Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Sang Kupu-Kupu Sosial Mendarat
Kesadaran Alana yang tenggelam ke alam mimpi di malam hari kedua perlahan terkikis saat fajar hari ketiga menyingsing. Ketika ia membuka mata, paviliun belakang masih diselimuti keheningan yang damai, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat di sana. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Memasuki siang hari, getaran roda-roda mobil mewah yang melintasi jalan berkerikil di area depan kompleks mulai terasa, disusul oleh suara riuh rendah yang menggema dari arah Mansion Tengah.
Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Xavier Garrick telah mendarat kembali di kediaman utama keluarga Garrick.
Dari balik jendela kamarnya yang sempit, Alana bisa melihat iring-iringan mobil sport mewah berwarna merah menyala dan hitam metalik terparkir rapi di halaman mansion faksi ketiga. Puluhan pelayan berseragam rapi tampak berbaris di sepanjang karpet merah yang sengaja digelar oleh Nyonya Bianca Rossi demi menyambut putra semata wayangnya. Suara gelak tawa yang renyah, dentingan gelas-gelas kristal, dan musik jazz bertempo lambat yang mengalun samar dari kejauhan menjadi penanda bahwa sang pangeran kasino sedang merayakan kepulangannya dengan penuh kemewahan.
Alana menatap keramaian yang kontras itu dengan ekspresi wajah yang sangat datar. Peta taktik di dalam kepala dinginnya sudah matang sempurna. Berdasarkan memori dari tubuh ini, selama belasan tahun hidup di bawah atap kompleks yang sama, Xavier tidak pernah benar-benar menganggapnya ada. Di setiap acara makan malam formal keluarga yang diadakan ketika sang ayah, Victor Garrick, pulang dari luar negeri, Alana asli selalu duduk di pojokan paling belakang bersama Elena. Gadis itu selalu menunduk ketakutan, meremas ujung gaun kumalnya, dan tidak berani menatap siapa pun.
Bagi Xavier yang narsistik dan terbiasa dipuja, Alana hanyalah adik tiri bungsu yang cengeng, lemah, dan teramat membosankan—sebuah pajangan tidak kasat mata yang sama sekali tidak memiliki nilai jual dalam organisasi finansial bawah tanah miliknya. Xavier hanya menyukai hal-hal yang berkilau, mahal, dan menghibur. Alana jelas tidak masuk ke dalam kategori itu.
'Tapi hari ini, aku akan memastikan kamu melihatku dengan cara yang berbeda, Xavier,' batin Alana tipis, sebuah senyuman misterius tersirat di sudut bibirnya.
Alana berbalik ke arah meja kecil tempat sebuah benda yang dipersiapkannya bersama Elena selama dua hari terakhir berada. Benda itu adalah sebuah rajutan pembatas buku berbahan benang katun sederhana bermotif anyaman klasik, dengan aroma terapi melati yang menenangkan—aroma yang sengaja dipilih Alana karena sangat kontras dengan parfum mawar pekat milik Eleanor atau parfum alkohol mahal yang biasa dicium Xavier di kasino.
Alana mengenakan gaun katun putihnya yang paling sederhana, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai alami tanpa hiasan apa pun. Memar keunguan di pipi kirinya sengaja tidak dia tutupi dengan riasan; luka itu adalah pengingat visual yang kuat, sebuah kontras yang tajam dengan kemewahan yang biasa Xavier lihat.
"Alana, kamu benar-benar ingin keluar ke taman tengah sekarang?" tanya Elena dari ambang pintu, wajahnya dipenuhi raut cemas. "Tuan Muda Xavier baru saja tiba, tempat itu pasti sangat ramai dengan pengawal faksi ketiga."
"Jangan khawatir, Ibu. Aku hanya ingin membaca buku di bawah pohon ek taman tengah. Aku tidak akan membuat keributan," jawab Alana menenangkan. Suaranya yang stabil entah bagaimana berhasil meredakan kepanikan Elena.
Dengan sebuah buku tua bersampul kulit kusam di tangan kanan dan pembatas buku rajutan di dalam sakunya, Alana melangkah keluar dari paviliun belakang. Dia berjalan dengan ritme yang santai namun pasti, menyusuri jalan setapak batu menuju taman tengah kompleks yang memisahkan wilayah faksi ketiga dan faksi keempat.
