Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa Api dan Darah
Udara di dalam Gua Larung begitu panas hingga terasa seperti menelan bara api setiap kali Dinda menarik napas. Dinding-dinding gua yang kasar berkilau merah, bukan karena pantulan cahaya, tetapi karena urat-urat magma yang merayap di bawah lapisan batu, seolah-olah gunung itu sedang marah besar. Bau belerang yang pekat bercampur dengan aroma logam tua, menciptakan atmosfer yang mencekam dan purba. Setiap hembusan napas dari celah-celah batu terdengar seperti desahan naga raksasa yang tertidur gelisah.
Di tengah ruangan gua yang luas, terdapat sebuah kolam lava alami yang mendidih pelan, permukaannya bergelombang mengeluarkan gelembung-gelembung gas beracun. Di atas batu besar yang menjorok ke tengah kolam, Tuan Arus berdiri dengan tangan terentang ke atas. Jubah hitamnya berkibar-kibar meski tidak ada angin, digerakkan oleh arus energi panas yang naik dari kawah. Di depannya, melayang sebuah objek berbentuk jantung yang terbuat dari kristal rubi retak-retak, memancarkan cahaya merah menyilaukan yang berdenyut selaras dengan gemuruh gunung di luar. Jantung Rangda. Objek itu tampak hidup, berkedip-kedip seperti organ tubuh yang sedang berjuang untuk tetap berfungsi di tengah tekanan ekstrem.
"Selamat datang, para pengganggu," ucap Tuan Arus tanpa menoleh. Suaranya bergema, dikuatkan oleh resonasi gua yang berbentuk seperti corong raksasa. "Kalian tepat waktu. Ritual penyatuan hampir selesai. Energi kemarahan bumi sudah mencapai puncaknya."
Dinda, Bara, dan Mbak Siti berlari masuk, namun terhenti oleh dinding panas tak kasatmata yang memisahkan mereka dari area ritual. Udara di batas tersebut begitu panas hingga bulu-bulu halus di lengan Dinda langsung terbakar. Pak Haris, yang berhasil menyusup masuk lewat jalur rahasia lain di sisi belakang gua, terlihat terkapar di sudut gua yang lebih dingin, napasnya tersengal-sengal akibat luka tembak di bahunya yang terus mengeluarkan darah segar.
"Pak Haris!" teriak Dinda, suaranya parau karena udara yang kering.
"Tidak... tidak peduli padaku," desis Pak Haris, menunjuk ke arah Tuan Arus dengan jari yang gemetar. Matanya penuh dengan penyesalan mendalam. "Hentikan dia... sebelum Jantung itu pecah dan mengambil semua nyawa di lereng ini bersamanya."
Bara segera mengecek clipboard-nya yang layarnya retak parah. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya meskipun suhu sekitarnya sangat panas. "Dinda, bacaan energinya tidak stabil! Gelombang sinusoidanya kacau balau. Jika Tuan Arus memaksa penyatuan Mata Barong dan Jantung Rangda di sini, ledakan termalnya akan memicu erupsi Merapi skala besar. Yogyakarta bisa hancur dalam hitungan menit! Ribuan orang akan meninggal!"
Tuan Arus tertawa, suara yang dingin, gila, dan penuh arogansi. "Hancur? Tidak, Nak. Itu akan menjadi kelahiran kembali. Dari abu, phoenix akan bangkit. Dan aku akan menjadi dewanya, penguasa atas tatanan baru yang murni tanpa korupsi manusia modern."
Ia mengambil Mata Barong Hitam yang sebelumnya berhasil ia curi dari tas Dinda saat kekacauan di Jakarta—ternyata ada pengikut lain yang mengikuti mereka diam-diam dan mencuri momen kelengahan. Ia memegang Mata Barong di tangan kiri dan Jantung Rangda di tangan kanan. Kedua artefak itu bergetar hebat, saling tolak-menolak seperti dua magnet kutub sejenis yang dipaksakan bertemu.
