Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak
Alan mengambil beberapa langkah mundur.
Tanpa banyak berpikir, bahunya menghantam pintu kayu itu.
Brak!
Pintu bergetar cukup keras.
Namun...
Tetap tidak terbuka.
Di balik pintu, suara Sephia terdengar lirih.
"...Han..."
Hana langsung menoleh ke arah pintu.
"Pia! Tenang, ya! Kita di luar!"
Alan mundur lagi.
Kali ini lebih jauh.
Brak!
Benturannya lebih keras dari sebelumnya.
Engsel pintu berdecit pelan.
Tetapi kuncinya masih menahan.
Alan mengepalkan rahang.
"Sial..."
Hana mulai panik.
"Lan... nggak bisa?"
Alan kembali menarik napas.
"Masih ngunci."
Ia kembali memegang gagang pintu, mencoba memutarnya.
Tetap tidak bergerak.
Dari dalam, terdengar ketukan pelan.
Tok...
Tok...
Suara itu jauh lebih lemah dibanding tadi.
Wajah Hana mulai memucat.
"Nggak bisa dibiarin."
Tanpa menunggu jawaban Alan, Hana langsung berbalik.
"Gue panggil Pak Damar!"
Ia berlari secepat mungkin meninggalkan lorong belakang.
Alan tetap berdiri di depan pintu.
Tangannya mengetuk pelan.
"Pia."
"Denger suara gue?"
Hening beberapa detik.
Lalu terdengar balasan lirih.
"...Iya..."
Alan mengembuskan napas pelan.
"Bagus."
"Jangan panik."
"Gue di sini."
Walaupun suaranya tetap datar...
Untuk pertama kalinya...
Nada bicaranya terdengar berusaha menenangkan seseorang.
Hana berlari keluar dari lorong belakang perpustakaan.
Napasnya memburu.
"Pak!"
Suara itu membuat beberapa siswa yang masih berada di depan perpustakaan spontan menoleh.
Pak Damar yang sedang berbicara dengan staf administrasi langsung menghampiri Hana.
"Hana? Ada apa?"
Hana berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Pak... Sephia..."
Pak Damar langsung mengernyit.
"Kenapa Sephia?"
"Dia... dia terkunci di ruang arsip."
Wajah Pak Damar berubah serius.
"Terkunci?"
Hana mengangguk cepat.
"Alan udah coba buka pintunya, Pak... tapi nggak bisa."
Tanpa membuang waktu, Pak Damar segera menoleh ke arah staf perpustakaan.
"Pak, kunci ruang arsip di mana?"
Staf itu tampak bingung.
"Ruang arsip?"
"Iya. Cepat."
"Pak Joko yang biasa pegang kuncinya, Pak. Tapi beliau lagi cuti."
Pak Damar menghela napas pelan, berusaha tetap tenang.
"Coba cari kunci cadangannya. Di ruang administrasi atau di laci meja petugas. Cepat."
"Baik, Pak."
Staf itu segera berlari menuju ruang administrasi.
Di tengah kepanikan itu...
Seorang siswa kelas dua belas yang kebetulan melewati koridor depan perpustakaan menghentikan langkahnya.
"Kok rame?"
Hana spontan menoleh.
"...Kak Sagara."
Sagara mendekat beberapa langkah.
Tatapannya langsung menangkap wajah Hana yang pucat.
"Ada apa?"
Hana menelan ludah.
"Pia..."
"...terkunci di ruang arsip."
Hening.
Sagara tidak bertanya apa pun.
Namun sorot matanya berubah dalam sekejap.
Ia langsung membalikkan badan.
Lalu berlari menuju lorong belakang perpustakaan.
"Kak Sagara!"
Hana refleks memanggil.
Namun Sagara tidak berhenti.
Melihat itu, Hana segera berlari menyusul.
Pak Damar pun mempercepat langkah ke arah yang sama setelah memastikan staf perpustakaan mencari kunci cadangan.
Sementara itu...
Di depan pintu ruang arsip...
Alan masih berdiri di tempatnya.
Sesekali ia mengetuk pintu pelan.
"Pia."
"Denger suara gue?"
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
Tok...
Sebuah ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
Alan mengembuskan napas lega.
Setidaknya...
Sephia masih sadar.
Namun suara ketukan itu...
Jauh lebih lemah dibanding sebelumnya.
Namun tak lama kemudian, suara langkah kaki berlari terdengar semakin dekat.
Alan menoleh.
Sagara muncul lebih dulu di ujung lorong.
Napasnya sedikit memburu, tapi langkahnya tidak melambat sedikit pun.
Begitu melihat pintu ruang arsip yang tertutup rapat, ia langsung menghampirinya.
Tanpa bertanya kepada siapa pun...
Sagara mengetuk pintu itu pelan.
Tok.
Tok.
"Pia."
Suara Sagara terdengar tenang.