Suasana di taman tengah siang itu cukup hangat. Angin berembus pelan, menggoyang dedaunan pohon ek besar yang menjadi target Alana. Tempat ini adalah titik buta (blind spot) strategis yang sudah dipetakan Alana kemarin. Dari dahan pohon ek ini, seseorang bisa terlihat jelas dari balkon lantai dua Mansion Tengah tempat Xavier biasanya bersantai menikmati cerutu siangnya, namun posisi pohon ini tetap berada di luar jalur patroli utama pengawal.
Alana duduk di bangku kayu tua di bawah naungan pohon ek. Dia membuka bukunya, memosisikan tubuhnya sedemikian rupa sehingga pipi kirinya yang memar menghadap ke arah Mansion Tengah, sementara wajahnya tertutup sebagian oleh helaian rambut yang tertiup angin. Dia mulai membaca dengan fokus yang tenang, sepenuhnya mengabaikan suara musik pesta yang menggema beberapa ratus meter di sekitarnya. Jiwa pekerja kerasnya yang terbiasa fokus di tengah bisingnya kubikel kantor modern membuatnya mampu menciptakan dinding konsentrasi yang mutlak.
Satu jam berlalu. Alana tetap bergeming di posisinya, membalik halaman demi halaman buku tua itu dengan gerakan yang anggun dan ritmis. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mencari perhatian atau melirik ke arah mansion glamor itu sama sekali.
Hingga akhirnya, sebuah suara pintu kaca yang digeser terdengar dari lantai dua Mansion Tengah.
Alana tidak mendongak, tetapi indra pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki ringan yang mendekati pagar balkon besi berukir emas di atas sana. Bau asap cerutu beraroma vanila premium perlahan terbawa angin, menginterupsi udara segar taman.
Di atas balkon, Xavier Garrick berdiri dengan kemeja sutra hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka, memamerkan kalung emas putih yang berkilau di bawah sinar matahari. Pria berwajah tampan dengan senyum jenaka yang tak pernah lepas dari bibirnya itu awalnya hanya ingin menghirup udara segar setelah lelah meladeni sambutan ibunya yang dramatis. Matanya yang jeli, yang biasa digunakan untuk menghitung kartu di meja blackjack, secara tidak sengaja bergulir ke arah taman tengah.
Xavier menaikkan satu alisnya saat melihat sesosok gadis bergaun putih sederhana sedang duduk menyendiri di bawah pohon ek, tenggelam dalam dunianya sendiri dengan sebuah buku tua.
'Siapa itu? Pelayan baru?' pikir Xavier malas.
Namun, saat angin berembus agak kencang, menyingkap helaian rambut hitam gadis itu, mata Xavier menyipit. Dia mengenali struktur wajah itu. Itu adalah Alana, adik tiri bungsunya dari selir keempat.
Xavier mendengus geli di dalam hati. Di dalam ingatannya, Alana adalah makhluk paling membosankan di mansion ini—gadis kecil yang akan langsung menangis gemetar bahkan jika dia hanya menatapnya sekilas. Biasanya, jika menyadari keberadaan salah satu kakak tirinya, Alana akan langsung kabur bersembunyi seperti tikus ketakutan.
Tetapi gadis di bawah sana saat ini sama sekali tidak menoleh. Alana tetap membaca dengan ketenangan yang luar biasa. Bahkan dari jarak sejauh ini, Xavier bisa merasakan aura dingin dan tak acuh yang memancar dari tubuh adik tirinya itu. Sikap acuh tak acuh Alana yang begitu mutlak di tengah kepulangannya yang agung seketika memicu percikan aneh di dalam dada sang pangeran kasino.
Rasa penasaran yang sudah lama mati di dalam diri Xavier Garrick, tiba-tiba saja terusik oleh sebuah pengabaian sederhana.
Xavier mengetukkan jemarinya yang dihiasi cincin safir pada pagar balkon. Matanya yang tajam beralih ke pipi kiri Alana. Dari sudut posisinya sekarang, warna keunguan yang kontras di kulit pucat gadis itu terlihat jelas. Memar. Dan melihat pola serta letak lukas tersebut, Xavier yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan langsung tahu penyebabnya: sebuah tamparan keras dari tangan seseorang yang memiliki otoritas tinggi.
