Dia dikenal sebagai "KR", pria tertampan dan pria terdingin yang mereka kenal, siapa lagi kalau bukan Kara Wijaya. Kehidupan Kara berubah setelah dirinya harus kehilangan orang yang penting dalam hidupnya, Kara menjadi sangat dingin dan arogan. Mereka juga menjuluki pria tampan berhati es, tapi dibalik semua itu sifat hangat Kara masih tersimpan.
suatu hari Kara bertemu dengan seorang dokter cantik, dokter itu dikenal karena keramah tamahannya. bukan hanya kecantikan dia juga disukai banyak orang karena kebaikan hatinya, dokter itu bernama Nadia Salsabillah.
Takdir membawa mereka pada sebuah perjodohan, apakah Kara akan mencintai dan menerima Nadia sebagai pengganti Angel?
ikuti kisah mereka ya...
jangan lupa baca My Love Story season 1 dulu ya🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinda Angel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. bercanda
keesokan hari nya Kara bangun dipagi hari, hal pertama yang ia lihat adalah Nadia sedang tertidur dengan memeluknya, Kara melihat jam sudah waktunya untuk sholat subuh. Kara ingin sekali bangun tapi ia tidak tega jika Nadia terbangun, Kara perlahan melepaskan pelukan itu, tapi tidak bukannya lepas pelukan itu malah semakin erat.
"apa kau sudah bangun?" tanya Kara mengelus rambut Nadia.
"hm.. " hanya itu yang diucapkan Nadia.
"aku akan sholat dulu setelah itu kau bebas memelukku!" Nadia langsung terbangun dan merasa malu ketika tahu dirinya memeluk Kara.
"eh.. em.. iya maaf!" ucap Nadia
"tidak masalah!" Nadia semakin merasa malu ketika Kara mencium keningnya dan tersenyum.
"kenapa wajahmu merah apa kau sakit?" Kara mencoba untuk menggoda Nadia.
"pergilah, subuh akan selesai!" Nadia menutupi dirinya dengan selimut, Kara pun tertawa dengan itu dan masuk dalam kamar mandi.
setelah selesai dari kamar mandi Kara keluar dan bersih untuk sholat, ia melihat Nadia yang sudah tidur lagi, Kara hanya tersenyum. Nadia membuka mata, ia mendapati Kara yang sedang sholat disampingnya. Nadia tersenyum tanpa henti, setelah itu dia tertidur pulas.
kuharap ini bukan mimpi..
Nadia terbangun saat sinar matahari tepat mnyinari wajahnya, Nadia terkejut ketika melihat Kara tidur disampingnya dengan memeluk dirinya.
"jadi kemarin itu bukan mimpi." gumam Nadia tersenyum melihat wajah Kara yang sedang tidur.
"Kara bangunlah!" Nadia menggoyangkan tubuh Kara, tapi Kara malah acuh.
Nadia sangat kesal Kara tidak mau bangun, Nadia pun memiliki ide jail dikepalanya untuk menggoda Kara agar cepat bangun.
"Kara tolong aku, aku terjatuh huhu..." teriak Nadia tapi tidak membuat Kara bangun.
"hah.. dasar kerbau bercula!" gumam Nadia,
Nadia ingin sekali bergerak sendiri dari tempat tidur, ia mercoba menyentuh kakinya tapi masih tetap tidak merasakan apa apa.
brukk..
Nadia terjatuh ketika mencoba berdiri, ia duduk disamping kasur melihat kakinya sendiri. Nadia menangis.
"hiks... hiks... hiks..."
Kara terbangun saat mendengar suara benda jatuh dan mendengar isak tangis Nadia, Kara melihat Nadia duduk dilantai dengan segera Kara menghampirinya.
"Nadia apa yang kau lakukan?" tanya Kara mengangkat tubuh Nadia untuk duduk dikasur.
"hiks.. tadi aku mencoba berdiri... tapi gagal hiks..." Kara memperhatikan tubuh Nadia, ia khawatir ada yang terluka atau tidak.
"kenapa kau menangis, kita akan mencoba nya lain kali. oke?" Nadia mengangguk pelan.
"sudah jangan menangis!" Kara menghapus air mata pada pipi Nadia.
"pantatku sakit, karena itu aku sedikit menangis!" Kara tertawa dengan perkataan Nadia.
"jadi.. kau menangis karena pantatmu sakit?" Nadia mengangguk, Kara pun tidak hentinya tertawa.
"berhenti tertawa, kapan kau pergi?" tanya Nadia.
"jam 10, ayo kubantu kau membersihkan diri. kau mau apa?"
"Kara aku ingin mandi, bawa aku ke kamar mandi setelah itu pergilah!" Kara mendudukan Nadia pada kursi rodanya lalu membawa Nadia masuk kedalam kamar mandi.
"apa tidak perlu kumandikan?" Nadia menatap tajam kearah Kara, Kara tertawa dan keluar dari kamar mandi.
"aku hanya bercanda, aku akan mandi dibawah, tunggu aku jika perlu apa apa!" ucap Kara dari luar.
"ya.." saut Nadia dari dalam.
