami maksud gurunya. Ia tidak lagi menoleh ke arah rumah-rumah makan yang berjejer di sepanjang jalan. Dengan mengikuti petunjuk Luo Hai, ia berjalan menuju sebuah bangunan batu berlantai dua yang berdiri tidak jauh dari pusat perdagangan kota. Bangunan itu tampak lebih sederhana dibanding toko-toko lain, tetapi lalu-lalang orang yang keluar masuk membuatnya terlihat cukup ramai. Di atas pintu masuk tergantung sebuah papan kayu besar yang bertuliskan Balai Perdagangan Binatang Iblis.
Begitu melangkah masuk, Xiao Yun langsung melihat berbagai kulit hewan, tanduk, taring, tulang, hingga bagian tubuh binatang iblis lain yang tersusun rapi di atas rak-rak kayu. Aroma darah yang telah mengering bercampur dengan bau berbagai ramuan pengawet memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang sama sekali berbeda dibanding keramaian pasar di luar.
Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk yang sedang menghitung beberapa kantong uang segera mengangkat kepalanya. Senyum ramah semula muncul di wajahnya sebagai bentuk kebiasaan menyambut pelanggan. Namun ketika ia menyadari bahwa tamu yang datang hanyalah seorang bocah berusia sekitar lima tahun dengan pakaian sederhana dan tas perjalanan lusuh di pundaknya, ekspresi itu perlahan berubah menjadi heran.
"Hm?" gumamnya sambil mengernyit. "Nak, apakah kau tersesat?"
Xiao Yun menggeleng pelan.
"Aku datang untuk menjual hasil buruan."
Ucapan itu membuat pria tersebut semakin terkejut. Pandangannya turun ke tubuh Xiao Yun, seolah berusaha memastikan bahwa bocah di hadapannya benar-benar serius. Dalam pengalamannya bertahun-tahun mengelola balai perdagangan, hampir semua pemburu yang datang adalah pria dewasa atau kelompok petualang. Sangat jarang ada anak kecil yang datang sendirian membawa hasil buruan.
Tanpa membuang waktu menjelaskan, Xiao Yun membuka tasnya dan mengeluarkan sepasang taring besar yang berwarna keabu-abuan. Benda itu diletakkannya di atas meja kayu dengan bunyi berat yang langsung menarik perhatian beberapa orang di dalam ruangan.
Duk!
Pria gemuk itu spontan membungkukkan badan. Matanya membelalak ketika mengenali bentuk taring tersebut. Dengan gerakan cepat ia mengambilnya, mengamati setiap bagian secara teliti, lalu memeriksa permukaannya menggunakan jarinya.
"Ini..."
Tatapannya kemudian beralih pada gulungan kulit yang dibawa Xiao Yun. Setelah dibentangkan sebagian, wajah pria itu berubah semakin serius.
"Benar-benar berasal dari Babi Taring Besi."
Nada suaranya tidak lagi mengandung sedikit pun keraguan ataupun sikap meremehkan. Ia memandang Xiao Yun sekali lagi, kali ini dengan sorot mata yang jauh lebih menghargai. Meskipun ia tidak mengetahui bagaimana bocah itu memperoleh hasil buruan tersebut, barang yang ada di hadapannya jelas bukan barang palsu.
Pria itu segera mengambil timbangan kecil, mencatat kualitas taring, memeriksa kondisi kulit, lalu melakukan perhitungan dengan cukup teliti.
"Taringnya masih utuh dan hampir tidak mengalami kerusakan."
"Kulitnya juga dilepas dengan cukup rapi sehingga nilainya tidak banyak berkurang."
"Untuk hasil buruan pertama, kualitas seperti ini sudah termasuk baik."
Setelah selesai menghitung, ia membuka sebuah laci kayu dan mengeluarkan sebuah kantong kain kecil yang cukup berat. Kantong itu kemudian didorong ke hadapan Xiao Yun.
"Ini pembayaranmu."
Xiao Yun membukanya perlahan. Begitu melihat beberapa keping Koin Emas berkilau di dalamnya, matanya langsung melebar. Cahaya keemasan itu memantulkan sinar matahari yang masuk dari jendela, membuat isi kantong tersebut tampak jauh lebih berharga daripada yang pernah ia bayangkan.
