NovelToon NovelToon
Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:304.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.

Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.

Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33-Pria Tampan

“Kita hanya wakil, nomor ponsel saya adalah privasi saya. Jadi, mohon maaf, mungkin Anda bisa menghubungi ayah saya secara langsung.”

Episode 33-Pria Tampan Rupawan

Matanya sedikit sipit, tetapi memiliki tatapan tajam. Hidungnya mancung seperti milik orang Amerika. Sementara, bibirnya cukup manis berwarna merah muda. Benar-benar pria dengan ketampanan maksimal dan sangat dihindari oleh Jelita. Ya, pria itu saat ini tengah menghampirinya di teras kafe. Tipikal pangeran dari negeri gingseng dan penuh aura luar biasa. Namun, bagi sang gadis perancang pria itu justru terlihat membosankan.

“Jelita?” ucap pria tersebut memanggil nama si perancang cantik yang juga seorang nona muda. Ia tersenyum begitu manis, jika wanita biasa sudah pasti terpana melihatnya.

“Tuan William Anderson?” tanya Jelita sembari mengernyitkan dahi.

Pria itu mengangguk pelan. “Benar, Nona, wakil dari pihak Harsono.”

Jelita merunduk. “Saya Jelita anak dari Nur Imran.”

“Saya sudah dengar tentang Anda. Mari masuk, saya sudah reservasi tempatnya.”

“Terima kasih.”

Kemudian, William dan Jelita memasuki kafe tersebut. Keduanya berjalan dengan langkah bersamaan, bak seorang pangeran dan putri raja. William sendiri begitu sopan tindak tanduknya, menampilkan pria yang sangat menghormati wanita. Sementara, Jelita bersikap seelegan mungkin, membuktikan bahwa dirinya merupakan wanita berkelas dengan strata tinggi. Meski, sebenarnya gadis itu hanya tidak ingin mempermalukan ayahandanya saja.

Di sebuah ruang khusus, William mempersilakan Jelita untuk masuk, baru setelah itu dirinya. Sementara, kedua pengawalnya berada di luar menjaga pintu ruang kafe bersifat privat tersebut. Di dalam, William menarikkan satu kursi untuk sang nona muda.

“Terima kasih,” ucap Jelita.

William tersenyum. “Sama-sama, Nona,” jawabnya.

Pelayan pun datang beberapa detik kemudian, ia membawa beberapa jenis minuman. William sengaja melakukan pemesanan seperti itu, lantaran tidak ingin menyulitkan calon partner bisnis keluarganya.

Jelita menghela napas dalam. Sungguh, situasi semacam itu sama sekali tidak ingin ia lalui. Baginya sangat membosankan! Namun apa daya, ia harus mewakili ayahnya. Sementara Jane, belum berkenan ikut campur dalam bisnis keluarga.

William kembali mengulas senyum manis. “Mm ... sebenarnya, saya sangat bingung dengan pertemuan semacam ini,” ucapnya mengakui.

Tanpa menatap mata pria itu, Jelita menjawab, “karena Anda CEO baru, mungkin.”

“Ah, belum kok, Nona. Bahkan, saya masih belajar di perguruan tinggi.”

“Oh ....”

William sedikit terkejut dengan jawaban singkat dari Jelita. Bagaimana tidak, jika sebagai gadis Indonesia yang selalu mengedapankan keramahtamahan, gadis itu justru terkesan cuek dan dingin. Ia yang sudah lama tinggal di Australia menjadi bingung harus memulai lagi pembicaraan dari mana. Belum lagi, pertemuan itu merupakan pertemuan bisnis pertama yang ia hadapi.

“Mm ....” William semakin bimbang, karena otaknya seolah tidak bersedia diajak kerja sama.

Menyadari kebingungan yang ada di wajah William, Jelita menjadi sadar bahwa sikapnya benar-benar tidak sopan. Ya, ia selalu malas ketika berhadapan dengan pria asing, terlebih jika memiliki paras tampan. Rasanya ia dibawa kembali ke masa lalu, di mana saat itu teman-teman sebaya yang indah fisiknya melakukan bullying terhadapnya.

Akhirnya, Jelita memutuskan untuk kembali membuka perbincangan. Sesaat setelah berdeham, ia bertanya, “jadi Anda masih belum menjadi CEO?”

