Ini merupakan sequel dari Pembalap Idola. Masih bercerita tentang Nicken yang harus LDRan Jakarta - Jogjakarta bersama Satria tapi tidak mengurangi rasa kepercayaan satu sama lain. Sampai pada akhirnya banyak pihak ketiga yang semakin menguji kekuatan cinta mereka berdua.
Munculnya Danise agak menggoyahkan hubungan Nicken dan Satria. Namun Danise melakukan itu karena diimingi impiannya menjadi fotografer terkenal oleh Deandra yang pada akhirnya diketahui motif Deandra ingin membalas dendam kepada Nicken dan semua kakaknya dan juga kepada.. Satria.
Bantuan dari Adam yang berpura-pura pacaran dengan Nicken membuat Nicken dan Satria berhasil membongkar rencana Deandra. Perlahan Adam dan Nicken pun ikut larut dalam perannya sebagai pacar gadungan. Akankah cinta Satria dan Nicken berakhir akibat Deandra dan Danise? Ataukah Nicken benar-benar terlibat cinta sesaat oleh Adam? Atau mungkin cinta Nicken dan Satria semakin mendalam dan mereka tidak terpisahkan?
Inget yaa.. Apabila ada kesamaan nama karakter atau tempat, itu hanya kebetulan. Karena semuanya fiktif belaka. Enjoy!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caroline Gie White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALING JUJUR
Nicken, Nicky, Nico dan Satria duduk di sofa di ruang tengah sambil menonton TV sambil menunggu Vicky pulang, karena mereka tahu kalau Reno mengundang Vicky secara langsung, cowok yang berhasil memikat hati adiknya. Dan menurut Satria, baru Vicky yang bisa membuat Rania jatuh cinta secepat itu, padahal selama 4 tahun dibayang-bayangi pengalaman ditinggal cowoknya. Dan kalau sampai Reno membuka jalan Vicky mendekati adiknya, Vicky termasuk cowok beruntung karena masuk kriteria Reno sebagai pacar untuk adiknya, tentu dengan banyak persyaratan.
"De, mendingan lo istirahat, besok lo balapan, dan di Nextel, bukan sirkuit biasa."
"Nicky benar, Sayang."
"Tapi gue penasaran gimana kabar Vicky."
Nico tertawa. "Gue yakin dia pulang dengan keadaan utuh, Cken. Enggak mungkin kak Reno mengerjai kakak lo, apalagi Satria bilang kalau Rania naksir juga sama kakak lo. Sudah tenang saja."
"Ayo, Sayang."
Satria memaksa Nicken bangun dari duduknya. Setelah mencium pipi Nicky dan Nico, Nicken dengan dirangkul oleh Satria menuju kamarnya di lantai 2.
"Kamu yakin, Kak, Vicky bakal baik-baik saja?" Tanya Nicken penasaran. Dia sudah duduk di tempat tidur dan menyelimuti kakinya. Satria duduk di sampingnya dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Aku yakin kakak kamu enggak bakal kaya mantannya dulu, dan kak Reno pasti bisa melihat itu, jadi kamu enggak usah khawatir ya."
"Kalau emang benar, kak Rania cewek pertama Vicky."
"Maksud kamu? Vicky belum pernah pacaran?"
Nicken menggeleng. "Dia mana ada waktu sih, Kak, dari dulu sudah sibuk sama basket, enggak kepikiran deh buat suka sama cewek sama kaya Nico. Dan emang kayanya belum tertarik biarpun Nicky sudah gonta-ganti cewek. Berarti kak Rania cewek spesial banget bisa buat Vicky kaya begitu."
Satria tersenyum lalu menggenggam tangan Nicken. "Kaya kamu di mata aku."
"Gombal. Sudah sana pulang, hati-hati ya, Sayang."
"Kamu tidurnya yang nyenyak ya, soal besok gimana besok saja."
Nicken mengangguk. Satria lalu mencium kening Nicken dan kemudian turun ke bibirnya dan setelah itu menatap Nicken.
"Setelah Nextel, aku punya sesuatu buat kamu dan aku sudah enggak sabar mau kasih itu ke kamu." Lanjutnya lagi.
"Kalau begitu aku mau cepat tidur biar cepat besok karena aku juga penasaran banget."
Satria tertawa lalu mengacak rambut Nicken dan mencium bibir Nicken kembali. "Nite, Honey. Sleep tight."
"Hati-hati."
Satria keluar dari kamar Nicken. Nicken lalu mematikan lampu kamarnya dan kemudian menarik selimutnya dan terpejam walaupun di pikirannya banyak hal yang melintas. Soal balapan besok dan termasuk kejutan apa yang akan Satria berikan kepadanya.
...***...
"Lo serius enggak apa-apa sendirian?" Tanya Vicky ke Rania.
