NovelToon NovelToon
Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.

Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.

Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehancuran Bu Mirna

Keesokan paginya, ruang HRD terasa seperti ruang eksekusi bagi Reyhan. Alih-alih langsung dipecat seperti ketakutan terbesarnya di dalam got semalam, Reyhan justru duduk membeku menerima selembar kertas putih.

"Memecat karyawan tidak semudah itu, Pak Reyhan. Perusahaan harus mematuhi regulasi. Mengingat ini adalah pelanggaran ketertiban pertama Anda yang berujung kegaduhan masal, manajemen memutuskan untuk mengeluarkan Surat Teguran Tertulis. Jangan diulangi lagi ya, Pak Reyhan."

Reyhan hanya bisa mengangguk pasrah. Harga dirinya sudah minus. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, membawa selembar surat peringatan yang menjadi noda hitam dalam kariernya yang semula gemilang.

...***...

Beberapa hari berlalu.

Ibunda Reyhan sengaja memilih untuk menunda kepulangannya ke rumah. Rasa penasaran sekaligus firasat buruk yang terus menggelitik hatinya, membuatnya memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah Reyhan.

Bu Mirna berusaha keras menyangkal pikiran-pikiran negatifnya. Dalam hati kecilnya, ia terus merapalkan doa dan harapan bahwa Nadine, wanita yang selama ini ia agung-agungkan di depan Xena, adalah sosok menantu terbaik yang pilihannya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa pilihannya membela Nadine tidak salah.

Hari itu adalah hari gajian. Kebetulan, Reyhan dan Nadine bekerja di bawah naungan payung perusahaan besar yang sama, sehingga tanggal turunnya upah mereka pun serentak.

Bu Mirna duduk di ruang tengah sejak sore, menanti dengan senyum yang dipaksakan. Di kepalanya memori masa lalu mendadak berputar. Biasanya, setiap kali Reyhan gajian, rumah akan selalu dipenuhi makanan lezat. Entah itu martabak manis spesial dengan keju melimpah, pizza berukuran besar, mi ayam legendaris, atau camilan apa pun yang dibawa pulang sebagai ritual perayaan bahwa sang anak kesayangan telah menerima hasil jerih payahnya.

Selama bertahun-tahun, Bu Mirna selalu menyangka bahwa semua makanan itu adalah inisiatif dan bentuk bakti Reyhan kepadanya. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik semua kemewahan kecil di hari gajian itu, Xena-lah yang selalu memesan, bahkan membayar semuanya sebagai bentuk bagi-bagi keberkahan.

Suara mobil Reyhan terdengar berhenti di halaman. Bu Mirna bergegas bangkit, menyambut anaknya dengan binar mata penuh harap.

Namun Reyhan melangkah masuk dengan bahu merosot. Tangannya kosong. Tidak ada kotak martabak, tidak ada kantong plastik berisi makanan. Wajahnya pun ditekuk.

Tak lama berselang, Nadine juga pulang dari urusannya. Katanya pamit mau ke ATM karena sudah gajian. Wanita itu langsung berjalan melewati Bu Mirna begitu saja, sibuk mengetik sesuatu di ponsel tanpa menoleh. Nadine sama sekali tidak membawa belanjaan apa pun, bahkan tidak ada basa-basi untuk sekadar membelikan lauk matang.

Tidak ada momen makan bersama yang hangat.

Bu Mirna terpaksa berjalan ke dapur sendirian. Ia membuka tudung saji dan hanya menemukan sisa nasi dingin. Dengan pasrah, ia menyalakan kompor, menggoreng sebutir telur ceplok, lalu menuangkan kecap manis di atasnya. Di meja makan yang sepi itu, Bu Mirna mengunyah makanannya dengan tenggorokan yang terasa menyempit.

Baik Reyhan maupun Nadine sibuk dengan urusan masing-masing di dalam kamar. Tidak ada satu pun dari mereka yang datang ke dapur, mengetuk pintu, atau sekadar bertanya, Ibu mau makan lauk apa? Biar kami belikan. Semuanya tampak acuh tak acuh.

Kekecewaan Bu Mirna belum usai, namun malam itu ia justru dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal.

Menjelang pukul delapan malam, beberapa orang asing tiba-tiba datang ke rumah. Dari jendela ruang tamu, Bu Mirna melihat dua orang yang tampaknya merupakan bagian kecil dari keluarga Nadine, disusul oleh seorang pria paruh baya berpakaian rapi yang membawa tas kerja kecil, seorang penghulu dari KUA.