Kara mengambil beberapa setelah baju dan membawanya keluar dari kamar, saat keluar kamar Risa datang untuk mengetuk pintu.
"ada apa?" tanya Kara.
"apa Nadia sudah bangun?" ucap Risa tersenyum.
"sudah, dia sedang mandi!" setelah mengucapkan itu Kara melewati Risa, Risa hanya bisa kesal.
"Kara teruslah menghindar, semakin kau menghindar maka aku semakin mendekat!" gumam Risa, Nadia memperhatikan Risa, ia merasa Risa tersenyum penuh arti. sebenarnya Nadia ingin menghampiri Kara tapi ia melihat Risa, Nadia memilih untuk melihat dari jauh.
"apa kah hanya firasatku saja." gumam Nadia.
setelah beberapa menit Kara telah siap untuk pergi, Nadia senang bisa membantu Kara menyiapkan semuanya. Nadia memegang tas Kara pada pangkuannya sedangkan Kara mendorong kursi rodanya.
"berapa hari akan disana?" tanya Nadia
"hm.. hanya 1 minggu, karena ada perjaan lain. disana ada Reno bersamaku." jawab Kara, Nadia hanya mengangguk.
"apa kamu akan merindukan aku?" ucap Kara berlutut dihadapan Nadia.
"hm.. tergantung, jika kamu tidak menghubungiku mungkin aku akan rindu sedikit" Kara tersenyum dengan perkataan Nadia.
"iya iya aku akan menghubungimu." Kara berdiri, Nadia mencium tangan Kara.
"ma.. titip Nadia ya.." ucap Kara saat mencium tangan mamanya
"tentu saja, dia menantu mama!"
"tenang saja, ada aku juga. ya kan Nad?" Nadia mengangguk dengan perkataan Risa.
Terlihat Reno datang dan turun dari mobilnya, Reno menyalami tangan ibu Kumala dan berpamitan.
"Risa?, kapan datang?" ucap Reno ketika melihat Risa
"kemarin!" jawab Risa tersenyum.
"baiklah. ayo kita berangkat Reno, kita sudah terlambat!" Reno mengangguk dan masuk kedalam mobil diikuti Kara, saat didalam mobil Kara melihat kearah Nadia sampai mobilnya sudah menjauh.
"tidak perlu khawatir, Nadia pasti baik baik saja." ucap Reno ketika melihat Kara khawatir, Kara pun mengangguk.
"bagaimana dengan Rudi?" tanya Kara
"dia juga sudah berangkat, aku sudah memberinya alamat!" Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
****
dirumah Nadia sedang berada diruang tamu sedang membaca Novel, Risa datang membawa minuman dan makanan. Nadia menyadari kehadiran Risa, ia pun tersenyum.
"sedang baca apa?" tanya Risa memberikan teh pada Nadia.
"terima kasih, ini baca cerita cinta." Risa hanya mengangguk, Nadia memperhatikan wajah Risa
"boleh aku tanya sesuatu?" tanya Nadia, Risa pun melihat kearah Nadia.
"katakan!"
"apa kamu pernah mencintai Kara?" Risa terdiam sesaat.
"aku selalu mencintainya!" Nadia terkejut dengan itu.
"dulu aku merelakan nya untuk Angel karena Angel sedang sakit dan membutuhkan nya."
"lalu?"
"sekarang aku tidak akan melepaskan Kara untuk siapapun, aku tidak akan merelakan Kara untuk siapapun. termasuk kau!" Risa menatap tajam Nadia, Nadia terkejut tidak bisa mengatakan apapun
"dia suami ku, tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya." ucap Nadia dengan tegas.
"benarkah, akan ku ambil Kara dari mu!"
"tidak, kau..." Nadia menghentikan pertaannya saat Risa tertawa
"hahaha.. kau ini aku hanya bercanda Nadia, hahaha..." Nadia merasa kesal dengan lelucon Risa.
"haha.. kau sangat lucu, aku kedapur dulu." Risa meninggalkan Nadia yang masih kesal.
"bercanda, dikamus Risa tidak ada kata bercanda Nadia." gumam Risa tersenyum licik saat berjalan kedapur.
"kenapa aku merasa Risa tidak bercanda!" gumam Nadia melihat Risa berjalan.
****
setelah beberapa jam perjalanan Kara dan Reno sudah sampai dibandung, Kara dan Reno tinggal dirumah yang sebelumnya Kara tempati bersama Angel. Kara melihat rumah itu begitu banyak terbayang wajah Angel dikepalanya, Reno melihat Kara seakan tahu apa yang dipikirkan Kara sekarang.
"Reno katakan dimana Rudi?" ucap Kara
"dia akan sampai disini Kara." jawab Reno fokus dengan hp nya.
Kara beristirahat dikamar yang sebelumnya ia gunakan dengan Angel, Kara merasakan kerinduan yang teramat sangat.
