Prabu Jayabaya yang merasa bahwa tugasnya sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyat sudah usai, melakukan moksa untuk sampai di alam keabadian. Namun takdir berkata lain. Sang Maha Pencipta justru memasukkan roh nya ke dalam tubuh seorang lelaki culun dan miskin bernama Jay yang baru saja meninggal dunia karena sebuah kecelakaan aneh.
Sebagai Jay, Prabu Jayabaya merasa harus menemukan kebenaran atas kecelakaan yang direkayasa ini. Siapa dalang nya juga orang orang yang terlibat di dalamnya.
Di bantu Ratih yang menurut Prabu Jayabaya adalah titisan dari istri nya, Prabu Jayabaya yang kini menjadi Jay, satu persatu kebenaran akhirnya terungkap dengan jelas.
Bagaimana caranya Prabu Jayabaya yang kini menjadi Jay mengungkap misteri kecelakaan maut yang menewaskan Jay yang asli ini terjadi? Simak kisah selengkapnya dalam "New Journey of the Legendary King".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengepungan
Mobil Xenia tahun 2010 warna hitam itu segera meluncur ke arah timur, meninggalkan Kota Ayodhyakarta menuju ke arah wilayah paling timur Provinsi Jawa Tengah tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Karanganyar dan Sragen.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah yang cukup terpencil di kawasan Tawangsari dengan gaya arsitektur jawa abad pertengahan. Rumah ini cukup teduh dengan beberapa pepohonan besar di halaman nya yang luas memberikan kesan sejuk. Beberapa tanaman bebungaan seperti mawar, melati, kantil dan beberapa jenis bunga yang biasanya digunakan sebagai sesajen juga tertanam di beberapa tempat sekitar rumah itu.
Sopir segera memarkirkan mobil Xenia hitam itu di bawah pohon kenanga. Pangeran Martapura pun segera keluar setelah sopir membukakan pintu. Dengan satu teken ( tongkat ) di tangan kanan, Pangeran Martapura melangkah masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, seorang lelaki paruh baya dengan jenggot panjang yang mulai ditumbuhi uban dengan pakaian serba hitam dan mengenakan beberapa cincin akik sedang asyik membolak-balikan keris kecil bergagang seperti kepala tokoh wayang Semar saat Pangeran Martapura mendekati nya.
"Mbah Dirgo, sedang sibuk tidak?"
Mendengar omongan itu, Mbah Dirgo langsung mendongak dan melihat sosok yang sedang bicara kepada nya. Segera ia meletakkan keris kecil itu diatas meja dan menyalami Pangeran Martapura.
"Waduh maaf, sampai tidak sadar kalau ada tamu agung datang. Silahkan duduk, Gusti Pangeran", ucap Mbah Dirgo dengan ramah. Pangeran Martapura segera duduk di kursi sedangkan Mbah Dirgo segera menyusul duduk di seberang nya.
" Ada perlu apa Gusti Pangeran Martapura kemari? Apa ada sesuatu yang penting? ", tanya Mbah Dirgo segera.
" Ada tugas untuk mu, Mbah.. Aku yakin ini tidak sulit untuk mu "
Mendengar omongan Pangeran Martapura, Mbah Dirgo mengernyit heran. Sekalipun kenal tetapi Pangeran Martapura nyaris tak pernah menginginkan bantuan nya selama ini, bahkan terkesan anti sekali dengan hal-hal yang berbau mistik. Dan hari ini dia datang memberikan tugas, ini sesuatu yang diluar kebiasaan.
"Tugas apa itu gerangan, Gusti Pangeran? ", tanya Mbah Dirgo lagi.
" Buat bocah ini sakit. Tak perlu membunuh nya, cukup buat ia sakit selama 1 bulan ke depan. Berapapun biaya nya, kau tinggal bilang saja", jawab Pangeran Martapura sambil menyerahkan selembar foto anak kecil kepada Mbah Dirgo.
Lelaki paruh baya yang dikenal sebagai dukun berilmu tinggi ini langsung melotot melihat foto bocah yang diberikan oleh Pangeran Martapura. Ia tahu siapa bocah ini.
"Eh i-ini ini b-bukankah....? "
"Ya, benar dugaan mu. Ini adalah Pangeran Narendra, putra ayah ku Pangeran Timur dengan Garwa Ampil nya. Makanya aku meminta mu untuk membuat nya sakit, tidak membunuh nya", sahut Pangeran Martapura dengan enteng.