William reflek menatapnya. Kemudian ia menggeleng. “Belum, Nona, saya masih dipinta untuk belajar.”

“Mm ... tampaknya Anda lebih tua dari saya, tapi kenapa masih belajar?”

“Iyakah? Saya baru berusia 24 tahun, kalau Nona?”

“Dua tujuh, Tuan.”

Mata William membelalak. “Hmm? Ka-katanya saya lebih tua?”

“Saya salah perhitungan, Tuan. Saya minta maaf sebelumnya.”

William tertawa, meski terkesan canggung bahkan terpaksa. Ia memilih menatap arah lain, dengan sesekali melirik wajah gadis itu. Cukup imut dan terkesan masih remaja, tetapi ia tidak menyangka bahwa gadis itu lebih tua daripada dirinya. Rasanya sukar dipercaya. Namun, tak mungkin tamu temunya itu berbohong, bukan?

Karena tidak mau terjebak dalam pertemuan tak jelas, William segera bergerak mengambil sebuah berkas dari dalam tasnya. Melihat sikap William, Jelita pun melakukan hal yang sama.

“Ini bangunan lama yang kosong. Perusahaan kami berencana ingin membangun tempat perbelanjaan di sana. Tempatnya pun cukup strategis, dan tentu saja ramai. Kami juga berencana mengusung sistem dengan lingkup ekonomi menengah. Sehingga, orang-orang biasa pun tidak akan segan untuk mengunjungi tempat kami nantinya,” jelas William sembari memperlihatkan sebuah foto dari tabletnya.

Jelita manggut-manggut. Namun, tangannya sudah sibuk menulis notulen untuk diserahkan pada ayahnya. Selanjutnya, William kembali menjelaskan lebih dalam mengenai proyek baru tersebut. Meski dari perusahaan dengan bidang yang berbeda, Jelita tahu jika ayahnya itu tidak segan bekerja sama jika bisnis berpotensi memberikan keuntungan.

Pembicaraan bisnis itu terbilang cukup lama. Mereka berdua saling melemparkan pendapat ataupun tanya satu sama lain. Tak ada kondisi santai seperti ucapan Nur Imran, kedua pemuda awam itu benar-benar berada dalam situasi serius.

“Nah, jadi kalau proyek sudah selesai, kami berharap ada pasokan barang dari perusahaan Tuan Nur Imran. Dengan begitu, kedua belah pihak bisa saling menguntungkan. Terlebih, produk-produk makanan yang dihasilkan oleh perusahaan Anda sangat banyak. Saya rasa, Anda bisa pertimbangkan lagi kerja sama ini,” tawar William sesuai intruksi dari kakak sepupunya yang saat ini masih menjabat sebagai CEO di perusahaan Harsun milik Harsono—pengusaha kaya nomor empat se-Indonesia.

Jelita mengernyitkan dahi. “Oh! Jadi, bukan perbelanjaan barang-barang tak habis pakai? Tapi, juga ada produk pangannya?” tanyanya.

“Iya, Nona, semacam supermarket. Namun masih mencakup masyarakat umum dengan ekonomi menengah. Jadi, maksud kami, pihak kami yang mengatur properti berikut bangunan dan seisinya. Sementara, pihak Anda sebagai pemasok kebutuhan yang akan diperjualbelikan di dalamnya.”

Jelita manggut-manggut. Baginya, memang terbilang menggiurkan. Namun ia belum bisa memberikan keputusan tanpa persetujuan dari Nur Imran.

“Baik. Saya mengerti, saya sudah mencatat intinya. Dan mungkin untuk keputusan ada di tangan ayah saya.”

William tersenyum. “Baiklah, kami akan menunggu kabar selanjutnya. Kalau boleh, saya ingin mencatat nomor Anda?”

“Mm? Nomor saya?”

“Mm ... tidak boleh, ya?”

Jelita tersenyum getir. “Kita hanya wakil, nomor ponsel saya adalah privasi saya. Jadi, mohon maaf, mungkin Anda bisa menghubungi ayah saya secara langsung.”

“Oh ....”