Rumah itu mendadak disulap menjadi tempat prosesi kilat. Bu Mirna yang berada di rumah itu merasa seperti orang asing yang benar-benar tidak dianggap. Ia sama sekali tidak dilibatkan, bahkan tidak diberi tahu bahwa malam ini akan ada acara penting.

Dengan hati yang bergemuruh, Bu Mirna menghampiri Reyhan yang sedang membenarkan kerah kemejanya.

"Rey... ini ada acara apa? Kenapa ada banyak tamu?

"Aku mau nikah lagi dengan Nadine, Bu. Nggak sengaja ucap talak. Pernikahan ini mau didaftarkan resmi ke KUA, biar legal di mata hukum negara," jawabnya singkat, lalu berbalik mengabaikan ibunya.

Bu Mirna tertegun. Entah mengapa, alih-alih merasa bahagia karena anaknya akhirnya meresmikan hubungan dengan wanita pilihannya, hati Bu Mirna justru diselimuti keraguan yang amat sangat. Bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Bukankah ia yang dulu mendesak Reyhan untuk meninggalkan Xena demi Nadine yang dianggapnya lebih sempurna?

Bu Mirna memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak dan cemas. Firasatnya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah, namun ia tidak berdaya untuk menghentikannya.

Karena waktu yang sangat mepet dan segala sesuatunya telah diatur sepihak oleh Nadine, pernikahan kilat itu pun tetap terlaksana. Prosesi ijab kabul berlangsung cepat. Begitu dokumen ditandatangani dan doa selesai dibacakan, para tamu serta petugas KUA berpamitan pulang karena malam semakin larut.

Setelah pintu depan tertutup rapat dan suasana rumah kembali sepi, Nadine berdiri di tengah ruang tamu. Ia menatap buku nikah dan berkas-berkas pernikahan di tangannya dengan senyum puas.

Seketika tawa tawa devil yang belum pernah Bu Mirna dengar sebelumnya, pecah dari bibir Nadine.

"Hahaha... Mas Reyhan, Mas Reyhan, apa susahnya sih memulai hidup baru dan lupakan masa lalu? Aku juga gak buruk-buruk amat jadi seorang wanita. Ya... cuma tak bisa kasih keturunan saja." Nadine tertawa lagi.

DEG!

Bu Mirna yang baru saja keluar dari arah dapur langsung membeku. Langkah kakinya terhenti. Apa maksudnya tidak bisa memberi keturunan?

Rasa syok yang luar biasa mendorong Bu Mirna untuk melangkah maju. Ia menghampiri Nadine yang masih memegangi dokumen pernikahan mereka setelah para tamu semua sudah pergi.

"Apa maksud perkataanmu barusan, Ndin?!" tanya Bu Mirna setengah berteriak, suaranya melengking.

Nadine menoleh. Alih-alih takut atau merasa bersalah, wajahnya justru menunjukkan ekspresi datar. Tidak ada lagi senyum manis menantu idaman. Baginya karena surat nikah resmi sudah di tangan, tidak ada lagi topeng yang harus ia pertahankan.

"Perkataan yang mana, Bu?" tanya Nadine santai.

"Tak bisa kasih keturunan? Bukankah sudah ada Aksara?! Aksara itu anakmu dengan Reyhan, kan?!" cecar Bu Mirna berharap apa yang didengarnya tadi hanyalah salah paham.

Baru saja Nadine membuka mulut untuk menjawab, Reyhan tiba-tiba datang.

"Aksara bukan anakku, Bu," ucap Reyhan.

"Apa maksudmu, Reyhan?! Jangan asal bicara kamu! Jangan bercanda di depan Ibu!"

"Reyhan gak asal bicara, Bu. Selama ini... aku, bahkan Ibu, sudah dibohongi oleh Nadine. Aksara bukan anakku. Sebenarnya selama ini yang mandul itu aku, Bu, Bukan Xena "

Kata-kata Reyhan bagaikan petir di siang bolong Tubuh wanita tua itu limbung, ia harus berpegangan pada sandaran kursi agar tidak ambruk ke lantai.

"Apa?! Gak mungkin, Reyhan! Gak mungkin! Kamu anak Ibu yang gagah, kamu sempurna! Xena-lah yang tidak sempurna! Xena yang tidak bisa memberikan Ibu cucu!"