" T-t-tapi tapi Pangeran... ", terlihat Mbah Dirgo ketakutan.
" Tapi tapi apa hah?! Ayah ku tak mungkin tahu siapa kau juga tidak akan mencari mu kesini. Lakukan saja perintah ku, jangan banyak membantah ", teriak Pangeran Martapura yang mulai gusar dengan omongan orang tua itu.
Mbah Dirgo langsung menggerutu dalam hati. Ada sesuatu yang hanya ia yang mengetahui. Dan ia tidak ingin terjebak di dalam nya. Maka dia harus segera mencari alasan untuk menolak permintaan Pangeran Martapura ini.
"Maaf, Gusti Pangeran. Bukannya hamba tidak berani untuk bertindak tetapi ada pantangan dari guru saya yang tidak boleh saya langgar. Yaitu mencelakai anak kecil. Jika saya melakukan nya, saya akan celaka. Mohon Gusti Pangeran mencari orang lain saja, saya tidak berani", ucap Mbah Dirgo segera.
"Kauuuu.... "
Pangeran Martapura langsung bangkit dari tempat duduknya dengan wajah merah padam menahan amarah dan segera melangkah menuju keluar. Sebelum keluar dari pintu rumah Mbah Dirgo, dia berhenti.
"Jika sampai apa yang aku omongkan barusan bocor ke telinga orang lain, kau tanggung sendiri akibatnya..! "
Tak lama kemudian, suara mobil menderu terdengar meninggalkan kediaman Mbah Dirgo, semakin lama semakin jauh dan kemudian menghilang. Mbah Dirgo menatap kearah perginya Pangeran Martapura sambil bergumam lirih,
"Selain kau, ada yang lebih menakutkan Pangeran Martapura.. "
*****
Jay dengan hati-hati memasukkan barang bawaan nya untuk persiapan berangkat ke ekskavasi Situs Ngantang. Beberapa barang pribadi seperti beberapa stel celana dalam dan kaos singlet yang menjadi favoritnya tak lupa ia masukkan ke dalam tas ransel besarnya. Juga jaket tebal dan sweater pemberian Ratih yang selalu ia bawa saat bertugas di daerah pegunungan, menjadi barang wajib yang ada dalam tas ranselnya.
3 hari berlalu paska kejadian serangan leak yang nyaris merenggut nyawanya, Jay berhasil mempertajam ilmu batinnya lewat bantuan Raden Mas Seno Djajadiningrat. Tentu saja ini juga ada campur tangan kawan barunya Putri Djajadiningrat yang getol memaksa ayahnya untuk membantu Jay.
Begitu persiapan beres, Jay keluar rumah kontrakan nya. Marissa sudah menunggu di luar bersama dengan Teddy pengawal sekaligus sopir pribadi yang diwajibkan oleh Anton Wijaya ayah Marissa untuk menemani kemanapun Marissa pergi.
Setelah memasukkan barang bawaan Jay ke dalam bagasi mobil Pajero sport putih milik Marissa, Teddy langsung menginjak gas dan mobil itupun segera melaju kencang ke arah Kantor Balai Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur.
Melewati jalan menuju Bypass Jombang Surabaya, dari kaca spion Teddy melihat dua mobil mengikuti mereka.
"Nona Muda, dua mobil itu terus mengikuti kita sejak keluar dari rumah Tuan Jay.. ", ucap Teddy segera.
Mendengar omongan Teddy, Jay dan Marissa langsung menoleh ke belakang. Keduanya melihat 2 mobil van nampak beriringan mengejar di belakang.
" Biarkan saja! Kalau mereka berani macam-macam, kita baru bertindak! ", titah Marissa tegas.
Teddy menganggukkan kepala nya tanda mengerti dan melajukan kendaraan nya tetap dengan ritme biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan. Rupanya kedua mobil van ini tidak bergerak sedikitpun hingga mereka sampai di kantor.
Ternyata Danang dan beberapa orang mahasiswa magang juga Putri Djajadiningrat telah berangkat lebih dulu ke Ngantang hingga terpaksa Jay, Marissa dan Teddy harus berangkat sendiri. Danang yang kebetulan harus menghadiri acara hajatan salah satu kerabatnya di wilayah Kasembon, terpaksa harus berangkat lebih dulu.
