Ketika sebuah pernikahan mengantarkan seorang gadis pada kehidupan yang sama sekali tak pernah dia duga.
Suami tampan super sempurna, kehidupan yang mendebarkan, rahasia yang terkuak satu-persatu, dan dendam masa lalu. Semuanya bercampur menjadi satu mengantarkan si gadis pada situasi untuk memilih antara egonya atau hati nurani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axelle Axa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33. Aku menginginkanmu
Lou berdiri kaku di depan jendela, tak bisa berkata apa-apa atas perilaku ‘nakal’ Sean. Pria ini terus dengan sengaja menggodanya, membuat Lou merasakan sesuatu yang aneh tumbuh di dalam hatinya.
“Sean.” Lou memanggil Sean dengan suara pelan.
Sean tak menanggapi itu, dia terus menghisap dan mengigit pelan leher Lou.
“Suamiku.” Lou memanggil sekali lagi dengan wajah putus asa.
“Hm?” Sean menjawabnya dengan dehaman.
“Hentikan, kita tidak bisa.” Lou menggeliat pelan mencoba menghindari ciuman Sean yang semakin lama semakin intense.
Sean tersenyum saat dia menatap Lou. “Ya, aku tahu,” jawabnya dengan wajah bangga.
“Lalu kenapa kau lakukan?!” Lou mendorong pria itu pelan dengan wajah kesal.
“Karena aku menginginkannya,” jawabnya sebelum dia menunduk dan mencium bibir Lou. Sean menarik Lou hingga mereka berhadapan, kemudian menatap wanita itu dengan senyum bahagia.
“Aku sangat senang,” bisiknya pelan sambil menyatukan dahi mereka.
“Kenapa?” Lou masih bertanya walaupun dia tahu apa yang sebenarnya Sean maksud.
“Karena aku bisa memilikimu seutuhnya sekarang.” Sean mengecup bibir Lou sekali lagi.
“Sayang, aku sangat menciuntaimu.” Sean menatap mata bulat Lou yang indah, membuat keduanya semakin tenggelam dalam perasaan cinta mereka.
“Aku juga mencintaimu.” Lou tersenyum cerah saat melihat wajah bahagia Sean karena ungkapan cintanya.
“Aku adalah orang paling bahagisa di dunia,” bisik Sean saat menarik Lou ke dalam pelukannya.
Lou tertawa pelan. Ini kali pertamanya melihat tingkah kekanakan Sean. Sisi yang tidak mungkin bisa dilihat oleh orang lain ini sangat menggemaskan. Lou merasa seolah ribuan kupu-kupu terbang di dalam dadanya, menimbulkan sensasi menggelitik yang menyenangkan.
Namun senyumnya menjadi kaku saat dia mendengar perkataan Sean berikutnya. “Sayang, karena hukumanmu ditunda, maka kita akan menghitungnya mulai hari ini, hukuman akan di tambah sesuai dengan hari terlewatnya,” bisik Sean nakal.
“Hah? Apa-apaan itu?” Lou memutar matanya kesal. Si mesum ini benar-benar pintar mencari pembenaran.
Sean tertawa melihat istrinya, walaupun dia kesal, hal yang terpenting adalah dia tak menolaknya!
“Sayang, kamu butuh istirahat.” Sean menggendong Lou dan membawanya ke tempat tidur dengan hati-hati.
Lou tersenyum lembut. Dia pernah mendengar tentang Sean dulu, tentang tetua ketiga Black Stone, tentang kekejamannya. Namun saat ini, saat dia sedang bersamanya, taka da sedikitpun gambaran kekejaman itu, hanya perhatian yang lembut dan cinta yang tulus. Seketika Lou merasa bahwa dirinya adalah orang paling beruntung di dunia.
Sean mengecup dahi Lou lama sembari menarik selimut untuk menghangatkan Lou. “Tidurlah,” bisiknya penuh cintah.
Tak butuh waktu lama sampai Lou memejamkan matanya, lagi pula dia memang sudah sangat kelelahan saat ini.
Sean berbaring di sisi Lou, menopang kepalanya dengan tangan dan menatapi Lou yang tengah tertidur. Dia tersenyum lembut saat menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi pipi Lou. Senyum pria itu menjadi semakin dalam, bahagia memang bisa sesederhana ini.
Sean terus menatap Lou, menepuk punggungnya pelan saat istrinya itu bergerak. Senyum Sean menjadi semakin dalam saat Lou berbalik menghadapnya dan memeluknya.
Sean dengan senang hati membalas pelukan itu, tak lupa mengecup puncak kepala Lou.
“Aku mencintaimu,” bisiknya sebelum ikut memejamkan mata.
Cukup lama Sean memejamkan mata, namun dia masih belum tertidur, pikirannya terus aktif mencari cara untuk melindungi Lou. Beberapa waktu lalu dia tahu siapa biang masalah sebenarnya dan orang ini sama sekali tak mudah untuk di hadapi. Samantha memang sakit kepa terbesar Sean.