"Ini gue."
Hening beberapa detik.
Lalu...
"...Kak..."
Suara lirih dari balik pintu membuat rahang Sagara menegang.
Ia menutup mata sejenak.
"Gapapa."
"Dengerin suara gue."
"Lo aman."
"Kita lagi buka pintunya."
Di balik pintu...
Sephia menggenggam buku di dadanya semakin erat.
Air matanya terus mengalir.
Ia ingin menjawab.
Namun napasnya mulai tidak beraturan.
Melihat perubahan ekspresi Sagara, Alan sadar...
Keadaan Sephia tidak sesederhana terjebak di dalam ruangan.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki lain kembali terdengar.
Pak Damar datang bersama staf perpustakaan.
"Bagaimana?"
"Belum bisa dibuka, Pak," jawab Alan singkat.
Pak Damar langsung mencoba memutar gagang pintu.
Tetap terkunci.
"Mana kunci cadangannya?"
Staf perpustakaan menggeleng panik.
"Masih dicari, Pak. Belum ketemu."
Pak Damar mengembuskan napas panjang.
"Kalau lima menit lagi belum ketemu, kita panggil satpam. Pintunya harus dibuka."
Tak lama setelah itu...
Hana akhirnya tiba di lorong belakang.
Napasnya terengah karena berlari.
Matanya langsung mencari pintu ruang arsip.
"Pak..."
"Gimana?"
Pak Damar menggeleng pelan.
"Belum berhasil."
Wajah Hana semakin pucat.
Ia mendekati pintu.
"Pia..."
"Pia, ini gue sama Kak Sagara."
"Nanti lo keluar, ya."
Pak Damar mengeluarkan ponselnya.
"Saya hubungi pihak sekolah. Kalau perlu, kita minta petugas keamanan bawa alat."
Belum sempat panggilan tersambung...
Dari balik pintu terdengar suara benda jatuh.
Bruk.
Semua orang langsung terdiam.
"...Pia?"
Suara Sagara kali ini terdengar lebih tegas.
Tidak ada jawaban.
Alan mengepalkan tangannya.
Tatapannya tidak lagi lepas dari pintu ruang arsip.
Sesuatu di balik pintu itu...
Baru saja terjadi.
Bruk.
Suara itu membuat seluruh lorong belakang mendadak sunyi.
"Pia!"
Sagara spontan menghantam pintu dengan telapak tangannya.
"Pia! Denger gue!"
Tidak ada jawaban.
Pak Damar langsung mengambil keputusan.
"Jangan tunggu kunci lagi!"
"Pak, satpam!"
Dua orang satpam berlari menghampiri membawa linggis.
"Mohon minggir dulu."
Alan dan Sagara segera memberi ruang.
Linggis diselipkan ke sela pintu.
Sekali.
Dua kali.
Suara kayu mulai berderak.
Krak...
"Sedikit lagi!"
Brak!
Pintu ruang arsip akhirnya terbuka.
Tanpa menunggu siapa pun, Sagara langsung berlari masuk.
"Pia!"
Ruangan itu masih gelap.
Cahaya dari lorong hanya mampu menerangi sebagian kecil isi ruang arsip.
Di dekat rak paling ujung...
Sephia tergeletak tak sadarkan diri.
Tubuhnya meringkuk di lantai.
Wajahnya pucat.
Sementara buku bersampul hijau tua yang tadi ia cari masih tergenggam lemah di tangannya.
Sagara langsung berlutut di sampingnya.
"Pia..."
Tangannya menyentuh pelan pipi Sephia.
Tidak ada respons.
Jantungnya serasa diremas.
Dengan hati-hati, ia menyelipkan satu tangan di belakang punggung Sephia, sementara tangan satunya menopang kedua lutut gadis itu.
Perlahan, ia mengangkat tubuh Sephia ke dalam gendongannya.
"Pak... saya bawa ke UKS."
Pak Damar mengangguk cepat.
"Ya. Hana, ikut!"
"Iya, Pak!"
Hana segera berlari mengikuti Sagara yang lebih dulu keluar dari ruang arsip.
Sepanjang lorong, beberapa siswa yang masih berada di sekitar perpustakaan langsung menepi.
Tatapan mereka mengikuti Sagara yang berlari sambil menggendong Sephia.
Wajahnya tetap tenang.
Namun siapa pun bisa melihat...
Raut khawatir itu tak lagi bisa ia sembunyikan.
Alan keluar paling akhir dari ruang arsip.
Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh sekali ke dalam ruangan yang kini kosong.
Tatapannya berhenti pada pintu yang rusak.
Lalu perlahan mengembuskan napas.
Tanpa mengatakan apa pun, ia ikut berjalan menuju UKS.
Lorong perpustakaan kembali sunyi.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun...
Bagi beberapa orang...
Kejadian hari itu akan mengubah banyak hal.