Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di Balik Dinding Kaca
Pagi di Kediri selalu memiliki ritme yang berbeda. Jika Jombang menawarkan ketenangan yang kontemplatif, Kediri khususnya Pesantren Al-Anwar menawarkan dinamika yang menggebu. Namun, bagi Gus Arsalan, kemegahan bangunan pesantren yang menjulang tinggi di hadapannya kini terasa seperti labirin sunyi. Sudah tiga minggu ia menjalani hari-harinya dalam kesendirian di *ndalem* besar itu, sementara istrinya masih berada di Jombang.
Rutinitas Arsalan berubah drastis. Ia tidak lagi menghabiskan waktu di kafe-kafe mewah untuk sekadar melepas jenuh atau mendiskusikan teori sosial dengan rekan-rekan lamanya. Kini, setiap pukul lima pagi, ia sudah berada di kompleks asrama putra, memantau kedisiplinan santri saat mengantre di depan kamar mandi umum. Ia tidak lagi memerintah dari kejauhan; ia turun tangan, terkadang ikut mengangkat galon air ke dapur asrama, atau sekadar duduk di teras kelas untuk mendengarkan curhatan santri yang kesulitan menghafal Jauharatut Tauhid.
Perubahan ini tidak luput dari perhatian Kiai Ahmad. Sang ayah, yang biasanya sangat kritis terhadap sikap putranya, kini hanya menatap dari kejauhan dengan senyum tipis. Beliau tahu, perubahan Arsalan bukan sekadar "akting" untuk mengambil hati menantunya, melainkan sebuah pertobatan yang sedang dikerjakan dengan keringat.
Siang itu, sebuah kejutan datang. Bukan kejutan yang menyenangkan, melainkan sebuah panggilan telepon dari staf Kementerian Agama terkait peresmian gedung asrama baru yang akan diresmikan minggu depan. Mereka meminta agar pihak pesantren menyiapkan sesi foto bersama dan testimoni singkat terkait dampak pembangunan gedung.
Arsalan, yang sedang memegang ponsel, terdiam. Ini adalah acara besar. Tentu saja, kehadiran seorang istri sangat krusial dalam protokoler keluarga pesantren besar seperti Al-Anwar. Ia harus segera menghubungi Humaira.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Arsalan melakukan panggilan video. Dering pertama... kedua... ketiga...
"Assalamualaikum, Gus," suara Humaira terdengar lembut di seberang sana. Wajahnya muncul di layar, tampak sedang berada di perpustakaan pondok putri. Latar belakangnya adalah deretan kitab-kitab tua yang rapi.
"Waalaikumsalam, Humaira," Arsalan tersenyum tipis. "Bagaimana kabarmu? Apa di sana sedang sibuk?"
"Alhamdulillah, sehat. Baru saja selesai merapikan inventaris kitab untuk acara bulan depan," jawab Humaira singkat. Ia tidak menatap langsung ke kamera, melainkan ke arah tumpukan buku di depannya.
Arsalan menarik napas panjang. "Humaira, minggu depan ada acara peresmian gedung asrama di Al-Anwar. Pihak kementerian meminta saya dan... istri saya untuk hadir dalam sesi dokumentasi. Apakah mungkin jika minggu depan kamu meluangkan waktu untuk pulang ke Kediri? Hanya untuk acara itu saja."
Hening. Humaira terdiam cukup lama. Arsalan bisa melihat ekspresi istrinya yang tiba-tiba menegang.
"Gus..." Humaira akhirnya menjawab dengan suara pelan. "Apakah kehadiran saya benar-benar krusial? Di sana ada Ummi Khadijah. Beliau pasti bisa mendampingi Njenengan sebagai perwakilan keluarga."
Arsalan memejamkan mata sejenak. Ia tahu ini tidak mudah. "Ini acara peresmian gedung yang saya pimpin pembangunannya, Humaira. Protokolnya mengharuskan saya bersama pendamping. Saya tidak ingin berpura-pura di depan khalayak, tapi saya juga tidak ingin memaksamu."
"Beri saya waktu untuk salat istikharah lagi, Gus," jawab Humaira. Panggilannya berakhir dengan sebuah ketukan layar yang halus namun terasa berat bagi Arsalan.
Sore harinya, saat Arsalan tengah berjalan menuju gerbang depan pesantren, seorang santri senior mendekatinya dengan wajah panik.
"Gus Arsalan! Mohon maaf, ada keributan di depan gerbang. Seorang wanita mengaku... mengaku sedang mencari Gus Arsalan."
Darah Arsalan berdesir. 'Wanita?' Ia mempercepat langkahnya. Di depan gerbang besi yang menjulang, berdiri seorang wanita dengan dress modis dan kacamata hitam yang digantung di kepala. Ia adalah Clara, rekan kuliah Arsalan saat di London dulu. Seseorang dari masa lalu yang meskipun sudah Arsalan lupakan pernah menjadi bagian dari "dinding kaca" yang menghalangi pandangannya terhadap Humaira di masa lalu.
"Arsalan!" seru Clara dengan nada ceria yang sangat kontras dengan suasana pesantren.
