Raka seorang guru di salah satu SMA Swasta di ibukota, sekaligus pemegang saham terbesar di sekolah tersebut. tidak ada yang tahu jika keberadaan Raka sebagai guru baru adalah awal dari petaka bagi Raya. Raka sudah lama obsesi pada Raya, hingga Raya harus berusaha melarikan diri ke ibukota. kini karna pertemuan tak disangka, Raka berhasil menemukan Raya, dan ingin memiliki Raya.
Raya, siswi peraih beasiswa di SMA swasta yang terpaksa harus menjadi tawanan seorang guru yang posesif Raka, harus tetap bertahan demi pendidikan nya kesenjang yg lebih tinggi..
dimana Raya berada, Raka pasti mengawasi nya.. seperti seekor pemangsa yg mengintai mangsanya..
"jangan berharap kau bisa lepas dariku Raya, karna itu adalah hal yang mustahil. kau milikku, dan akan tetap menjadi milikku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Menggapai
Ini sudah hari kedua sejak Raka bertolak ke Riau. Raya sebenarnya ingin menghubungi Raka, namun dia ragu. Dia takut akan mengganggu kesibukkan Raka disana.
Berkali kali Raya melihat ponselnya, berharap Raka menghubunginya. Namun sayang, sepertinya Raka terlalu sibuk hingga tak bisa menghubungi Raya.
Raya hanya bisa melihat perkembangan insiden itu melalui berita. Dan Raya tahu, kondisi disana sedang meruncing saat ini.
Raya termangu duduk di kursi taman sekolah, banyak hal yang kini sedang ia pikirkan. Mengenai kondisi Raka yang belum juga memberi kabar, belum lagi persiapan untuk menghadapi ujian akhir, ditambah selepas ujian akan diadakan perlombaan memasak di kelas ekstrakulikuler.
" Ya, sedang apa disitu?" Berlian menghampiri Raya yang termangu di kursi taman.
" Ah, kau mengejutkanku Lian." ucap Raya terkejut
" Apa ada yang sedang kau pikirkan? "
" Ya begitulah."
Sejenak saat Raya menatap wajah Berlian, terbersit dalam benaknya untuk membicarakan rahasia yang selama ini ia tutupi, namun dia urungkan. Dia berpikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas rahasianya.
" Memikirkan banyak hal tentang kelangsungan hidupku nanti." sambungnya mengalihkan pembicaraan.
" Maksudmu?" Berlian menatap penasaran pada Raya.
" Yaaah, kau tahu aku bisa bersekolah disini karna beasiswa bukan?! Aku hanya sedang berpikir, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan beasiswa juga untuk masuk perguruan tinggi diluar." ungkapnya
" Raya, kenapa kau berpikir pesimis seperti itu. Aku yakin, dengan kemampuanmu, kepintaranmu, kau pasti berhasil memperoleh beasiswa apapun yang kau inginkan." ucap Berlian.
" Ya semoga saja."
Lama mereka berbincang di taman itu, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggil Raya. Itu adalah guru BP.
" Raya!"
" Ya pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Raya sopan
" Ada yang mencarimu di ruang bapak, katanya dokter yang menangani ibumu"
Raya dan Berlian saling berpandangan.
" Kau coba temui dulu, bapa khawatir ada sesuatu yang harus dia sampaikan mengenai ibumu." lanjutnya.
" Baik pak" Raya berdiri diikuti Berlian
" Aku ke ruang BP dulu ya." ucapnya pada Berlian.
Berlian mengangguk, membiarkan Raya pergi meninggalkannya.
***
Di ruang BP.
" Permisi" Raya hendak memasuki ruang BP.
" Masuk Raya." Guru BP itu mempersilahkan Raya masuk.
Raya masuk, dia terkejut melihat Dokter Kevin sudah duduk di kursi bersama guru BP.
" Ada apa dia kesini?" gumamnya dalam hati
" Duduk Raya." guru BP mempersilahkan
Raya yang tadi hanya diam terpaku melihat Dokter Kevin. Akhirnya melangkahkan kaki mendekati kursi.
