"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. 20 Tahun yang Hilang
Malam itu, tidak ada seorang pun di dalam penthouse The Obsidian yang mampu memejamkan mata.
Bahkan setelah koridor kembali kosong.
Bahkan setelah seluruh sistem keamanan diperiksa ulang.
Bahkan setelah Adrian meningkatkan protokol keamanan hingga tingkat maksimum.
Bayangan pria bermantel hitam itu masih membekas jelas di benak mereka.
Dan yang jauh lebih mengganggu daripada sosok misterius tersebut adalah kalimat yang ditulis oleh George Corisand.
Jika kau membaca ini, berarti Leonard akhirnya kembali.
Kalimat itu bukan dugaan.
Bukan spekulasi.
Melainkan peringatan.
George Corisand telah mengetahui sesuatu dua puluh tahun lalu.
Sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Sesuatu yang kini mulai bangkit kembali.
Pukul dua dini hari.
Ruang kerja Adrian masih terang.
Monitor-monitor besar memenuhi ruangan dengan cahaya kebiruan.
Adrian duduk di depan layar utama.
Sementara Alea berdiri di belakangnya sambil memegang secangkir kopi yang sudah lama kehilangan panasnya.
Di layar terpampang puluhan dokumen hasil digitalisasi dari Arsip 17.
Selama tiga jam terakhir mereka membedah setiap halaman.
Setiap surat.
Setiap laporan.
Setiap foto.
Dan semakin banyak mereka membaca, semakin besar perasaan bahwa mereka sedang memasuki wilayah yang tidak pernah dimaksudkan untuk ditemukan.
"Berhenti."
Suara Alea membuat Adrian menghentikan proses gulir dokumen.
"Apa?"
"Tampilkan halaman itu lagi."
Adrian kembali ke halaman sebelumnya.
Sebuah laporan rapat internal Aurora tertanggal Oktober 2006.
Tidak ada yang aneh pada pandangan pertama.
Namun mata Alea tertuju pada sesuatu yang berbeda.
Sebuah nama.
Nama yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Peserta Rapat:
George Corisand
William Hutama
Leonard Voss
Dr. Helena Armand
Alea menunjuk nama terakhir.
"Siapa Helena Armand?"
Adrian mengernyit.
"Itu pertama kalinya nama itu muncul."
"Periksa semua arsip."
Jari Adrian langsung bergerak cepat.
Pencarian dimulai.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Lalu hasilnya muncul.
Dan keduanya langsung terdiam.
Karena nama Helena Armand muncul sebanyak tujuh belas kali.
Namun seluruh dokumen yang memuat namanya memiliki satu kesamaan yang sangat aneh.
Setengah isi dokumen telah dihapus.
Disensor.
Dipotong.
Diblokir secara sengaja.
"Ini bukan kerusakan arsip."
Suara Adrian terdengar pelan.
"Ini penghapusan sistematis."
Alea mengangguk.
Ia mulai memahami pola yang selama ini tersembunyi.
Leonard Voss dihapus dari sejarah.
Helena Armand dihapus dari dokumen.
Aurora disembunyikan dari publik.
Dan semua itu terjadi pada tahun yang sama.
Dua puluh tahun lalu.
Kemudian Adrian menemukan sesuatu.
Sebuah lampiran audio.
Ukurannya kecil.
Hanya dua menit.
Namun berbeda dengan file-file lain.
File ini tidak rusak.
Tidak terenkripsi.
Tidak terpotong.
Seolah sengaja dibiarkan utuh.
Adrian dan Alea saling berpandangan.
Lalu Adrian menekan tombol putar.
Suara statis terdengar beberapa detik.
Lalu muncul suara seorang wanita.
Lembut.
Tenang.
Namun jelas sedang ketakutan.
"Jika seseorang menemukan rekaman ini, berarti semuanya sudah terlambat."
Alea langsung menegakkan tubuh.
"Helena."
Adrian mengangguk.
Mereka terus mendengarkan.
"Mereka tidak memahami apa yang sebenarnya sedang mereka bangun."
"George menganggap ini terobosan."
"William menganggap ini peluang."
"Leonard menganggap ini masa depan."
Suara Helena terdengar semakin gemetar.
"Tapi mereka tidak melihat risikonya."
Keheningan sesaat.
Kemudian kalimat berikutnya membuat darah mereka membeku.
"Aurora tidak pernah dirancang untuk menghasilkan keuntungan."
"Aurora dirancang untuk mengendalikan manusia."
Ruangan seketika sunyi.
Tak ada yang berbicara.
Tak ada yang bergerak.
Kalimat itu menggantung di udara seperti petir yang baru saja menyambar.
Alea merasakan tenggorokannya mengering.
"Apa maksudnya?"
