NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Transaksi Tanpa Wajah

Matahari pagi kota Valerika terbit dengan pendaran cahaya yang tajam dan dingin.

Sinar kekuningan itu menembus barisan kaca besar setinggi langit-langit yang mengitari Lantai 50 Gedung Hutama Industries, memantulkan bayangan simetris dari lanskap kota yang mulai menggeliat sibuk.

Di dalam ruang kerja utama Adrian, suasana telah kembali sepenuhnya ke setelan pabrik, steril, teratur, dan dipenuhi oleh deru pelan mesin pencetak dokumen serta ketukan berirama jemari di atas papan tik mekanis.

Tidak ada lagi sisa-sisa dari kehangatan teh melati atau pelukan menenangkan dari rumah kolonial di distrik lama semalam.

Adrian telah kembali mengenakan zirah terbaiknya, setelan tiga potong berwarna biru dongker dengan potongan pas badan yang memancarkan aura ketegasan tanpa kompromi.

Doni melangkah masuk setelah mengetuk pintu dua kali dengan ritme yang teratur.

Di tangannya, dia membawa sebuah tablet digital komersial tingkat tinggi, yang kemudian diletakkannya dengan saksama di hadapan Adrian.

Saat itu, Adrian sedang memeriksa laporan analisis arus kas pasca-RUPSLB Corisand Media Group yang baru masuk dari tim analis bursa.

"Semua pergerakan berjalan sesuai dengan grafik prediksi yang kita susun minggu lalu, Tuan Adrian," lapor Doni dengan nada suara formal yang datar.

"Sentimen pasar terhadap pengumuman merger melonjak hingga dua belas persen pada pembukaan pasar pagi ini. Valuasi gabungan kita meroket tajam. Namun, ada satu hal yang di luar kebiasaan... Ibu Alea sudah berada di kantornya sejak pukul tujuh pagi. Tim asistensi kita di sana melaporkan bahwa beliau membatalkan semua jadwal pertemuan informal dan meminta draf amandemen kontrak operasional dikirimkan ke mejanya hari ini juga."

Adrian menghentikan gerakan pena Montblanc di jemarinya sejenak.

Alisnya bertaut hampir tak terlihat, sebuah tanda kecil bahwa ada sesuatu yang bergerak di luar kalkulasi matematisnya.

"Amandemen?"

"Benar, Tuan. Beliau secara spesifik meminta pengetatan klausul hak akses wilayah operasional serta pembagian privasi yang lebih radikal. Tampaknya, Ibu Alea ingin memastikan bahwa tidak ada lagi interaksi fisik maupun komunikasi di luar jam kerja resmi korporasi." Doni melirik bosnya dengan hati-hati, mencoba membaca ekspresi mikro di wajah pria itu.

Namun, wajah Adrian tetap sedatar permukaan danau es di musim dingin.

"Bagus," jawab Adrian pendek, suaranya bariton tanpa riak emosi sedikit pun.

"Itu artinya dia akhirnya paham bagaimana cara kerja aliansi strategis ini. Setujui semua permintaannya tanpa kecuali. Masukkan poin tambahan bahwa seluruh komunikasi koordinasi setelah jam lima sore wajib melalui jalur sekretariat bersama. Jangan ada lagi panggilan langsung ke nomor pribadi."

Adrian menarik napas dalam, meyakinkan dirinya sendiri bahwa efisiensi total inilah yang sebenarnya ia butuhkan sejak awal.

Semakin tebal dinding pembatas yang dibangun oleh Alea, semakin aman pula posisinya untuk menjaga Kirana di tempat teduh yang tak tersentuh oleh kejamnya dunia luar.

Namun, di sudut benaknya yang paling dalam, ada denyut aneh yang menolak untuk sepenuhnya merasa puas dengan kepatuhan dingin yang tiba-tiba ditunjukkan oleh wanita itu.

Ada sesuatu yang terasa hilang, meskipun semuanya berjalan sesuai rencana.

Tepat pukul dua siang, mereka dijadwalkan untuk bertemu di ruang konferensi netral, sebuah restoran privat dengan sistem pengamanan ketat di kawasan pusat bisnis SCBD yang sengaja dipesan seluruhnya untuk agenda penandatanganan berkas final restrukturisasi.

Alea Corisand tiba tepat waktu, bahkan beberapa menit lebih awal.

Penampilannya hari ini adalah sebuah pernyataan perang yang anggun terhadap segala bentuk kelemahan emosional.

Dia mengenakan gaun formal berpotongan lurus berwarna putih gading dengan rambut hitamnya yang disanggul rapi tanpa cela satu helai pun.

Tidak ada lagi gumpalan kelelahan yang menggantung di bahunya, tidak ada lagi mata yang berkaca-kaca seperti malam sebelumnya.

Tatapannya saat menatap Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan benar-benar kosong, jenis pandangan profesional yang biasa ia berikan kepada rival bisnis kelas berat yang belum tentu ia sukai, namun harus ia hadapi.

"Selamat siang, Tuan Hutama," sapa Alea. Suaranya terdengar renyah, jernih, profesional, dan sepenuhnya berjarak.

