Ditinggalkan oleh sang ayah sejak kecil,membuat hidup seorang Galencia Pramudya penuh dengan luka.Hidup serba kekurangan namun tak pernah ia mengeluh.
Hinaan dan bullyan di sekolahnya seolah menjadi makanannya setiap hari,keadaan memaksanya untuk tumbuh menjadi gadis yang kuat.
Dari sekian banyak mimpinya,namun hanya satu yang paling ingin ia raih yaitu sebuah Kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAB 33
Malam menjelang,Cia duduk di atas kasur dan meraih hp nya.Jam di dinding menunjukan angka delapan.Ia baru saja selesai menyiapkan buku-buku pelajaran untuk besok.Malam ini acara berkumpul dengan keluarga hanya sebentar, bunda yang harus istirahat lebih cepat karena sakit membuat semua memutuskan untuk ikut istirahat juga.
Cia memeriksa beberapa chat dari teman-temannya,beberapa teman yang menanyakan tugas langsung ia balas.Namun ada satu nomor baru yang mengirimkannya chat.
^^^✉️08123457xxx^^^
^^^Hai Cia,lagi apa?^^^
Cia menatap layar hp nya,ia yakin Zein lah yang mengirim pesan.Dan benar saja tak lama sebuah pesan kembali masuk
^^^✉️08123457xxx^^^
^^^ini gue Zein.^^^
Cia tersenyum kemudian membalas pesan dari Zein,obrolan ringan pun mengalir.Ternyata Zein cukup asyik di ajak ngobrol,apalagi sejak tadi mereka membahas tentang kegiatan di sekolah.
Sepasang mata menatap intens pada gadis yang sejak tadi duduk di atas kasur dan sibuk dengan hp nya.Terlihat beberapa kali senyum terukir di bibirnya.
Dirga,sejak tadi mengetuk pintu kamar sang adik,namun sayang tidak ada respon dari si pemilik kamar padahal lampu di kamar masih menyala.Dengan pelan Dirga membuka pintu kamar dan pemandangan di depannya itu membuat hatinya sedikit resah.Dirga menyilangkan kedua tangannya di dada,pundaknya bersandar pada pintu.
"Udah malam,tidur !" Suara dingin Dirga membuat Cia terkejut,refleks ia menjatuhkan hp nya.
"Abang " cicit Cia,ia merasa gugup saat mendengar suara dingin dari Dirga,apalagi melihat wajahnya juga yang terlihat dingin.
"Tidur,atau abang sita hp nya "
"I_iya i_ini aku mau tidur "
Namun tanpa di duga hp Cia bergetar,nampak dengan jelas nama Zein yang berada di layar.Zein yang tidak mendapatkan lagi balasan dari Cia padahal di layar terlihat Cia sedang online,buru-buru menelponnya namun sayang Cia belum juga mengangkatnya.
Dirga mengepalkan tangannya,rahangnya mengeras.Ada laki-laki lain yang menghubungi gadisnya membuat hatinya semakin panas apalagi melihat wajah gugup Cia,ia yakin jika sang gadis sedang berkomunikasi dengan seorang laki-laki.
Tanpa banyak bicara Dirga langsung membalikan badannya,ia harus segera pergi sebelum emosinya meledak dan membuat Cia ketakutan.Dirga menutup pintu kamar Cia sedikit kasar,membuat Cia terkejut.
Dirga langsung masuk ke kamarnya,ia membuka jendela balkonnya.Dirga mengambil sesuatu di dalam laci nakasnya.Duduk sendiri di temani angin malam,Dirga mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
Dirga bukanlah perokok aktif,namun sesekali ia akan merokok jika pikiran dan emosinya terasa kacau dan butuh penenang.Kepulan asap kecil mulai melambung ke langit,angin dan asap seolah silih berganti menemani malam yang semakin sunyi.
"Zein " Lirih Dirga,pikirannya masih menerawang pada kejadian tadi.Dengan jelas Dirga melihat senyum Cia saat melihat ke arah layar hp nya. "Siapa dia? Aku yakin itu nama laki-laki "
Dirga mengambil lagi sebatang,fikirannya masih kacau. "Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apakah ada hal yang indah dengan laki-laki itu? Aku tidak rela jika senyum manismu bukan untuk ku "
Matanya menatap hamparan langit gelap yang berhiaskan bintang-bintang "Cia,apakah aku egois jika ingin memilikimu sebagai wanitaku? Sungguh ini hal yang pertama bagiku,apakah ini sebuah kesalahan? Tapi aku tak bisa menghilangkannya,bahkan menguranginya aku tak sanggup.Semakin hari semakin bertambah hingga rasanya aku tak rela jika ada laki-laki lain yang melihatmu "
Malam semakin larut namun Dirga masih setia dengan kesendiriannya,terlihat beberapa batang rokok hanya tinggal puntungnya.
Pagi hari nampak sedikit berbeda,wajah Cia terlihat sedikit lesu.Bukan hanya Dirga,Cia pun semalam tidak bisa tidur karena memikirkan sikap Dirga semalam.Cia merasakan ada kemarahan di wajah Dirga,namun ia tidak tahu karena apa.Sebelumnya semua baik-baik saja bahkan saat berkumpul pun mereka masih mengobrol.
"Kamu sakit dek ?" Arga memeriksa sang adik yang terlihat lesu.Cia menggeleng lemah namun bibirnya tersenyum manis.
"Ko kaya lesu? Kalau kamu sakit istirahat saja di rumah,jangan dulu masuk sekolah "
"Cia gak apa-apa pah,mungkin karena belum sarapan makanya kaya kelihatan lesu "
"Ya sudah kamu sarapan dulu,makan yang banyak ya " Adrian mengusap lembut puncak kepala Cia.
"Iya bentar pah nunggu dulu abang "
"Nunggu bang Dirga?"
Cia mengangguk namun tak lama terdiam saat mendengar jawaban sang ayah. "Abang udah berangkat duluan tadi pagi,katanya ada meeting penting.Hari ini kamu di antar papa ya "
Cia terdiam,apakah benar Dirga harus meeting ?pasalnya saat berkumpul Dirga sudah berjanji akan mengantarnya sekolah atau jangan-jangan ia berangkat pagi karena menghindarinya.Cia tidak bisa diam saja,ia harus menemui sang abang dan berbicara dengannya langsung.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
yo wes lah ra po po,sehat slalu ya thor.....di tunggu karya karya nya💪👍😍
rasain lo yuni sok ke gatelan sih lo....gatel ya ....garuk aja sama parutan kelapa tu...ancur ancur lah ,gerwm aku,😂
bunda amel sosok yang penyayang,sosok yang sabar ,penuh kasih sayang,apa ndak tepuruk tu semua di ti ggal bunda amel,ya terpuruklah gimana sih.....
thor...apa bunda amel sadar kembalilah? kok pada tegang semua.
mak othor..kok cepat kali bunda meninggal nya.....
ga seru KL Ampe bunda meninggal
jd malas bacanya