Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sesampainya di rumah, Devan yang sejak tadi belum bisa tidur dengan tenang langsung berlari kencang dan memeluk Amira dengan sangat erat.
Air mata bocah laki-laki itu kembali menggenang melihat sang ibu akhirnya pulang dalam keadaan selamat.
Namun, pelukannya perlahan mengendur saat menyadari ada sosok asing yang berada di dekapan ibunya.
"Mama, dia siapa?" Tanya Devan dengan mata polosnya, melihat anak perempuan berusia empat tahun yang kini menyembunyikan wajahnya yang sembap di ceruk leher Amira.
Amira tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia memandang Ferdinand dengan tatapan meminta bantuan.
Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan hubungan rumit orang dewasa ini kepada anak seusia Devan tanpa menyakiti perasaannya.
Melihat keraguan Amira, Ferdinand yang menjawabnya dan menjelaskan semuanya kepada Devan.
Pria itu berlutut di samping Devan, menyamakan tinggi badannya, lalu mengusap rambut Devan dengan lembut untuk memberikan rasa tenang.
"Devan, anak pintar. ini Kak Felia. Mulai hari ini, Kak Felia akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu karena Kak Felia sedang sakit dan butuh ditemani. Devan mau kan jadi adik yang baik dan menemani Kak Felia bermain?" ucap Ferdinand dengan nada suara yang sangat lembut, menyederhanakan situasi rumit itu agar mudah diterima oleh pikiran sang putra.
Devan beralih menatap Felia, lalu menatap Ferdinand dan Amira bergantian.
Meskipun ada rasa bingung di hatinya, melihat tatapan teduh dari kedua orang tuanya membuat rasa takut Devan perlahan sirna.
Devan yang masih kecil hanya mengangguk kecil. "Iya, Papa. Devan mau temani Kak Felia," jawabnya dengan suara cicit yang polos.
Amira mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Ia mengecup puncak kepala Devan dan Felia secara bergantian, bersyukur di dalam hati karena setidaknya untuk malam ini, badai besar itu telah mereda di bawah atap rumah mereka yang hangat di Yogyakarta.
Mama Amira dengan sigap langsung maju dan menggendong Felia dari dekapan putrinya.
Melihat tubuh Amira yang sudah mulai limbung dan gemetar hebat, Mama tahu bahwa daya tahan tubuh anaknya sudah mencapai batas maksimal.
Amira yang hampir pingsan hanya bisa mencengkeram lengan Ferdinand dengan sisa tenaga yang ada.
Pandangannya kembali mengabur, berputar, dan rasa mual dari sisa-sisa racun obat bius itu kini benar-benar menguras seluruh energinya.
Tubuhnya perlahan luruh, namun dengan cepat ditahan oleh sepasang lengan kekar yang selalu siap melindunginya.
Melihat kondisi Amira yang kian memburuk, kepanikan kembali menyergap dada Ferdinand.
Tanpa membuang waktu, Ferdinand membopong tubuh Amira dan membaringkannya dengan hati-hati di tempat tidur.
Setelah itu, ia berteriak memanggil anak buahnya untuk segera membawa dokter keluarga mereka ke rumah.
Tak butuh waktu lama hingga mobil dokter tiba di halaman.
Karena tidak sabar melihat langkah sang dokter yang tergesa-gesa namun dirasa kurang cepat, Ferdinand langsung berlari ke depan, dan memanggul dokter tua itu di pundaknya agar bisa sampai ke ruang tengah dalam hitungan detik.
Sang dokter sempat terkejut, namun ia paham situasi ini adalah masalah hidup dan mati bagi Ferdinand.
Ia takut efek obat bius yang keras dan diberikan dua kali dalam waktu singkat oleh Daniel akan merusak saraf atau membahayakan keselamatan jiwa Amira.
"Cepat periksa dia, Dok! Bajingan itu membiusnya dua kali berturut-turut!" perintah Ferdinand dengan suara baritonnya yang bergetar karena rasa cemas yang teramat sangat, sementara matanya tak lepas menatap wajah pucat Amira yang kini telah sepenuhnya memejamkan mata.
