NovelToon NovelToon
Aku Bukan Malaikat

Aku Bukan Malaikat

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:347.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."

Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.

Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susahnya Ngomong

Farah minta Theo tidur, benar-benar hanya tidur. Ia cukup lelah dengan acara yang digelar hari ini, tapi yang membuatnya lebih terasa lelah secara mental adalah Theo yang tak mempercayainya. Cukup mempercayainya saja, apa kurang Farah membuktikan dirinya bahwa dia menerima bagaimanapun masa lalu Theo. Jika ditambahkan satu rahasia lagi di masa lalunya,  Farah yakin cukup bisa menerima.

Namun tidur adalah sebuah omong kosong belaka. Badan Theo yang jangkung dan berotot berguling ke kanan dan kiri. Farah bisa merasakan kegelisahan Theo meskipun matanya terpejam. Theo menarik selimut menutupi badannya hingga ke atas kepala. Tak butuh sampai tertidur, lima menit kemudian ia menyingkap selimut itu lalu mendengus dan menendang jatuh kain tak berdosa itu.

Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan terlalu bersemangat lalu kembali mendengus. Ia kemudian bangun dan menuju meja. Meraih gelas dan mengisinya dengan air di teko, meneguk habis hingga Theo merasa bisa meredakan rasa panas di badannya. Theo kembali lagi ke ranjang lalu berbaring menyamping agar bisa melihat wajah Farah.

Farah tak mau kalah dalam perang dingin malam ini jadi ia terus berpura-pura sudah tidur meskipun sangat sulit melakukannya ketika Theo mulai memainkan jarinya di tali gaun tidur Farah. Menjepit dan menggeseknya naik turun dengan pelan. Farah yakin kalau ia membuka mata saat ini, Theo pasti menangkapnya dengan tatapan biru sedalam samudera dan membuat Farah kehilangan daratan.

“Kamu kuat Farah, kamu kuat,” kata Farah di dalam hati untuk mensugesti dirinya.

Kelihatannya itu berhasil,  Theo akhirnya menyerah dan meninggalkan tali tipis itu. Theo kemudian membalik badannya dan Farah bersorak riang dalam hati sambil berkata,  “Woo selamat Farah, Anda berhak mendapatkan piala Oscar sebagai aktris pura-pura tidur terbaik!”

Keesokan paginya Farah merasakan pegal luar biasa. Ia tak bisa tidur karena Theo yang gunda gulana. Tidur terasa tak nyaman ketika ada makhluk setampan model Dolce Gabana dengan gairah setinggi puncak Jaya Wijaya berbaring dengan gelisah sampingmu. Ingin berlama-lama menyiksanya, tapi kok kasihan. Kalau menyerah, sayang sekali. Seperti saat punya bisul di dahi. Mau dipencet tapi masih sakit.  Gak dipencet mengganggu pemandangan dan membuat gatal jari-jari, pengen segera mengeksekusinya.  “Yaa sudah, tanggung lanjutkan saja,” pikir Farah. Kapan lagi bisa melihat raksasa tampan galau lantaran tidak dapat jatah?

 

***

“Kopi?” tawar Farah kepada prianya yang baru turun ke dapur.

“Black,” jawab Theo dengan wajah serupa zombie. Lingkaran panda di kedua matanya membuat Farah tersenyum. Apa dia keterlaluan? tanya Farah dalam hati. Rambut pirang gelapnya terlihat acak-acakan. Perut six-pack dan otot bisepnya terpampang, selalu sukses untuk merayu jemari Farah untuk travel pelan-pelan menyusuri lekuk demi lekuk otot yang keras itu. Andai Theo tahu kalau Farah juga tersiksa kemarin malam.

Theo menjatuhkan kepalanya ke meja kitchen island dengan beralaskan kedua lengannya saat Farah meletakkan cangkir yang mengepul di depannya. Theo kemudian mengangkat kepala, terbangun oleh aroma kopi itu. Theo menatap cangkir itu lama seakan sedang melakukan telekinesis dengan si cangkir. Farah yakin kalau Theo adalah seorang aktor Hollywood  dia akan punya banyak fans cewek melebihi banyaknya fans Edward Cullen.

Kemudian setelah merasa kopinya sudah tak terlalu panas, Zombie tertampan di dunia itu meminum beberapa teguk. Farah bisa melihat perubahan rona wajah Theo dan matanya. Lebih manusiawi.

“Apa rencana kita di hari Minggu ini?” tanya Farah untuk membuka percakapan.

Theo tertawa miris pada cangkir kopinya. “Rencananya hari ini aku masih mengurungmu di kamar. Kita gak akan keluar dari sana seharian sampai hari berganti.”

Farah memutar bola matanya. “But always there's a plan B if plan A ruined.”¹ Theo mengedipkan sebelah mata dengan seduktif sambil meminum kembali kopinya.

Farah berubah antusias. “Jadi kamu akan menceritakannya?” tanyanya dengan wajah berbinar dan bersemangat. Theo menggeleng pelan, dan itu membuat bahu Farah lemas. “Apapun rencana B kamu, jangan melibatkanku,” jawab Farah sebal. Kemudian Farah meninggalkan Theo untuk mengambil piring dan memenuhinya dengan nasi goreng.

Biasanya maid sudah memasakkan sarapan untuk Theo, tapi Farah sudah menelepon Amanda pagi-pagi sekali agar dia tidak perlu memasak. Hanya perlu menjaga Galen lebih lama karena Farah berencana untuk berbelanja dan memasak. Membuat dirinya sendiri sibuk selama mengemban misi penting, harus memenangkan perang dingin dengan Theo.

