Novel ini adalah sambungan dari novel sebelumnya yang berjudul "Gadis gengsi dan Pria cuek"
Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Syafa, yang menurut Bian sangat cerewet dan ribet.
Dan juga mengisahkan seorang pria bernama Bian yang juga menurut Syafa, pria itu sebenarnya adalah es yang dikutuk menjadi manusia
Seperti kisah mereka? Yuk kepoin cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Izzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue cantik? Makasih!
Ia meletakkan ponselnya di telinganya. Menunggu hingga tersambung. Berdering beberapa kali namun tak kunjung dijawab
"Bian kemana sih? Kenapa ngga ngangkat telpon gue?" Syafa menjadi kesal dan terus menghubungi pria menyebalkan itu
"Kenapa ngga di angkat sih? Ah, nyebelin deh" Syafa kembali menghubungi ponsel Bian. Dan sekali lagi, Syafa tak kunjung mendapatkan jawaban
"Tunggu! Gimana kalau sampai Bian kenapa-kenapa? Gimana kalau sampai Bian kecela......" ucapannya terhenti, kemudian menutup mulutnya dan menjatuhkan ponsel di tangannya
Selain punya sifat yang cerewet, menyebalkan, penakut. Syafa juga punya sifat parnoan. Suka berpikir kemana-mana
"Gue harus ke kamar kakak" tekadnya, lalu keluar dari kamarnya dan berlari naik ke lantai 2
"Kakak...... Kakak" dengan panik ia mengetuk pintu kamar kakaknya
"Kakak kenapa buka pintunya lama banget?" teriaknya sambil terus menggedor pintu
"Bentar woyy" teriak Syifa dari dalam
"Heh. Gue belum congek. Kenapa loh teriak-teriak? Gibran baru aja tidur" celoteh Syifa setelah membuka pintu
"Kakak juga teriak-teriak" cetus Syafa
"Kenapa dek?" tanya Luthfi yang baru saja bergabung
"Kak. Bian mau pergi kemana? Kenapa Syafa telpon ngga bisa-bisa? Terus kenapa kakak ngebolehin dia pergi coba? Giliran Syafa aja yang mau pergi, Bian harus ikut. Kenapa giliran Bian pergi bahkan Syafa ngga tau?" cerocos Syafa
"Eh cerewet" Syifa mendorong kening adiknya "Nanyanya satu-satu bisa ngga? Lagian Bian keluar katanya mau ketemu temannya bentar. Emang apa untungnya loh tau? Bian tuh cowok, bisa jaga diri sendiri"
"Ah kakak" Syafa mengelus keningnya "Tapi kenapa dia ngga ngomong sama Syafa mau pergi?"
"Dih. Emang Bian siapanya loh?" cetus Syifa
"Syifa? Ngga boleh ngomong gitu" tegur Luthfi
"Tau nih kakak. Jahat banget kalau ngomong sama adik sendiri" tukas Syafa
"Loh yah. Giliran dibela aja" ketus Syifa
"Bian keluar katanya mau ketemu temannya dulu. Cuma sebentar" cetus Luthfi
"Ketemu temannya? Temannya yang mana yang dia maksud?" tanya Syafa
"Mana kita tau temannya Bian siapa aja. Teman kampusnya kali" ujar Syifa
"Apaan. Bian tuh di kampus ngga punya teman" balas Syafa
"Terus yang punya teman cuma loh gitu?" tukas Syifa
"Ngga gitu Kak. Tapi emang di kampus Bian ngga dekat sama siapa-siapa. Tapi tadi sama Niko sih. Tapi kalau sama Niko ngga mungkin juga" balas Syafa
"Udah di telpon?" tanya Luthfi
"Udah Kak. Tapi ngga di angkat" jawab Syafa
"Coba......" ucapan Luthfi terhenti saat mendengar pintu utama terbuka "Mungkin itu Bian yang udah pulang"
"Syafa kebawa dulu" teriak Syafa yang sudah berlari ke lantai 1
"Hati-hati. Jangan lari-lari di tangga" teriak Syifa
"Malah ikutan teriak" cetus Luthfi yang menggeleng dan kembali masuk ke dalam kamar
Sementara Bian yang hendak masuk ke kamarnya, terhenti setelah melihat Syafa yang berlari dari lantai atas
"Syafa hati-hati. Kenapa lari-lari" tegur Bian
"Bian! Loh dari mana? Kenapa gue telpon loh ngga angkat-angkat?" cercah Syafa
Bian mengerutkan kening dengan heran "Gue cuma keluar sebentar. Dan gue ngga bawa hp"
"Teledor emang loh yah. Lain kali kalau keluar tuh bawa HP biar gampang dihubungi"
Bian semakin heran. Ia mendekat dan menempelkan telapak tangannya di kening Syafa "Loh sakit?" ia malah mengira gadis cerewet itu tengah sakit
"Apaan sih?" Syafa menepis tangan Bian "Ngaco. Gue nanya. Loh darimana? Habis ngapain?"
