Ibu Alya meninggal karena menyelamatkan anak majikannya yang bernama Bagas, dia adalah tuan muda dari keluarga Danantya.
~
Bagas patah hati karena kepercayaannya dihancurkan oleh calon istrinya Laras, sejak saat itu hatinya beku dan sikapnya berubah dingin.
~
Alya kini jadi yatim piatu, kedua orang tua Bagas yang tidak tega pun memutuskan untuk menjodohkan Bagas dan Alya.
~
Bagas menolak, begitupun Alya namun mereka terpaksa menikah karena terjadi sesuatu yang tidak terduga!
~
Apakah Bagas akan menerima Alya sebagai istrinya? Lalu bagaimana jika Alya ternyata diam-diam mencintai Bagas selama ini?
Mampukah Alya meluluhkan hati Bagas, atau rumah tangga mereka akan hancur?
Ikuti kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon znfadhila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Alya menunggu kepulangan Bagas dengan perasaan cemas, dia terus terbayang dengan perkataan Berlian.
Istri Joshua itu memang tidak langsung menceritakan secara detail, tapi Alya sadar jika pelaku yang telah menyebabkan kecelakaan itu berhubungan dengan masa lalu Bagas, bahkan memang di sengaja namun targetnya Bagas.
"Kalo semua yang di bilang Berlian bener, aku harus gimana?" tanya Alya pada dirinya sendiri, dia bahkan terus berdiri berjalan mondar mandir tanpa bisa duduk dengan tenang.
"Apa iya aku harus marah sama Bang Bagas? tapi dia gak salah di sini." Alya mengacak rambutnya frustasi, kehilangan ibunya itu sangat menyakitkan.
Dulu saat Alya kehilangannya dia begitu hancur tapi Alya masih memiliki sandaran yaitu Ibunya namun sekarang dia kehilangan kedua sandarannya.
"Kenapa mereka jahat banget sih, bertindak jadi orang yang paling di sakiti padahal mereka sendiri pelakunya." Alya menggeram kesal, dia mengepalkan tangannya kuat.
Alya terus mengumpat dia semakin membenci Laras, dulu Neneknya juga di jadikan ancaman sampai Alya harus pergi dari kota ini sekarang Ibunya juga jadi korban keegoisannya sungguh manusia tamak yang membuat Alya semakin muak padanya.
Alya sibuk mengumpat sampai tidak sadar jika Bagas sudah sampai, pria itu nampak terkejut melihat istrinya mengumpat penuh amarah.
"Ternyata dia bisa ngumpat juga." Bagas malah menahan tawa melihat Alya yang nampak lucu, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah saat ingat apa yang di sampaikan oleh Berlian tadi.
"Sial! pasti Alya sekarang penasaran soal pelakunya." gumam Bagas yang kini berubah gugup, sebenarnya Bagas tidak ingin menyembunyikan masalah ini dari Alya hanya saja perasaan takutnya benar-benar menguasai dirinya.
"Tapi aku gak bisa terus sembunyi kaya gini." Bagas menarik nafas pelan, dia berjalan pelan mendekat pada Alya yang masih belum sadar akan kedatangannya.
Barulah setelah beberapa langkah Bagas mendekat Alya menyadari kedatangan suaminya.
"B-bang B-bagas.." Alya juga sama mendadak gugup, lebih tepatnya canggung dan malu karena dia sedang mengumpat tadi.
"Maaf bikin kamu kaget."
"Engga kok aku-"
GREP!
Belum sempat Alya menyelesaikan perkataannya Bagas tiba-tiba memeluknya dengan erat, tubuh Alya langsung membeku dan perasaan gugup kini menghantui dirinya.
"B-bang.."
"Sebentar aja Al." Bagas memejamkan matanya, dia merasakan kenyamanan saat memeluk istrinya perasaan bersalah menghantuinya padahal bukan salah Bagas.
Yang salah itu Edo dan Laras, mereka itu pelaku yang bertindak seperti korban mereka menganggap dirinya itu benar, mereka juga tidak akan puas sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Maafin aku Al, maafin aku." lirih Bagas, suaranya begitu pelan Alya kembali tertegun mendengar suara lirih Bagas ada rasa sakit dalam diri Alya mendengar Bagas merasa bersalah seperti itu.
Alya melepas pelukannya, dia menatap Bagas terlihat sorot mata Bagas penuh rasa bersalah pada Alya.
"Kenapa Abang minta maaf sama aku? apa ini soal pelaku yang udah nabrak Ibu?" suara Alya begitu lembut, Alya memberanikan diri menggenggam tangan Bagas kemudian mereka berdua duduk di sofa.
