(Dalam Revisi)
Setelah mengalami pelecehan, dan mengalami depresi, serta dalam keadaan mengandung, Latifa diasingkan ke suatu tempat oleh keluarganya ke kampung halaman sang nenek.
Empat tahun kemudian, Latifa kembali ke kota dan mendapatkan pekerjaan di sana demi sang putra semata wayang. Ketika sesekali sang putra di bawa ke kota, Latifa harus dihadapkan pada pertemuan kembali dengan lelaki yang pernah merenggut kesuciannya sekaligus ayah biologis dari putra semata wayangnya.
Latifa berusaha menghindar dan menyembunyikan identitas sang anak. Namun sia-sia.
Setelah gagal menghindari pria yang pernah merenggut kesuciannya, Latifa terpaksa menerima tawaran pernikahan dari lelaki itu demi sang anak.
Lalu apakah akan hadir cinta setelah pernikahan itu, dan mampukah Latifa diterima dengan baik oleh keluarga lelaki yang pernah merenggut kesuciannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Khasiat Teh Cinta Dari Nenek
Grab yang ditumpangi Latifa tiba di kawasan apartemen milik Dika. Latifa segera menuju lift dan menaikinya.
Di depan pintu unit milik Dika, Latifa berdiri. Pintu itu terbuka otomatis saat kulit Latifa bersentuhan langsung dengan pintu apartemen milik Dika. Pintu terbuka dengan lebar.
Latifa masuk dengan sedikit ragu, saat itu tubuh Dika sudah menyembul dan menyambutnya. Tak pelak sebuah pelukan tidak bisa dihindarkan lagi. Dika memeluk Latifa tanpa disadari sebelumnya oleh Latifa.
"Di mana anakku?" tanyanya ketus sembari berontak dan melepaskan diri.
"Ada. Memangnya kenapa? Kamu mau membawa lari dari apartemen ini? Tidak bisa, Gaza sudah senang tinggal di sini, dia bilang ingin tinggal di sini bersama papanya," ungkap Dika membuat Latifa meradang.
"Kamu jangan sekali-kali pengaruhi anakku untuk tinggal bersamamu. Kamu tidak ingat siapa yang besarkan Gaza selama ini? Jadi, aku meminta jangan sok-sok berlagak jadi pahlawan untuknya," pekik Latifa sangat kesal.
"Aku tidak pengaruhi anakku supaya tinggal di sini, dia sendiri yang ingin tinggal di sini."
"Tidak akan pernah aku ijinkan," dengusnya.
"Aku tidak perlu ijin darimu, bahkan aku berhak mengajaknya tinggal bersama kamu mamanya. Akan aku buat kalian tinggal di sini, karena di sini tempat tinggal kalian. Atau kalian ingin rumah yang lebih besar daripada apartemen ini? Akan aku kabulkan, aku akan menyiapkan rumah yang besar dan nyaman untuk kalian berdua," balas Dika tidak peduli dengan penolakan Latifa.
"Jangan banyak bicara. Yang jelas aku tidak butuh apapun dari kamu. Yang aku butuh hanya Gaza," debatnya lagi tidak mau kalah, sehingga membuat Dika tersulut emosi, lalu dengan secepat kilat tangan Dika menangkap pinggang Latifa, lalu Dika membungkam mulut Latifa dengan ciuman yang ganas.
Latifa meronta-ronta saat tubuhnya dihimpit di dinding oleh tubuh dan tangan kekar Dika.
"Ummmgghh."
Hanya suara lenguhan itu yang mampu keluar dari bibir Latifa, sebab Dika tengah berusaha menyalurkan kerinduannya pada Latifa lewat bibirnya. Dika tidak akan menyerah begitu saja, kalau perlu dari ulahnya yang sudah beberapa kali melumpuhkan pertahanan Latifa, berharap ada kehidupan baru di rahim Latifa, agar Latifa tidak bisa lari lagi dari hidupnya.
"Lepaskan, aku ingin melihat Gaza." Latifa protes saat Dika melepaskan pagutannya.
"Gaza tidak bisa diganggu, dia sedang tidur. Sebaiknya kita bicara dan ngobrol baik-baik, jangan menolak sana-sini. Kalau kamu ingin yang terbaik untuk Gaza, maka kita duduk bersama dan bicara dari hati ke hati. Lagipula kesalahanku yang dulu bukan murni kesalahanku, semua itu ada campur tangan Arda. Tapi aku patut bersyukur pada Arda, karena dialah, aku bisa terjebak cinta satu malam denganmu yang pada akhirnya menghasilkan Gaza yang tampan," urai Dika panjang lebar, sapuan nafasnya mengenai hidung Latifa, sebab Dika bicara sangat dekat.
"Cuppp."
Dika kembali melabuhkan kecupan yang tidak mungkin bisa dihindarkan Latifa.
"Jangan pernah menghindar lagi, aku mencintaimu. Tidak bisakah kamu membalas cintaku supaya kita bisa sama-sama membesarkan Gaza?" tatap Dika dalam.
Latifa diam membeku, matanya mulai meredup tidak galak lagi seperti tadi.
