Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Baru dan Ikatan yang Nyata
Cahaya matahari pertama di musim kering menyelinap lewat celah tirai tipis kamar utama, menciptakan garis-garis keemasan di atas ranjang besar itu.
Jevandra bangun lebih awal. Ia merasakan kehangatan di lengan kanannya, dan ketika menoleh, didapatinya Alana masih terlelap di sisinya, kepalanya bersandar pada lengan Jevandra. Tanpa polesan wajah dan sikap tegas yang biasa ia perlihatkan pada dunia luar, Alana tampak begitu tenang. Selimut putih menutupi tubuh keduanya, menyimpan jejak kedekatan semalam yang telah mengubah segalanya di antara mereka.
Jevandra tersenyum tipis—hal yang jarang terjadi di paginya selama bertahun-tahun belakangan. Dengan tangan kirinya, ia mengusap rambut Alana perlahan, khawatir membangunkan sang istri yang tampak begitu lelah.
Tapi Alana punya kepekaan tinggi. Sentuhan halus itu membuat matanya perlahan terbuka. Ia mengerjap beberapa saat sebelum pandangannya bertemu tatapan hangat Jevandra yang sedang memperhatikannya.
Rona merah muda tiba-tiba menjalar di pipinya—pemandangan yang jarang terlihat dan membuat Jevandra gemas. Alana berusaha menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya, tapi Jevandra menahannya sambil tertawa pelan.
"Pagi, Istriku," sapa Jevandra dengan suara serak khas bangun tidur.
Alana berdeham, berusaha mengembalikan nada bicaranya yang biasa tenang, meski gagal sepenuhnya. "Sekarang jam berapa?"
"Baru jam enam. Masih terlalu pagi untuk mikirin saham," jawab Jevandra sambil mengecup dahi Alana lembut, lalu bangkit bersandar ke kepala ranjang.
Alana turut duduk, menarik selimut menutupi dadanya. Ia menatap Jevandra yang kini terlihat begitu santai. "Jadi... sekarang bagaimana? Kontrak kita yang tersimpan di brankas itu... rasanya sudah tak berlaku lagi."
Jevandra menggenggam tangan Alana, jemari mereka bertaut di atas kasur. "Kontrak itu berhenti berlaku sejak aku memilih melompat ke speedboat untuk melindungimu, Alana. Sejak hari ini, tak ada lagi pernikahan atas dasar perjanjian. Kita adalah suami istri yang sesungguhnya—di mata hukum, di hadapan keluarga, dan di dalam kamar ini."
Alana terdiam, menatap jari-jari mereka yang saling mengunci. Ada kelegaan besar yang mengalir dalam dirinya. Rasa takut akan terjebak dalam pernikahan tanpa cinta hasil aturan keluarganya kini lenyap, tergantikan kenyataan bahwa ia telah menemukan pria yang bukan hanya sepadan dengannya dalam strategi, tapi juga mampu mengisi ruang kosong di hatinya.
"Ayahmu pasti sebentar lagi menelepon," Alana mengingatkan, mencoba kembali ke kenyataan meski senyumnya tak bisa disembunyikan. "Kakek Haryo pasti sudah mengirim laporan soal kepemilikan Vanguard Maritime ke jaringan internal Wijaya. Ayahmu tidak akan senang tahu kita menyerahkan aset itu ke pihak Wijaya."
"Biar saja dia menelepon," Jevandra mengangkat bahu tak peduli, lalu menarik Alana kembali ke pelukannya. "Aku sudah menyiapkan dokumen penataan ulang Pratama Group. Tertangkapnya Baskoro memberi kita peluang untuk menyingkirkan sisa direksi lama yang bermasalah. Ayah mungkin marah soal Vanguard, tapi begitu dia lihat laba kuartal ini naik dua puluh persen berkat efisiensi logistik baru kita, dia pasti diam."
Alana menyandarkan kepala di dada bidang Jevandra, mendengarkan detak jantungnya yang stabil dan menenangkan. "Kamu benar-benar berubah, Jevandra. Kamu sudah jadi pemimpin sejati sekarang."
"Aku punya guru terbaik," bisik Jevandra sambil mengecup puncak kepala Alana.
.
.
.
Tepat saat itu, ponsel Jevandra di atas meja kecil bergetar keras, memecah keheningan pagi. Layarnya menyala, menampilkan nama yang sudah mereka duga: Bimo Pratama (Ayah).
Jevandra dan Alana saling bertatapan. Alana tersenyum penuh makna—senyum khasnya yang menandakan firasat strategisnya jarang meleset. Ketegangan kembali terasa di udara, tapi kali ini mereka menghadapinya bukan sebagai dua sekutu terpaksa, melainkan sebagai satu kesatuan.
