2 tahun merajut pernikahan, Nadira merasa pernikahan mereka tak memiliki arti apa-apa selain hubungan timbal balik. Semuanya berawal dari kesedihan yang tak kunjung usai, pasca orang tercinta mereka meninggal dunia.
Tak ingin terkungkung dalam kesedihan yang sama terus-menerus, Nadira hanya bisa menyibukkan diri dengan penelitian disertasinya sambil mengurusi perusahaan yang baru dirintisnya. Hal yang sama juga dilakukan Arsen, pria itu terus sibuk bekerja dan mengurusi bisnisnya yang kian banyak.
Mereka selalu merasa kosong satu sama lain. Hingga suatu kali, seseorang datang dan mencoba mengisi kekosongan itu. Menyadari bahwa hubungan pernikahannya mulai renggang, Nadira mencoba memperbaiki segalanya.
Tetapi, bagaimana cara keduanya menemukan titik temu dan kembali memupuk cinta pada pernikahan mereka yang mulai rapuh itu? Akankah Nadira mampu merengkuh kembali seorang Arsenio Sang Pewaris?
Baca kisahnya hanya di Pewaris Itu Suamiku
[Sequel Cinta Sejati Sang Pewaris]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIS 30 — Pemakaman
Suasana pemakaman sore itu benar-benar sepi. Dengan pasti dan perlahan kedua orang itu berjalan menuju sebuah nisan. Sang lelaki tak lupa menggandeng tangan sang wanita erat, wajahnya tampak kaku dan penuh oleh kesedihan.
Berbanding terbalik dengan sang wanita yang tampak tenang dan anggun, satu tangannya digunakan untuk menggenggam tangan suaminya yang terasa mendingin sedang tangan kanannya ia gunakan untuk menjinjing sekeranjang bunga untuk ditabur di atas pemakaman.
Arsen nampak termangu sesaat mereka sampai di dekat nisan sang mending kakeknya. Tangannya terlihat menggenggam jemari Nadira lebih erat.
Dari sisi tubuhnya, Nadira bisa melihat dengan jelas bahwa Arsen masih menyimpan kedukaan yang dalam. Entah karena apa, Arsen sepertinya masih belum bisa berdamai dengan keadaan.
Nadira meletakkan keranjang bunga itu di bawah kemudian mengusap bahu Arsen pelan seraya berucap pelan, "Aku dan Arrish akan selalu bersamamu, sampai kapanpun."
Arsen menoleh, tersenyum lalu mengangguk. Kemudian, kedua orang itu berjongkok dan mulai membaca doa. Selama doa itu, pandangan Nadira selalu tertuju pada garis wajah Arsen. Ia sepenuhnya tahu arti kehilangan itu, sebab ia juga pernah merasakan kehilangan.
Usai membaca doa dan menaburkan bunga di atas nisan sang kakek tercinta, keduanya pulang dengan membawa serta kesedihan yang sama sejak tiga tahun yang lalu.
Seolah kesedihan itu selalu mengikuti mereka bak bayangan diri. Bagi Arsen sendiri, duka itu bagai duri yang menikam hati, sulit dilupa sekalipun waktu membantunya untuk rela.
Nadira tampak menghela napas panjang selama beberapa kali sebelum berucap. "Maafkan aku, Mas. Jika bukan karena aku ... kakek mungkin masih bersama kita," ucap Nadira tertunduk sendu.
Mendengar pengakuan istrinya itu, Arsen yang semula asyik menatap pemandangan di luar kaca mobil langsung menoleh dan menggenggam erat jemari Nadira.
"Apa yang kamu katakan? Itu bukan salahmu sepenuhnya, Sayang. Itu kesalahan tim medis," jawabnya sedikit tak suka jika Nadira mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi tetap saja, aku tetap merasa bersalah akan hal itu. Aku tidak bisa menampik bahwa penyebab kesedihanmu ternyata adalah aku, Mas." Nadira menyeka bulir air matanya yang luruh ke pipi.
"Seandainya ... seandainya aku lebih teliti, hal ini tak akan terjadi," isaknya sambil menutupi wajahnya, tak kuat menahan fakta dibalik penyebab kematian sang Kakek.
Arsen menggeleng dan berusaha meraih Nadira ke dalam pelukannya. Ia usap-usap bahu istrinya agar tak lagi bersedih. "Sayang ... dengarkan aku! Pernahkah aku menyalahkanmu atas kejadian itu? Tidak pernah, kan?"
Nadira mengangguk pelan, Arsen memang tak pernah menyalahkannya. Tapi saat Arsen berdiam diri dan bersedih, hati Nadira tak bisa tak merasa terluka.
"Aku memang sedih atas kematian kakek. Tapi, Sayang. Hidup dan mati adalah takdir. Sekalipun kamu tak melakukan kesalahan atau jika saja tim medis tak salah meresepkan obat, jika Tuhan berkata sudah waktunya seseorang untuk pulang. Kita sebagai manusia tak akan bisa menolak takdir itu," ujar Arsen panjang.
"Mati itu pasti, Sayang. Kamu juga tahu hal itu, kan? Aku memang belum sepenuhnya bisa merelakan kepergian kakek, tolong beri aku waktu ya?" katanya lagi, kali ini sambil tersenyum menatap Nadira.
Nadira mengangguk lalu menyeka pipinya yang basah dengan sapu tangan milik Arsen.
"Tuhan itu Maha Baik, Sayang. Dia mengambil keluarga yang kita cinta namun memberi kita anugerah yang lain. Dan itu karenamu. Jangan bersedih lagi ya?"
Semoga saja kalian bertahan sampai tua
semoga bisa menemukan jawaban dari rasa sesak itu Nadira 🌹🌹