Ini baru sebulan mereka menikah tapi sudah ada masalah. “Ah tidak, ini hanya sebuah kerikil,” tampik Farah pada benaknya sendiri. Farah kemudian memutari kitchen island lalu duduk di sebelah Theo.

“How ‘bout you? Any plans today?”² tanya Theo.

“Aku mau jalan-jalan di sekitar sini, belanja, lalu masak seperti biasa, bersih-bersih rumah, main sama Galen, yaa seperti biasa kalau aku di rumah di hari Minggu.” Farah duduk di depan Theo yang mulai menikmati makan paginya.

Theo menatap Farah yang sepertinya sengaja tak melibatkannya dalam rencana Hari Minggu versi Farah. Rencana itu jelas berbanding terbalik dengan versinya yang lebih banyak rebahan dengan cara saling berlomba-lomba mencapai kenikmatan surgawi.

“Jadi, apa kamu akan mengantarku?” tanya Farah setelah itu meneguk kopi.

“Ke kenikmatan surgawi? Pasti!” jawab Theo.

Semburan kopi yang kencang langsung menyerbu wajah Theo. Membuat wajah zombie-nya semakin terlihat lebih manusiawi. Tawa tak tertahankan keluar dari bibir Farah. Ia segera mengambil tissue dan membersihkan wajah suaminya. “Ya ampun Theo.” Farah masih tertawa.

“Gosh, Honey it's a way to much to woke me up.”³

“Sorry sorry. Habis kamu sih, aneh. Orang nanya soal jalan-jalan nyambungnya ke sana.”

Theo tak menjawab hanya mencebik seperti anak kecil yang tak boleh membeli es krim dan harus menunggu sampai ibunya memberi ijin. Tawa-tawa kecil masih saja keluar dari bibir Farah, membuat Theo gemas. Ia lalu menarik lengan Farah sehingga ia turun dari bangku barstool. Theo kemudian menjepit pinggang Farah dengan kedua pahanya. “Kamu terlihat sangat menikmati menyiksaku, yaa?”

“Menyerah?” tanya Farah sambil menaikkan alisnya. Theo menggeleng. “Kuncinya ada pada kamu sendiri, Theo. Tinggal ngomong apa susahnya?”

Theo menopang punggung Farah dan melihat jauh ke dalam manik gelapnya. “Maaf, aku tidak bisa.”

Farah menghela napas panjang. “Ya sudah.” Farah melepaskan diri dari kuasa Theo lalu mundur. Ia duduk kembali ke tempatnya semula. “Silakan nikmati lagi sarapan kamu. Aku mau mandi terus jalan-jalan sendiri menikmati pagi.”

“Eh tunggu aku selesai sarapan.”

“Selagi kamu habisin sarapan, aku mandi biar ga lama-lama.”

“Mandinya barengan, biar hemat air.”

“Alasan.” Farah mencebik lalu meninggalkan Theo makan sendiri. Theo buru-buru menghabiskan nasi di piringnya lalu berlari menyusul Farah yang sudah sampai di kamar. Farah langsung mengunci pintu kamar sebelum Theo berhasil menyusulnya.

“Honey, please.” Theo mengetuk-ngetuk pintu.

“Mandi sendiri!” jawab Farah dari balik pintu.

-------------------

¹ Tapi selalu ada Rencana B kalau Rencana A gagal.

² Gimana denganmu, ada rencana hari ini?

³ Ya ampun, Honey. Ini keterlaluan kalau mau membuatku bangun.

1
Sunny Kwok
Luar biasa
Ran Aulia
👍😍😍😍😍
yaty
tahniahhhh author 💞💞💞💞💞
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
Sandisalbiah
jangan² emiliano yg termasuk dlm kartel narkoba itu kan jd dilema buat theo..
Lea Octa
maaf Thor aku memghalu nya ngebayangin Raihaanun bukan Adinia terlalu dewasa dibandingkan dg Gwen nya klo Adinia 🙏
Lea Octa
setelah melihat semua visual...aku jd terbayang Raihaanun kulit nya eksotis Indonesia banget.... soalnya Gwen, Zach dan Theo nya PD masih muda ....klo visual nya Adinia Wirasti ketuaan jdnya dibandingkan mrk semua nya maaf ya Thor 🙏🙏🥰
Lea Octa
Untung Farah punya temen yang bener² mendukung dan memberikan bantuan yg bisa bikin Farah kuat dan sanggup jd singel parent
Lea Octa
iya bener Farah jangan mau bertahan percuma apa lg Ian laki² egois udh tahu salah tp tetep arogan berasa paling bener
Lea Octa
baru baca aja udh kaya begini....kesellll nyebelin banget suaminya...kasian Farah
Pratiwi Lusi Arifin
kangen bang Zach😍😍
Pratiwi Lusi Arifin
bhuahahaha
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
Pratiwi Lusi Arifin
beh ga sabar euyy Theoo
Pratiwi Lusi Arifin
ngakak aseli
bumi kepada othor
bumi kepada othor
Pratiwi Lusi Arifin
emang sich kalo badan bulet trus yg mo ngelamar se ganteng ituh apa ga mikirnya becanda kalii
Pratiwi Lusi Arifin
suka mba gwen abang Zach
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
Pratiwi Lusi Arifin
Theo ichhh
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
Pratiwi Lusi Arifin
kalo sayah sih ok ma visuslisasi Farah
Pratiwi Lusi Arifin
komunikasi 2 arah itu penting
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
Liesdiana Malindu
jgan2 Theo dalang penjebakan Sandra??
kan cerita ini ada mafia2nya juga.
Hesti Ariani
galen manis banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!