Reyhan menggeleng lemah, "Tidak begitu kenyataannya, Bu. Hasil pemeriksaan medis dulu menyatakan kalau kualitas spermaku yang bermasalah. Xena sengaja menukar hasil pemeriksaan itu demi melindungiku. Dia tidak mau aku dicemooh oleh keluarga, dia tidak mau harga diriku sebagai laki-laki jatuh di depan Ibu. Tapi jahatnya aku, aku malah mengkhianati dia dengan wanita ini." Reyhan menunjuk Nadine.

Bu Mirna terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. "Lalu kalau kamu mandul, Aksara itu anak siapa, Rey, hiks..hiks..hiks.."

"Dia juga bukan anaknya Nadine, Bu. Nadine sama denganku, dia memiliki kekurangan. Bahkan rahimnya sudah diangkat. Aksara itu betul-betul anak adopsi yang dia bawa untuk menjebakku."

Bu Mirna langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air matanya tumpah ruah. Sejauh ini rupanya dia telah dibohongi.

Bu Mirna masih mencoba menyangkal kenyataan pahit ini. Ia menatap Nadine dengan tatapan penuh kebencian. "Ini tidak benar, Ini pasti konspirasi kalian untuk mengerjai Ibu, kan?! Nadine, katakan kalau ini bohong!"

"Inilah kenyataannya, Bu. Tidak ada yang bohong. Mas Reyhan mandul, aku tidak punya rahim, dan Aksara anak orang lain. Adil, kan?"

Selesai. Tidak ada kata maaf yang terlontar dari bibir Nadine. Tidak ada pula penyesalan dari wajahnya.

Bu Mirna menangis sejadi-jadinya di ruang tamu yang sepi itu. Ia maju dan memaki-maki Nadine, memukul lengan wanita itu dengan frustrasi.

"Kenapa kamu sejahat ini, Nadine?! Kenapa kamu menghancurkan keluarga saya?!"

Nadine dengan mudah menepis tangan Bu Mirna, "Tentu saja untuk meminta pertanggungjawaban atas kelakuan anak Ibu yang sudah merusak masa depan saya. Sekarang, kami sudah sah secara hukum. Jadi, selamat datang di kehidupan yang sesungguhnya, Ibu Mertua."

Bersambung.

1
MULIANA💦
eh, istri macam apa ini?
MULIANA💦
di alam kubur /Facepalm//Facepalm/
MULIANA💦
mereka lupa, kalo calon xena seorang dokter 🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
kyknya emang si rey ini perlu dibuang dia kali deh biar sadar🤧
〈⎳ FT. Zira
ini namanya karma instan
Noey Aprilia
Mngkn kl nadine prgi,suami durjana'nya bkln nysel....tp mngkn skrng nadine lg nrima hkumn jg sih,kn dia udh jd pelakor....tp bkan'nya d syang,mlah d skitin trs.....
sunaryati jarum
Lebih baik lepas dari Rayhan ,Nadine .Walau awalnya kau yang menggoda duluan,toh kamu tidak dapat hatinya.
sunaryati jarum
Yang mendengarkan itu pemuda yang pernah bersama Nadine
〈⎳ FT. Zira
jadi pahlawan tapi hasil akhirnya gak sma Rey.. hasil akhir Xena tetep gak bakal balik ma dirimu🤧
Noey Aprilia
Mnimal reyhan msh hdup lah,jd kluarganya ga bkln nuntut xena sbg bntuk kmpnsasi....
jd pnsran,gmna nsib emaknya reyhan???kn dia biang keroknya....
Noey Aprilia
Dr awl emng niatnya ga baik,jdinya gt deehhh......sukur2 kl msih slamat,kl ga...wasalam.....
Cha Libra
males bnget Npa s xena juga d bkin lemot bnget krakternya
〈⎳ FT. Zira
makanya kubilang kannn.. tuh emak minta di tabok.. sekarang taboknya minta dobel🤧
〈⎳ FT. Zira
minta di tabok apa gimana emak satu ini
falea sezi
waduh
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
yg agak romantis dikit knp 🤭 masak manggil nya bu 🤣🤣
sunaryati jarum
Bu Mirna , yang memiliki masalah kesuburan itu putramu Reyhan.
sunaryati jarum
Pengobatan kamu yang punya maksud tersembunyi tidak akan berat Reyhan
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
🤦‍♀️🤦‍♀️
Noey Aprilia
Diiihhh.....
mntn mrtua gila msh aja usaha....
mga xena cpt hmil deh,biar yg onoh pd bungkam......
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!