Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Pondok Tua
Malam kembali menyelimuti Blackwood Ranch. Lampu-lampu mansion menyala hangat di tengah hamparan padang rumput yang luas. Dari balkon kamarnya, Noah Blackwood berdiri seorang diri sambil memandangi perbukitan yang membentang dalam kegelapan. Di tangannya tergenggam segelas whiskey Kentucky. Biasanya minuman itu cukup untuk menenangkan pikirannya setelah hari yang panjang, malam ini tidak.
Tatapannya terus mengarah ke satu titik di kejauhan. Perbukitan utara, tempat pondok tua pengawas berdiri.
Dan tanpa diminta, kenangan malam badai itu kembali muncul. Noah menghembuskan napas panjang, Sial.
Sudah hampir seminggu berlalu, namun ia masih mengingat semuanya dengan sangat jelas. Suara desahan nikmat Ellara ditengah hujan yang menghantam atap kayu, bagaimana lekukan indah tubuh Ellara bermandikan cahaya perapian, bagaimana tubuh itu bereaksi menggairahkan terhadap setiap sentuhan yang diberikan Noah, dan tentang malam panjang yang mereka habiskan dengan kobaran gairah yang membara.
Noah memejamkan mata sesaat. Ia tidak mengerti kenapa. Belum genap satu bulan gadis itu bekerja di Ranch, tentu ia belum banyak mengenal gadis itu. Tetapi Ia tahu gadis itu pekerja keras, ia tahu Mason sering memujinya, ia tahu hampir semua kuda menyukai Ellara. Namun hanya sebatas itu.
Sampai malam badai tersebut, sejak saat itu sesuatu terasa berubah. Bukan pada Ellara, melainkan pada dirinya sendiri.
Pagi berikutnya Noah terbangun lebih awal. Hal yang jarang terjadi, biasanya ia bangun setelah matahari mulai muncul. Hari ini bahkan langit masih berwarna abu-abu ketika ia turun dari tempat tidur. Setelah mandi dan berpakaian, Noah langsung menuju kandang utama. Ia sendiri tidak tahu alasannya. Sampai akhirnya ia melihat seseorang sedang membawa ember pakan.
Ellara. Rambut cokelatnya diikat sederhana. Berbeda dari sebagian besar pekerja wanita di ranch yang lebih memilih celana jeans dan kemeja kerja, Ellara justru hampir selalu mengenakan dress sederhana. Dress katun selutut dengan warna-warna lembut menjadi pilihannya sehari-hari, dipadukan dengan sepasang boots kulit tua yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Penampilannya terlihat tidak biasa untuk pekerjaan berat di peternakan kuda, tetapi entah bagaimana Ellara tetap mampu bekerja secepat dan secekatan para pekerja lainnya. Beberapa helai rambut terlepas dan tertiup angin pagi.
Noah langsung menghentikan langkah. Entah kenapa, hanya melihat gadis itu membuat pikirannya kembali pada malam di pondok. Ia teringat bagaimana Ellara duduk di dekat perapian dalam balutan selimut dan bahu telanjangnya, bagaimana punggung indahnya melengkung menahan sensasi kenikmatan yang ia berikan, Bagaimana ia membalas ciumannya yang tak kalah panas dan liar. Aahhh sial dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu Ellara tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan. Atau mungkin ia memilih berpura-pura tidak menyadarinya. Karena sejak kembali dari pondok tua, ia berusaha menjaga jarak, sangat keras. Ia tahu itu pilihan yang benar. Noah memiliki Bianca, hubungan mereka sudah diketahui semua orang. Sedangkan dirinya hanyalah pekerja ranch, tidak lebih walaupun mereka pernah terjebak malam panas bersama. Semakin cepat ia menerima kenyataan itu, semakin baik.
Ellara mempercepat langkahnya menyusuri area kandang. Ember pakan masih berada di tangannya ketika ia berbelok menuju bagian belakang ranch, ke arah sebuah gubuk penyimpanan jerami yang jarang didatangi pekerja pada pagi hari. Tempat itu sederhana. Dinding kayunya mulai memudar dimakan cuaca, sementara aroma jerami kering memenuhi udara di sekitarnya. Biasanya Ellara datang ke sana untuk mengambil persediaan pakan atau sekadar mencari ketenangan dari hiruk-pikuk pekerjaan ranch. Pagi ini ia membutuhkan yang kedua.
Sejak malam di pondok tua itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia membenci kenyataan bahwa dirinya masih mengingatnya. Membenci bagaimana kenangan itu muncul di saat-saat yang tidak tepat, terutama setiap kali melihat Noah. Ellara meletakkan embernya di lantai kayu gubuk lalu menghembuskan napas panjang.
"Kau harus berhenti memikirkannya," gumamnya pelan kepada diri sendiri.
