"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
"Aww.." pekik Ruby saat mendapati pinggangnya seolah encok saat itu juga, belum lagi ditambah di bagian area sensitifnya yang terasa sangat perih.
Perlahan Ruby melepaskan lengan kekar Marco yang masih memeluk tubuhnya.
"Baby, where are you going?" Tanya Marco yang masih dengan suara serak khas bangun tidur.
Tanpa menjawab, awalnya Ruby ingin berjalan ke arah kamar mandi, tapi ternyata rasa perih di bagian sensitifnya terlalu sakit untuk dibawa berjalan. Sampai akhirnya dia kembali terduduk lemas.
Ruby menggigit bibir bawahnya sendiri. Mencoba menahan rasa sakit tersebut dan tak ingin memberitahu kepada Marco.
"Are you okay?" Marco mulai khawatir dan mendekati Ruby.
Rasanya Ruby ingn sekali menangis saat ini juga. Tapi rasa gengsinya yang ingin terlihat kuat di hadapan Marco membuat ia menahan buliran yang sudah akn terjatuh di pelupuk kedua matanya.
Namun dengan sigap Marco memapah tubuh Ruby ke dakam kamar mandi, katakanlah mereka saat ini dalam kondisi benar-benar tanoa sehelai benang pun.
Ruby yang malu pun melingkarkan kedua tangannya di leher Marco lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Dengan pelan Marco meletakkan tubuh Ruby di atas bathtun lalu mengalirkan air dengan suhu yang hangat agar gadisnya itu terasa nyaman.
"Apa itu masih sangat terasa sakit?" Tanya Marco karena saat ini ia melihat ekspresi wajah Ruby yang seolah sedang menahan sakit.
"Kenapa kau masih bertanya? Ya jelas sakit!!!" Rasanya Ruby ingin sekali memukul kepala pria di hadapannya ini agar otaknya kembali berfungsi.
Ada rasa bahagia dan juga sedih yang kini mengaduk di hati Marco. Bagaimana pria itu tidak bahagia sedangkan wanita yang ia sekali kali ini telah memberikan mahkotanya untuk pertama kali dengan dirinya. Tapi pri itu juga merasa sedih karena harus melihat ekspresi sakit dari wajah Ruby. Kalau iya terkenal sebagai gangster atau mafia yang kejam tapi entah kali ini perasaan Marco seolah telah diiris oleh pisau belati.
"Kamu boleh memukulku jika kau ingin, Aku tidak akan membalas dan akan diam saja, anggap saja itu sebagai tebusan rasa sakit yang sedang kamu rasakan."
"Pergilah sebelum aku membunuhmu saat ini juga." Tegas Ruby yang kini ingin menikmati berendam dengan air hangat dalam tubuhnya.
"Aku mengerti. Panggil aku jika kamu sudah selesai." Ujar Marco mengecup pipi Ruby dengan dalam sebelum ia juga akan membersihkan dirinya.
Setelah itu Marco membersihkan tubuhnya dengan air shower. Lalu ia segera memakai pakaian setelan kerjanya dengan kemeja putih yang dilapisi baju hangat.
Tak lupa Marco juga sudah memesan pakaian untuk gadisnya tersebut.
Stive yang juga sudah datang di pagi ini langsung masuk ke dalam ruangan kerja Marco.
"Apa kau menginap disini semalam?" Marco hanya mengangguk pelan sebagai jawaban lalu mengecen laporan yang Stive berikan kepadanya.
Sedangkan di sisi lain. Ruby mencoba untuk bangun seorang diri setelah selesai berendam dengan air hangat.
Dengan masih sedikit rasa sakit, Ruby mencoba berjalan dengan sangat pelan-pelan, " Mengapa ini begitu sangat nyeri dan perih? Apakah ku akan menyesali keinginanku kali ini?" Lirihnya dengan susah payah ia berjalan ke dalam kamar.
Marco menutup laporan tersebut lalu beranjak dari meja kerjanya untuk masuk ke dalam ruangan kamar. Dan Stive yang melihat itu hanya bisa terdiam, karena ia juga tak berani untuk mengikuti Marco.
"Kenapa tidak memanggil ku?" Marco sedikit berlari untuk menghampiri Ruby yang sedang susah payah untuk berjalan.
"Aku kan tidak lumpuh!" Ketusnya, namun kali ini Marco mengalah lalu membopong tubuh Ruby dan meletakkannya di tepi ranjang.
"Keluarlah! Aku akan memakai pakaian ku sendiri." Ketusnya lagi.
"Apa dia mulai menyesali apa yang sudah kami lakukan malam tadi? Mengapa sikapnya kembali seperti semula lagi," gumam Marco dalam hati.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi kau harus ingat dengan apa yang aku katakan semalam! You are mine! and you must always remember that." Bisiknya lalu mengecup bibir Ruby sekilas sebelum ia kembali ke ruangan kerjanya.
"Bodohnya aku yang tak bisa mengontrol diriku sendiri. Dan akhirnya berakibat fatal seperti saat ini." Geram Ruby yang ingin menyesali kelakuannya itu, tapi setelah ia ingat lagi, ternyata Marco hanya mengikuti keinginan dirinya.
***
"Ku dengar semalam Grace menyelundup ke ruangan kerja mu?" Tanya Stive setelah Marco sudah kembali.
"Iya, tapi sayangnya dia masih belum mau mengakui untuk siapa dia bekerja dan untuk apa dia sampai harus menyelundup ke ruangan ku."
"Untuk hal ini, jangan sampai madam Saritem tahu, setelah pertemuan nanti. Aku sendiri yang akan menginterogasi Grace." Kata Marco lagi dan Stive pun mengerti.
"Baiklah, lalu apakah kau butuh sesuatu sebelum kita akan pergi pagi ini?" Marco berfikir tentang hak tersebut, dia tak mungkin mengurung Ruby terlalu lama di dalam kamar, ia merasa kasihan, tapi jika ia mengajak Ruby ke dalam pertemuan itu. Marco tak tega jika harus melibatkan Ruby di dalamnya.
"Berikan aku sarapan pagi ini dua porsi." Ucapnya kemudian, mengingat mereka berdua belum makan apapun setelah pergelutan semalam.
Setelah Ruby selesai memakai pakaian miliknya. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya. Karena ia merasa bahwa dirinya tak akan bisa jalan dengan lancar, alhasil ia lebih memilih untuk tetap berada di ruangan kamar itu sampai menunggu Marco selesai dalam pekerjaan nya.
Dan Marco pun datang dengan satu nampan makanan untuk mereka sarapan.
"Perut mu harus di isi terlebih dahulu, apa kau ingin ikut denganku? Aku takut jika kamu akan bosan berada di ruangan ini terus menerus."
"Apa kau ingin mempermalukan aku dengan kondisiku yang sedang seperti ini?" Tiba-tiba nafsu makan Ruby pun menghilang ketika Marco seolah ingin mempermalukan dirinya.
"Aku hanya takut jika kamu bosan, bagaimana bisa aku mempermalukan diri mu? Bukankah itu sama saja dengan mempermalukan diriku sendiri?"
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya