Sebuah kecelakaan membawa Sora Langi ke dunia kultivasi, bersama sistem kultivasi harem akankah dia bisa kembali ke bumi? Sistem milik Sora tidak biasa, kalau mau jadi kuat harus sering melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Semakin intim kontak fisik semakin besar poinnya, akankah Sora mampu melangkah maju bersama sistem?
(Ding! Pegangan tangan dengan lawan jenis, poin harem +...)
(Ding! Berciuman dengan lawan jenis, poin harem +...)
(Ding! Berpelukan dengan lawan jenis, poin harem +...)
(Ding! Berhubungan i...., poin harem +...)
Tentu saja, meski caranya absurd, Sora Langi pasti melangkah maju sambil mengumpulkan kecantikan di kanan dan kiri. Anak tetua desa yang cantik tapi pemalu, ketua sekte yang tegas dan dingin, dewi perang yang ditakuti miliaran orang, semua akan menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYN02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat
Perpisahan selalu menyedihkan, sama seperti yang terjadi sekarang, banyak penduduk desa yang menangis saat mengantar kepergian Sora dan Melati.
Tetua desa sedih karena harus berpisah dari putrinya, penduduk desa pria sedih karena harus berpisah dari teman yang bisa diandalkan (Sora), penduduk desa wanita juga sedih karena tidak lagi bisa menggoda Sora.
Meskipun alasan di balik kesedihan mereka berbeda - beda, tujuan mereka tetap satu, mengantar kepergian Sora dan Melati.
"Kami pasti kembali!"
Sora berteriak keras, suaranya menyebar ke seluruh penjuru dan didengar semua orang.
"Melati, ayo."
"Em."
Melati mengangguk lembut, memeluk Sora, kemudian keduanya terbang menuju arah ibu kota dengan kecepatan tinggi.
"Ingat untuk kembali dengan membawa cucu!"
Tidak perlu memastikan untuk tahu siapa yang berteriak minta cucu, kalau bukan tetua desa, siapa lagi?
Sora dan Melati saling memandang.
"Pfft! Ha ha ha!"
Sora tertawa sementara Melati tersipu malu.
(Poin harem +...)
Karena terus menempel dengan Melati selama perjalanan, Sora terus memanen poin harem yang cukup signifikan jika digabungkan.
Kalau terus begini, tak lama lagi dia bisa menerobos ranah nascent soul dan mengejar Yuki.
Tapi tidak mungkin mereka terbang dari desa sampai ibu kota. Kalau memaksakan diri pasti bisa, tapi lebih baik santai sambil sesekali mampir di kota yang dilewati. Itung - itung sambil belajar kehidupan di dunia ini.
Dari pagi sampai sore hari, keduanya meneruskan perjalanan dengan terbang, jalan kaki, atau lari.
Di malam hari, mereka mampir di kota, menyewa satu kamar dengan privasi paling tinggi, lalu melakukan ini dan itu sampai tengah malam sebelum lanjut beristirahat.
Karena sama - sama kultivator, aktivitas intens seperti ini tidak membuat mereka kelelahan.
Malah sebaliknya, Melati merasa sangat bugar dan penuh energi di pagi hari, mungkin karena efek kultivasi ganda dari Sutra Sembilan Yang.
Tanpa disadari, mereka tiba di kota terdekat dari ibu kota.
Hari masih siang, kalau bergegas, mereka pasti bisa sampai di ibu kota hari ini.
"Bagaimana? Mau melanjutkan atau tunggu besok?"
Melati menyipitkan mata, menatap sekitar yang ramai oleh orang dengan penasaran.
"Baiklah, besok saja."
Tak perlu menunggu dia bicara untuk tahu jawaban Melati.
Melati tersenyum nakal, menggandeng lengan Sora, lalu menyeretnya berkeliling kota dengan antusias dan penuh semangat.
Karena kecantikan Melati, mereka jadi pusat perhatian, khususnya dari para pria yang pasti tertarik untuk melihat kecantikan yang hampir sempurna itu.
Di sisi lain, Sora juga menjadi pusat perhatian karena tampan dan maskulin. Para wanita, mulai dari muda sampai tua menatapnya dengan mata penuh nafsu.
Beberapa wanita muda berpakaian minim tidak ragu untuk mengajaknya bicara sehingga membuat Melati cemberut.
Setelah mengobrol singkat dengan mereka, ternyata para wanita berpakaian minim berasal dari salah satu rumah bordil terkenal di kota.
"Rumah bordil ya, kalau ada kesempatan, tidak ada salahnya pergi ke sana."
Sora tiba - tiba merasakan tatapan tajam dari arah samping.
Dia menoleh, melihat Melati dengan senyum canggung.
"Hah..."
Melati mendesah dan menyeret Sora pergi.
Meski kesal, Melati masih bisa berkompromi karena tahu alasan kenapa Sora begitu terpaku pada rumah bordil.
Tak seperti biasanya, mereka memilih penginapan di sore hari dan mengunci pintu sejak masuk kamar.
Orang luar tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam karena Sora menaruh penghalang kedap suara agar tidak ada suara yang bocor.
Kalian pasti tahu apa yang dia lakukan bersama Melati, silakan bayangkan sendiri dengan imajinasi kalian yang tingkat dewa kalau membayangkan hal mesum.
.....
Kalau biasanya mereka selesai tengah malam, khusus hari ini, mereka baru selesai satu jam sebelum matahari terbit.
Mungkin karena kesal dengan pernyataan Sora, Melati jadi sangat aktif dan intens saat melakukannya.
Melati berjuang seolah - olah ingin membuktikan kalau dirinya sudah cukup untuk Sora, setidaknya untuk sekarang.
Pada akhirnya, Melati berhasil membuktikan meski pada akhirnya harus pingsan karena kelelahan dan butuh waktu tiga jam untuk bangun.
...
..
.
Bersambung...
jadi perbanyak update
bab juga tambah hin
rekomendasi kalau penasaran baca aja dulu gak rugi kok
kalau gak suka hapus
kalau suka jangan lupa bintang
terus taro di rak buku