Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Yang Tak Terlihat
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk menembus kaca pintar Markas Besar Divisi Investigasi Khusus Federal sama sekali tidak mampu menghangatkan atmosfer ruangan. Tempat itu kini dipenuhi oleh ketegangan yang pekat dari konsentrasi penuh para anggotanya. Elena, dengan rambut pirangnya yang diikat longgar ke belakang, masih duduk terpaku di depan stasiun kerja. Pantulan cahaya biru dari layar monitor tampak menari nari di sepasang mata birunya yang tajam. Sementara itu, jari jemarinya terus bergerak cepat di atas papan ketik, membongkar lapisan demi lapisan enkripsi rumit dari server milik Aethelgard Capital.
"Aku akan tetap tinggal di sini untuk melacak setiap jejak digital yang mungkin ditinggalkan si pembunuh di jaringan apartemen," kata Elena tanpa menoleh sedikit pun. Aksen Rusia miliknya yang samar terdengar semakin jelas saat ia sedang berkonsentrasi penuh. "Namun, data finansial milik Thorne sudah dihapus bersih dari server lokal. Siapa pun yang melakukan ini, mereka menggunakan algoritma pembersih tingkat militer yang sangat canggih."
Arthur berdiri di dekat meja holografik, mengenakan jaket hoodie hitam khasnya yang kini berpadu kontras dengan lencana konsultan federal yang tersemat di dadanya. "Mereka mungkin bisa menghapus seluruh data digital, Elena. Namun, mereka tidak akan pernah bisa menghapus hukum fisika serta jejak biologis di dunia nyata. Manuel dan aku akan pergi langsung menuju tempat kejadian perkara. Jika ada sesuatu yang tertinggal di sana, aku pasti akan menemukannya."
Manuel, yang kini tampak jauh lebih berwibawa dengan setelan jas rapi dan lencana Captain of Detective yang tersemat di pinggangnya, mengangguk setuju. "Aku sudah mengatur akses prioritas dengan pihak kepolisian setempat agar mereka tidak mengganggu kita. Mobil operasional sudah menunggu di bawah. Mari kita lihat seperti apa panggung kejahatan yang sudah mereka rancang."
Apartemen penthouse mewah milik Elias Thorne terletak di lantai 80 sebuah gedung pencakar langit yang menjulang angkuh di tengah distrik elit. Garis polisi berwarna kuning cerah masih melingkari area lorong, dijaga ketat oleh dua petugas lokal yang tampak mulai bosan. Begitu melihat kedatangan Manuel yang menunjukkan lencana federalnya, para petugas itu langsung menyingkir dengan sikap hormat yang bercampur dengan sedikit rasa terintimidasi.
Ketika pintu apartemen terbuka, ruangan luas bergaya minimalis modern yang terlihat terlalu rapi langsung tersaji di depan mata. Tidak ada tanda tanda perkelahian fisik sama sekali. Tidak ada satu pun barang yang pecah atau bergeser dari tempatnya. Sebuah kursi kerja yang terguling di dekat meja utama adalah satu satunya anomali yang ditemukan, yang mana dalam laporan polisi lokal dicatat sebagai tanda kepanikan korban sebelum melakukan aksi bunuh diri.
Arthur melangkah masuk dengan perlahan, sementara sepasang mata hijaunya bergerak tajam menyapu setiap inci ruangan. Ia tidak melihat apartemen itu seperti orang awam pada umumnya. Ia melihatnya sebagai sebuah matriks dari variabel variabel yang saling berhubungan satu sama lain. Otaknya yang brilian langsung bekerja memvisualisasikan ulang kondisi ruangan tersebut, membayangkan setiap detail pergerakan korban dan pelaku dalam simulasi hitungan detik.
"Penyidik lokal mendatangi ruangan ini dan mereka hanya melihat sebuah kesempurnaan yang membosankan," gumam Arthur pelan sambil berjalan mendekati area meja kerja. "Sedangkan aku melihat ruangan ini sebagai sebuah panggung sandiwara yang ditata ulang dengan sangat hati hati. Terlalu rapi untuk sebuah tragedi spontan."
Manuel mengikuti dari belakang dengan langkah waspada. Matanya ikut menyapu sekeliling, namun ia belum menemukan apa pun yang janggal di sana. "Laporan tim forensik lokal menyatakan tidak ada DNA asing ataupun sidik jari lain selain milik Thorne dan pelayan pribadinya. Seluruh jendela dan pintu utama juga ditemukan dalam kondisi terkunci rapat dari dalam."
