Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan di Balik Pintu Tertutup
Perjalanan pulang berakhir saat gerbang kediaman Alexander terbuka lebar menyambut kedatangan mereka. Jam dinding di aula besar baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam, namun tak satu pun lampu di sana yang padam. Daddy Xavier dan Mommy Xena sudah menunggu di ruang tengah, wajah mereka tampak lega sekaligus penuh tanya melihat Axel, Ayranza, dan Leonardo melangkah masuk dengan wajah serius.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Daddy Xavier langsung tanpa basa‑basi begitu mereka duduk melingkar di meja ruang kerja. “Apakah kalian menemukan petunjuk yang nyata?”
Axel mengangguk pelan, lalu meletakkan kartu nama tua serta buku catatan Andrei di atas meja. “Kami bertemu Livia. Beliau menceritakan semuanya, mulai perselisihan warisan, wanita bernama Giulia, sampai sosok yang selama ini bergerak diam‑diam di balik layar.”
Mommy Xena maju sedikit, menatap barang‑barang di meja dengan mata terbelalak. “Siapa gerangan yang berani mengancam kita begini?”
“Riccardo,” jawab Ayranza cepat, suara tenang namun tegas. “Anak dari Paman Andrei dan Ibu Giulia. Dia tumbuh membawa dendam besar, berniat merebut kembali apa yang dianggapnya hak waris, sekaligus menghancurkan nama baik keluarga Alexander sampai tak bersisa.”
Daddy Xavier terdiam sejenak, wajahnya berubah berat mendengar nama itu. “Riccardo… Dulu sempat terdengar kabar samar ada anak yang lahir jauh di luar negeri, tapi kami kira takkan pernah berani kembali ke sini.”
“Dia tak cuma berani kembali,” potong Axel dingin, matanya menatap tajam ke arah ayahnya. “Dia sudah lama menyusun rencana. Menyamar jadi mitra bisnis baru, memanfaatkan Giancarlo dan Elena sebagai sekutu sementara, bahkan menyusupkan mata‑mata ke dalam rumah kita sendiri.”
Mommy Xena menutup mulutnya dengan tangan, tak kuasa menahan keterkejutan. “Jadi semua gangguan, surat ancaman, fitnah di sekolah adik‑adik Ayranza… semuanya ulah dia?”
“Tepat sekali,” sahut Leonardo. “Rosa sudah mengakui semuanya. Dia disewa Elena, yang pada gilirannya diperintah langsung oleh Riccardo. Kami sudah mengurusnya dan mengamankan dia di tempat aman sampai waktu sidang nanti.”
Keheningan sejenak melanda ruangan itu. Daddy Xavier mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya berat. “Kalau begitu bahayanya jauh lebih besar dari yang kami kira selama ini. Riccardo tahu persis titik lemah kita.”
“Ya,” ucap Axel mantap. “Dan dia berencana melancarkan serangan puncaknya saat pertemuan kerja sama besar dua minggu lagi. Di depan seluruh rekan bisnis, pejabat, dan wartawan, dia akan berusaha menjatuhkan kita habis‑habisan.”
Mommy Xena menatap Ayranza lekat‑lekat. “Lalu bagaimana denganmu dan kedua adikmu? Riccardo pasti akan berusaha memanfaatkan kalian lagi, bukan?”
Ayranza mengangguk tenang. “Itulah kenapa kami sepakat. Mulai besok Angga dan Arshen takkan lagi ke sekolah umum. Kita sewa pengajar pribadi, mereka belajar di dalam rumah saja dengan pengawasan ketat.”
“Tentu saja,” potong Daddy Xavier tegas. “Aku akan urus semua izin dan pengajarnya sendiri. Takkan ada orang asing yang tak diperiksa masuk ke sini.”
Pembicaraan berlanjut larut malam. Mereka menyusun rencana perlindungan berlapis. Pengamanan ketat di setiap gerbang dan sudut taman, patroli ronda bergantian siang‑malam, hingga sistem komunikasi rahasia di antara mereka agar bisa saling memberi kabar seketika jika bahaya mendekat.
Di tengah diskusi itu, Axel sempat menoleh ke arah Ayranza yang duduk di sebelahnya. “Bagaimana menurutmu? Apakah ada hal lain yang kau rasa kurang aman?”
Ayranza berpikir sejenak sebelum menjawab. “Selama kami semua tetap waspada dan tak bergerak sendirian, rasanya cukup aman. Hanya saja… Riccardo orang licik. Dia bisa saja bergerak lebih cepat dari dugaan kita.”
“Karena itulah kita tak boleh lengah sedetik pun,” jawab Axel tegas. “Leonardo akan menambah jumlah petugas keamanan mulai dini hari nanti. Dan kau…” Ia berhenti sejenak, nadanya melembut namun tetap serius. “…mulai sekarang kau takkan pernah berpisah jauh dariku atau Leonardo saat berada di luar kediaman.”