William mengusap tengkuknya, lantaran merasa malu atas penolakan itu. Padahal, niatnya agar cukup mudah jika ada masalah bisnis yang perlu diperbincangkan dengan Jelita. Namun, sikapnya justru seperti sedang menggoda gadis itu. Bahkan, ketika baru sampai di kafe saja, ia hanya berbekal foto Jelita yang diambil oleh kakak sepupunya dari sosial media gadis itu. Jika tidak ada foto tersebut, bisa jadi ia tidak mengenali gadis cantik di hadapannya.

Tak ingin melangsungkan kebersamaan dengan pria asing terlalu lama, akhirnya Jelita beranjak berdiri dari duduknya. Ia ulas senyum sekenanya, kemudian merundukkan badan.

“Mohon maaf, sepertinya saya harus cepat kembali. Anda tidak keberatan, ‘kan, Tuan Willi? Saya ada kesibukan lain,” pamit Jelita.

William turut berdiri. Ia membalas salam gadis itu dengan sikap yang serupa. “Ya, sepertinya perbincangan juga sudah cukup dan tampaknya Anda benar-benar sibuk. Jadi, mari kita akhiri,” ucapnya lembut. Ia mengulur tangan dan dibalas oleh Jelita sehingga membentuk jabat tangan.

Kemudian, mereka berdua berjalan bersama meninggalkan ruang privat dari kafe tersebut. Kedua pengawal William pun mengikuti sang tuan dari belakang.

Sampai di teras kafe mewah itu, Jelita kembali pamit. Baru setelah itu, ia melanjutkan langkah untuk kembali ke butik. Tak lupa ia pakai sebuah masker untuk menutupi wajahnya.

“Hmm ... gadis atau wanita? Dia benar-benar lebih tua dari aku?” gumam William sembari memandangi punggung gadis itu. Ia membuang napas dengan kasar, lalu memutar badan. Ia melangkah menuju area parkir mobilnya. “Cewek yang imut!” tambahnya di sela-sela langkah kakinya.

Ketika hendak menunggu taksi di depan kafe, Jelita justru melihat mobil tak asing. Apakah milik Reza? Namun, kekasihnya itu telah mengatakan ada kesibukan tentang sebuah kasus. Matanya pun berangsur turun memastikan plat mobil itu.

“Benar-benar Kak Reza!” serunya girang. Tanpa pikir panjang, ia segera menghampiri mobil tersebut.

Jelita mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian, ia mencoba membuka pintu mobil dari kabin penumpang di samping tempat kemudi.

“Aaa!” pekik gadis itu. Ia terkejut sebab ketika pintu berhasil dibuka dan hendak masuk, justru sepasang mata tengah mendelik menatapnya. “Kakak apa-apaan sih? Ngagetin tahu!” omelnya.

Tiba-tiba, Reza menarik tangan Jelita dan membuat gadis itu segera bergerak masuk.

“Ganteng ya?” tanya Reza.

“Iya, Kakak ganteng kok.”

“CEO itu?”

“Banget!”

“Perutnya enggak buncit kayak Reza, ya?”

Jelita terdiam, bingung karena sikap Reza yang tiba-tiba menjadi aneh.

Lalu, Reza menarik badannya dan menggoyangkan perutnya. Ia mendengkus sebal setelahnya. Detik berikutnya, ia menatap Jelita kembali dengan sikap tangan yang masih mencengkeram perut gembulnya.

“Sayang?” ucap Reza dengan mata mendelik.

Jelita bergerak mundur. “I-iya?”

“Perut Kakak gendut.”

“La-lalu?”

“Punya dia pasti kotak-kotak.”

“Mungkin.”

“Pipi Kakak bulat macam bola pingpong.”

“Kok pingpong? Pingpong ‘kan kecil.”

Reza salah tingkah. “Y-ya, pingpong jumbo. Mm ... kamu masih mau sama Kakak, ‘kan? Enggak naksir dia beneran, ‘kan?”

“Hih! Apaan sih? Masih enggak percaya sama Jeli? Padahal Jeli yang ngejar Kakak, lho!”

“Hmm ... ya sudah. Berarti, kamu milik Reza. Jadi, ... sebagai buktinya, Reza boleh kecup Jeli enggak?”

“Heh? Apa? Enggak!”

Reza mendengkus. Ia memutar bola matanya dengan sinis. Juga, memposisikan tubuhnya dengan tegap dan lurus. Ada rasa sebal sebab ketika ia ingin memberikan kecupan manis justru ditolak mentah-mentah oleh gadisnya. Padahal, sebelum ada pria yang ia tahu sebagai CEO muda itu, Jelita kerap meminta dengan goda centilnya.