Arthur mendadak menghentikan langkahnya tepat di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah panorama kota. Ia berjongkok perlahan, mengeluarkan sebuah senter UV saku dari dalam jaketnya, lalu menyorotkan cahaya ungu tersebut ke arah celah sempit di antara bingkai jendela dan lantai parket kayu.
"Kau tahu apa masalah terbesar dari orang orang yang terlalu obsesif terhadap kebersihan, Manuel?" tanya Arthur sambil menyipitkan matanya, memfokuskan pandangan pada satu titik. "Mereka sering kali lupa bahwa debu selalu memiliki pola jatuhnya yang alami secara gravitasi."
Arthur mengeluarkan sebuah pinset titanium berukuran kecil dari saku lainnya. Dengan gerakan yang sangat presisi, ia menjepit sesuatu yang nyaris tak kasat mata dari celah bingkai jendela tersebut, lalu mengangkatnya ke arah sumber cahaya.
"Apa yang kau temukan?" tanya Manuel yang langsung melangkah mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Sebuah serpihan serat mikro. Ukurannya sangat kecil dan nyaris transparan," jelas Arthur, sementara matanya berkilat penuh antusiasme analitis yang tinggi. "Ini jelas bukan serat dari karpet apartemen ataupun pakaian yang dikenakan korban. Ini adalah serat sintetis dari sarung tangan taktis tingkat tinggi yang dilapisi oleh bubuk lateks khusus. Dan coba lihatlah goresan mikroskopis di bagian luar bingkai jendela ini. Jendela ini sebenarnya tidak pernah terkunci dari dalam, Manuel. Jendela ini sempat dibuka dari luar, lalu dikunci kembali setelah pelaku keluar dengan menggunakan alat pengait magnetik berkekuatan besar. Pembunuh kita masuk dan keluar melalui jalur udara, bukan dari pintu depan."
Manuel tersenyum tipis, rasa kagum yang mendalam kembali muncul di wajahnya. "Satu bukti kecil yang langsung meruntuhkan seluruh teori bunuh diri milik kepolisian lokal."
"Ini baru permulaan dari runtuhnya kebohongan mereka," kata Arthur sembari memasukkan serat mikro tersebut ke dalam tabung barang bukti steril. "Sekarang, mari kita pergi untuk menemui korban yang sebenarnya."
Perjalanan menuju kamar mayat Rumah Sakit Umum Pusat memakan waktu sekitar dua puluh menit. Suasana di ruang bawah tanah rumah sakit itu terasa sangat kontras dengan kemewahan apartemen penthouse milik Thorne yang baru saja mereka tinggalkan. Udara dingin yang membawa bau tajam formalin langsung menyengat penciuman begitu pintu baja tebal kamar mayat digeser terbuka.
Seorang dokter forensik tua dengan guratan wajah masam menyambut kedatangan mereka. Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik salah satu laci pendingin besi yang berisi jenazah Elias Thorne. Kantong mayat dibuka, menyingkap wajah pucat seorang pria paruh baya yang tampak begitu tenang dalam kematiannya. Pada bagian leher korban, terdapat bekas lebam kemerahan yang polanya memang konsisten dengan laporan kasus gantung diri.
"Seperti yang sudah saya tulis dengan jelas di dalam laporan resmi, Kapten," kata dokter forensik itu dengan nada suara yang terdengar sedikit meremehkan. "Kematian akibat asfiksia mekanis yang dipicu oleh gantung diri. Tidak ditemukan adanya tanda tanda pertahanan diri pada tubuh korban. Tidak ada lebam di pergelangan tangan. Pria ini murni menyerah pada tekanan hidupnya."
Arthur tidak repot repot membalas sindiran tersebut. Ia melangkah mendekati meja bedah logam, menatap tajam ke arah wajah dan seluruh tubuh korban. Ia tahu betul bahwa rasa putus asa bisa saja dipalsukan dengan mudah, namun insting purba manusia untuk bertahan hidup saat nyawanya terancam tidak akan pernah bisa dibohongi.
Arthur mulai memeriksa bagian tangan korban. Jari jari Elias Thorne sudah tampak kaku, dan kuku kukunya terlihat bersih sempurna. Namun, Arthur tidak berhenti hanya di permukaan saja. Ia mengeluarkan sebuah kaca pembesar khusus yang dilengkapi lampu pencahayaan dari sakunya, lalu menyorotkan cahaya terang itu ke sela sela kuku jari tangan kanan korban, terutama pada bagian bawah kuku jari manis dan kelingking.