"Udah gue bilang dari luar ketemu teman"
"Emang loh punya teman?"
Satu sentilan mendarat di kening Syafa "Yang punya teman cuma loh?"
"Ah sakit Bi" seru Syafa "Hobi banget nyentil kening gue loh ah" ia mengelus keningnya
"Udah gue capek. Mau istirahat" Bian hendak masuk ke dalam kamarnya
"Bian. Gue belum selesai ngomong" Syafa menarik tangan Bian
"Apa lagi Sya?" geram Bian
"Loh habis ketemu siapa? Maksud gue, teman mana yang loh maksud? Cewek atau cowok?"
"Teman SMA gue dan loh ngga tau. Gue mau istirahat" Bian kembali hendak masuk ke kamarnya
"Bian. Loh belum jawab. Cewek atau cowok?" dan kembali Syafa menarik tangan Bian
Bian tidak menjawab. Ia menghela napas. Mendekat ke arah Syafa hingga membuat gadis itu memundurkan langkahnya
"Bi... Bian...." Syafa gugup dengan Bian yang semakin mendekat padanya
"Loh mau tau kan gue habis ketemu siapa?" Bian semakin mendekat, bahkan suaranya sengaja ia kecilkan
"Ng.... Ngga.... Gue ngga mau... Gue ke kamar dulu" Syafa mendorong dada Bian dan berlari masuk ke dalam kamarnya
Bian mendesis "Dasar. Giliran digoda dikit" ia menggeleng lalu masuk ke dalam kamarnya
***
"Perginya jam berapa?" tanya Syifa ketika mereka berada di meja makan menikmati sarapan di pagi hari
"Katanya jam 10 pagi. Soalnya Kak Reza ada kuliah pagi-pagi banget" jawab Syafa sambil mengunyah sarapannya
"Emang ada. Ini aja gue sama Luthfi mau kuliah" sahut Syifa
"Ya udah sih sana" guman Syafa
"Apa? Loh bilang apa?" tanya Syifa
"Ngga bilang apa-apa" jawab Syafa sambil menikmati sarapan paginya
"Ya udah. Kalian baik-baik yah di rumah. Kakak pergi dulu. Ayo" ujar Luthfi dan berlalu dari sana bersama istrinya
"Untung kakak ipar gue baik" ketus Syafa
"Kakak ipar gue juga baik" cetus Bian di sela-sela ocehan Syafa
"Baik apanya suka ngomel gitu"
"Ngomel kalau loh cerewet"
"Diam loh. Sana siap-siap aja. Loh bakal jadi bodyguard gue sama Kak Reza pass jalan"
"Terserah loh" sahut Bian yang yang mendorong piringnya ke depan karna sarapannya sudah selesai
"Uh. Dasar" Syafa melayangkan tinjunya ke udara
***
Syafa sudah berdandan secantik mungkin di depan cermin kamarnya dengan rambut tergurai "Pokoknya gue harus tampil cantik dan menarik di depan Kak Reza"
Syafa hanya memakai riasan tipis namun begitu elegan di wajahnya. Karna memang sudah dari sananya, Syafa begitu cantik, ditambah dengan senyumnya yang begitu menawan
Hanya memakai kaos sederhana berwarna biru dipadu rok yang panjangnya sejengkal jari di atas lututnya berwarna coklat kotak-kotak yang sangat cocok dengan gadis seumurannya. Terakhir memakai sepatu modif berwarna coklat yang senada dengan warna roknya
"Udah cantik" pujinya pada diri sendiri "Sekarang gue harus ke kamar Bian. Jangan-jangan tuh anak malah belum siap-siap" ia keluar dari kamarnya menuju kamar Bian
Baru saja ia ingin mengetuk pintu kamar Bian. Pria itu sudah lebih dulu keluar. Bian sejenak menatap Syafa dari ujung rambut sampai kaki
"Kenapa? Gue cantik? Makasih!" Syafa bergaya di depan Bian
Bian hanya mendesis dan meninggalkan Syafa untuk keluar dari rumah menuju parkiran
"Uh. Dasar" Syafa kembali melayangkan tinjunya ke udara. Namun tetap mengikuti Bian
"Ingat loh yah. Jangan ngebut-ngebut. Ntar dandanan gue berantakan" peringat Syafa sebelum dirinya naik ke motor tersebut
"Cepetan bawel" perintah Bian
"Awas loh. Gue gorok leher loh kalau berani ngebut"
*
*
*
Maaf. Masih sedang kurang sehat 🙏🏻
Jangan lupa like dan beri tipnya. Terima kasih untuk semuanya ❤
nyakin ini Link, Vote nya pasti bakal banyak banget.