Reza melirik lagi wajah kekasihnya. Ketika tatapannya disadari oleh Jelita, ia segera menepis dan berpura-pura menatap ke depan. Sikap itu terhitung lima kali Reza lakukan.

Rasa sebal pun turut menyerang perasaan Jelita. Sikap Reza sangat aneh dan tidak seperti biasanya. Namun, di sisi hati yang lain ia berterima kasih lantaran pria itu memiliki rasa cemburu.

“Kak?”

Reza reflek menatap Jelita dengan antusias. Kemudian, ... Jelita meraup wajah Reza dan memberikan kecupan amatiran di bibir pria itu. Pria mana yang tidak akan terkejut ketika diberikan sikap manis itu? Tentu Reza terkesiap. Namun, ketika Jelita hendak kembali ke posisinya, Reza segera menarik wajahnya dan memberikan kecupan yang lebih manis.

Beberapa detik kemudian, Reza menyudahi aksinya. Beruntung suasana tempat itu cukup sepi. Lagipula, kaca mobilnya sangat gelap sehingga tak ada orang luar yang bisa melihat.

Wajah Jelita berona merah, dengan jantung yang berdebar tidak keruan. “Kakak ...?” lirihnya.

Reza tersenyum sembari mengusap wajah Jelita. “Udah Kakak bilang, Kakak enggak bakal menahan diri lagi,” ucapnya. “Kakak harap, kita enggak sampai melewati batas.”

“....”

****

Jangan lupa jempolnya.

1
Revina Darajati
haduh aneh keluarga ini...orang kaya tp kenapa gk cari orang punter untk njaga dan selidiki semuanya.. bapaknya juga kebpaa cuek bgt siih
Hetnawati Simbolon
jeli tak punya harga diri aku selaku wanita malu
VhyDheavy: Namanya anak muda kebacut cinta memang suka lupa daratan Kak. Hehehe.
Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Afid Diyah
apa judul novelnya kak
VhyDheavy: Halo, Kak. 😊

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

itu judulnya ya, Kak. Mari mampir. atau klik saja nama saya, dan nanti tersedia beberapa judul lain. Terima kasih 😊🥰
total 1 replies
rina purwati
lanjutanya kpan thor
reza gaming 30
tetap semangat ya thor, semoga nnt bnyk yg mampir 💪🏾💪🏾💪🏾💪🏾
reza gaming 30
tenang Jel, Reza lg merasakan indahnya dicium gadis cantik
reza gaming 30
disini ada kesalahan org berasymsi bahwa daging mengandung kalori tinggi, pdhl yg berkalori itu karbohidrat, org bilang diet gak makan nasi, tp makan roti, makan mie, justru roti mie itu kalorinya lebih tinggi dr nasi, krn roti itu bs dibilang tdk ada serat, jd semuanya menjadi glukosa, yg terbaik adalah diet gizi seimbang + olga 30menit/hari
Kecombrang
🤣🤣🤣🤣🤣
reza gaming 30
sebaiknya jgn ditiru diet seperti Jelita, diet yg baik diet seimbang ptoteinnya karbohidratnya sayur buah
reza gaming 30
abis cerita cewe endut sekarang cowo endut 😁
reza gaming 30
basahamu itu lho thor, membuat karyamu enak dibaca d tdk bertele2,. perlu dilanjut unt dibaca
Oh Dewi
mampir ah mana tau seru.
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
Hendri Astiti
gemes sama reza
Noorhied
Reza gembul tapi ganteng persis anak lelakiku... 😍😍😍
mbak i
ini cerita jeli,,,nggak lanjut lagi ya😥😥😥
Syifadini Atira
kok aku jadi bingung alur ceritanya 🤔
Han da Yani
maaf, banyak pembaca yang kayak saya..
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.

bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.
Aruna Zahrani
duuuh sayang tuh bibir. blm jg diperawanin ama yayang willi udah terkontaminasi aja ama bibir laki2 lucknut
Aruna Zahrani
jgn2 yg nangkep dery mereka ber3 secara tdk sengaja tp bertemu pd saat n sikon yg sama 🤣🤣🤣🤣
Aruna Zahrani
kata2 om galak josss 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!