Arsalan menghentikan langkahnya beberapa meter di depan wanita itu. Ia tidak mendekat. "Clara? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku mendengar kamu sudah menikah dan memimpin pesantren ini," Clara berjalan mendekat, mengabaikan tatapan heran dari para santri yang sedang berlalu-lalang. "Aku sedang ada proyek di Surabaya, dan berpikir untuk mampir. Kamu tidak berubah, Arsalan. Tetap kaku seperti dulu, aku kira kamu mau menikah dengan Evelyn ternyata bukan denganya"
Arsalan menatap Clara dengan dingin. "Ini lingkungan pesantren, Clara. Mohon jaga adabmu. Ada apa kamu ke sini?"
"Hanya ingin menyapa teman lama," Clara menyeringai. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba berfoto selfie dengan latar belakang pesantren, dengan Arsalan yang berdiri kaku di sampingnya. "Ayo, sekali saja. Teman-teman di London pasti tidak percaya aku bertemu dengan 'Gus' yang sangat religius."
Arsalan menepis tangan Clara yang hendak menyentuh lengannya. "Maaf, saya tidak bisa. Saya punya istri yang harus saya jaga perasaannya. Silakan pergi, Clara. Jangan pernah datang ke sini lagi."
Arsalan berbalik pergi, namun ia tidak menyadari satu hal: tepat dari balik pilar gerbang, seorang santriwati yang baru saja pulang dari koperasi pondok sedang memegang ponsel yang merekam kejadian tersebut. Tanpa disengaja, video itu viral di grup WhatsApp internal santriwati Al-Anwar dalam hitungan menit, dan sialnya, salah satu pengurus santriwati di sana memiliki kontak Humaira di Jombang.
Malam harinya, Arsalan tidak tahu apa yang terjadi. Ia sibuk di perpustakaan sampai larut. Saat ia akhirnya membuka ponselnya pukul sepuluh malam, ia mendapati puluhan pesan dari Humaira.
Pesan pertama: Sebuah video kiriman.
Pesan kedua: Gus, apa ini?
Pesan ketiga: Apakah ini perubahan yang Njenengan janjikan?
Pesan keempat: Saya minta maaf, Gus. Saya pikir kita bisa memperbaiki semuanya, tapi sepertinya dunia Njenengan dan dunia saya memang tidak akan pernah bertemu.
Jantung Arsalan berhenti berdetak. Ia segera menekan tombol panggil.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
Arsalan mencoba lagi. Sama.
Ia segera berlari menuju garasi, menyambar kunci mobilnya. Ia tidak memedulikan larangan malam, ia tidak memedulikan protokol pesantren, dan ia tidak memedulikan Ummi Khadijah yang berteriak memanggilnya dari teras. Ia harus pergi ke Jombang malam ini juga.
Di sepanjang jalan, Arsalan memukul setir mobilnya dengan frustrasi. "Bodoh! Arsalan, kamu bodoh!" rutuknya pada diri sendiri. Ia tahu video itu hanyalah potongan tanpa konteks, namun ia juga tahu betapa sensitifnya Humaira terhadap masa lalunya.
Dua jam perjalanan dilaluinya dengan kecepatan tinggi. Saat ia tiba di Pesantren Sepuh Jombang, jarinya gemetar hebat saat mengetuk pintu *ndalem*.
Pintu terbuka. Bukan Humaira, melainkan Kiai Syamsuddin yang berdiri dengan tatapan tajam.
"Abah..." napas Arsalan tersengal. "Di mana Humaira? Saya harus menjelaskan semuanya. Itu salah paham, Abah!"
Kiai Syamsuddin menatap menantunya dengan dingin, lalu menunjuk ke arah pintu kamar Humaira yang tertutup rapat. "Humaira sudah mengunci diri sejak magrib, Le. Dia menangis sampai tertidur. Jika kamu ingin menyakiti hatinya lagi, lebih baik kamu pulang sekarang."
Arsalan tidak memedulikan peringatan itu. Ia melangkah menuju kamar Humaira dan berdiri tepat di depan pintunya. Ia tidak mengetuk. Ia hanya menempelkan keningnya di atas pintu kayu tersebut, menutup matanya, dan mulai berbicara dengan suara yang lirih, serak, dan penuh dengan air mata.
"Humaira... demi Allah, saya tidak tahu dia akan datang. Saya menolaknya, saya menyuruhnya pergi. Tolong... jangan tutup hatimu lagi. Saya memang laki-laki pendosa, tapi saya bersumpah, demi Allah, saya tidak pernah sedikit pun berniat mengkhianati janji kita di taman itu."
Di balik pintu, Humaira duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia mendengar setiap isak tangis suaminya. Ada bagian dari hatinya yang ingin membuka pintu itu, tapi bagian lain yang jauh lebih besar merasa bahwa dinding kaca antara mereka memang terlalu tebal untuk dipecahkan hanya dengan air mata.
"Gus," suara Humaira terdengar dari balik pintu, nyaris seperti bisikan angin malam. "Njenengan pulanglah. Saya butuh waktu untuk berpikir apakah kita benar-benar ditakdirkan untuk bersama, atau apakah kita hanya sepasang asing yang dipaksa bersatu oleh ego keluarga."
Malam itu, di depan pintu yang terkunci, Gus Arsalan menyadari bahwa perjuangan dari nol bukanlah tentang seberapa keras ia berusaha, melainkan tentang seberapa dalam ia harus bersabar ketika kepercayaan yang baru dibangun dihancurkan oleh bayang-bayang masa lalunya sendiri.