"Dokter, apakah Anda sudah memeriksa bagian bawah kuku korban secara mendalam menggunakan mikroskop?" tanya Arthur tanpa menolehkan pandangannya sedikit pun.
Dokter forensik itu mendengus pelan, merasa kemampuannya sedang dipertanyakan. "Tentu saja kami sudah membersihkannya sesuai prosedur. Tidak ada kotoran, tidak ada sisa darah. Tangan korban benar benar bersih."
"Bersih menurut standar mata Anda yang malas, mungkin saja," balas Arthur dengan nada yang sangat dingin.
Tiba tiba, gerakan tangan Arthur berhenti seketika. Di bawah sorotan cahaya terang dari kaca pembesarnya, ia menangkap sebuah anomali yang sangat kecil, yang warnanya nyaris menyatu sempurna dengan jaringan kulit di bawah kuku jari manis korban. Itu jelas bukan kotoran biasa. Itu adalah sebuah partikel organik asing yang tersangkut sangat dalam di celah epidermis kuku.
Dengan gerakan yang penuh kehati hatian dan presisi tinggi layaknya seorang ahli bedah, Arthur menggunakan pinset sterilnya untuk mencabut partikel mikro tersebut. Ia meletakkannya di atas sebuah slide kaca objek, lalu menatapnya lekat lekat.
"Manuel, kemarilah dan lihat ini," panggil Arthur. Nada suaranya kini dipenuhi oleh sebuah kepastian yang tajam dan mengintimidasi.
Manuel melangkah mendekat, memicingkan mata menatap slide kaca tersebut. "Benda apa itu? Apakah itu sebuah jaringan kulit?"
"Bukan sembarang kulit. Ini adalah jaringan epidermis milik orang asing yang tersangkut sangat dalam di bawah kuku korban," jelas Arthur. Di dalam kepalanya, seluruh kepingan teka teki yang rumit kini mulai merangkai diri dengan kecepatan yang luar biasa. "Elias Thorne mungkin terlihat menyerah pada akhir hidupnya di atas kertas laporan polisi. Namun, pada detik detik terakhirnya, saat tali atau tangan pembunuh ini mencekik lehernya, insting purbanya langsung mengambil alih kendali tubuhnya. Dia memang tidak sempat memukul atau menendang, tetapi dia melakukan hal lain. Dia mencakar."
Arthur membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah dokter forensik lokal yang kini langsung terdiam kaku dengan wajah memucat. "Dokter, segera kirim sampel jaringan kulit asing ini ke laboratorium DNA federal dengan status prioritas tertinggi sekarang juga. Pastikan seluruh rantai pengawasannya dijaga dengan sangat ketat. Aku tidak ingin ada satu pun orang dari pihak kepolisian lokal yang menyentuh atau mendekati sampel ini."
Arthur kemudian berbalik menatap Manuel. Sebuah senyuman miring yang tampak berbahaya dan penuh ancaman kembali terukir di bibirnya.
"Pembunuh kita ini memang sangat profesional, Manuel. Dia tahu bagaimana cara memalsukan tempat kejadian perkara secara sempurna, dan dia juga tahu cara menghapus seluruh jejak digital tanpa sisa. Namun, dia sudah melakukan satu kesalahan yang sangat fatal, yaitu dia meremehkan keputusasaan dari seorang pria yang tahu bahwa dirinya akan dibunuh," kata Arthur, suara beratnya bergema pelan di dalam ruangan kamar mayat yang dingin tersebut. "Pelaku kita saat ini pasti memiliki luka cakaran segar di bagian wajah atau di lehernya. Dan di lingkungan elit penuh gengsi seperti Aethelgard Capital, di mana setiap orang selalu saling mengawasi dan menilai penampilan, sebuah luka goresan di wajah tidak akan pernah bisa disembunyikan dengan mudah."
Manuel mengangguk perlahan, merasakan aliran adrenalin yang kuat mulai memompa jantungnya dengan cepat. "Jadi, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan untuk mencari hantu."
"Sama sekali tidak," jawab Arthur sambil menatap jasad Elias Thorne untuk yang terakhir kalinya sebelum melangkah lebar keluar dari ruang bawah tanah tersebut. "Kita sekarang sedang memburu seorang pembunuh yang wajahnya kini membawa tanda tangan kematian dari korbannya sendiri. Dan aku akan memastikan orang itu segera bertekuk lutut di hadapan kita."