"aku merindukanmu Angel, kau tahu aku menikah dengan gadis bernama Nadia. kami dijodohkan oleh papa, aku pikir aku tidak akan mencintainya tapi aku salah. sekarang aku sudah mulai mencintainya entah sejak kapan aku merasakan itu, dan aku tidak tahu apa yang dia rasakan sama dengan ku atau tidak. Angel aku melihat dirimu pada diri Nadia, tenang saja aku akan mempertemukan kalian." ucap Kara mengusap foto Angel didompetnya, kini foto itu bersanding dengan foto Nadia.
"Kara, Rudi sudah datang!" Kara pun mengangguk, ia pun berdiri dan keluar dari kamar itu.
terlihat Rudi duduk disofa dengan berpakaian seragam menunjukan seorang kapten, Rudi memperhatikan rumah itu yang begitu banyak foto Angel terpajang. Kara melangkah mendekati Rudi, Rudi sadar dengan kehadiran Kara ia pun tersenyum dengan Kara begitu juga dengan sebaliknya.
"apa sudah lama?" tanya Rudi mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"tidak." Kara menerima uluran tangan itu.
"apakah itu semua Angel?" Kara tersenyum dan mengangguk.
"maaf, aku mengganggu pekerjaanmu!" ucap Rudi Kara pun menepuk pundak Rudi.
"tidak, aku ada pekerjaan disini dan juga aku merindukan Angel." ucap Kara tersenyum, Rudi menghampiri foto Angel diatas meja.
"dimana dia, aku tidak melihatnya?" tanya Rudi, Reno hanya memandang wajah Kara.
"kau ingin bertemu dengannya sekarang?"
"tentu saja, tujuanku kesini untuk bertemu dengannya!"
"dia tidak disini, dia ada ditempat nya." Kara melangkah keluar, Rudi yang belum mengerti maksud Kara hanya mengikuti langkah Kara.
Kara, Rudi dan Reno berada dalam satu mobil untuk ke pemakaman Angel, Rudi yang tidak mengerti memilih untuk diam dan mengikuti Kara. setelah beberapa menit mereka sampai disebuah tpu, Rudi merasa bingung saat dirinya meminta bertemu Angel Kara malah membawa nya ke tpu.
"Kara untuk apa kita disini?" tanya Rudi, Kara hanya tersenyum.
"kau bilang ingin bertemu Angel, disinilah Angel berada." Rudi berhenti melangkah ketika mulai mengerti apa yang dimaksud Kara, Ka pun juga menghentikan langkahnya.
"apa maksudmu Kara?" tanya Rudi, Kara tersenyum tapi terlihat sedih dimatanya.
"ini rumah Angel, dia sudah tenang disini!" Kara berdiri tepat pada makam bertuliskan nama Angel yang berbentuk cantik, Rudi mendekati Kara ia terkejut ketika melihat nama Angel disana, Rudi langsung duduk dihadapan makam itu.
"tidak mungkin! katakan ini bohong." ucap Rudi memegang batu nisan Angel.
"jika bohong kau akan bertemu dengannya dirumahku dan tidak akan menemukan Nadia!"
"tidak.. aku tidak percaya ini.." Rudi meneteskan air mata saat mengusap batu nisan itu, Rudi melihat kematian Angel yang terjadi 5 tahun yang lalu.
"Angel maafkan aku, maaf aku pernah menyakitimu... kau pasti bisa melihat sekarang aku menjadi seperti yang kau inginkan... Angel maafkan aku... seharusnya aku mencarimu.." Rudi merasakan penyesalan dalam dirinya.
"dia meninggal dalam pelukanku, rasanya aku hampir gila dulu." Rudi melihat kearah Kara yang tersenyum dalam tangisnya.
"bagaimana ini terjadi?"
Kara membawa Rudi pergi dari pemakaman, Kara mulai menceritakan apa yang terjadi pada Angel mulai dari awal hingga akhir. Rudi menyesalinya, ia menyesal tidak mencari Angel dulu.
"dari awal seharusnya aku merebut Angel dari mu!" ucap Rudi, Kara terdiam.
"kau gagal menjaganya!"
"ya... kau benar, aku gagal sangat gagal!" ucap Kara mengusap wajahnya dengan kasar.
"sekarang mampu kah kau menjaga Nadia?" Kara memandang wajah Rudi.
"aku pasti akan menjaganya, tidak akan kubiarkan dia tersakiti." jawab Kara, Rudi tersenyum.
"kalau kau tidak bisa, aku yang akan menjaganya." Kara menatap Rudi tajam.
"hahaha... ayolah aku hanya bercanda. terima kasih, telah mempertemukan aku dengan Angel. bolehkah aku membawa satu foto ini?" Kara tersenyum dan mengangguk.
"tentu, bawa saja." Rudi berdiri berpamitan pulang.
"baiklah, kuharap kita bertemu lagi!" ucap Rudi memeluk Kara.
"apa kau yakin tidak menginap?"
"tidak, aku harus bertugas. terima kasih tawarannya, sampai jumpa" ucap Rudi didalam mobil
"sampai jumpa lagi!"
Kara melihat mobil Rudi yang perlahan menghilang,
"aku akan mengunjungi mu lagi Angel." ucap Rudi didalam mobil, saat melihat foto Angel dewasa tersenyum cantik.
****
jangan bosen ya...
jangan lupa like dan komen kalian😍
d