Setelah mendapat konfirmasi Danang, mobil Marissa kembali bergerak meninggalkan kantor Balai Cagar Budaya Jawa Timur ke arah barat karena mereka memilih menuju ke Ngantang lewat jalur Mojoagung- Kandangan - Ngantang.
Seorang lelaki berkacamata hitam yang terus memperhatikan mobil Marissa segera melakukan panggilan telepon.
"Bos, mereka berangkat sendiri. Lewat jalur barat"
"Ikuti mereka! Cepat..!!! "
"Baik Bos... "
Segera lelaki berkacamata hitam itu naik motor trail dan mengejar mobil yang ditumpangi Jay. Di perempatan Mojoagung, mobil Marissa berbelok ke arah selatan dan dua mobil van hitam yang tadi mengikutinya kembali mengekor di belakangnya. Jelas kedua mobil ini punya maksud tertentu.
Tak hanya dua mobil van hitam ini, lelaki berkacamata hitam yang mengikuti dari kantor Balai Cagar Budaya pun juga mendapatkan teman. Beberapa pemotor rupanya ikut serta mengejar di belakang mobil mereka.
Di ujung selatan Kabupaten Jombang, di jalan sepi yang bersebelahan dengan kuburan dan hutan jati, sebuah mobil melintang menghalangi jalan. Ini membuat Teddy langsung menginjak pedal rem dan mobil berhenti seketika.
Aaaauuuuwww...
"Ada apa Ted? Mengapa berhenti mendadak?! Mau mencelakai ku ya hah?!!", omel Marissa karena kepalanya hampir membentur bantalan kursi di depannya.
" Jangan marah dulu Non..
Coba perhatikan apa yang ada di depan kita baik-baik".
Omongan Teddy membuat Marissa langsung menatap ke arah depan dan ia melihat sebuah mobil melintang menghalangi jalan. Tetapi yang aneh tak ada satupun mobil yang datang dari arah berlawanan.
"Apa maksudnya ini?!! Sudah bosan hidup mereka ya?! ", gerutu Marissa sembari hendak keluar dari dalam mobil. Tetapi pergerakannya segera dicegah oleh Jay.
" Jangan gegabah keluar. Sepertinya ada yang tidak beres. Sepertinya ini sudah direncanakan sebelumnya ", potong Jay sembari memperhatikan sekitar.
Tak lama kemudian dua mobil van hitam yang mengikuti mobil Marissa pun berhenti di belakang dan langsung memblokir jalan dengan melintang menutup jalan. Sadarlah Jay, Teddy dan Marissa bahwa mereka sedang dikepung.
Beberapa orang berpakaian hitam langsung keluar dari dalam mobil dan membuat barikade. Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki tua dengan pakaian khas ponorogo keluar sambil tersenyum. Dia adalah Ki Singodijoyo, orang yang kemarin ditemui oleh Randy asisten Arnold Waseso.
Tak punya pilihan lain, Jay, Marissa dan Teddy segera keluar dari dalam mobil Pajero sport putih. Mereka juga ingin tahu apa yang diinginkan oleh orang-orang ini.
"Kau yang bernama Jay?! ", tanya Ki Singodijoyo sembari memperhatikan selembar foto di tangan kiri nya.
" Aku Jay. Siapa kau dan mau apa menghadang perjalanan kami?"
Mendengar omongan Jay, Ki Singodijoyo tersenyum smirk sambil melemparkan foto di tangan kiri nya yang sudah ia remas sebelumnya.
"Aku adalah malaikat pencabut nyawa mu! "
hanya saja sosok Jay yg sesungguhnya jangan dimatikan harusnya, sehingga ada kolaborasi antara Jay sebagai manusia dan Sukma Prabu sebagai titisan, apalagi seorang Jay benar-benar sosok pangeran penerus kerajaan.
kedepan kalau benar pangerannya naik tahta, itu bukan lagi Jay tapi Sang Prabu karena Jay hanya raga saja dengan jiwa Prabu.
alangkah baiknya Jay naik tahta sebagai Raja, dan Prabu menyelesaikan tugas titisan ditubuh Jay dengan cara moksa..
🙏 mohon maaf Kang Ebez, sekedar pandangan saja.. 🙏
selamat berkarya 🤝