Namun kata-kata itu terdengar kosong bahkan bagi dirinya sendiri. Karena semakin keras ia berusaha melupakan malam itu, semakin jelas kenangan tersebut muncul. Suara hujan, cahaya perapian, tatapan Noah, malam panas. Ellara menutup mata sejenak. Tidak, ia tidak boleh terus memikirkan itu. Noah adalah atasannya dan Bianca Laurent adalah wanita yang seharusnya berada di sisi pria itu.Semua orang tahu hal tersebut. Tidak ada ruang bagi Ellara dalam kehidupan Noah Blackwood.
Tepat ketika ia sedang mencoba menenangkan pikirannya, suara langkah kaki terdengar dari luar. Ellara langsung membuka mata, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Siapa yang datang sepagi ini Perlahan ia menoleh ke arah pintu dan tubuhnya langsung menegang. Noah berdiri di sana. Tinggi, tegap, masih mengenakan kemeja kerja berwarna gelap yang lengan bajunya digulung sampai siku. Mata mereka bertemu, keheningan langsung memenuhi ruangan sempit itu. Untuk beberapa detik tidak ada yang berbicara, Ellara segera memalingkan wajah lebih dulu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Nada suaranya sopan, terlalu sopan.
Dan Noah langsung menyadarinya. Tatapan pria itu tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Kau menghindariku."
Ellara menggenggam ujung dress-nya tanpa sadar. "Saya tidak menghindari siapa pun."
"Itu bohong." Jantungnya kembali berdebar.
Noah melangkah masuk ke dalam gubuk. Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa jauh lebih sempit.
"Aku melihatmu pergi setiap kali aku mendekat."
Ellara memaksakan senyum kecil. "Mungkin hanya kebetulan."
Noah menghembuskan napas pelan. "Kau tahu aku tidak percaya itu."
Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Di luar, suara kuda dan aktivitas para pekerja terdengar samar dari kejauhan. Namun di dalam gubuk, rasanya seolah hanya ada mereka berdua. Ellara menundukkan pandangan. Ia tidak berani terlalu lama menatap Noah. Karena setiap kali melakukannya, kenangan yang berusaha ia kubur kembali muncul.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyanya pelan.
Pertanyaan itu membuat Noah terdiam. Karena itulah masalahnya. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Beberapa hari terakhir ia terus mencari alasan untuk berbicara dengan Ellara, mencari alasan untuk melihatnya. Namun ketika akhirnya berada di hadapan gadis itu, semua alasan yang ia susun terasa menghilang begitu saja.
"Aku tidak tahu," jawab Noah jujur. Ellara mengangkat kepala.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia benar-benar menatap Noah. Dan ada sesuatu dalam ekspresi pria itu yang membuatnya terkejut, kebingungan. Noah Blackwood terlihat bingung.
"Aku hanya..." Noah mengusap rahangnya pelan. "Aku merasa ada sesuatu yang berubah setelah malam itu."
Ellara langsung menegang. "Jangan."
Noah mengernyit. "Jangan apa?"
"Jangan membicarakan malam itu." Suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. Namun cukup untuk membuat Noah terdiam. Ellara menarik napas panjang. "Kita berdua membuat kesalahan." Kalimat itu terasa berat keluar dari bibirnya. "Dan sebaiknya kita melupakannya."
Tatapan Noah mengeras sedikit. Melupakannya, lagi.
Semua orang seolah ingin menyuruhnya melupakan sesuatu yang justru terus memenuhi pikirannya. "Tapi kau tidak melupakannya."
Ellara membeku.
Noah memperhatikannya beberapa saat. Lalu melanjutkan dengan suara rendah. "Kalau kau benar-benar sudah melupakannya, kau tidak akan terus menghindariku."
Untuk sesaat, Ellara tidak mampu menjawab. Karena sebagian dari dirinya tahu Noah benar. Ia memang belum melupakannya, belum bisa. Dan mungkin itu yang paling membuatnya takut. Di luar gubuk, suara derap kuda tiba-tiba terdengar mendekat. Membuyarkan ketegangan yang mulai terbentuk di antara mereka.
Ellara segera mengambil ember pakannya. "Aku harus kembali bekerja."
Ia berjalan melewati Noah tanpa berani menatapnya lagi. Namun sebelum keluar dari gubuk, langkahnya sempat terhenti sesaat, sangat singkat. Lalu ia kembali berjalan pergi meninggalkan Noah seorang diri di tengah aroma jerami kering. Pria itu memperhatikan punggung Ellara menjauh hingga menghilang di balik sinar matahari pagi. Dan entah kenapa, perasaannya justru semakin tidak tenang daripada sebelumnya. Karena satu hal kini menjadi sangat jelas. Ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa Ellara Dawson hanyalah salah satu pekerja baru di Blackwood Ranch.