Adrian tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, logikanya sendiri mulai kehilangan pijakan.
Rekaman berlanjut.
"Jika Leonard tetap menjalankan fase ketiga, tidak akan ada jalan kembali."
"Aku sudah mencoba menghentikannya."
"Aku sudah mencoba memperingatkan mereka."
"Tapi semuanya terlambat."
Suara napas Helena mulai terdengar panik.
Lalu suara benturan keras.
Seolah seseorang membuka pintu secara paksa.
Kemudian suara pria.
Samar.
Jauh.
Tidak jelas.
Namun cukup untuk membuat Adrian menghentikan rekaman.
Ia memutar ulang bagian terakhir.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dan setiap kali diputar, ekspresinya semakin berubah.
"Apa?"
tanya Alea.
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia memperbesar gelombang audio.
Membersihkan noise.
Meningkatkan frekuensi suara.
Lalu memutar ulang bagian terakhir.
Kini suara pria itu terdengar lebih jelas.
Hanya satu kalimat.
Namun cukup membuat seluruh tubuh Alea menegang.
Karena kalimat itu berbunyi:
"Helena, kau tidak mengerti. Ini satu-satunya cara menyelamatkan mereka."
Adrian mematikan audio.
Ruangan kembali hening.
Namun kini ada sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
"Alea..."
Suara Adrian terdengar berat.
"Aku mengenali suara itu."
Jantung Alea berdetak keras.
"Siapa?"
Adrian menatapnya.
Lama.
Sangat lama.
Seolah dirinya sendiri tidak ingin mempercayai jawabannya.
Lalu akhirnya ia berkata:
"Suara itu milik kakekku."
Dunia seolah berhenti berputar.
William Hutama.
Salah satu pendiri Aurora.
Orang yang selama ini mereka anggap korban dari sebuah rahasia.
Ternyata terlibat jauh lebih dalam daripada yang mereka kira.
"Tidak mungkin..."
bisik Alea.
Adrian menggeleng.
"Aku tumbuh mendengar suara itu."
"Tidak mungkin aku salah."
Alea mundur satu langkah.
Pikirannya mulai berputar.
Jika William mengetahui semuanya...
maka George juga pasti mengetahui sesuatu.
Dan jika keduanya mengetahui kebenaran...
mengapa mereka menguburnya?
Tepat saat itulah layar monitor utama Adrian mendadak berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu seluruh dokumen Aurora tertutup secara otomatis.
Sebuah jendela baru muncul.
Hitam pekat.
Tanpa identitas.
Tanpa logo.
Tanpa alamat pengirim.
Hanya sebuah pesan.
KALIAN SEDANG MEMBUKA PINTU YANG TIDAK BOLEH DIBUKA.
Alea langsung mendekati monitor.
"Dia lagi."
Adrian sudah mengetik cepat.
Namun kali ini berbeda.
Karena sebelum ia sempat melacak sumber pesan tersebut, kalimat kedua muncul.
JIKA KALIAN INGIN MENGETAHUI APA YANG TERJADI PADA 17 OKTOBER 2006...
Lalu muncul koordinat lokasi.
Sebuah titik di pinggiran Valerika.
Dekat kawasan industri lama yang sudah lama ditinggalkan.
Pesan berikutnya muncul.
DATANG SENDIRI.
TANPA POLISI.
TANPA PENGAWAL.
TANPA KELUARGA.
Lalu kalimat terakhir.
Kalimat yang membuat Alea memucat.
DAN BAWA FOTO HELENA ARMAND.
Layar mendadak kembali normal.
Pesan menghilang.
Tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Adrian dan Alea saling menatap.
Mereka tahu ini bisa menjadi jebakan.
Bisa menjadi perangkap yang sama seperti gudang tua beberapa hari lalu.
Namun mereka juga tahu satu hal.
Untuk pertama kalinya sejak misteri Aurora dimulai...
seseorang akhirnya menawarkan jawaban.
Di luar sana, hujan mulai turun membasahi kota Valerika.
Jauh di kawasan industri yang telah lama mati, sebuah bangunan tua berdiri sendirian di tengah kegelapan.
Di salah satu jendelanya, cahaya redup tampak menyala.
Seorang pria tua duduk di depan meja kayu yang penuh debu.
Di hadapannya terdapat foto usang seorang wanita muda.
Dr. Helena Armand.
Pria itu mengusap foto tersebut perlahan.
Kemudian menatap jam tua di dinding.
Waktu hampir habis.
Dua puluh tahun penantian akhirnya mendekati ujungnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, matanya memperlihatkan sesuatu yang menyerupai harapan.
"Datanglah..."
bisiknya pelan.
"Karena hanya kalian yang bisa menyelesaikan kesalahan kami."