'Ah, faksi Eleanor pasti berulah lagi,' batin Xavier dengan seringai tipis yang sarkas. Dia sama sekali tidak peduli pada penindasan domestik yang dilakukan sang ibu sah, selama hal itu tidak mengganggu aliran dana kasinonya. Namun, yang menarik perhatiannya adalah bagaimana Alana merespons luka itu. Biasanya, Alana akan mengurung diri di kamar sambil menangis bombay bersama ibunya yang lemah. Tapi sekarang, gadis itu justru duduk di luar, membaca buku seolah memar di wajahnya hanyalah coretan tinta yang tidak berarti.
Sifat dasar Xavier yang impulsif dan mudah bosan mulai mengambil alih. Kebetulan, obrolan dengan ibunya di dalam ruangan tentang gaun-gaun musim panas terbaru sudah mulai membuatnya jenuh. Mengamati perubahan aneh pada adik tiri "tikus kecil"-nya ini terasa jauh lebih menghibur.
Xavier mematikan cerutunya di asbak marmer balkon, lalu berbalik masuk untuk mengambil jas kasualnya. Sambil berjalan menuruni tangga melingkar Mansion Tengah, sebuah senyum jahil terpatri di wajah tampannya. Pangeran kasino yang selalu dikejar wanita ini memutuskan untuk menghampiri sang adik kecil, ingin melihat seberapa lama Alana bisa mempertahankan topeng sok cueknya itu di hadapannya.
Sementara itu di bawah pohon ek, Alana mendengar sayup-sayup langkah kaki yang mendekat dari arah taman tengah. Langkah itu santai, ritmis, dan dipenuhi oleh kepercayaan diri yang berlebihan—karakteristik langkah kaki Xavier Garrick.
Alana tidak mengencangkan tubuhnya atau menunjukkan kepanikan. Dia mempertahankan napasnya tetap teratur. Sebagai seorang profesional di kehidupan lalu, dia tahu bahwa dalam negosiasi dengan pihak yang narsistik, momen ketika kita menunjukkan ketertarikan terlebih dahulu adalah momen ketika kita kehilangan posisi tawar.
'Tiga... dua... satu...' Alana menghitung di dalam hati.
"Well, well. Lihat siapa yang sedang berpura-pura menjadi putri kutu buku di siang hari yang terik ini," suara bariton yang renyah dan penuh nada mengejek terdengar tepat di depan bangku kayu Alana.
Xavier berdiri di sana, menghalangi cahaya matahari pagi yang menyorot buku Alana. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Alana dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang biasa dia berikan pada barang-barang mewah di pelelangan.
Alana tidak langsung mendongak. Dia menyelesaikan membaca satu kalimat terakhir di halamannya, dengan tenang menyelipkan rajutan pembatas buku beraroma melati ke dalam buku, lalu menutupnya dengan ketukan pelan. Barulah setelah itu, dia mendongakkan kepala, menatap langsung ke dalam sepasang mata hazel milik Xavier Garrick.
Tidak ada getaran ketakutan. Tidak ada rona merah di pipi karena terpesona oleh ketampanan sang kakak yang terkenal memikat. Tatapan mata Alana begitu jernih, datar, dan kosong—seolah dia hanya sedang menatap seorang asing yang kebetulan lewat dan mengganggu waktu bacanya.
"Ada yang bisa kubantu, Tuan Muda Xavier?" tanya Alana pendek. Suaranya terdengar begitu tenang dan dingin, seperti aliran air es.
Xavier seketika membeku di tempatnya. Senyum jenaka yang semula terpatri di wajahnya agak sedikit kaku. 'Tuan Muda Xavier?' Dan apa-apaan dengan tatapan mata itu? Mengapa rasanya seperti dia sedang berhadapan dengan seorang rekan bisnis berdarah dingin dari sindikat luar, dan bukan adik tirinya yang penakut?
Rasa penasaran Xavier yang awalnya hanya sebatas mencari hiburan, kini mendadak berubah menjadi sebuah ketertarikan yang jauh lebih dalam dan berbahaya.