"Ayolah, kita ke dapur. Aku akan buatkan kamu minum. Tidak baik saling tegang, lagipula ini sudah malam, harusnya kita bersiap tidur dan memeluk Gaza," bujuk Dika seraya meraih lengan Latifa sedikit lembut dan menariknya ke dapur.
Dengan hati yang terpaksa, Latifa akhirnya mengikuti Dika ke dapur. "Minumlah supaya tubuhmu hangat." Dika menyodorkan sebuah minuman teh hangat untuk Lafita.
Latifa tidak meminumnya, dia seperti takut kalau di dalam gelas itu terdapat kandungan yang bisa membuatnya keracunan atau sejenisnya. Namun, melihat Dika meminumnya dari teko yang sama, Latifa tanpa ragu ikut meminumnya sampai minuman itu habis.
Teh yang diminumnya benar-benar enak dan menghangatkan tubuhnya. Tubuh Latifa seperti ringan. Tiba-tiba Lafifa mendekati Dika lalu memeluk Dika seakan dia haus pelukan Dika.
Dika tersenyum lalu berdiri dan merangkul Latifa. "Sayang, apa yang kamu inginkan malam ini?" bisik Dika di telinga Latifa. Latifa melingkarkan tangannya di leher Dika seraya mengikuti Dika menuju kamar satunya lagi di apartemen itu.
Di dalam kamar, hasrat Latifa seakan tidak terbendung, tiba-tiba saja dia memaksa Dika supaya menyentuhnya. Dan malam ini merupakan malam yang paling romantis yang Dika rasakan setelah beberapa kali bisa memberikan nafkah batin untuk Lafita.
Sepertinya khasiat teh pemberian nenek sahabatnya Dika, yaitu Yanuar yang tinggal di kampung di Jawa sana, sangat ampuh mengembalikan stamina dan hasrat cinta yang tinggi untuk seseorang. Buktinya malam ini, tanpa diminta, Latifa justru memberikan pelayanan terhadap dirinya dengan sangat memuaskan.
Lagi dan lagi Latifa menginginkan tubuhnya disentuh Dika, sampai malam berganti larut, Latifa baru tertidur setelah dua ronde pergumulan itu berlalu dengan hebat.
Dari dalam kamar yang kini ditempati Dika dan Latifa, Dika memantau Gaza lewat CCTV yang terhubung langsung ke kamar itu. Untuk saat ini, Gaza dalam keadaan aman dan terpantau sehingga Dika bisa tidur dengan nyaman dalam pelukan Latifa.
Subuh menjelang, Latifa terbangun lebih dulu. Dia bergeliat ke sana kemari. Tubuhnya terasa ringan, sepertinya efek teh yang diminumnya malam tadi, khasiatnya masih terasa sampai pagi. Latifa merasa tubuhnya semakin ringan dan bugar.
Ketika menyadari dirinya tengah dipeluk Dika, pada saat itulah Latifa menjerit karena kaget.
"Ya ampun, jadi semalam kami melakukan lagi?" desisnya merasa kecolongan lagi karena berhasil digagahi Dika lagi. Perlahan Latifa menuruni ranjang dan melepaskan tangan Dika yang melilit erat.
"Ke mana?" Tiba-tiba Dika terbangun dan justru membaringkan kembali Latifa.
"Aku mau bangun dan mandi. Lagipula sebentar lagi Gaza bangun."
"Tidak, sebelum kita satu kali lagi menikmati apa yang tadi malam kita lakukan."
"Apa?"
"Ini." Latifa lalu pasrah saja saat Dika mulai melancarkan lagi aksinya. Kali ini sentuhannya begitu lembut dan penuh perasaan sehingga Latifa membalasnya dengan penuh perasaan juga. Mereka menyatukan kembali hasrat yang menggebu semalam di subuh ini.
"Aku mencintaimu, Fa," ungkapnya seraya menyatukan bibirnya dengan bibir Latifa. Latifa membalas dengan sebuah pelukan yang erat dan membiarkan Dika mengaksesnya dengan leluasa.
"Aku tidak membawa baju ganti," ucap Latifa saat dia dan Dika mandi bersama di dalam satu bathtub.
"Sayang, bukalah lemari itu, semua baju dan dalaman kamu sudah aku siapkan semua. Semua untukmu," tunjuk Dika seraya membawa tubuh Latifa ke depan lemari di kamar itu.
Betul saja di dalam lemari itu sudah tersedia baju-baju untuk Latifa berbagai model. Latifa meraih salah satu dress selutut yang sepertinya pas dengannya. Saat dipakai, hasilnya sungguh luar biasa, Latifa sungguh-sungguh cantik dan semakin mempesona di pagi ini.
"Kamu menyukainya?" Latifa mengangguk.
Dika senang, ternyata efek dari teh itu bisa berlangsung sampai pagi ini, Latifa juga auranya semakin positif dan tidak ketus lagi.
"Papa." Sebuah teriakan dari Gaza terdengar sampai ke kamar sebelah. Dika dan Latifa keluar dari kamar itu.
"Aza."
"Mamaaaa." Latifa bahagia saat melihat Gaza, lalu dipeluknya anak semata wayangnya yang kini seakan sudah terbiasa memanggil Dika dengan sebutan papa.
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
lanjuut 😊