"Berlian pasti udah sedikit jelasin sama kamu kan?" Bagas mencoba tersenyum meskipun hatinya sekarang sangat gugup.
"Sedikit, yang aku bisa simpulin di sini kecelakaan ini udah di rencanain dan pelakunya itu berhubungan sama masa lalu Abang kan?" Alya nampak tenang tapi ekspresinya sulit di artikan, dan jujur saja Bagas malah semakin gugup sekarang.
"Iya, semuanya bener." Bagas menatap Alya sejenak sebelum akhirnya menjelaskan semuanya tanpa ada yang di kurangi sama sekali.
Alya cukup terkejut mendengar pria yang bekerja sama dengan Laras adalah teman Bagas sendiri, miris memang ternyata masih banyak orang yang bersikap seperti itu.
"Jadi pelakunya itu temen Abang?" mata Alya berubah dingin, tentu saja dia marah karena alasan di balik rencana kecelakaan ini adalah dendam mereka pelakunya tapi mereka sendiri yang memiliki dendam.
"Iya, aku gak nyangka ternyata dia tega ngelakuin semua ini, kalo emang dia mau deketin perempuan itu ya silahkan aja gak akan ada yang larang, lagian di sini yang jadi korban itu aku bukan dia, tapi kenapa di sini yang merasa jadi korban itu dia."
Bagas menggerutu kesal, dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Laras sedikitpun tapi wanita itu masih saja mengganggunya, Bagas tidak habis pikir dengan tingkahnya yang gila.
"Terus sekarang Abang mau gimana?" tanya Alya, Bagas menatap istrinya seksama dia sedikit gugup takut Alya marah padanya atau berakhir membencinya.
"Al, kamu gak marah sama aku? atau kamu gak benci sama aku?" Bagas balik bertanya, Alya mengerutkan keningnya.
"Kenapa aku harus marah sama Abang? kan bukan Abang yang sengaja bikin Ibu celaka, kecuali kalo Abang kerjasama bareng mereka aku bakal benci sama Abang."
"APA?!" Bagas membelalakan matanya tak percaya, Alya juga berkata penuh ketegasan.
"Mana mungkin aku kerjasama Al, itu gak mungkin." Bagas langsung membantah, dia sangat tidak terima dengan kemungkinan itu.
"Yaudah kalo gitu udah jelas.." Alya menatap Bagas, pria yang selama ini dia cintai tapi kisah cintanya tidak mudah di tipu dan di manfaatkan oleh wanita yang dia cintai tentu saja sangat menyakitkan.
"Kan Abang tadi bilang di sini Abang juga korbannya jadi aku gak nyalahin Abang, dari awal targetnya itu Abang bukan ibu."
Bagas menggenggam erat tangan Alya, jujur hatinya lega dan juga terharu rasa takutnya mendadak hilang.
"Al.." Alya menoleh, Bagas memeluk Alya kembali.
"Makasih kamu gak benci sama aku, jujur aku takut Al takut kamu benci sama aku." suara Bagas sedikit bergetar, Alya kembali terkejut karena Bagas terlihat sangat takut jika dirinya marah besar.
"Aku gak benci Abang, tapi aku benci mereka yang punya niat jahat sampe orang yang gak bersalah jadi korbannya." mata Alya berkilat penuh tekad, tangannya mengepal kuat.
Bagas melepaskan pelukannya dia kembali menggenggam erat tangan Alya.
"Jangan takut, mereka udah di tangkap dan aku gak akan biarin mereka lolos gitu aja, mereka harus tanggung jawab sama apa yang mereka lakuin." ucap Bagas mengusap pucuk kepala Alya.
"Abang gak akan ngerasa bersalah ngehukum perempuan itu, gimanapun dia pernah ada dalam hidup Abang." kata Alya sedikit menyindir, entahlah dia sadar atau tidak saat mengatakan hal itu.
"Al, itu masa lalu sekarang aku punya masa depan yang jelas di depan aku." Bagas tersenyum manis, pipi Alya bersemu tanpa sadar.
"K-kalo g-gitu, p-perasaan A-abang g-gimana?"
"Perasaan ya? entahlah kayanya aku udah jatuh cinta sama kamu Al."
DEG!
"A-apa?!"
"Kalo aku udah punya perasaan itu kamu mau kasih aku kesempatan?"
"K-kesempatan?"
"Buat hubungan suami istri yang sesungguhnya, Al jangan pernah berpikir kalo pernikahan ini akan berakhir aku gak akan biarin itu terjadi, aku bakal terus berusaha supaya kamu jadi satu-satunya istri dan calon ibu dari anakku."
'KYAAAA! APA INI?!'
Bersambung.........
terlalu jauh bab babny jadi sampai agak lupa alurnya.
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️