Adrian menarik kursi berat berlapis beludru di seberang meja marmer, mengancingkan kancing jasnya terlebih dahulu sebelum duduk dengan tenang.

"Selamat siang, Nyonya Corisand. Aku sudah memeriksa draf amandemen yang kau ajukan pagi ini. Sangat taktis dan dipikirkan dengan matang."

Alea tersenyum tipis, jenis senyuman formal tanpa melibatkan otot mata yang biasa muncul di halaman muka majalah-majalah bisnis Forbes.

"Saya hanya belajar dari guru yang terbaik di industri ini, Tuan Hutama. Anda mengingatkan saya dengan sangat baik semalam bahwa mencampuradukkan peran panggung dengan realitas adalah kesalahan fatal yang amat amatir. Saya rasa, membatasi wilayah domestik kita secara hukum adalah cara terbaik agar performa kita di depan publik tetap prima tanpa adanya polusi emosional yang tidak perlu."

Alea menggeser dokumen tebal bersampul kulit hitam di atas meja marmer dengan gerakan jemari yang tenang. "Mulai hari ini, kediaman penthouse hanya akan digunakan jika ada agenda jamuan makan malam resmi dengan investor luar atau delegasi asing. Di luar agenda resmi tersebut, saya telah memutuskan untuk kembali tinggal di kediaman pribadi saya yang lama di distrik barat. Kita hanya akan bertindak sebagai suami-istri saat lampu kamera media menyala. Begitu lampu-lampu itu padam, kita kembali menjadi dua orang asing yang kebetulan memiliki target profit yang sama."

Adrian menatap dokumen di depannya selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya untuk menatap sepasang mata marun Alea.

Di dalam bola mata itu, tidak ada lagi riak emosi yang tertinggal.

Tidak ada lagi pertanyaan menuntut atau tatapan terluka yang meminta konfirmasi tentang 'apakah dia dipandang sebagai manusia'.

Alea telah seutuhnya menjelma menjadi robot korporasi yang dingin, persis seperti dirinya sendiri.

Ini adalah sebuah kemenangan taktis yang sempurna bagi Adrian.

Dia tidak perlu lagi repot-repot memikirkan cara untuk menepis perasaan wanita itu atau merasa bersalah karena mengabaikannya.

Tapi mengapa, di sudut hatinya yang paling gelap, ada rasa tidak nyaman yang menggores egonya? Adrian menepis perasaan aneh itu dengan kasar.

Di dalam hatinya hanya ada Kirana, dan apa yang dilakukan Alea saat ini justru mempermudah jalannya untuk kembali pada kekasihnya tanpa perlu membawa beban moral pernikahan kontrak ini.

"Sebuah kesepakatan yang sangat adil dan menguntungkan kedua belah pihak," ucap Adrian dengan nada suara yang sedingin es.

Dia mengambil pena Montblanc miliknya, membuka tutupnya dengan gerakan mantap, lalu menggoreskan tanda tangan yang tegas di atas lembar amandemen tersebut.

Alea menyusul dengan mengambil penanya sendiri, menggoreskan tanda tangannya di samping tanda tangan Adrian tanpa ada keraguan sedikit pun di jemarinya.

Ketukan ujung pena di atas kertas tebal itu terdengar seperti suara palu hakim yang mengetok mati seluruh kemungkinan hubungan interpersonal atau kedekatan emosional di antara mereka berdua.

Garis pembatas telah resmi ditarik, legal, dan tidak bisa diganggu gugat.

Begitu berkas ditutup dan diserahkan kembali kepada Doni yang berdiri di dekat pintu, Alea langsung berdiri dari kursinya.

Dia merapikan letak tas tangan kulit mewahnya dengan gerakan yang sangat anggun.

"Rapat pleno lanjutan dengan konsorsium Eropa akan diadakan lusa pukul sembilan pagi. Saya harap tim analis dari Hutama Industries sudah menyiapkan draf valuasi aset yang baru yang telah disesuaikan dengan pergerakan pasar pagi ini," ujar Alea, nadanya datar dan memerintah.

"Timku selalu siap dan tidak pernah mengecewakan, Alea," sahut Adrian, ikut berdiri dari posisinya untuk memberikan penghormatan formal terakhir.

Alea mengangguk formal sebagai tanda perpisahan, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan privat tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi bahkan untuk satu kali pun.

Gerakan tubuhnya begitu anggun, tegas, namun mutlak, meninggalkan aroma parfum kamomil dan kayu cendana yang samar dan menenangkan di udara ruangan yang kini terasa kosong.

Adrian berdiri diam di tempatnya selama beberapa menit, menatap pintu kayu yang telah tertutup rapat di ujung ruangan.

Dia meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana bahan mahalnya, membiarkan dadanya kembali mengeras seperti dinding batu.

Sandiwara besar ini kini telah memiliki aturan main baru yang jauh lebih ketat dan mengikat.

Adrian bertekad di dalam hatinya untuk memainkan peran ini dengan sempurna dan memenangkannya hingga akhir, demi masa depan damai yang telah ia janjikan pada wanita yang menunggunya di rumah kolonial itu meski dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa bayangan Alea yang dingin kini mulai meninggalkan jejak samar yang tidak biasa di dalam kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!