Jevandra mengambil ponselnya, menekan tombol jawab, lalu menyalakan pengeras suara agar Alana bisa ikut mendengar.
"Jevandra! Apa maksudnya ini?!" Suara berat Surya Pratama langsung menggelegar dari ujung telepon, penuh amarah yang ditahan. "Ayah baru saja terima laporan dari otoritas Tanjung Perak. Baskoro tertangkap, bagus! Tapi kenapa kamu serahkan semua aset sitaan Vanguard Maritime ke Wijaya Logistics?! Itu aset anak perusahaan Pratama!"
Jevandra menarik napas panjang, melirik Alana yang mengangguk kecil memberi semangat.
"Selamat pagi, Ayah," ucap Jevandra, suaranya tenang, kontras dengan emosi ayahnya. "Baskoro memakai Vanguard untuk mencuci dana tunai dari Cayman Islands yang nilainya nyaris melumpuhkan proyek kita bersama Temasek. Kalau semalam saya tidak memakai jaringan taktis Wijaya, Baskoro sudah kabur ke Singapura dan seluruh data internal Pratama sudah bocor ke publik hari ini."
"Tapi kamu tidak perlu menyerahkan seluruh perusahaannya ke Wijaya!" sela Surya tak sabar. "Itu bikin posisi kita terlihat lemah di mata dewan komisaris! Seolah kita mengemis bantuan pada pesaing sendiri!"
"Kita tidak mengemis, Ayah. Ini barter strategis," potong Jevandra dengan nada tegas yang belum pernah ia pakai di hadapan ayahnya. "Pratama Group melepas klaim atas Vanguard, tapi sebagai balasannya, Wijaya Logistics memberi hak distribusi eksklusif dengan tarif terbaik untuk seluruh komoditas kita di wilayah timur selama lima tahun ke depan. Efisiensi logistik ini akan menaikkan margin laba bersih kita dua puluh persen kuartal depan."
Di ujung telepon, hening sejenak. Surya Pratama tampak terdiam mendengar hitungan tajam yang baru saja dikemukakan putranya. Sebagai pebisnis berpengalaman, ia tahu angka-angka itu bukan sekadar bualan.
Alana lalu mendekatkan wajahnya ke ponsel, ikut bicara. "Selamat pagi, Papa Surya. Ini Alana. Keputusan semalam kami ambil bersama. Kakek Haryo juga sudah menyetujui kerangka kemitraan baru ini. Ini bukan lagi soal Pratama versus Wijaya, tapi bagaimana ikatan pernikahan kami bisa mendatangkan keuntungan penuh untuk kedua pihak."
Mendengar menantunya bicara dengan wibawa sekuat itu, terdengar embusan napas berat dari Surya. Amarahnya mereda, berganti rasa heran sekaligus kagum atas perkembangan hubungan mereka.
"Kalian berdua benar-benar... keluar dari jalur yang biasa," gumam Surya, suaranya melunak meski sisa kewibawaannya masih terasa. "Baiklah. Ayah mau lihat seluruh draf kesepakatan itu tertulis jelas. Datang ke kantor pusat jam sembilan pagi ini. Dewan komisaris mendesak penjelasan resmi soal penangkapan Baskoro."
"Kami akan datang, Ayah," jawab Jevandra sebelum menutup sambungan.
.
.
Setelah panggilan berakhir, Jevandra melempar ponselnya kembali ke meja kecil dan menatap Alana yang kini tertawa pelan.
"Ayahmu kedengarannya frustrasi sekaligus bangga," kata Alana, menyingkap selimutnya, bersiap turun dari ranjang.
Namun Jevandra menahan pergelangan tangannya, menariknya kembali hingga wanita itu jatuh ke pelukannya sekali lagi. "Kantor pusat masih tiga jam lagi, Alana. Dan kurasa, sebagai pasangan suami istri yang sah... kita berhak punya waktu tambahan untuk merayakan kemenangan semalam."
Alana menatap mata Jevandra yang berbinar penuh kehangatan dan kerinduan yang tulus. Kali ini, ia tak lagi mencari alasan masuk akal untuk menolak. Sambil tersenyum lembut, ia melingkarkan tangan di bahu Jevandra, menyambut babak baru kehidupan mereka dengan keyakinan bahwa bersama-sama, tak ada badai bisnis apa pun yang bisa meruntuhkan kedudukan mereka.
Di atas ranjang pagi itu, sebuah ikatan yang sesungguhnya telah lahir—bukan dari dinginnya tinta di atas kertas perjanjian, melainkan dari hangatnya janji tak terucap antara dua hati yang kini saling memiliki.
Bersambung......