Dokter segera memeriksa keadaan Amira dengan cekatan. Ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Amira, menyenter pupil matanya, dan menempelkan stetoskop di dadanya untuk mendengarkan detak jantung serta ritme napas Amira yang tampak sangat lemah.
Wajah dokter terlihat serius, membuat Ferdinand yang berdiri di samping sofa semakin tegang menanti penjelasan.
Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama bagi Ferdinand, dokter itu akhirnya menghela napas panjang dan merapikan kembali peralatannya.
"Tenang, Pak Ferdinand. Kondisi Bu Amira saat ini memang sangat lemah, tetapi untungnya tidak sampai membahayakan keselamatan jiwanya," ucap dokter mencoba menenangkan ketegangan di ruangan itu.
"Dosis obat bius yang diberikan dua kali dalam waktu singkat ini tergolong sangat keras untuk ukuran tubuhnya. Hal itulah yang memicu rasa mual hebat, pusing, hingga membuat kesadarannya menurun drastis karena sistem sarafnya dipaksa bekerja ekstra keras untuk menetralisir racun kimia tersebut. Ditambah lagi, kondisi psikologisnya yang sangat tertekan dan kelelahan fisik membuat tubuhnya tumbang."
Dokter itu kemudian mengeluarkan beberapa botol obat dari tas medisnya.
"Saya akan menyuntikkan obat penetralisir dan vitamin untuk mempercepat pemulihan sisa obat bius di dalam darahnya. Bu Amira membutuhkan istirahat total selama beberapa hari ke depan tanpa ada tekanan apa pun. Tolong pastikan saat dia terbangun nanti, langsung berikan air putih yang banyak dan makanan hangat untuk memulihkan tenaganya."
Keesokan paginya, suasana rumah terasa sangat sepi dan diliputi rasa cemas.
Felia dan Devan berjalan berdampingan menuju kamar utama.
Mereka mengetuk pintu dan melihat Amira yang masih tidur pulas di atas ranjang dengan wajah yang masih tampak sedikit pucat.
Ferdinand, yang sejak semalam tidak tidur karena menjaga Amira, tampak duduk di sisi tempat tidur.
Ia langsung menoleh saat mendengar langkah kaki kecil kedua anak itu.
"Papa, Mama kenapa?" Tanya Devan dengan suara berbisik, matanya menatap cemas ke arah Amira yang tidak kunjung membuka mata seperti biasanya.
Ferdinand tersenyum tipis, mencoba menenangkan putra kecilnya.
Ia mengusap kepala Devan dan Felia bergantian. "Mama sedang sakit, Sayang. Mama sangat kelelahan, jadi kita harus biarkan Mama istirahat dulu, ya?"
Namun, kerinduan dan rasa cemas anak-anak tidak bisa dibendung.
Melihat Amira yang terbaring lemah, mereka langsung naik ke atas kasur dengan sangat hati-hati dan memeluk Amira dari kedua sisi tubuhnya.
Devan memeluk lengan kanan Amira, sementara Felia yang masih tampak trauma langsung menyurukkan wajahnya di lengan kiri Amira, seolah takut kehilangan sosok ibu itu lagi.
Sentuhan hangat dan pelukan erat dari kedua anak itu perlahan-lahan menembus alam bawah sadar Amira.
Amira membuka matanya dengan perlahan, mengabaikan sisa rasa pening yang masih sedikit berdenyut di kepalanya.
Pemandangan pertama yang ia tangkap adalah Felia dan Devan yang sedang memeluknya dengan begitu erat.
Rasa haru seketika membuncah di dada Amira. Air matanya menggenang di sudut mata.
Dengan sisa tenaga yang mulai pulih, ia membalas pelukan kedua anak itu, mendekap mereka ke dalam dadanya dengan penuh kasih sayang.
"Mama, jangan sakit lagi," bisik Devan lirih. Felia tidak bersuara, namun cengkeraman tangan kecilnya di baju Amira semakin mengencang, menandakan betapa ia tidak ingin dilepaskan.
Ferdinand yang melihat momen itu akhirnya bisa bernapas lega.
Ia mengembuskan napas panjang, bersyukur melihat wanita yang dicintainya telah kembali membuka mata dan dikelilingi oleh kehangatan anak-anak yang begitu menyayanginya.