" Nah, sekarang silakan jika ada yang ingin Dokter Kevin sampaikan pada Raya." ucap guru BP.
" Saya harap kondisi ibunya baik-baik saja." sambungnya seraya meninggalkan Raya dan Dokter Kevin di ruang BP.
Begitu guru BP keluar ruangan, Raya langsung mengambil jarak untuk tidak duduk berdekatan dengan Kevin.
" Ada perlu apa Dokter ingin bertemu saya?" ucap Raya masih mempertahankan kesopanannya.
Raya tahu, Dokter Kevin hanya menggunakan sakit ibunya sebagai alasan untuk dapat bertemu dengannya. Lagipula yang melakukan pengobatan langsung kepada ibunya bukan lah Dokter Kevin, tapi Dokter Gunawan.
" Tidak ada apa-apa Raya, aku hanya ingin bertemu denganmu." ucapnya santai
" Bertemu denganku??" Raya menatap dengan penuh keheranan.
" Ayolah, saat terakhir kita bertemu, kita hanya bisa sedikit berbincang, bukan? Aku belum puas berbicara padamu saat itu."
" Maaf Dokter Kevin, tapi ini di sekolah dan lagi saya benar-benar tidak paham mengapa dokter berbohong mengenai kondisi ibu saya."
" Panggil aku Kevin saja Raya, kau tak perlu seformal itu denganku." pintanya
" Dan lagi aku mohon maaf telah menggunakan ibumu sebagai alasan untuk bisa bertemu denganmu. Aku hanya kehabisan cara, bagaimana agar bertemu denganmu. Rumahmu aku tak tahu, nomor ponsel pun kau tak memberikannya padaku." Kevin tersenyum ramah menatap Raya.
" Jadi aku pikir inilah satu-satunya cara untuk dapat bertemu denganmu." Kevin menatap lekat mata Raya yang memandangnya curiga.
" Oke, sekarang kau sudah bertemu denganku. Lalu ada apa?" tanya Raya tak sabar ingin segera pergi dari situ. Dia teringat Raka. Raka pasti marah jika tahu ia berada satu ruangan dengan Kevin, apalagi hanya berdua.
" Aku rindu." ucap Kevin tegas.
Raya terperangah mendengarnya, tanpa pikir panjang dia berdiri untuk segera keluar ruangan. Namun langkahnya kalah cepat, Kevin sudah lebih dulu menarik tangannya hingga ia jatuh tepat di pangkuan Kevin, sementara kedua tangan Kevin memeluk pinggang Raya erat.
" Lepaskan Kevin!" Raya berontak berusaha lepas dari pangkuan Kevin.
" Tidak, sebelum kau mau berbicara denganku." Kevin menyeringai sambil mempererat pelukkannya.
" Kevin!!" bentak Raya.
" Lepas!" lanjutnya dengan tangan yang berusaha melepaskan tangan Kevin dari pinggangnya.
" Oh Ya Tuhaaan, cobaan apa lagi ini" gumam Raya.
" Oke oke. Aku akan menemanimu berbicara. Sekarang lepaskan aku!" Raya berusaha mengalah.
Kevin diam, tak langsung melepaskan pelukkannya, dia menatap tajam mata Raya.
" Jika kau berbohong, aku benar-benar akan membuatmu menanggung malu disini Raya." ancamnya pada Raya
Akhirnya Kevin melepas pelukannya, dia memperhatikan Raya yang bergerak untuk duduk di sebrang kursinya.
Raya menghembuskan nafas lega, ketika Kevin mau melepaskan dirinya.
" Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Raya.
Kevin tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Raya. Dia menatap Raya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Semuanya begitu indah, mata bulat dengan bulu mata lentik, hidung mancung yang ramping, rambut terikat dengan anak-anak rambut yang menjuntai, bibir mungil yang sangat pas bila di cecap. Ah, Raya begitu cantik dalam pandangan matanya.
" Apa hubunganmu dengan Raka?" tanya Kevin to the point.
" Apa urusannya denganmu?" Raya mendelik tak suka.