"Saksikanlah kekuatan sejati!" teriak Tuan Arus.
Ia membenturkan kedua artefak itu dengan kekuatan penuh.
KRACK!
Suara retakan terdengar nyaring, bukan dari benda itu, tapi dari realitas di sekitar mereka. Retakan hitam muncul di udara, seperti kaca yang pecah. Gelombang kejut merah dan hitam meledak keluar, menghempaskan Dinda dan Bara ke dinding gua yang keras. Tulang rusuk Dinda terasa nyeri hebat. Mbak Siti mencoba membentuk perisai energi kuning keemasan, namun gelombang panas itu terlalu kuat, membuatnya menjerit kesakitan saat energinya terkikis habis hingga tubuhnya menjadi hampir transparan sepenuhnya.
"Dinda!" teriak Bara, berusaha bangkit meski tulang rusuknya terasa nyeri dan pandangannya kabur.
Dinda merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Koneksi batinnya dengan Mata Barong tiba-tiba terputus secara paksa, meninggalkan rasa hampa yang menyakitkan, seolah sebagian jiwanya dicabut. Namun, di balik rasa sakit itu, ia mendengar sesuatu. Bukan dari Tuan Arus, tapi dari Jantung Rangda itu sendiri. Suara perempuan yang sedih, marah, dan terperangkap.
"Bebaskan aku..." bisik suara itu langsung di otak Dinda. "Dia mengikatku dengan kebencian dan keserakahan. Hancurkan ikatannya... jangan biarkan dia menyatukan kami dengan paksaan..."
Dinda menyadari satu hal penting: Tuan Arus tidak mengendalikan Jantung Rangda. Dia hanya memaksanya. Dan kekuatan paksaan itu memiliki celah kecil di mana emosi sang artefak bisa bocor keluar.
"Bara!" teriak Dinda, mengumpulkan sisa tenaganya. "Aku butuh distraksi! Buat dia kehilangan fokus selama tiga detik saja! Jangan serang dia, serang alat-alatnya!"
Bara mengerti maksudnya. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia melemparkan sebuah granat asap elektromagnetik (EMP) buatan sendiri ke arah kaki Tuan Arus, tepat di dekat panel kontrol primitif yang digunakan pria itu untuk menstabilkan aliran energi.
BOOM!
Gelombang biru listrik meledak, mengganggu alat-alat elektronik Tuan Arus dan menciptakan kabut tebal berwarna abu-abu yang menyengat hidung. Tuan Arus terkejut, genggamannya pada kedua artefak sedikit longgar karena kepanikan sesaat. Cahaya merah dari Jantung Rangda berkedip tidak teratur.
Itu kesempatan Dinda. Ia tidak menyerang Tuan Arus. Ia menyerang ikatannya.
Dengan sekuat tenaga, mengabaikan panas yang membakar kulit wajahnya, Dinda berlari menerobos kabut asap. Ia tidak memukul, melainkan menempatkan kedua tangannya langsung di atas Jantung Rangda yang sedang bertabrakan dengan Mata Barong. Sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku mendengar kamu!" teriak Dinda pada Jantung itu, matanya tertutup rapat, memusatkan seluruh kesadarannya. "Aku tidak akan membiarkanmu digunakan untuk kejahatan! Lepaskan kemarahanmu padaku, bukan pada dunia!"
Energi merah dari Jantung Rangda mengalir masuk ke tubuh Dinda, bercampur dengan energi hitam dari Mata Barong yang masih terhubung secara spiritual. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum panas sekaligus dibekukan oleh es. Dinda menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan, namun ia tidak melepaskan tangannya. Ia menjadi jembatan antara dua kekuatan yang bertentangan itu, memaksa mereka untuk berhenti bertarung dan mulai... berdansa dalam harmoni yang dipaksakan oleh ketulusan hatinya.