Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Rosa
Saat semuanya sudah pergi ketempat tujuan masing-masing, kini tertinggal Yura dan Liam yang saling pandang.
"Kau tidak pulang? " tanya Yura dengan heran karena pria itu masih setia berdiri disamping nya.
"Aww... "
Tiba-tiba sebuah sepatu mendarat tepat dibelakang kepala Yura. Dan Ternyata Lindsey lh pelaku nya.
Dengan sigap Yura menahan tangan Liam yang hendak maju untuk menghadapi gadis itu. Ia melihat Lindsey yang tidak mengenakan sebelah sepatunya, karena sepatu itu telah mendarat dikepalanya.
Yura juga dapat melihat dengan jelas tangan Lindsey yang ditutupi perban. Bukannya marah, Yura malah merasakan iba.
"puas kau sekarang? " ia berteriak.
Yura hanya diam sambil terus melihat Lindsey dengan harapan gadis itu mau menerima kekalahan.
"Lihat saja, aku akan membalasmu..!! "
Lindsey lantas pergi setelah mengucapkan kalimat ancaman itu. Amarah dihati nya sangat besar sampai-sampai ia tidak sadar jika dirinya hanya mengenakan sebelah sepatu nya saja.
Yura kemudian melanjutkan perjalanannya, membuat Liam yang sejak tadi hanya bungkam saja buru-buru mengikutinya.
Liam dapat melihat aura kekecewaan di wajah Yura, karena itu dirinya memilih untuk tidak bicara.
Namun ada sesuatu yang membuat mulutnya sangat ingin mengeluarkan suara. Tapi melihat wajah itu, ia malah jadi semakin ragu saja.
"Tapi jika dibiarkan, apa kata orang-orang nanti? "
akhirnya dengan sekali tarikan nafas ia berhasil memanggil nama gadis itu.
"Ra,,, "
Yura yang sejak tadi terus berjalan tanpa ada rencana berhenti itu segera berbalik. Sorot matanya yang tajam itu membuat nyali Liam seketika hilang.
"Apa? Mengapa masih ikut? "
"I-itu, di....
" Apa?!!"
Liam menunjuk-nunjuk sesuatu dibelakang Yura, membuat gadis itu segera menoleh. Namun setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan dibelakang nya, ia pun berbalik dan memandang penuh curiga pada Liam.
"Dikepala mu ada bekas sepatu ,, " Akhirnya Liam berhasil mengatakan nya.
Melihat Yura yang ingin membersihkan kepala nya, Liam segera mendekat dan meminta biar kan dirinya saja yang bersihkan.
Akhirnya Yura diam, membiarkan Liam membersihkan kepalanya. "Lindsey sialan...! " ucapnya dengan penuh kekesalan.
Ucapan nya itu membuat Liam tak bisa menahan senyum nya. Dimatanya, Yura begitu lucu saat kesal seperti itu.
"Kamu mau kemana sih? "
Yura kembali bertanya setelah rambutnya sudah selesai dibersihkan. Ia yang masih memiliki agenda penting itu sudah tak sabaran ingin segera pergi, ia takut terlambat.
"Aku ikut kamu, sekarang dan sampai kamu kembali pulang. Titik, tidak ada penawaran.."
Yura hanya bisa menahan rasa kesalnya, mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu tapi segere mengurungkannya karena ujung-ujungnya akan sia-sia saja.
"Terserah..! "
Ia pun segera menyetop sebuah taksi dan mengatakan alamat yang ingin ia tuju. Dan Liam ikut tanpa banya bicara. Ia hanya duduk dengan tenang sambil sesekali melihat wajah Yura yang memang terlihat sedikit tergesa-gesa.
Mobil itu berhenti didepan sebuah hotel yang terlihat mewah. Yura segera turun dan bolak-balik melihat jam ditangannya.
"Ini belum jam enam, seharusnya masih bisa,, "
Ucapnya sambil berjalan cepat memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka.
Saat tiba dilantai dua puluh tujuh, ia segera melangkah lebar menuju resepsionis. Liam yang sejak tadi hanya mengikuti dalam diam akhirnya mulai mengerti kemana tujuan mereka.
Sebuah foto besar berdiri disamping pintu masuk aula hotel beserta karangan bunga yang berjejer disamping nya.
"Bisa tunjukkan undangan nya? " ucap sang resepsionis.
Seketika Yura terdiam kaku, ia menggigit bibirnya sambil matanya nanar menatap ke dalam. Kartu undangan nya ia lupakan dan dirinya tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.