" Aku hanya ingin tahu. Aku hanya penasaran, bagaimana bisa Raka mau membiayai semua pengobatan ibumu." Tatapannya mulai menyelidik.
" Aku kekasihnya." Raya berbicara lugas. Meskipun dia malu tapi dia harus tetap mengatakannya. Bagaimanapun sikap Kevin yang berani menyentuh bahkan memeluknya tadi sudah jelas memberikan gambaran akan apa yang lelaki itu inginkan.
" Oh yah?! " Kevin tidak terkejut dengan hal itu, dia malah menyeringai licik menatap Raya.
" Bagaimana jika aku yang ambil alih pengobatan ibumu, apa kau bersedia menjadi kekasihku? tanya Kevin dengan tampang tak tahu malunya.
" Maksudmu?" Raya memicingkan matanya, heran dengan ucapan Kevin.
" Ayolah, kita hanya berbicara berdua saja Raya. Tak ada orang lain. Kau bisa bersikap apa adanya di hadapanku."
" Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan?"
" Di dunia ini, tidak ada kebaikan yang tidak mengharapkan balasan. Aku pikir Raka pasti melakukan itu karna hanya ingin memilikimu." Kevin dengan nada bicara mencemooh
" Kalau memang seperti itu, aku pun bisa melakukannya. Aku bisa mengambil alih semua pengobatan ibumu, tapi kau harus menjadi kekasihku." sambungnya dengan penuh penekanan.
" Tunggu, maksudmu aku mengatakan jika aku kekasihnya karna dia telah membiayai pengobatan ibuku? begitukah maksudmu?" Raya menahan emosinya.
Ini yang selalu dia takutkan, ketika dia mengatakan bahwa dia adalah kekasih Raka. Orang lain pasti langsung mengira bahwa dia mengambil keuntungan dari kekayaan Raka. Bagaimanapun stereotipe masyarakat pada wanita miskin yang berhubungan dengan lelaki kaya, pasti selalu berakhir pada pandangan negatif terhadap wanita tersebut.
Raya menghembuskan nafasnya panjang, sebenarnya dia lelah meladeni Kevin. Sudah cukup kondisi Raka yang membuatnya khawatir, selalu menguras pikirannya. Raya tidak ingin di bebankan dengan apapun pikiran orang lain terhadapnya.
" Terserah apapun yang kau pikirkan tentangku. Tapi aku memang kekasih Raka. Jadi kau tidak perlu lagi mencoba mendekatiku." ujar Raya tegas.
Kevin terkekeh menatap Raya, tangannya bergerak untuk meminum minuman yang telah disajikan guru BP tadi.
" Jadi kau tidak ingin menjelaskannya padaku?" tanyanya sedikit mencondong kan diri ke arah Raya.
" Apa yang mesti aku jelaskan?"
" Bukankah menjelaskan kebenaran kepada orang yang memiliki kebenaran versinya sendiri, itu sama saja omong kosong? Kau mungkin terlalu memandang tinggi dirimu sendiri, hingga kondisi ketidakberdayaanku kau jadikan sesuatu yang bisa kau beli." ungkap Raya menatap jijik pada Kevin.
Kevin sedikit terkejut dengan ucapan Raya, hatinya tersentil dengan kata-kata tegas yang keluar dari mulut gadis cantik di hadapannya.
" Kau tahu, saat aku bertemu denganmu di rumah sakit dan terakhir di acara amal itu. Aku pikir kau orang yang bisa menghargai orang lain. Namun setelah apa yang kau lakukan dan ucapkan kepadaku. Aku sadar, mungkin penilaianku terlalu berlebihan terhadapmu." sambung Raya.
Kevin hanya diam enggan untuk membalas ucapan Raya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sampai akhirnya Raya berdiri dari duduknya.
" Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi." Raya membungkukan badannya sedikit pada Kevin yang masih diam memperhatikan Raya.
Seketika ruang guru BP menjadi hening, Raya telah pergi dari hadapannya. Menyisakan kegetiran dalam ruang-ruang kosong hati Kevin. Dia sadar, dia sudah sangat terlambat untuk bisa menggapai Raya.