Ayranza tersenyum tipis, merasakan rasa aman yang makin tumbuh. “Baiklah, Tuan Pelindung.”
Suasana di ruang kerja perlahan menjadi sedikit lebih tenang. Mommy Xena akhirnya menarik napas panjang, menatap anaknya dengan pandangan bangga yang jarang terlihat.
“Kau sudah tumbuh menjadi pemimpin yang tangguh, Axel,” katanya pelan namun jelas. “Ayah dan Ibu takkan ikut campur urusan taktis lagi. Kami serahkan semuanya padamu dan Leonardo. Kami hanya akan menjaga keadaan tetap tenang di dalam rumah.”
“Terima kasih, Mommy,” jawab Axel singkat namun penuh rasa hormat.
Pertemuan usai mendekati tengah malam. Daddy Xavier dan Mommy Xena beranjak pulang ke kamar mereka, sementara Leonardo segera bergegas menyusun jadwal keamanan baru. Tinggalah Axel dan Ayranza sendirian di ruangan yang kini agak remang.
Mereka berjalan perlahan menuju lorong sayap timur. Angin malam bertiup pelan dari celah jendela, membawa aroma bunga mawar yang mulai layu.
“Kau tak terlalu lelah?” tanya Axel tiba‑tiba, memecah keheningan. “Perjalanan jauh dan pembicaraan berat seharian ini pasti menguras tenaga.”
Ayranza menggeleng pelan. “Tak apa. Justru rasanya lega karena akhirnya tahu siapa musuh sesungguhnya dan punya rencana jelas.” Ia menoleh menatapnya. “Dulu aku tak pernah membayangkan bisa terlibat sedalam ini dalam urusan keluarga besar seperti kalian.”
Axel berhenti berjalan tepat di depan pintu kamar Ayranza. Ia berdiri berhadapan dengannya di bawah cahaya lampu lorong yang redup.
“Dulu aku juga tak membayangkan hal seperti ini,” akunya perlahan. “Awalnya aku kira kau sekadar jalan keluar praktis untuk menyelesaikan masalah utang ayahmu. Tapi lama‑kelamaan…” Ia berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat. “…kehadiranmu dan adik‑adikmu mengubah segalanya. Rumah ini yang dulu dingin dan sepi kini terasa lebih hidup.”
Wajah Ayranza sedikit memerah mendengar ucapan itu. Jantungnya berdebar pelan.
“Kalau begitu… apa artinya semua ini bagi kita sekarang?” tanyanya pelan, berani menatap manik mata kelabu itu lekat‑lekat.
Axel diam sesaat, lalu perlahan mengulurkan tangan meraih jemari Ayranza, menggenggamnya lembut namun erat. Sentuhan itu hangat dan menenangkan.
“Tak ada lagi kontrak,” jawabnya rendah dan tegas. “Tak ada lagi sekadar kewajiban. Kita berjuang bersama, melindungi satu sama lain, apa pun risikonya.”
Sebelum sempat Ayranza menjawab, terdengar langkah kaki tergesa‑gesa mendekat dari ujung lorong. Leonardo muncul dengan wajah serius kembali.
“Ada kabar baru, Tuan,” lapornya napas terengah. “Baru saja dapat pesan rahasia dari orang kepercayaan kami di kantor Riccardo. Besok pagi dia berencana pergi ke gudang tua di kawasan pelabuhan. Tempat yang sering dia gunakan untuk pertemuan tertutup.”
Axel segera melepaskan genggamannya namun tetap berdiri tegak, kembali berubah jadi pemimpin yang tegas dan siaga.
“Jam berapa dia ke sana?”
“Masuk pukul sembilan pagi, diperkirakan tinggal sekitar dua jam saja.”
Axel mengangguk mantap, sorot matanya kembali tajam berkilat penuh tekad.
“Kalau begitu ini kesempatan pertama kita untuk mengamati gerak‑geriknya lebih dekat. Kita takkan menyerang dulu, cukup memantau dan mencari bukti yang makin kuat.” Ia menoleh ke Ayranza sekali lagi. “Kau tetap di sini bersama adik‑adikmu. Aman adalah prioritas utama.”
Ayranza mengerti, meski ada sedikit rasa ingin ikut. “Baiklah. Hati‑hatilah kalian berdua.”
“Pasti,” jawab Axel singkat. Ia berbalik berjalan cepat bersama Leonardo menyusuri lorong kembali menuju ruang kerja, malam‑malam itu puncak persiapan mereka makin nyata.
Di balik pintu kamarnya yang kini tertutup rapat, Ayranza bersandar di dinding, napasnya masih agak berdebar. Ia sadar benar, besok pagi akan menjadi langkah pertama masuk lebih dalam ke sarang musuh. Dan pertarungan besar yang akan menentukan nasib mereka semua tinggal menghitung hari saja lagi.