Selama tinggal di Desa Kabut, beberapa keping Koin Perak saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sebuah keluarga selama beberapa waktu. Kini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memegang beberapa Koin Emas hasil usahanya sendiri.
Perasaan bangga perlahan memenuhi dadanya.
Uang itu bukan hadiah.
Bukan pemberian siapa pun.
Dan bukan pula hasil belas kasihan.
Semua itu merupakan hasil dari latihan keras, keberanian menghadapi bahaya, dan buruan pertama yang berhasil ia taklukkan dengan tangannya sendiri.
Pria gemuk itu tersenyum lebih ramah daripada sebelumnya.
"Kalau nanti kau mendapatkan hasil buruan lain, jangan ragu datang ke sini lagi. Balai kami selalu membeli bahan binatang iblis dengan harga yang pantas."
Xiao Yun mengangguk sopan.
"Terima kasih."
Setelah meninggalkan balai perdagangan, ia masih menggenggam kantong uang tersebut dengan erat. Langkahnya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Walaupun jumlah uang itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan para kultivator besar, bagi dirinya uang tersebut memiliki arti yang sangat istimewa. Itu adalah bukti bahwa ia kini mampu bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri.
Saat berjalan kembali melewati kawasan pasar, perhatian Xiao Yun tiba-tiba tertarik pada sekelompok orang yang sedang melintasi jalan utama. Mereka terdiri atas tiga pria dan seorang wanita dengan pakaian yang seragam. Masing-masing membawa senjata di punggung atau di pinggang, sementara langkah mereka terlihat mantap dan penuh keyakinan. Tanpa perlu berbicara, aura yang mereka pancarkan sudah cukup membuat para pedagang maupun pejalan kaki secara naluriah memberi jalan.
Xiao Yun memperhatikan mereka dengan saksama.
Entah mengapa, ia dapat merasakan bahwa keempat orang itu berbeda dari penduduk biasa. Tatapan mereka lebih tajam, napas mereka lebih teratur, dan gerakan tubuh mereka memancarkan kekuatan yang sulit dijelaskan.
Luo Hai mengikuti arah pandang muridnya sebelum berkata pelan, "Mereka adalah kultivator."
Mata Xiao Yun dipenuhi rasa ingin tahu.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Desa Kabut, ia benar-benar melihat para kultivator berjalan bebas di hadapannya, bukan hanya mendengar cerita dari orang lain. Keberadaan mereka membuatnya semakin menyadari betapa luas dunia yang sedang dimasukinya. Jalan yang baru saja ia tempuh hanyalah langkah pertama dari perjalanan panjang yang masih terbentang di depan.
Ketika kelompok itu melewati tempatnya berdiri, sebagian percakapan mereka sempat terbawa angin.
"...harga Batu Roh kembali naik..."
"...aku hanya memiliki tiga Batu Roh Rendah yang tersisa..."
"...kalau terus begini, kita harus berburu lebih jauh ke utara..."
Xiao Yun tanpa sadar menghentikan langkahnya.
"Batu Roh?" gumamnya lirih.
Istilah itu benar-benar asing baginya. Akan tetapi, dari nada bicara para kultivator tersebut, jelas bahwa benda bernama Batu Roh memiliki nilai yang jauh melampaui Koin Emas yang baru saja ia peroleh.
Tatapannya mengikuti keempat kultivator itu hingga mereka menghilang di balik keramaian kota. Di dalam benaknya mulai muncul begitu banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Ia belum mengetahui apa sebenarnya Batu Roh.
Ia juga belum memahami seperti apa kehidupan para kultivator di dunia luar.
Namun satu hal telah dipastikannya.
Sejak meninggalkan Desa Kabut dan memperoleh Warisan Altar Pertama, pintu menuju dunia kultivasi yang sesungguhnya perlahan telah terbuka di hadapannya. Kini setiap langkah yang diambilnya akan membawa dirinya semakin dekat pada dunia yang selama ini hanya hadir dalam cerita-cerita lama, sekaligus mendekatkannya kepada takdir besar yang telah menunggu sejak Nadi Kekosongan memilihnya sebagai Pewaris Kesepuluh.
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?