Di universitas ada seorang gadis yang nampak sangat misterius. Penampilannya amat persis seperti kutu buku, dengan kacamata tebal, baju sederhana, buku yang selalu dalam genggaman. Bahkan cara berjalannya pun nampak begitu sangat lamban, sampai-sampai kerap kali jadi bahan tertawaan bagi orang sekitar
Beberapa orangpun mulai berani melakukan pembullyan terhadap sang gadis, namun nahas. Tak lama setelah perundingan tersebut, tersebar kabar jika pelaku pembullyan di temukan dalam keadaan mencengangkan. Tubuh mereka di penuhi luka hingga membuat ngeri bagi siapapun yang melihatnya. Mereka juga pernah sekali di temukan dalam keadaan tidak bernyawa di gedung belakang universitas. Berita panas itu menyebar begitu cepat memenuhi artikel kampus. Tak ada yang tahu, siapa sebenarnya sang Gadis? Benarkah dia pelaku tersembunyi itu ataukah ada oranglain yang membantu di belakang sang gadis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tu es belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua stalker Ariella
Dengan sisa keberanian yang ada, Ariella menyeret kaki dengan langkah pelan keluar dari gubuk bambu tempat nya bersembunyi beberapa waktu ini. Dengan sangat pelan kaki kecil sang gadis mulai menuruni satu persatu anak tangga. Sesekali matanya awas, melirik sekitar, masih terdengar samar-samar suara beberapa pria tak jauh dari sana. Setelah mencapai tanah, Ariella tanpa sadar menjatuhkan kacamata miliknya. Tapi tak ada waktu untuk mengambil benda tersebut
'sial' batin Ariella
Menoleh untuk terakhir kali, sebelum melangkah menjauhi gubuk. Dapat Ariella dengar dengan sangat jelas, suara reruntuhan kayu yang sudah lapuk.
"Seperti nya para anak buah tuan gila itu sudah sampai di gubuk, syukur lah aku tidak terlambat untuk lari" ucapnya sambil terus melangkah maju.
Langkah demi langkah terus Ariella pijaki, dedaunan kering menambah suasana sepi dalam hutan ketika di pagi hari seperti ini. Di tambah kabut yang semakin turun, pandangan Ariella sedikit buram
"lagian kenapa bisa jatuh sih, aduh kacamata" rutuk nya pada diri sendiri
Terdengar helaan nafas berat dari sang gadis, dengan posisi merunduk sambil memegang perut, Ariella menghembus secara kasar napas nya. Kemudian dirinya menegakkan punggung secara perlahan, Ariella menyalu butiran keringat didahi sampai pelipis mata
"huh... Lelah sekali, semoga mereka tidak menemukan ku"
Ariella jatuh terduduk di antara akar pohon. Menatap ke atas beberapa silet cahaya matahari mulai terlihat dari celah celah dedauanan batang pohon. Rasa lelah melanda, di tambah perut yang kosong, Ariella merasa matanya di terpa rasa kantuk yang luar biasa membuatnya tertidur di sela-sela akar pohon
satu jam kemudian
Rasanya begitu nyaman, bahkan kepala Ariella seperti berasa di antara tumpukan bulu angsa pilihan. Badan yang tadi sakit karena tertidur di antara batang pohon, kini terasa lebih baik dan nyaman. Ariella menggeliat dalam tidur.
'Rasanya ini adalah tidur terbaik sepanjang usia ku' batin Ariella
Kelopak mata yang terpapar sinar matahari mulai berkedip perlahan, membiasakan diri akan cahaya yang masuk. Meneliti sekitar perlahan mata Ariella mulai membiasakan pandangannya.
"Loh, kok aku ada disini?"
terkejut luar biasa, Jantung Ariella seperti di timpa benda berat. Dia kesulitan bernapas
"ng-nggak mungkin kan?"
Ariella tersenyum miris. Tak ada satu orang pun disekitarnya, airmata ketakutan menetes perlahan di pipi Ariella, dia menutup rapat mulut nya agar suara tangisannya tak terdengar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rubby sudah memulai penyelidikan sejak tiga bulan lalu, hasil yang dia dapatkan dari berbagai sumber membuat Rubby heran setengah mati. Bagaimana tidak, setiap ia Pindah lokasi, maka bukti baru juga akan ditemukan, begitu terus-menerus selama dalam masa penyelidikan terjadi
Ruby sebagai mantan yang pernah bekerja di bidang televisi, baik umum maupun nasional sangat membantu dirinya dalam mencari informasi apapun
Pria itu juga sudah meminta bantuan rekan kerja serta orang yang pernah menjadi atasan kerjanya dulu. Hal yang membuat pria berusia matang itu semakin terbengong adalah, tidak ada satupun data diri yang cocok atas tuduhan terhadap Ariella, mahasiswi universitas Polonia, sebagai tersangka kejahatan tersebut
Ruby sempat gusar, bahkan hampir menyerah. Hanya saja jika dia menyerah maka pembunuh itu akan terus menerus berlaku seenaknya, akan ada banyak korban berjatuhan. Selama masa penyelidikan terjadi, anehnya lagi selama masa itu, tak ada kasus apapun yang menimpa universitas bergengsi itu
kampus berjalan seperti biasanya, bahkan lebih aman dan tentram semenjak gadis itu di nyatakan hilang, tidak di ketahui dimana, sejak terkahir kali dirinya di ketahui jika dirinya berada di rumah sakit kota
rubby menghela nafas, menyandarkan kepala pada dinding. Mata pria itu menatap lebih lama tangga menuju lantai dua
"siapa sebenarnya gadis itu? sulit sekali menemukan celah nya"
Di lanjut kak author, semangat selalu ya 👍👍
penasaran bngt...