Tak berapa lama kemudian, suara dering ponsel terdengar. Tak ingin Lou terganggu dengan suara itu, jadi Sean dengan cepat mengambil ponsel dan menjawabnya, tak sempat melihat siapa yang menelponnya.
“Halo, Sean sayang. Apa kabarmu?” Suara wnaita menyapa dari seberang sana. Sean tertegun sejenak sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia melihat tampilan layar yang menunjukkan panggilan telepon dengan nomor tidak diketahui.
Sean menghela napas, dia dengan hati-hati melepaskan pelukan Lou dan menyelimuti istrinya sebelum pergi ke dekat jendela kamar.
“Apa maumu?” Nada yang keluar dari mulut Sean dingin dan penuh niat membunuh.
Suara tawa terdengar dari sisi lain, suara itu tenang dan penuh sindiran. “Haruskah kau sedingin ini?” tanya wanita itu dengan suara tenang.
“Samantha, ku peringatkan sekali lagi, jangan mengangguku. Aku bukan orang yang sabar.” Sean tak menunggu jawaban dari pihak lain saat dia langusng mematikan panggilan telepon itu.
Namun pihak lain sepertinya tak peduli dengan amarahnya, tak berapa lama ponsel Sean bordering lagi dan masih menampilkan nomor tidak dikenal. Sean mencengkram ponsel pintarnya kuat sebelum menolak panggilan telepon.
Kemudian ponsel itu kembali bordering tak lama kemudian, membuat Sean makin naik pitam. Dia mengangkat panggilan telepon itu, tapi tak mengatakan apapun.
“Kau benar-benar jahat, aku hanya menelpon untuk menanyakan kabarmu. Kenapa kau tak mau bicara.” Suara wanita itu dipenuhi ironi, namun sama sekali tak menyentuh hati Sean. Tak ada yang tahu tentang perilaku wanita ini sebaik Sean.
Dia bisa berpura-pura sedih dan menyakinkan siapapun, tapi tidak akan pernah meyakinkan Sean. Sean tahu persis bagaimana watak sebenarnya dari wanita ini, dia bahkan lebih kejam dari siapapun di dunia bawah. Dia bisa berpura-pura lemah sambil menyembunyikan pisau untuk membunuh lawannya. Dia adalah wanita paling licik yang pernah Sean kenal.
“Berhenti omong kosong.” Sean hampir kehilangan kesabarannya saat ini. Dia mengambil mantel dan keluar dari kamar dengan wajah kesal. Dia tak ingin menganggu tidur Lou, jadi akan lebih baik kalau dia tidak di kamar.
Suara tawa terdengar dari ponsel pintar Sean yang justru membuatnya makin naik pitam. Sean menjaukan ponsel pintar dari telinganya dan langsung mematikan panggilan itu. Tak butuh setengah menit sampai ponsel kembali bordering.
“Baiklah, ku katakan.” Suara itu terdengar serius, jadi Sean menahan diri untuk tidak memeatikannya saat itu juga.
“Aku menginginkanmu.” Suara tawa terdengar setelahnya, berbeda dengan nada main-main sebelumnya, tawa ini seolah membawa aura dingin. Sean mendengus, inilah wajah Samantha yang sesungguhnya.
Wanita ini sangat manipulatif dan hal yang paling Sean benci adalah caranya yang kotor. Dia adalah orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, bahkan bila dia harus membunuh banyak orang tak berdosa, dia akan melakukannya demi keinginan itu.
“Mustahil.” Sean mendengus kesal. Samantha adalah jenis orang yang paling dia benci, jadi bila sekalipun Lou taka da, dia tak akan pernah bersama Samantha. Apalagi saat ini dia memiliki Lou di sisinya, jadi lebih mustahil lagi bagi Samantha untuk meremas masuk ke dalam hidupnya.
Tak ada jawaban lain dari Samantha setelah itu. Sean menyeringai dingin dan menutup panggilan. Dia belum mengantuk dan memutuskan untuk naik ke rooftop. Aura masih mengerikan seperti sebelumnya dan tanpa sadar menakuti siapapun yang berpapasan dengannya.
Saat ini belum terlalu larut, hanya saja cuaca sedikit tak bersahabat, jadi rooftop sangat sepi. Sean hampir tidak melihat siapapun di sana. Pria itu berjalan sampai ke pagar pembatas dan menatap langit malam Helsinki dalam diam.
Tak berapa lama sampai sebuah suara terdengar di sampingnya. “Keberatan jika aku bergabung?” Suara itu familiar dan Sean sudah dipenuhi aura membunuh saat ini. DIa menoleh dan mendapati seorang wanita cantik berdiri di sampingnya.
