Mimpi seorang Hasna adalah sembuh dari penyakit yang dia derita dan karena mimpinya itu membutuhkan banyak uang, Hasna pun pergi ke ibu kota untuk mencari uang disana, walau izin dari sang ayah tidak dia dapatkan.
Mungkin karena berangkat tanpa izin dari sang ayah, Hasna yang berada diibukota telah salah memilih kawan, dan berakhir dengan dia yang malu untuk pulang walau hanya bertemu keluarga apalagi sang Ayah yang dulu bersikeras melarangnya pergi.
Dan Kini Dunia Hasna semakin rumit manakala seseorang yang dia sukai hadir kembali dihidupnya, yang sudah tidak berharap akan mendapatkan pasangan, karena kesalahannya dulu yang membuatnya merasa tidak pantas untuk siapapun terutama Burhans yang begitu baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Hasna
"Na, kenapa kamu sampai melarikan diri, bahkan berani meninggalkan keluargamu yang masih berduka, hanya karena tidak mau menikah denganku" ucap Burhans setelah mereka sama-sama duduk.
Jujur Hasna yang ditanya seperti itu bingung harus memberi alasan yang mana, karena sesungguhnya banyak alasan yang mendukungnya untuk melarikan diri dari Burhans.
"Aku hanya merasa tidak pantas untukmu," jawab Hasna jujur.
"Tidak pantas?" ulang Burhans takut dia salah mendengar.
"Ya" jawab Hasna.
"Tapi tidak pantas karena apa? apa karena stetus sosial kita?" ucap Burhans menebak apa yang membuat Hasna merasa tidak pantas bersanding dengannya, namun sebelum Hasna menjawab Burhans berpikir jika bukan itu alasannya dan dia pun kembali berkata " tunggu apa karena penyakitmu itu?"
"Itu salah satunya" jawab Hasna.
"Tapi kamu tahu bukan aku ini seorang Dokter, dan kamu juga pasti tahu aku Dokter dibagian apa, dan kamu harus tahu aku memilih jadi dokter THT karena kamu, aku ingin menyembuhkan kamu Na,? jelas Burhan.
Jujur Hasna yang baru tahu jika Burhans adalah dokter khusus THT lumayan terkejut, apalagi mendengar jika alasan Burhans mengambil jurusan THT karena ingin menyembuhkan penyakitnya.
"Aku baru tahu, dan terimakasih atas niat baikmu itu" itulah jawaban Hasna dan Hasna yang sekarang tidak mungkin menutupi alasan terbesarnya memilih kabur, kembali berkata "Hans sebenarnya itu salah satu alasanku kabur,"
Burhan yang sudah dua kali mendengar Hasna berkata jika hal itu hanya salah satu alasannya melarikan diri langsung menatap Hasna, seolah meminta Hasna untuk segera memberitahu alasan lain dibalik larinya dia.
Sebelum menjawab Hasna tersenyum walau senyumnya tidak terlihat karena terhalang cadar dan dia pun berkata "Dulu aku yang sosoan ingin mencari uang untuk berobat, pergi kekota ini, dengan modal nekat, ya nekat karena tidak punya sodara atau pun kenalan di kota ini dan yang lebih parah aku datang kekota ini tanpa restu dari Bapak, dan itu membuatku celaka."
"Celaka?" ulang Burhans yang bingung juga kaget karena baru tahu jika Hasna pernah mengalami kecelakaan.
"Bukan kecelakaan yang ada dibenakmu Hans, tapi kecelakaan yang membuat aku malu, malu untuk pulang bertemu keluargaku, terutama Bapak yang dulu bersikeras melarangku pergi" ucap Hasna yang kini sudah meneteskan air mata karena sedih saat mengingat mending Bapaknya yang sudah tiada.
"Memang kecelakaan seperti apa yang kamu maksud?" tanya Burhans, tanpa tahu jika air mata Hasna sudah menetes, karena sungguh suara Hasna tidak berubah menurut Burhans.
Hasna yang ditanya demikian langsung mengalihkan pandangannya keatas langit-langit kamar lalu berkata "sebuah Kecelakaan yang sudah merenggut kehormatanku," ucap Hasna dan dia terdiam sebentar untuk menelan rasa sedihnya mengingat masa kelasnya dulu dan setelah dirasa akan baik-baik saja saat bercerita lagi barulah Hasna berkata "dulu aku yang datang kemari dengan modal nekat, bertemu dengan seorang wanita yang usianya lebih tua dari aku dan dia sangat baik selalu membantuku ini dan itu, dan pada suatu hari aku yang mudah percaya pada orang, ikut saja saat dia mengajakku kesebuah tempat makan dan tanpa aku duga ternyata dia menjualku dan disana aku kehilangan kesucianku tentu saja tanpa seijin dariku karena aku kehilangan kesadaranku waktu itu" dan sungguh Burhans tidak menyangka jika yang Hasna bilang sebuah kecelakaan itu adalah hilangnya kesucian Hasna.
Hasna yang tidak mendengar tanggapan Burhans kini beralih menatap Burhans yang ternyata sedang melamun dan Hasna pikir jika Burhan melamun karena menyesal telah menikahinya.
"Kamu pasti menyesal bukan, maaf aku tidak memberitahumu dari dulu, tentang rahasia ini karena jujur dulu aku malu bercerita tentang kepolosan dan kebodohanku yang berakhir dengan hilangnya kesucianku." dan setelah berbicara seperti itu Hasna yang tidak mendapat tanggapan dari Burhans langsung berdiri dan dia berniat untuk keluar kamar karena sungguh saat ini dia sangat lapar terlebih setelah berbicara sesuatu hal yang sudah menguras emosinya.
Hasna yang sudah keluar dari kamar tidak diketahui Burhan yang sedang melamun, bukan melamun karena menyesal sudah menikahi Hasna yang sudah tidak suci lagi, tapi melamunkan bagai mana keadaan Hasna saat itu, mengingat kedua orangtuanya yang seorang guru ngaji dan sekarang Burhans tahu kenapa Hasna kuat tidak pernah pulang selama bertahun-tahun.
"Na" ucap Burhans namun saat dia melihat kearah hasna tadi duduk, ternyata Hasna sudah tidak ada dan betapa paniknya dia saat Hasna tidak ada dikamar mereka.
Burhans yang panik takut Hasna melarikan diri, langsung keluar dengan berlari dan tujuannya adalah lantai dasar.
Burhan yang sudah berada dilobi Hotel langsung berlari kearah pintu keluar dan saat melihat satpam yang berjaga dia bertanya pada satpam itu "Pak apa Bapak melihat wanita bercadar lewat sini" dan jawaban satpam adalah tidak, dan hal itu sungguh membuatnya sangat-sangat panik luar biasa, takut jika kali ini Hasna pergi, benar-benar pergi jauh ketempat yang sulit dijangkau olehnya.