Silvia adalah seorang gadis baik hati dan polos yang masih duduk di bangku SMA. Gadis kurus dengan rambut panjang dan kulit putih itu tak jarang menjadi rebutan dikalangan pria disekolah nya dan itu membuatnya merasa percaya diri.
Namun semuanya sirna ketika mendengar bahwa dia akan di jodohkan dengan seorang CEO yang tidak dia cintai. Tidak percaya bahwa dizaman modern seperti ini masih ada yang namanya perjodohan. Namun semua itu mungkin terjadi melihat kondisi keluarga nya yang krisis keuangan.
Dia pun harus siap meninggalkan kekasih nya bahkan impiannya di masa depan demi keinginan orang tuanya. Diawal semua terlihat baik baik saja sampai ketika dia mengetahui sifat asli suaminya yang membuatnya tersiksa batin setiap harinya. Oleh karena itulah dia akhirnya memutuskan untuk memilih jalan hidup nya sendiri bahkan nekat untuk menikah lagi.
"Inilah kehidupan Silvia dengan kehidupan pernikahan yang tak dia harapkan"...
[Cerita ini telah berhenti, tidak disarankan membaca] -Author-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wira Noviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 33. Kehidupan Baru
"Tambah sebotol lagi!" ucap Canzie.
"Sudahlah sayang, kau sudah sangat banyak minum" tegas Viola.
"Hanya satu botol lagi Ren!" ucap Canzie.
"Biarkan saja dia minum banyak kali ini.. Kapan lagi." ucap Silvia tersenyum menatap pasangan itu.
"Aku takut dia mabuk berat Sil" ucap Viola mengkhawatirkan Canzie.
"Teman teman aku punya pengumuman." ucap Midy tiba tiba.
"Katakan apa itu?" tanya Tio.
"Beberapa hari lagi aku akan menikah dengan Ariel!" teriak Midy gembira.
"Benarkah?" ucap Silvia ikut senang.
"Iya." ucap Midy dan semua nya bersorak gembira atas kebahagiaan Midy dan memberi selamat.
"Kalian Canzie dan Viola, kapan kalian nikah?" tanya Dea.
"Kami menyusul aja nanti." jawab Viola.
"Kamu kapan Sil?" tanya Midy.
"Apa? Aku?" ucap Silvia kebingungan.
"Oh maaf.. Aku lupa kalau Rey telah menghianati mu." ucap Midy.
"Nggak apa apa kok." jawab Silvia dengan tenang.
"Rey dan Serli jahat banget sih.. Mereka main di belakangmu kayak gini!" ucap Viola sangat kesal.
"Udah, nggak usah nge bahas itu.. Aku udah move on kok." ucap Silvia.
"Tapi Sil.. Kudengar hubungan mereka juga nggak terlalu baik.. Waktu itu sempat lihat Serli yang lagi hamil kayak nya waktu itu usia kandungan nya udah 8-9 bulan dan dia cuma makan nasi dan nggak ada lauk nya.. Penampilan nya lusuh dan tempat tinggal nya gk layak pakai gitu kumuh banget. Kamu beruntung Sih Sil nggak jadi nikah sama Rey itu, kalau enggak sih kamu bakal bernasib kayak si Serli" ucap Midy mencerita kan kondisi Serli.
"Iya sih.. Ternyata tuhan masih sayang sama aku" ucap Silvia sangat bersyukur.
"Sil maaf ya, bukan nya nggak peka dengan kondisi kamu. Tapi aku memang penasaran banget, suami kamu itu kok nggak balik balik kesini" tanya Dea.
"Ya.. Aku kan udah bilang ke kalian kalau kami itu udah kayak orang asing... Kami awal nya sering bertengkar, dia benar benar gila sehingga yang terjadi seperti ini. Seandai nya dia mau balikan lagi sama aku, aku sih nggak akan mau lagi. Dea, kamu kan dulu sekertaris nya Hevin di kantor jadi kamu seharus nya tau dia gimana orang nya" ucap Silvia menjelaskan semua nya.
"Yang sabar ya Silvia.. Suatu hari nanti kamu pasti akan mendapatkan orang yang baik." ucap Tio menyemangati Silvia.
"Hmm kayak nya aku nggak mau menjalin hubungan baru lagi" ucap Silvia.
"Ha? Jadi kamu mau menjadi perawan tua?.. Jangan dong!" ucap Midy.
Craang!! Sebuah botol pecah..
"Canzie!! Cukup! Kay sudah mabuk berat!" ucap Viola membentak Canzie.
"Ahh sayang"
CUP! Canzie pun mencium Viola dan semua teman teman menyaksikan hal itu.
Namun ketika Silvia melihat hal itu mengingatkan nya akan ciuman nakal yang pernah Hevin berikan dulu kepada Silvia. Dan sekarang dia seperti menjanda, membuat nya sedih akan kehidupan nya sedih dan tak kuasa menahan kesedihannya.
"Teman teman, aku harus pulang, ini sudah tengah malam pasti orang tua ku mengkhawatirkan ku" ucap Silvia dan mereka mengerti kesedihan Silvia lalu membiarkan Silvia pulang dan menenangkan diri.
Silvia pun pulang menaiki mobil nya. Dengan hati yang berat dan perasaan pilu dia harus menghabis kan hidup nya dengan kesepian. Namun walau hati nya hancur dia selalu bersikap dan bertingkah seolah olah di selalu baik baik saja itu lah tanda bahwa Silvia sekarang sudah dewasa dan pikiran nya pun lebih matang.
* * *
Sesampai nya dirumah.
"Mah aku pulang" ucap Silvia.
"Astaga anakku, telat sekali kau pulang nak" ucap Rosa ibu nya Silvia.
"Maaf mah" ucap Silvia.
"Yaudah cepat tidur, kalau nggak besok kamu bisa telat pergi berkerja" ucap Rosa.
"Iya mah" jawab Silvia dengan lesu dan menuju ke kamar nya.
Namun sebelum dia sampai di kamar nya dia mendengar suara adiknya (Rini) sedang menelepon seseorang.
"Iyaa.. Aku mana bisa tidur tanpa kamu" ucap Rini merayu seseorang yang sedang di telepon nya.
Pernyataan Rini itu sempat mengingatkan nya dulu Silvia juga pernah teleponan dengan Rey sampai tengah malam. Mengingat semua itu membuat nya lelah hingga tertidur.
* * *
Di Amerika pada saat itu pukul 14.00.
"Jini, ini hari pertama mu pergi ke tempat latihan jadi berteman lah dengan baik" ucap Yumi kepada anak tiri nya itu.
"Mah hari ini hari pertama aku ke tempat itu, jadi enggak boleh telat, biar enggak telat mamah yang anterin ya?" ucap Jini meminta diantarkan oleh Yumi.
"Enggak bisa nak, mamah harus jagain Zini di rumah" ucap Yumi kerepotan dengan Zini yang rewel dan terus menangis tanpa henti sejak pagi.
"Terus papah dimana mah?" tanya Jini mulai cemberut.
"Bentar biar mamah panggil kan papah, tunggu disini ya" ucap Yumi lalu pergi ke kamar untuk memanggilkan Hevin yang sekarang masih berada di kamar mandi.