Sean tak mengatakan apapun, tapi dia langsung menjadi waspada.
“Santai saja, aku tidak memiliki niat menyakitimu.” Wanita itu tertawa saat melihat kewaspadaan Sean.
“Samantha, apa kau gila?” Sean menggertakkan giginya menahan amarah.
Samantha tersenyum sambil menatap Sean. “Apa salahku, Sayang?” tanyanya dengan wajah tertawa, namun tawa itu tak sampai ke matanya. Hanya dingin dan niat membunuh memenuhi mata biru yang indah itu.
“Kita lama tak bertemu dan ini caramu menyambutku?” Samantha memasang wajah sedih. Dia pada dasarnya adalah wanita yang sangat cantik, jadi wajah sedih ini bila ditunjukkan dihadapan orang banyak pasti akan menuai banyak simpati, sayangnya tidak berlaku untuk Sean.
Sean menyipit tak senang. Suasana hatinya sudah buruk dan saat melihat biang dari semua masalah yang menimpanya dan Lou, dia menjadi semakin kesal.
Berbeda dari sikap dingin Sean, Samantha terlihat sangat tenang. “Lama tidak berjumpa, kan?” sapa Samantha masih setia dengan senyumnya. Wanita itu lalu maju dan berdiri tepat di depan Sean, meninggalkan jarak yang sangat kecil di antara mereka.
“Apa maumu?” tanya Sean yang berada di ujung kesabarannya.
“Bukankah sudah ku katakan, aku menginginkan dirimu.” Samantha tersenyum sinis.
Samantha melangkah lebih dekat, sehingga nyaris tak ada jarak tersisa. Dia menatap Sean dengan wajah tenang, senyum tercetak di wajah cantiknya saat dia menatap Sean dari dekat.
Sean muak dengan wanita ini dan tak tahu apa yang ingin dia lakukan, jadi dia hanya diam dan melihat. Dia masih setenang sebelumnya walaupun Samantha sudah sangat memperpendek jarak di antara mereka.
Saat jarak di antara wajah mereka sudah semakin tipis, Samantha mundur dan tertawa terbahak-bahak. “Sebegitu benci kah kau padaku?” tanyanya dengan setelah menghentikan tawa.
Sean bergeming, hanya menatap wanita itu dengan pandangan aneh.
“Apa kau begitu mencintainya?” tanyanya kemudian.
Sean tak menjawab, tapi Samantha sudah mendapatkan jawabannya dari sikap diam Sean.
“Apa dia lebih cantik dariku?” Samantha tertawa.
Sean sama sekali tak menanggapi pertanyaan Samantha dan ini mmebuat Samantha mulai sedikit kesal.
“Apa dia lebih kuat dariku?” Sean kehilangan kesabarannya dan mencekik leher Samantha saat itu juga. Dia menarik wanita itu mendekat dan berkata, “Kalau kau berani menyentuhnya, aku akan memberimu kehidupan yang lebih buruk dari neraka.”
Samantha meringis dan mencoba melepaskan cengkraman Sean di lehernya. Saat cengkraman itu lepas, Samantha terbatuk pelan dan dia menatap Sean dengan wajah kosong, seolah tak percaya.
Senyum sinis muncul di sudut bibir Samantha saat dia menatap Sean seolah menantangnya. Melihat tatapan itu, Sean langsung teringat Lou yang sendirian di kamar. Mengingat karakter kotor wanita di depannya ini, Sean menjadi sedikit khawatir.
Dia tak mengatakan apapun lagi dan langsung lari menuju lantai bawah, meninggalkan Samantha yang masih menatapnya dengan pandangan dingin. Samantha bisa melihat Sean langsung berlari ke tangga darurat saat dia melihat pintu lift tertutup, menunjukkan betapa dia mengkhawatirkan istrinya.
“Ada ribuan pria yang mengejarmu di luar sana, tapi kau dengan bodohnya menghabiskan waktumu untuk mengejar orang yang paling tidak menginginkanmu.” Sebuah suara terdengar dari belakang Samantha.
“Kau tidak akan mengerti.” Samantha menunduk diam, senyum sinis tercetak di wajah cantiknya. Namun ada kesedihan yang langka di mata biru kacanya, hal yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun di dunia ini.
anyway ini aku yang ketinggalan sesuatu, atau lupa, tapi emang disini extra partnya ga ada ya kak? padahal udah nunggu hihihi walopun masih sempet inget sih ending pas di w***pad gimana hihi tp ttp pengen bnget baca lagi sampe akhir skrng apa lagi yg side storynya 🤩 MANGAT TERUS KAKK! TETAP DITUNGGU EXTRA DAN SIDE PARTSNYA DAN DITUNGGU DIPUBLISH HIHI 🤩
ceritanya komplit Thor...sedepp bangettt
⭐⭐⭐⭐⭐