Ia tidak menyangka pesta pernikahan sang ibu akan dibuat se privat ini. Mau tak mau dirinya harus melupakan keinginan kecil nya yaitu melihat ibunya mengenakan gaun pernikahannya.
"Mbak, maaf. ada hubungan apa dengan pengantin? "
sang resepsionis yang keheranan melihat tamu undangan yang datang lengkap dengan seragam sekolah akhirnya memutuskan untuk bertanya.
Lagipula bukankah ini sudah sangat sore untuk menghadiri acara pernikahan?
"Anaknya, masa nggak dikasih masuk? Kasihan loh... " Liam yang menjawab.
Ia bahkan membuat ekspresi yang sangat menyedihkan.
Resepsionis nya jadi merasa bersalah, tapi tetap tidak bisa menerima tamu tanpa kartu undangan .
"kalau begitu, tunggu sebentar.. "
Salah satu dari resepsionis itu kemudian masuk, dan digantikan oleh rekan satu nya lagi. Hinga tak lama kemudian, resepsionis itu kembali lagi dengan membawa pengantin wanita nya keluar.
Rosa yang melihat sang putri segera memeluk nya dengan erat. Ia menangis bukan karena terharu akan kedatangan sang putri.
Melainkan kartu pengenal yang masih tersemat dileher Yura. Mungkin karena terburu-buru, ia sampai lupa untuk melepaskan nya.
"Terimakasih sudah datang ra, mama minta maaf ya.. "
"Mama bahkan tidak tahu apa saja kegiatanmu.. "
"Mama salah, akhirnya mama sadar kalau selama ini mama lah yang sangat egois.. "
Wanita itu mungkin akan menangis keras jika Yura tidak segera menghentikannya.
"Aku hanya kebetulan lewat. Sekarang aku harus pulang..." ucap Yura sambil melepaskan pelukan sang mama.
. ..
Setelah kedua nya berada diluar hotel, hari sudah gelap. Lampu-lampu jalanan kota menyala dengan terang ditambah hiruk pikuk ramainya jalanan kota walaupun hari sudah malam.
"Kita mau kemana? " tanya Liam.
Yura tanpa menjawab kembali menyetop taksi. Liam kembali mengikuti dengan pasrah tanpa banyak bicara.
"Pantai? " heran liam saat ia melihat lautan yang terbentang luas dihadapannya.
"Jauh-jauh ke kota hanya untuk melihat pantai? "
Jika biasanya setelah mengucapkan kalimat menyebabkan seperti itu, Yura akan menyemprotnya dengan tatapan tajamnya.
Namun kali ini gadis itu hanya diam dan terus berjalan dengan kaki tela*jang setelah melepaskan sepatunya. Tak lupa ia juga melepaskan kartu pengenal yang sejak tadi ia kenakan.
Rambut nya yang pendek bergerak bebas didalam kendali sang angin.
Jika tadi saat bertemu dengan sang ibu, ia terlihat tegar. Namun saat ini ketegaran itu seolah hilang terkikiskan oleh deburan ombak yang menabrak karang.
Ia menundukkan kepalanya, diikuti oleh badannya yang mulai bergetar karena tangisannya.
Liam yang ada dibelakang nya hanya bisa diam, memberi ruang bagi gadis itu untuk meluapkan perasaanya.
"Kak, aku masih ingat dengan jelas janji kita untuk datang bersama ke tempat ini.. "
"Tapi aku melanggarnya sekarang, pacar macam apa aku ini? "
"Aku tidak bisa menahannya terlalu lama lagi. Aku terbiasa bersandar padamu kak, dan kali ini aku kehilangan segalanya. "
"Pasti kakak akan tertawa melihatku menangisi mama, tapi sebenci apapun aku padanya, dia tetaplah mamaku"
"Aku hanya ingin dipedulikan kak,, "
Semua kalimat itu hanya hisa ia ucapkan sambil memandangi air laut yang tidak pernah diam itu. Sangat berbanding terbalik depannya yang lebih suka diam.
"Kak steven,,,!! "
"Kali ini aku berhasil menang, aku juga menghadiri pesta pernikahan mama,,, !! "
"Aku juga pindah ke rumah nenek, sudah tiga bulan... "
"Kak Steven, maafkan aku...! "
Ia akhirnya berteriak mengeluarkan suaranya setelah suara batinnya tidak menemui jawaban. ia semakin menangis pilu saat mengingat semua rasa sakit yang ia pendam selama ini.
"Mengapa rasanya sangat sulit..? "
Ia menangis tersedu-sedu sampai tubuhnya ikut bergetar hebat. Suara tangisan pilu nya sangat membuat hati siapa saja akan ikut merasa terluka.
.
.
..
Bersambung...