Setelah proses interogasi yang panjang, Reno pamit pergi karena dia harus mengurusi acara balapan di Nextel esok harinya. Rania kagum karena Vicky bisa menyakinkan Reno kalau dia cowok baik karena Reno membiarkan Vicky tetap tinggal bersamanya.
"It's okay, Vick, maaf ya, lo jadi kemalaman."
Vicky tertawa. "Enggak masalah, gue senang kok menemani lo. Kalau gitu gue pulang dulu ya, biar lo bisa istirahat."
Rania mengangguk lalu mereka berdiri duduknya dan kemudian beranjak ke pintu. Namun sebelum membuka pintu, Vicky berbalik dan menatap Rania. Lalu dia meraih tangan Rania yang membuat Rania terkejut.
"Kenapa, Vick?"
"Gue cuma mau lo tahu, setiap gue dekat sama lo, jantung gue berdetak kencang banget." Rania tersenyum. "Gue enggak mau mengartikan ini apa-apa dan gue juga enggak menuntut lo mengartikan ini semua. Gue cuma mau lo tahu sebelum gue balik." Lanjutnya lagi.
Tiba-tiba Rania memeluk Vicky yang lalu membuatnya tersenyum. "Makasih sudah jujur sama gue ya, Vick, karena gue juga merasakan hal yang sama. Dan gue juga enggak mau buru-buru mengartikan ini semua."
Vicky melepaskan pelukan Rania lalu memegang kedua sisi kepalanya. "Biar waktu saja yang meyakinkan kita ya. Tapi ada satu hal yang bisa gue pastikan, kalau gue enggak punya rencana sedikitpun mau menyakiti lo."
"Makasih ya, Vick."
"Ya sudah, gue balik dulu ya, bye, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati."
Vicky keluar sambil tersenyum lalu berjalan menuju lift tanpa sadar kalau dia berpapasan dengan Satria di lorong. Satria hanya tersenyum menatap Vicky masuk ke dalam lift tanpa menyapanya lalu kembali berjalan menuju apartment Reno.
"Vicky?" Rania terkejut ketika membuka pintu dan melihat Satria sedang tersenyum berdiri di depan pintunya.
"Maaf sudah buat lo kecewa. Apa mau gue panggilkan lagi Vickynya?" Goda Satria yang berhasil membuat Rania terlihat malu-malu.
"Apaan sih lo?" Satria mengikuti Rania ke dalam lalu duduk di sofa.
"Anything happened before I come here? Apa yang terjadi?"
"Nope, nothing, enggak ada. What do you expect? Apa yang lo harapkan?" Sahut Rania sambil memindahkan saluran TVnya.
"You're a big liar. Bohong. Enggak mungkin enggak terjadi apa-apa, tapi Vicky bisa senyum-senyum sendiri tanpa menyapa gue waktu papasan di lorong."
Rania lalu menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Tangan Satria pun langsung merangkulnya.
"Gue sama dia sepakat untuk enggak buru-buru mengartikan perasaan kita. Biarpun gue yakin, Vicky enggak bakal menyakiti gue."
"Mereka dari keluarga baik-baik, Ran, jadi kayanya hal itu enggak mungkin. Jadi lo enggak usah khawatir."
"Untung gue jatuh cintanya sama Vicky ya, bukan sama lo biarpun sudah lama kita temenan."
"Jelaslah, dimata lo, Vicky lebih gantengkan?"
Rania pun tertawa.
"Gue yakin banget, Nicken cewek beruntung karena bisa mendapatkan lo, seperti gue yang beruntung banget punya temen kaya lo."
"Lo salah, Ran, gue yang beruntung bisa mendapatkan Nicken, dan Vicky sudah pasti enggak boleh menyakiti cewek kaya lo. Karena kalian cewek-cewek langka yang susah didapatkan, apalagi harus menjalani LDR. Gue yakin enggak semua cewek bisa bertahan."
"Apa Vicky bisa jalani LDR kaya lo sama Nicken?"
"Harus bisalah, kalau enggak kak Reno pasti bertindak."
"Gue menunggu waktu yang bisa lebih meyakinkan hati gue sama Vicky."
"Dan lo pasti belum tahu, tadi Cken cerita, kalau lo.. cewek pertama Vicky."
Rania mengangkat kepalanya lalu menatap Satria. Terkejut.
To be continued.......
yuppy datang lagi bawa 8 like buat KK
terus semangat berkarya ya 💐
bdw mampir juga ya kak di novelku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Ceritamu sangat sayang dilewatkan
Semoga kunjunganku tidak membuatmu bosan
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
dikaryamu yang hebat
Tetap semangat
salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
Maaf lama baru mampir
Ditunggu kelanjutannya
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"